TINJAUAN TEORETIS
A. Kualitas Hafalan Al-Quran 1. Pengertian
Kata kualitas termasuk kata benda yang berarti mutu, tingkat baik buruknya barang.1 Kualitas juga dapat diartikan sebagai tolak ukur dalam menilai sesuatu. Kualitas adalah sesuatu apapun yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen. Yang lain, kualitas adalah tentang kesesuaian terhadap spesifikasi.2 Jadi, dapat disimpulkan bahwa kualitas sesuatu yang dapat menjadi tolak ukur dalam menilai suatu barang dan kualitas juga sangat diharapkan bagi seseorang.
Hafalan secara bahasa berasal dari kata ‚al-H}āfiz}‛ yaitu h}āfiz}a-yah}fāz}u-h}ifz}an yang berarti memelihara, menjaga, menghafal.3 Menghafal berarti berusaha meresapi sesuatu sehingga masuk kedalam pikiran agar bisa diingat. Adapun yang menjadi objek dari apa yang dihafalkan yakni sekumpulan ayat yang telah tersusun rapi dalam sebuah kitab suci al-Qur‟an.
1Alex MA, Kamus Ilmiah Populer Kontemporer (Surabaya, Karya Harapan, tth), hlm.
348
2G Hendra Poerwanto, Kualitas : Pengertian, Pendekatan dan Cara Pengukuran, Sites.
Google.Com, https://sites.google.com/site/kelolakualitas/kualitas (Diakses 29 April 2021)
3Kbbi.web.id, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
https://www.google.com/amp/s/kbbiweb.id/hafiz .html (Diakses 25 Januari 2022)
12
Al-Qur‟an secara bahasa artinya yang dibaca.1 Sedangkan secara istilah Al-Qur‟an adalah kalam Allah yang mengandung mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. ditulis pada mushaf yang diriwayatkan secara mut}awat}ir dinilai ibadah bagi pembacanya.2
Jadi, Kualitas hafalan al-Qur‟an adalah nilai yang menentukan baik atau buruknya ingatan hafalan al-Qur‟an seseorang secara keseluruhan, menghafal dengan sempurna sesuai dengan bacaan tajwid, serta senantiasa menekuni, merutinkan untuk mengulang hafalan agar terhindar dari lupa.
Kualitas hafalan sangat menunjang dalam proses menghafal al-Qur‟an, maka dari itu hal yang harus diperbaiki saat menghafalkan al-Qur‟an adalah bacaan yang belum lancar, belum sesuai dengan kaidah tajwid serta belum fasih dalam menghafalkan al-Qur‟an.
2. Indikator Kualitas hafalan al-Qur‟an
Meningkatnya hafalan seseorang ke taraf yang lebih tinggi adalah harapan bagi penghafal al-Qur‟an, adapun indikator kualitas hafalan mencakup 3 aspek yakni:
a. Kelancaran dalam menghafal Al-Qur‟an
Salah satu ingatan yang baik yaitu siap, bisa memproduksi hafalan saat dibutuhkan.3 Salah satu syarat dalam meningkatkan hafalan al-Qur‟an adalah ketelitian dan menjaga hafalan agar tetap lancar dan terhindar dari banyaknya kesalahan. olehnya itu, kelancaran menjadi salah satu aspek dalam meningkatkan mutu hafalan.
b. Kesesuaian bacaan dengan kaidah ilmu tajwid
1Abdul Majid Khon, Praktikum Qira‟at Keanehan Bacaan al-Qur‟an Ashim Dari Hafsh (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 1
2Jami‟il Huquqi mahfuzhah, Muassasatu Siqafiyari Lita‟lifi Wa Tarjamati Wa Nasyiri (Libanon: Darul Ilmi Lilimalayin, 2007), h. 21
3Syaiful Segala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2003), h. 128
13
Seorang penghafal al-Qur‟an harus mampu membaca al-Qur‟an sesuai kaidah ilmu tajwid, di antaranya:
1) Makhārijul H}uruf (Tempat keluarnya huruf)
2) S}ifātul H}uruf (Sifat atau keadaan ketika membaca huruf) 3) Ah}kamul H}uruf (Hukum atau kaidah bacaan)
4) Ah}kamul Mad wa qas}r (Hukum panjang dan pendeknya bacaan)4 c. Fas}ah}a
1) al-Waqaf wa al-ibtidā’ (Kecepatan berhenti dan memulai bacaan al-Qur‟an) 2) Mara’atul h}uruf wa al-h}arakat (Menjaga keberadaan huruf dan harakat) 3) Mura’atul kalimah} wa al-ayat (Menjaga dan memelihara keberadaan kata dan
ayat)5
Dalam menghafalkan al-Qur‟an hal yang perlu diperhatikan ialah ketepatan dalam melafadzkan ayat yang dibaca. olehnya itu, salah satu indikator dalam mencapai kualitas hafalan yang baik yakni kebenaran dalam melafadzkan sebuah ayat.
3. Syarat-syarat Menghafal Al-Qur‟an
Menghafal al-Qur‟an bukan merupakan suatu ketentuan hukum yang harus dilakukan orang yang memeluk agama islam. Oleh karena itu, ia tidak mempunyai syarat-syarat yang mengikat sebagai ketentuan hukum. Syarat-syarat yang ada dan harus dimiliki oleh seorang calon penghafal al-Qur‟an adalah syarat-syarat yang berhubungan dengan naluri insaniyah semata.
Adapun syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
a. Niat yang ikhlas, semata-semata hanya mengharap rida dan balasan dari Allāh swt.
4Misbahul Munir, Ilmu dan Seni Qira‟atil Qur‟an, Pedoman Bagi Qari‟-Qari‟ah Hafidh Hafidhah, dan Hakim dalam MTQ (Semarang: Binawan, 2015), h. 356-357
5Lilik Indra Purwati, “Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemampuan Menghafal Al-Qur‟an Santri Pondok Pesantren Darussalam Metro”, Skripsi (Metro: IAIN Metro, 2018), h. 13
14
b. Mempunyai H}immatul ‘aliyah} cita-cita yang tinggi, tekad yang bulat sehingga tidak takut memikul beban walaupun kelihatannya berat (tidak takut susah)
c. Mendapat dukungan penuh dari orang tua, kecuali yang mampu mandiri.
Hal ini diperlukan mengingat kebanyakan santri ketergantungannnya penuh terhadap orangtuanya. Sehingga dikhawatirkan nanti orangtua akan menarik anaknya. Selain itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak kepada orang tua adalah doa restunya.
d. Minimal telah mampu membaca al-Qur‟an dengan baik, bagi santri yang menghafal secara mandiri (membuat hafalan tidak di depan gurunya).
e. Minimal mempunyai otak/kemampuan menghafal yang sedang sebagai modal dasar.
f. Tadarus seimbang anatara menambah hafalan dan takrir/mengulang yang sudah dihafal secara kontinu. Sebab tanpa demikian yang sudah hafal akan hilang, atau minimal hafalannya tidak bertambah.
g. Menjauhi sifat-sifat maz\mumah}, tidak berbuat maksiat dan tidak memakan makanan haram
h. Menaati irsyad (petunjuk) guru dan mendapatkan waktu yang cukup6 Jadi, sebelum menghafal al-Qur‟an ada baiknya memperhatikan syarat-syaratnya agar dalam proses menghafal al-Qur‟an nantinya tidak banyak kesulitan yang akan dilalui. Jika Allāh telah memberi kemudahan bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya, maka sepatutnya dapat mensyukuri nikmat itu dengan menjaga ayat-ayatnya.
4. Hukum Menghafal Al-Qur‟an
6Ahmad Royani Abdul Mudi, Panduan Menghafal Al-Qur‟an (Jakarta: PT Elex Komputindo, 2005), h. 45.
15
Mayoritas ulama sependapat mengenai hukum menghafal al-Qur‟an, yakni fardu} kifayah}. Pendapat ini mengandung pengertian bahwa orang yang menghafal al-Qur‟an tidak boleh kurang dari jumlah mutawatir. Artinya, apabila dalam suatu mas yarakat tidak ada seorang pun yang hafal al-Qur‟an, maka berdosa semuanya.
Namun, jika sudah ada maka gugurlah kewajiban dalam suatu masyarakat tersebut.7
Syaikh Nashiruddin al-Albani sependapat dengan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa hukum menghafal al-Qur‟an adalah fard}u kifayah}. Begitu pula mengenai hukum mengajarkan al-Qur‟an. Jika di dalam suatu masyarakat tidak ada seorang pun yang mau mengajarkan al-Quran, maka berdosalah satu masyarakat tersebut. Perlu diketahui, mengajaran al-Qur‟an merupakan ibadah seorang hamba yang paling utama. Rasūlullāh saw. bersabda:
ََخ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya. (HR. Bukhori).9
Dari teks hadis di atas, dapat digambarkan bahwa ada dua poin penting yang terkandung dalam hadis tersebut yang membuat seseorang mulia di antara orang lain, yakni mempelajari isi al-Quran dan kemudian mengajarkannya. Itu berarti, jika seseorang hanya mempelajari dan menguasainya, namun tidak mengajarkannya, maka ia belum termasuk orang terbaik di antara yang lain karena dalam hadis ini ada dua syarat yang diberikan oleh rasul untuk menjadi
7Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Metode Cepat Hafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, h.14
8Abu Abdullah Muhammad bin Isma‟il bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy kitab fadhail Al-Qur‟an bab Khairukum
9Dina Fitriyani, “Pengaruh Aktivitas Menghafal Al-Qur‟an Terhadap Kecerdasan Spritual Santri di Pondok Pesantren Anak-anak Tahfidzul Qur‟an (PPATQ) Raudlatul Falah Bermi Gembong Pati 2016”, Skripsi (Semarang: UIN Walisongo Semarang, 2016), h. 49
16
manusia terbaik yakni belajar al-Qur‟an dan mengajarkannya kepada orang lain.10
Dalam hadis ini, sebaik-baik manusia ialah tidak sebatas mempelajari cara bacaan al-Qur‟an saja, tapi dengan memahami serta mengamalkan isi kitābullāh adalah hal yang lebih utama agar dapat menjadikan al-Qur‟an sebagai pedoman dalam kehidupan.
Berdasarkan kutipan di atas mengenai hukum menghafal al-Qur‟an adalah fard}u kifayah}, maka salah satu dari anggota masyarakat berupaya untuk menghafalkannya, karena tidak hanya mendapatkan keutamaannya tapi terlebih dapat menggugurkan kewajiban di antara beberapa anggota masyarakat.
5. Panduan Sebelum Menghafal Al-Qur‟an a. Tersenyum
Survei membuktikan bahwa orang yang lebih banyak dan mudah tersenyum ternyata lebih mudah dan cepat menghafalkan al-Qur‟an, daripada orang yang jarang tersenyum dan cenderung emosional (gampang marah). Sebab sekali saja orang tersenyum, banyak efek positif yang ditimbulkan. Tanpa kita sadari senyum dapat menstimulasi otak dan hormon, yang kemudian menimbulkan beragam efek positif bagi seseorang.11
b. Perbanyak minum air putih
Otak berfungsi untuk berfikir dan mengingat. Pakar gizi mengungkapkan jika tubuh kekurangan cairan (air) sebanyak 1% saja dari bobot tubuh, maka akan dapat mengakibatkan otak menjadi lemot. Otak kita memiliki kandungan air kurang dari 75%. Sehingga kekurangan pasokan air ke otak dapat
10Muzakkir, Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Quran (Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2015), h. 115
11Tanzil Khaerul Akbar dan Ardi Gunawan, Menghafal Al-Qur‟an dengan Otak Kanan (Jakarta: PT Gramedia, 2019) h. 45
17
mengakibatkan otak menjadi kekurangan oksigen. Akibatnya, sel-sel otak menjadi kurang aktif dan tidak berkembang bahkan juga bisa menciut. Hal itu menyebabkan otak tidak bisa menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya jika tubuh kekurangan air. Hal tersebut dapat mengakibatkan seseorang lupa, sulit untuk konsentrasi dan menjadi lemot pikirannya. Untuk itu dianjurkan agar memperbanyak minum air putih terutama dalam proses menghafalkan al-Qur‟an.
c. Pilih tempat yang nyaman
Pemilihan tempat dalam menghafalkan al-Qur‟an juga memiliki peran penting dan sangat signifikan ketika sedang menghafalkan al-Qur‟an. Jadi, carilah tempat yang bersih, damai dan tenang. Pastikan tidak ada sesuatu hal yang dapat mengganggu dan menyibukkan kita dari perhatian menghafal Qur‟an ataupun gerakan yang dapat membuat konsentrasi saat menghafalkan al-Qur‟an jadi pecah dan tidak fokus.12 Hindari tempat yang membuat kita mudah mengantuk sehingga seringkali menguap saat menghafalkan al-Qur‟an, hindari keadaan terlalu kenyang dan posisi bersandar dalam menghafal al-Qur‟an karena dapat membuat kelelahan dalam menghafalkan al-Qur‟an.
d. Pilih waktu yang tepat
Memilih waktu saat menghafal al-Qur‟an juga memiliki peran yang sangat penting dan signifikan. Menurut penelitian, waktu yang paling baik untuk menghafalkan al-Qur‟an adalah satu jam sebelum shubuh dan satu jam setelah salat subuh. Hal ini dapat dilihat pada firmanNya dalam QS al-Isra/15:78َ
12 Tanzil Khaerul Akbar dan Ardi Gunawan, Menghafal Al-Qur‟an dengan Otak Kanan, h. 47
18
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).13
e. Pilih Pembina Tahfidz
Seperti halnya ketika ingin berbisnis, tentu akan mencari seorang mentor yang dapat membimbing agar lebih sukses. Begitu juga pada saat hendak menghafalkan al-Qur‟an. Harus ada seorang pembina tahfidz yang akan membenarkan hafalan al-Qur‟an, baik dari segi makhrajnya, panjang pendek maupun yang berkaitan dengan proses menghafalkan al-Qur‟an.
6. Keutamaan Menghafal Al-Qur‟an
Al-Qur‟an memiliki banyak fad}ilah} yang tidak terhingga, sehingga al-Qur‟an bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.14 Di antara keutamaan itu ialah sebagai berikut:
a. Al-Qur‟an memberi syafaat bagi penjaganya Dalam sebuah hadis dinyatakan:
َ اَْل
Bacalah al-Qur‟an, karena ia akan datang dengan memberi syafa‟at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang menjadikan al-Qur‟an sebagai sahabatnya di dunia, maka ia (al-Qur‟an) itu dapat memberi syafaat bagi si pembacanya di akhirat kelak.16 Sebuah anjuran yang patut dilaksanakan karena mengetahui bahwa Allāh tak pernah ingkar dengan janjinya.
13Kementrian Agama RI, Al-Quran Hafalan dan Terjemah (Bandung: Cordoba, 2019), h. 328.
14Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Metode Cepat Hafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, h. 16.
15Muslim bin Hajjaj, Shohih Muslim, ter. KH.Adib Bisri Mustafa. (Semarang: CV. Asy-Syifa, 1992), h. 972
16Muzakkir, Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Quran , h. 117
19
b. Dibolehkan iri kepada penghafal al-Qur‟an Dalam hadis disebutkan : dikaruniai Allāh (kemampuan membaca/menghafal al-quran). Lalu ia membacanya malam dan siang hari, dan orang yang dikaruniai harta oleh Allāh, lalu ia menginfakannya pada malam dan siang hari. (HR. Bukhari, Tarmidzi, dan Nasa‟i)
H}asad (iri atau dengki) yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah gibtoh}, yakni seseorang yang ingin mendapatkan kebaikan seperti apa yang di dapat orang lain, tanpa berkeinginan agar nikmat yang diterima orang lain itu hilang. Iri seperti inilah yang diperbolehkan dalam agama islam.18
Berdasarkan penjelasan di atas, mengenai diperbolehkan iri pada dua hal, memberikan pencerahan bahwa tak boleh lagi ada iri selain kepada 2 hal tersebut, sehingga meskipun seseorang lebih unggul di antara kedua hal tersebut, tak mengapa bersikap biasa-biasa saja, karena dalam agama islam hanya dua hal yang boleh bersikap iri terhadapnya yakni orang yang menginfakkan hartanya siang dan malam dan seorang penghafal al-Qur‟an.
c. Penghafal al-Qur‟an digolongkan sebagai orang-orang pilihan yang mulia bersama para nabi dan syuhada
17Nurekawati, “Hasad Perspektif Hadis”, Skripsi (Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2021), h. 6.
18Rofiul Wahyudi dan Ridhoul Wahidi, Metode Cepat Hafal Al-Qur‟an Saat Sibuk Kuliah, h.18
20
Dalam hadis dijelaskan:
ََحَش ئاَػََٓػ
َش٘اٌَّاَُ ٍَعَ ََٚ ٗ١ٍََػَ لِلّاَٟ ٍَطَ لِلّاَ يٛ ع َسََياَل: دٌَاَلََإَٙػَ لِلّاَٟض َس
ٌَََٗ قاَشَ ٗ١ٍََػَ َٛ ٘ ََٚٗ١ فَ غَرؼَرَرَ٠ َََْٚاش مٌاَ اش مَ٠َٞ زٌَ ا ََٚ ج َس َشَثٌَاَ َا َش ىٌاََج َشَفَغٌاََغََِ ْاش مٌ ات اَٜٚزِشرٌاَٚدٚٚادَٛتاٍَُٚغَِٜٚساخثٌاَٖاٚس(َْاشَجَا
ٗجآَِت
19
Artinya :
Dari Aisyah r.a berkata bahwa Rasūlullāh saw. bersabda, Orang yang ahli dalam al-quran akan berada bersama malaikat pencatat yang mulia lagi benar, dan orang terbata-bata membaca al-Quran sedang ia bersusah payah (mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali. (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud)
ٌَاسُقنا أ َسَق ٍََي َىَهَس َو ٍَِّهَع ٌَللا ًَهَص ٌللا ُلىُسَز َلاَق:َلاَق ََُُّع ٌُللا ًَضَز ًَُِِهُجنا ٌِِذاَعُي ٍَع اٌٍََدنا ِث ُىٍُُب ًِف ِسًٌشنا ِءىَض ٍُِي ٍَُسحَا َِ ُوىَض ِتَياٍَِقنا َوىٌَ اًجاَت ُِاَدِنا َو َسِبُنُا ٍِِّفاًَِب َمًَِع َو اَرهِب َمًَِع ُيِرَناِب ىُكٌَُظ اًََف
20
)ىكاحنا ّححصوو دوواد ىباو دًحا ِاوز(
Artinya :
Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allāh akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran. (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).
Penjelasan di atas menggambarkan bahwa orang yang hafal al-Qur‟an akan mendapat banyak keutamaan baik di dunia maupun akhirat. Selain keutamaan untuk diri sendiri, keutamaan lain juga berdampak pada orang tua.
19Awaluddin, “Peranan Tahfidz Al-Qur‟an Terhadap Pembentukan Karakter Santri Yayasan Nidaul Amin Bojo Kabupaten Barru”, Skripsi (Parepare: IAIN Parepare, 2018), h. 31
20Sulaiman bin Imran al Asy‟ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin „Amr bin Imran, Sunan Abu Daud, (Beirut: Dar al-Kutub al „ilmiyah, 1996), h. 430.
21
Keutamaan-keutamaan tersebut mendorong orang islam untuk menghafal al-Qur‟an.21
Kedua hadis di atas tentu memberikan kabar gembira kepada orang yang menghafalkan al-Qur‟an bersama orangtuanya, sungguh beruntunglah para orang tua yang berusaha untuk memotivasi anaknya dalam menghafal al-Qur‟an, meskipun ia belum menghafal al-Qur‟an namun karena dorongannya sehingga sang anak mampu menghafal dan mengamalkan al-Qur‟an saat di dunia, lalu di akhirat kelak Allāh memberikan ganjaran berupa mahkota kemuliaan.
d. Penghafal al-Qur‟an dapat memberi syafaat kepada keluarganya Dalam hadis dijelaskan:
ٍَََََُع ََََٚٗ١ٍََػََ لِلّاََ ٟ ٍَطََ لِلّاََ يٛ ع َسَََياَلَحَٙج َََٚ لِلّاََََ شَوَََََٚ َٕٗػََ لِلّاََٟض َسََ ٟ ٍَػََٓػ
ََ ٟفََٗؼ فَش ََََٚح َٕجٌاََ لِلّاََ ٍََٗخدَاََ َِٗا َشَحََََ شَح ٌَََٚٗ٣َحََ ًَحَفَٖ َشَٙظَرعاَفَََْاش مٌاَأشَلََِٓ
َازَ٘يالَٚٞزِشرٌاَٚذّحأَٖاٚس(. سا ٌٕاََ ٌََٗدثج ََٚذَلَُ ٙ ٍ وَٗر ١َتََ ًَ٘آَ َََِجشَشَػ
َٟفَفؼض٠َٜٛمرٌاتََٛ٘ظ١ٌَٞٚاشٌاَْاّ١ٍعَٓتَضفحَٚة٠شغَس٠ذح
22
)ِٟساذٌاَٚٗجآَِتأَٖاٚسَٚس٠ذحٌا.
Artinya :
Dari Ali karramallāhu wajhah, ia berkata bahwa Rasūlullāh saw. bersabda:
Barangsiapa membaca al-Qur'an dan menghafalnya, lalu menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya, maka Allāh swt. akan memasukannya ke dalam Surga dan Allāh menjaminnya untuk memberi syafaat kepada sepuluh orang keluarganya yang kesemuanya telah diwajibkan masuk neraka. (HR Imam Ahmad dan Tirmidzi)
Jadi, keutamaan menghafal al-Qur‟an tidak hanya dirasakan oleh yang menghafal saja, berdasarkan penjelasan hadis di atas dapat dipahami bahwa seorang yang menghafal al-Qur‟an juga bisa memberi syafaat bagi sepuluh keluarga yang sudah pasti masuk neraka.
21Ulummuddin, Memahami Hadis-hadis keutamaan Menghafal al-Qur‟an dan Kaitannya dengan Program Hafiz Indonesia di RCTI. Vol. 4 No. 1 (April, 2020), h. 70
22 Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surat Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi (Bandung:
Maktabah Dahlan, 1993) Juz 4, h. 351.
22
e. Derajat surga ditentukan oleh hafalan al-Qur‟an
Kelak di akhirat nanti, hafalan surah terakhir al-Qur‟an yang akan menentukan tingkatan surga bagi ummat manusia. Semakin banyak hafalan al-Qur‟an yang dimiliki, maka semakin tinggi kedudukan/derajat yang akan didapatkan di surga pada akhirat nanti.23 Hal ini bisa dilihat pada Hadits Abdullāh bin „Amr r.a., bahwa Rasūlullāh saw. bersabda.
ََذْٕ ػَ َهٌَ ضَََِّْْٕ اَفَاَ١ْٔ ذٌاَٝ فَ ً ذ َش ذَ َدْٕ وَاََّوًَْ ذ َس ََٚ كَذ ْسا ََْٚأ َشْلاَ ْآ ْش مٌْاَ ة حاَظ ٌَ ياَم ٠
24
اَ٘ ؤ َشْمَذَ حَ٠آَ ش خآ
Artinya :
Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur‟an nanti, Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal). (Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Daud)
f. Sosok yang selalu diutamakan dalam memimpin shalat
Dalam memimpin salat tidak hanya diukur oleh keberanian saja, melainkan yang menjadi ukuran seseorang diutamakan yang menjadi pemimpin dalam shalat yakni bacaan al-Qur‟an yang baik dan memiliki jumlah hafalan yang banyak. Hal bisa dilihat dalam hadis Rasūlullāh saw. :
َاٛ ٔاَوََْْ اَفََ حَّٕ غٌا تََُْ ٙ ٍَّْػَأَفًََءا ََٛعََ جَءا َش مٌْاَٟ فَاٛ ٔاَوََْْ اَفََ َّلِلّاََ باَر ى ٌََُْ ٘ ؤ َشْلَأََََ َْٛمٌْاََ َ إَ٠
ََََِّّٓ إَ٠َََل ََٚإًّ عََُْ ٙ َِذْلَأَفًََءا ََٛعََ ج َشْج ٌْٙاَٟ فَاٛ ٔاَوََْْ اَفًََج َشْج ََُْ٘ ٙ َِذْلَأَفًََءا ََٛعََ حَّٕ غٌاَٟ ف
25
َ ٗ ْٔر ا تَََّل ئََ ٗ رَِ شْىَذٍَََٝػََ ٗ رْ١َتَٟ فََْذ ؼْمَ٠َََل َََٚ ٗ ٔاَطٍْ عَٟ فًَ ج َّشٌاًَ ج َّشٌا
Artinya :
23Tanzil Khaerul Akbar dan Ardi Gunawan, Menghafal Al-Qur‟an dengan Otak Kanan, h. 21
24 Sulaiman bin al Asy‟ats bin Syadad bin „Amru bin „Amir Abu Daud, Sunan Abu Daud kitab shalah bab istihab at-Tartil hadis No. 1252
25Jannati Handayani, “Perbandingan Metode Menghafal Al-Qur‟an di Pondok Pesantren Daarul Huffaazh Al-Islami dan Pondok Pesantren Satu Qur‟an Jambi”, Skripsi (Jambi: UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, 2020), h. 51
23
Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah orang yang lebih aqra' pada kitabullāh. Bila peringkat mereka sama dalam masalah qiraat, maka yang lebih paham dengan sunnah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih dahulu berangkat hijrah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih banyak usianya. Namun janganlah seorang menjadi imam buat orang lain di wilayah kekuasaan orang lain itu, jangan duduk di rumahnya kecuali dengan izinnya. (HR Muslim)
Keutamaan yang didapati hafidz di akhirat. Kelak di akhirat al-Qur‟an akan menjadi saksi bagi seorang hafidz juga akan mendapat mahkota kehormatan dan rid}a Allāh. Tentunya menjadi ungkapan yang menggiurkan karena al-Qur‟an dapat menjadi jaminan seseorang di akhirat untuk mendapatkan keselamatan yang berujung pada kenikmatan surga.26
g. Memperoleh banyak pahala
Penghafal al-Qur‟an akan meraih banyak sekali pahala. Bisa digambarkan, jika setiap huruf yang dibaca seorang mendapatkan 10 pahala, jumlah huruf al-Qur‟an (sebagaimana disebutkan imam sayuthi dalam al-itqan) adalah 671.323 huruf maka bisa dibayangkan berapa juta pahala yang dihasilkan ketika seorang penghafal al-Qur‟an berulang kali membaca ayat-ayat al-Qur‟an.27 Alasan apa lagi membuat jauh dari ayatnya tidak mengambil langkah untuk segera menghafalkannya, padahal pahala yang diperoleh lebih banyak ketika sudah dikalikan dengan jumlah huruf yang dibaca dalam setiap kalamNya.
h. Disegerakan proses penguburannya
Nabi Muhammad saw. pernah menyegerakan penguburan sahabat yang meninggal dalam perang uhud, yang hafalannya lebih banyak daripada lainnya.
Ini penghargaan bagi mereka yang hafal al-Qur‟an.28 Sungguh mulia orang-orang
26 Ulummuddin, Memahami Hadis-hadis keutamaan Menghafal al-Qur‟an dan Kaitannya dengan Program Hafiz Indonesia di RCTI. Vol. 4 No. 1 (April, 2020), h. 69
27Ahsin Sakho Muhammad, Menghafalkan Al-Qur‟an, h. 27.
28Ahsin Sakho Muhammad, Menghafalkan Al-Qur‟an, h. 28
24
yang menghafalkan al-Qur‟an tidak hanya diutamakan pada saat ia hidup, namun pada saat ia meninggal dan proses penguburannya juga diutamakan.
i. Aktifnya sel-sel otak
Penghafal al-Qur‟an telah mengaktifkan sel-sel otaknya yang berjumlah miliaran melalui kegiatan menghafal. Kegiatan ini potensi untuk menjadikan otaknya menjadi semakin kuat dan cerdas. Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika dilatih terus-menerus akan menjadi kuat. Begitupula dengan proses mengulang hafalan maka dalam hal ini otaknya terus berjalan bagai kumparan yang terus menerus bergerak.29
Demikianlah beberapa keutamaan yang bisa didapatkan oleh seorang penghafal al-Qur‟an, namun tidak sebatas mengetahui keutamaannya saja, namun yang terpenting adalah bagaimana kita bersabar dalam menjalankan proses menghafal al-Qur‟an yang terkadang diterpa oleh rasa malas dan bosan.
7. Metode Menghafal Al-Qur‟an
Dalam proses menghafal al-Qur‟an ada banyak metode yang bisa digunakan oleh para penghafal al-Qur‟an, metode tersebut berasal dari mentor dan dari beberapa pengalaman yang telah menghafalkan al-Qur‟an, berikut beberapa metode menghafal al-Qur‟an :
a. Menghafal dengan membacakan kepada guru atau sering disebut dengan setoran („aradh) dimana seorang guru menyimak hafalan muridnya. Jika murid melakukan satu kesalahan, guru segera akan membenarkan bacaannya, olehnya itu penghafal Al-Qur‟an hendaknya mencari guru yang mutqin (menguasai dari segi hafalan maupun bacaan).30
29 Ahsin Sakho Muhammad, Menghafalkan Al-Qur‟an, h. 30
30 Rachmat Morado Sugiarto, Cara Gampang Menghafal Al-Qur‟an (Jakarta: Wahyu Qalbu, 2019), h. 51
25
b. Menghafal dengan metode talaqqi. Yaitu guru membacakan secara perlahan ayat-ayat yang akan dihafal murid. Setelah murid mendengar bacaan gurunya mereka kemudian mengikuti bacaan tersebut. guru
b. Menghafal dengan metode talaqqi. Yaitu guru membacakan secara perlahan ayat-ayat yang akan dihafal murid. Setelah murid mendengar bacaan gurunya mereka kemudian mengikuti bacaan tersebut. guru