• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN TEORITIS

C. Kualitas Pelayanan dan Persaingan dalam Islam

Islam memberikan ajaran kapan seorang muslim dapat melakukan transaksi, bagaimana mekanisme transaksi dan komoditas barang maupun jasa. Secara umum ajaran Islam tidak memperkenankan jika aktivitas bisnis dan perdagangan dapat melupakan kita kepada kehadirat Allah SWT. Sedangkan untuk objek yang dapat untuk di perjual belikan, yang menjadi acuan adalah selama barang yang diperjual belikan halal dan tidak berbahaya bagi dirinya maupun orang lain.

Konsep pelayanan dalam suatu perdangan memegang peran sangat penting yaitu untuk menarik konsumen agar tetap menjadi pelangan. Islam mengajarkan untuk meningkatkan pelayanan agar memperoleh pendapatan yang tinggi seperti halnya Nabi Muhammad SAW yang pernah menjadi sorang pedagang yang profesioanal dan selalu menjunjung tinggi kejujuran sehingga beliau di juluki

“al-amin” (yang terpercaya). Agar mekanisme pasar dapat berjalan dengan baik maka

nilai-nilai moralitas mutlak harus ditegakkan seperti halnya persaingan yang sehat (fair play), kejujuran ( transparency) dan keadilan (justice).

Adapun prinsip-prinsip yang harus di pegang oleh setip pengusaha yaitu11: 1. Kejujuran (Shidiq)

11

Asyraf M. Dawabah, Menjadi Pengusaha Muslim, (Jakarta: Pustaka Al-kautsar, 2005) h. 61

Jujur merupakan sifat yang terpuji dan akhlak Islam yang utama, dan hendaknya seorang pengusaha selalu bersikap jujur dalam transaksi jual belinya, dengan disertai kejelasan. Diantara makna jujur adalah hendaknya seorang pengusaha tidak mempromosikan dagangannya dengan propaganda yang dusta dan sumpah bohong, atau memberikan penjelasan yang tidak sesuai dengan keadaan barang yang di jual untuk mengelabuhi pembeli.

Allah SWT bersbda dalam surat AL-Ahzab:70-71 yang berbunyi:















































“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan

Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Diantara makna kejujuran adalah hendaknya seorang pengusaha menjaga mitra-mitra bisnisnya, mencintai mereka sebagai mana mereka mencintai dirinya sendiri, serta tidak berlaku egois dalam perhitungan harta hasil usaha mereka.

2. Amanah

Islam menginginkan kepada setiap pengusaha agar mempunyai kesadaran yang tinggi dalam menjaga hak-hak Allah dan hak sesama manusia. Sehingga ia mesti amanah atas dirinya dan juga orang lain. Diantara makna amanah adalah hendaknya seorang pengusaha menjelaskan secara jelas harga penjualan dan keuntungan ketika terjadi jual beli barang yang dilakukan dengan sistem bagi

hasil, hendaknya ia juga menjelaskan cacat pada barang tersebut kepada pembeli jika memang ada cacatnya.

3. Toleransi

Bersikap toleran merupakan pembuka pintu rezeki dan jalan kehidupan yang baik. Diantara faedah dari sikap toleran ini adalah: memudahkan hubungan, mempermudah dalam urusan muamalah dan mempercepat perputaran modal.

Diantara makna toleransi disini adalah mempermudah proses transaksi jual beli. Seorang pengusaha hendaknya tidak meninggikan harga dagangannya jika menjual barang, dan hendaknya seorang pengusaha juga memberatkan takarannya. Cara tersebut dilakukan dengan menyempurnakan takaran (ukuran) barang yang dijual kepada orang lain, kemudian dengan sedikit menambahnya untuk meyakinkan kesempurnaan takaran tersebut.

Adapun perilaku toleran ini dapat dilakukan dengan selalu menunaikan hutang (tanggungan)nya dengan baik dan menjaga dirinya agar tidak tergolong orang-orang yang memakan harta dengan cara bathil. Seorang pengusaha juga haruslah mempermudah dan bersikap baik dengan orang-orang yang berhutang, seperti halnya dengan memberi maaf dan menahan amarah, dan terkadang pula dengan mempermudah dan menunda pembayaran. Hal ini di dasarkan pada firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 280 yang berbunyi:





























“ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah

tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau

Sikap toleransi ini juga dapat diwujudkan dengan cara menjaga hak-hak mitra bisnisnya, tidak menjadikan harta sebagai penyebab ketamakan dan kerakusan atas hak-hak orang lain, terlebih setelah usahanya sukses.

4. Tepat Janji

Islam menganjurkan untuk tepat janji, menghormati akad perjanjian dan hal-hal yang sudah jadi kesepakatan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Israa’ yaitu:













“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa’ 34).

Menguatkan ingatan dan tekadnya. Islam mendorong keras untuk menunaikan janji dengan norma-norma syara’ dengan cara membuat bukti perjanjian agar terhindar dari lupa dan keengganan memenuhinya Agar soerang pengusaha selalu dapat menepati janjinya.

Dalam ajaran Islam, Allah SWT memberikan kebebasan pasar dalam usaha dan mencari keuntungan selagi dalam batas norma-norma syar’i, namun islam mengharamkan beberapa amal (aktifitas) yang dilakukan pelakunya hingga mendatangkan dampak negatif di pasar, terjadi kezaliman dan menghambat mereka yang ingin mendapatkan kebutuhan dengan mudah. Oleh karena itu islam melarang persaingan yang tidak sejalan dengan norma-norma agama diantaranya yaitu:

Yaitu membeli barang dan menimbunnya, tidak dijual kepada orang-orang sehingga harga akan naik. Saat itulah kemudian mereka baru menjualnya. Islam mengharamkan hal ini karena mengandung unsur kerakusan, ketamakan, dan menyulitkan orang-orang12.

b. Dusta atau Bohong dan Menyembunyikan Cacat

Islam melarang dusta, bohong dan menyembunyikan cacat karena sikap itu mengandung unsur kezaliman dan kemudharatan serta pemicu terjadinya permusuhan dan sengketa. Di antara bentuk dusta adalah merubah ukuran dalam timbangan dan takaran dari ukuran yang telah ditentukan oleh syariat atau mengurangi ukuran dan takaran ketika menjual dan meminta tambahan ketika membeli.

c. Najasy

Najasy merupakan rekayasa penjualan dengan adanya penawaran seseorang untuk menaikkan harga barang, (menawar barang agar orang lain menawar lebih tinggi) orang tersebut sebenarnya tidak bermaksud untuk membelinya dengan harga yang tinggi, ataupun dengan cara ada seseorang yang mengabarkan bahwa ia telah membeli barang dengan harga yang lebih murah untuk merugikan penjual13.

d. Mengahadang Pemasok Barang dan Membeli Barang Mereka Sebelum Mereka Sampai ke Pasar

Islam melarang menghadang pemasok barang yang akan ke pasar sebelum samapai ke pasar. Pemasok barang adalah orang-orang yang memebawa barang ke

12Ibid, h.120

Kota untuk di jual baik dengan cara jalan kaki atau berkendaraan, sendirian atau berkelompok sehingga terjadilah transaksi sebelum mereka sampai di Kota. Hal ini akan membawa pada persaingan yang tidak sehat dimana barang tersebut dibeli dengan harga yang lebih murah dari harga pasar, lalu dijual kembali dengan harga murah.

e. Melakukan Transaksi dan Penawaran pada Barang yang Sudah Ditawar atau Dipilih Saudaranya

Islam melarang seorang muslim menjual sesuatu yang masih berada dalam transaksi saudaranya, atau menawarkan harga atas barang yang ada dalam tawaran saudaranya.

Bentuk jual beli ini adalah jika telah terjadi kesepakatan antara penjual dan pembeli atas suatu barang dan keduanya melakukan akad, kemudian datanglah pihak ketiga (pembeli lain) untuk membeli barang itu dengan harga yang lebih tinggi, sehingga pembeli yang pertama dibatalkan oleh pihak penjual.

Dokumen terkait