BAB III PROSEDUR PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
8) Kualitas Interaksi Sosial dari Media Pembelajaran
Maksud dari aspek kualitas interaksi sosial dari media pembelajaran adalah interaksi yang dihasilkan oleh hasil dipaparkannya media oleh pengajar kepada peserta didik dikelas, sehingga timbul interaksi sosial antar peserta didik satu dengan peserta didik lainnya dalam membahas materi dengan media yang disajikan oleh pengajar setelah kegiatan belajar mengajar. Namun tidak hanya antar peserta didik, interaksi sosial yang dimaksud disini juga dapat terjadi antara peserta didik dengan pengajar ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lebih efisien dan interaktif. Hal ini didukung oleh pendapat Zuhdy (2011) tentang tingkat interaksi atau timbal balik antara pengajar dan peserta didik. Seorang pengajar harus mempertimbangkan akankah dengan media pembelajaran yang dipilih, bisa terjadi interaksi yang baik antara pengajar dan peserta didik. Karena melalui interaksi ini dapat diketahui persentase keberhasilan penyampaian materi. Dengan kata lain, interaksi dapat dijadikan sebagai ajang evaluasi sehingga dipastikan proses belajar mengajar menjadi lebih efisien.
Sekolah Prosentase
SMA N 2 Semarang 70,7
SMA N 5 Semarang 70,31
SMA N 6 Semarang 72,72
SMA N 12 Semarang 73,86
Tabel 4.13. Kualitas Interaksi Sosial dari Media
Pada tabel 4.13. menjelaskan perolehan dan perbandingan skor pada kualitas interaksi sosial. Untuk prosentase kualitas interaksi sosial tertinggi didapat oleh SMA Negeri 12 Semarang dengan prosentase 73,86%, lalu ada SMA Negeri 6 Semarang dengan prosentase 72,72%. Kedua SMA ini mendapatkan kriteria baik dan dengan kata lain penggunaan media pada kedua sekolah ini telah menciptakan interaksi sosial yang baik dikelas. Hal ini tidak lepas dari kepandaian pengajar dalam menghidupkan situasi kelasnya dan kreatifitas pengajar dalam membuat media semenarik mungkian agar menarik minat peserta didik untuk selalu memperhatikan medianya tersebut. sedangkan untuk SMA Negeri 2 mendapat 70,70% dengan kriteria cukup dan SMA Negeri 5 mendapatkan 70,31% dengan kriteria cukup juga.
9) Kualitas dari Pemberian Tes dan Penilaian
Penggunaan media akan membantu peserta didik menyerap materi belajar lebih mendalam dan utuh sehingga pemahaman peserta didik pasti akan lebih baik. Hal ini akan berakibat pada peningkatan hasil belajar peserta didik yang diperoleh dari pemberian tes dan penilaian lainnya. Sebelumnya akan disajikan tabel 4.14
perolehan skor kualitas dari pemberian tes dan penilaian yang diperolehkeempat SMA Negeri d kota Semarang.
Sekolah Prosentase
SMA N 2 Semarang 70,7
SMA N 5 Semarang 74,61
SMA N 6 Semarang 67,91
SMA N 12 Semarang 70,45
Tabel 4.14. Kualitas Pemberian Tes dan Penilaian Media
Kualitas dari pemberian tes dan penilaian pada SMA Negeri 5 menepati posisi tertinggi diantara SMA yang lain, yaitu dengan prosentase 74,61% dan kriteria baik. Dengan hasil seperti ini menjelaskan bahwa Peserta didik dapat menjawab soal-soal tes dari pengajar dengan baik dari mempelajari menggunakan media yang diberikan pengajar. Sehingga peserta didik di SMA Negeri 5 juga akan mendapatkan nilai yang baik atas jawabannya untuk tes yang telah dikerjakannya. Disini pengajar SMA negeri 5 Semarang bisa dibilang sukses dalam memberikan materi ajar karena para peserta didiknya dapat menjawabnya dengan baik. untuk SMA Negeri 2, 6, dan 12 mendapatkan kriteria cukup. Berarti pengajar disini cukup mampu menjalankan kegiatan mengajar dengan baik. hal ini dibuktikan dengan kualitas pemberian tes dan penilaian yang mendapat kriteria cukup. Pernyataan tersebut sesuai dengan Zuhdy (2011) mengenai hal yang dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran, yaitu tentang Kemudahan oleh pengajar dalam melakukan evaluasi dan penilaian hasil belajar peserta didik. Apakah dengan media
yang digunakan, pengajar dapat melakukan evaluasi dan penilaian hasil belajar dengan mudah sehingga sekaligus mempersingkat waktu. Namun hal ini tetap tidak dapat jauh dari niat belajar peserta didik dalam memahami materi yang diberikan pengajar dan belajar mandiri.
10) Pengaruh pada Peserta Didik
Hamalik dalam Arsyad (2007) mengemukakan bahwa “pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa”. Sesuai dengan pernytaan tersebut pengaruh pada peserta didik yang ditimbulkan diantaranya karakteristik peserta didik, yaitu sikap pribadi dan kematangan pada setiap anak didik; keterlibatan peserta didik dalam proses belajar lebih efektif; serta pengaruh media terhadap kehidupan sehari-harinya. Dicontohkan seorang peserta didik yang semakin menjadi rajin dalam belajar karena diadakannya media dan karena rajin belajarnya membuat dia lebih disiplin dalam setiap hal yang dilakukan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kemp dan Dayton dalam Arsyad (2007) mengenai salah satu manfaat media pembelajaran, yaitu “Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar.” Hal yang sama juga dikatakan oleh Arsyad (2007) mengenai fungsipraktis media yaitu
“Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya”. Pada aspek ini peserta didik SMA
Negeri 2 mendapatkan prosentase 75,20% dengan kriteria baik dan paling tinggi
prosentasenya daripada SMA Negeri yang lain. SMA Negeri lain yang
mendapatkan kriteria baik adalah SMA Negeri 5 (76,56%) dan SMA Negeri 6
Semarang (75,43%). Untuk SMA Negeri 12 mendapatkan prosentase cukup dengan skor 68,75%. Jadi untuk kualitas media dalam pengaruh terhadap peserta didiknya SMA Negeri 12 masih belum baik. Berikut akan diberikan tabel 4.15 untuk
memperjelas perbandingan perolehan skor tersebut.
Sekolah Prosentase
SMA N 2 Semarang 75,2
SMA N 5 Semarang 72,27
SMA N 6 Semarang 72,8
SMA N 12 Semarang 68,75
Tabel 4.15. Pengaruh pada Peserta Didik
11) Pengaruh pada Pengajar
Media tidak hanya berpengaruh pada peserta didik, media juga dapat berpengaruh terhadap pengajar. Karena pengajar juga andil dalam kegiatan belajar mengajar dikelas karena selaku pengelola media dan penyampai materi belajar. Pengaruh yang terlihat adalah mudahnya pengajar dalam menyampaikan materi daripada menggunakan model pengajaran konvensional yang bisa dibilang monoton (jika pengajar kurang kreatif dalam mengelola kelas) dan dapat membuat peserta didik jenuh didalam kelas tanpa adanya peran media. Pengajar juga bisa lebih terlihat profesional dan dapat menghidupkan kelas dengan lebih mudah dalam
mengajar dikelas. Karena peserta didik dapat lebih tertarik dengan media yang pengajar sajikan dikelas. Seperti pendapat dari Kemp dan dayton dalam Arsyad (2007) mengenai salah satu manfaat media pembelajaran yaitu media pembelajaran
dapat merubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif dari sebelumnya.
Sekolah Prosentase
SMA N 2 Semarang 70,7
SMA N 5 Semarang 74,61
SMA N 6 Semarang 67,91
SMA N 12 Semarang 70,45
Tabel 4.16. Pengaruh pada Pengajar
Dari gambar 4.16. diatas menunjukkan bahwa untuk keempat sekolah (SMA Negeri 2 Semarang, SMA Negri 5 Semarang, SMA Negeri 6 Semarang, dan SMA Negeri 12 Semarang) sudah bisa dikatakan telah memenuhi aspek ini. Hal ini terbukti pada keempat SMA Negeri tersebut telah mendapatkan kriteria baik untuk aspek pengaruh media pada pengajar. Pada aspek ini SMA Negeri 12 mendapatkan nilai prosentase tertinggi dengan prosentase 77,65%, lalu ada SMA negeri 5 dengan prosentase 76,56%, SMA Negeri 6 dengan prosentase 75,43%, dan SMA Negeri 2 dengan prosentase 74,22%.
12) Kemudahan dalam Penggunaan
Kriteria baik diperoleh oleh keempat SMA Negeri pada aspek kemudahan dalam penggunaan. Menurut Sanjaya (2006) dalam strategi pembelajaran menyatakan prinsip media pembelajaran, salah satunya yaitu “media yang
digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoprasikannya”. Pada aspek ini dimaksudkan bahwa media yang telah dibuat oleh pengajar mampu dioperasikan dengan mudah oleh pengajar itu sendiri dan oleh peserta didik dalam kegiatan belajar mandirinya dirumah. Pengajar-pengajar pada keempat SMA tersebut telah dapat membuat media yang bisa dikatakan mudah dalam penggunaan. Hal ini dibuktikan oleh perolehan skor masing-masing SMA Negeri dengan hasil prosentase di atas rata-rata kriteria cukup dan dengan mendapatkan kriteria baik.
Berikut rincian perolehan skor dengan perbandingan antar SMA yang disajikan dalam tabel 4.17 mengenai kemudahan dalam penggunaan.
Sekolah Prosentase
SMA N 2 Semarang 77,34
SMA N 5 Semarang 77.73
SMA N 6 Semarang 74,26
SMA N 12 Semarang 74,63
Tabel 4.17. Kemudahan dalam Penggunaan
Pada tabel 4.17. menjelaskan bahwa hasil penelitian di SMA N 2 Semarang yaitu 77,34% (kriteria baik), SMA N 5 Semarang yaitu 77,73% (kriteria baik), sedangkan di SMA N 6 Semarang adalah 74,26% (kriteria baik), dan SMA N 12
Semarang yaitu 74,63% (kriteria baik). keempat SMA Negeri tersebut telah dapat memberikan media yang dapat digunakan dengan mudah.
13) Kualitas Tampilan
Kualitas tampilan media pada keempat SMA Negeri di Semarang mendapatkan kriteria baik. kualitas tampilan media mengacu pada sajian tampilan mulai dari penggunaan font, paduan warna, pemberian animasi, juga penggunaan tema latar atau backgroud media. Jika kualitas tampilan dari sebuah media dikatakan bagus, maka akan dapat menarik perhatian peserta didik untuk lebih serius mengamati media. Sesuai dengan pendapat Arsyad (2007) dalam fungsi praktis media yaitu dengan media proses pembelajaran akan menjadi lebih jelas dan menarik. Dari kualitas ini dapat mengacu pada aspek yang lain yaitu daya tarik media. Karena semakin tinggi kualitas tampilan maka kualitas daya tarik pada media juga ikut tinggi. Kualitas dari tampilan ini juga dapat membuat suasana
kegiatan belajar lebih hidup dan tidak membosankan.
Sekolah Prosentase
SMA N 2 Semarang 77,75
SMA N 5 Semarang 73,05
SMA N 6 Semarang 77
SMA N 12 Semarang 72,84
Tabel 4.18. Kualitas Tampilan Media
Pada tabel 4.18. menunjukkan prosentase tertinggi didapat oleh SMA Negeri 5 dengan 79,49%, lalu ada SMA Negeri 2 mendapat 77,75%, SMA Negeri 6 memperoleh 77,00%, dan SMA Negeri 12 memperoleh 72,84%. Perbandingan SMA negeri 5 (tertinggi) dan SMA Negeri 12 (terendah) sebesar 72,84%. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa keempat SMA Negeri tersebut membuktikan telah dapat membuat media dengantampilan yang baik. ini disebabkan para pengajar selaku pembuat telah pandai dalam berkreasi membuat media yang baik.
14) Kualitas Pengelolaan Program
Pada pernyataan Kemp dan Dayton dalam Arsyad (2007) mengenai salah satu manfaat media adalah Proses pembelajaran dengan menggunakan media akan menjadi lebih interaktif. Kualitas pengelolaan program disini adalah kemampuan pengajar dalam menggunakan media yang bersifat interaktif terhadap peserta didik yang sedang mendengarkan pengajar menyampaikan materi dengan media. Disini seorang pengajar dituntut tidak hanya dapat menggunakan media, namun pengajar dapat mengajar materi dengan jelas dan dapat membuat peserta didik paham sambil
menjalankan program medianya.
Sekolah Prosentase
SMA N 2 Semarang 71,48
SMA N 5 Semarang 73,05
SMA N 6 Semarang 66,91
SMA N 12 Semarang 66,29
Tabel 4.19. Kualitas Pengeloaan Program
Pada gambar 4.19. menunjukkan bahwa SMA Negeri 5 menunjukan prosentase tertinggi dengan kriteria baik sebesar 73,05%. Pada bukti ini membuktikan bahwa pengajar pada SMA Negeri 5 telah mampu mengelola media dengan baik. Pengajar di SMA negeri 5 tidak hanya sanggup menggunakan media,
namun juga dapat berkolaborasi denganbaik dengan media yang diigunakannya. Untuk kriteria baik berikutnya didapatkan oleh SMA Negeri 2 Semarang dengan prosentase sebesar 71,48%. Untuk SMA Negeri 6 dan SMA Negeri 12 mendapatkan kriteria cukup. Sebesar 66,91% didapat oleh SMA negeri 6 dan sebesar 66,29% didapatkan oleh SMA Negeri 12 Semarang. Kedua SMA Negeri ini ( SMA Negeri 6 dan 12) bisa dibilang cukup dalam pengelolaan media dikelas.
15) Kualitas Dokumentasi
Berikut akan disajikan tabel 4.20 perolehan dan perbandingan skor untuk kualitas dokumentasi. Sekolah Prosentase SMA N 2 Semarang 75,39 SMA N 5 Semarang 77,73 SMA N 6 Semarang 75,37 SMA N 12 Semarang 75,76
Tabel 4.20. Dokumentasi Media
Kualitas dokumentasi SMA Negeri 5 Semarang memperoleh prosentase tertinggi sebesar 77,73% dengan kriteria baik. Pada kualitas dokumentasi ini meliputi tentang hasil tes peserta didik, hasil tugas kelompok, dan tugas quesioner ataupun yang lanyang telah didokumentasikan. Peserta didik SMA Negeri 5 Semarang memiliki dokumentasi yang bagus daripada SMA yang lain. Ini dibuktikan oleh hasil dari kualitas dokumentasi ini. Namun untuk ketiga SMA yang lain selisihnya tidak begitu jauh, SMA Negeri 12 mendapatkan prosentase sebesar
75,76%, SMA Negeri 2 mendapat 75,39%, dan SMA Negeri 6 mendapatkan 75,37%. Jadi disimpulkan bahwa keempat SMA negeri ( SMA negeri 2, 5, 6, 12) mendapatkan kriteria baik. jadi peserta didik telah memberikan hasil respon yang baik dengan adanya media tersebut. Hal tersebut didukung oleh pernytaan Zuhdy (2011) mengenai hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pembelajaran, yaitu “Kemudahan melakukan evaluasi dan penilaian hasil belajar. Apakah dengan media yang digunakan, pengajar dapat melakukan evaluasi dan penilaian hasil belajar dengan mudah sehingga sekaligus mempersingkat waktu”.
4.3.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Media
Dari hasil yang diperoleh dari tiap indikator dan observasi di setiap sekolah tempat penelitian berlangsung, maka telah disimpulkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas dari media.