HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Kualitas Proses Pembelajaran Menulis Narasi
Tindakan-tindakan berupa penerapan metode investigasi kelompok yang dilaksanakan dalam tiap siklus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran menulis narasi siswa kelas V SD Negeri Yosodipuro. Hal ini dapat dilihat pada indikator-indikator berikut:
a. Kerja Sama dengan Anggota Kelompok Selama Proses
Pembelajaran
Bekerja sama yang dimaksud adalah sejauh mana siswa dapat bekerja sama dengan anggota dalam satu kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 sampai 6 anggota. Di sini diharapkan siswa yang mempunyai kemampuan menulis yang tinggi dapat membantu siswa lain yang mengalami kesulitan. Adapun indikator bekerja sama meliputi: membantu menjelaskan pada teman apabila belum jelas materi yang disampaikan guru, menciptakan interaksi saling memberi bantuan secara terus-menerus.
Rincian peningkatan bekerja sama dengan anggota kelompok pada pra siklus sampai siklus III sebagai berikut: pada pra siklus tercatat 3 siswa mendapat nilai 4 (baik); dan 17 siswa mendapat nilai 3
commit to user
(sedang); siklus I: 17 siswa mendapat nilai 4 (baik); dan 11 siswa mendapat nilai 3 (sedang); siklus II: 22 siswa mendapat nilai 4 (baik), dan 7 siswa mendapat nilai 3 (sedang); siklus III: 7 siswa mendapat nilai 5 (sangat baik), 16 siswa mendapat nilai 4 (baik); dan 6 siswa mendapat nilai 3 (sedang). Secara umum rata-rata kerja sama kelompok siswa pun mengalami peningkatan.
b.Keaktifan Siswa Selama Pembelajaran Menulis Karangan Narasi
Keaktifan yang dimaksud adalah keaktifan di dalam proses pembelajaran menulis karangan narasi. Dalam hal ini peneliti menentukan indikator keaktifan siswa. Indikator ini meliputi: siswa mengajukan pertanyaan, siswa menjawab pertanyaan, menanggapi pertanyaan, memperhatikan pertanyaan teman.
Adapun rincian peningkatan kualiatas keaktifan mulai dari prasiklus hingga siklus III adalah sebagai berikut: pada prasiklus terdapat 2 siswa mendapat nilai 4 (baik); 5 siswa mendapat nilai 3 (sedang); dan 11 siswa mendapat nilai 2 (kurang); siklus I tercatat 12 siswa mendapat nilai 4 (baik); 14 siswa mendapat nilai 3 (sedang); dan 3 siswa mendapat nilai 2 (kurang); siklus II tercatat 16 siswa mendapat nilai 4 (baik); 13 siswa mendapat nilai 3 (sedang); siklus III 4 siswa mendapat nilai 5 (sangat baik), 20 siswa mendapat nilai 4 (baik); 5 siswa mendapat nilai 3 (sedang). Peningkatan ini dilihat dari pergeseran nilai rata-rata. Rata-rata peningkatan keaktifan siswa dari prasiklus sampai siklus III terus mengalami peningakatan.
c. Minat Siswa Terhadap Pembelajaran Menulis Karangan Narasi
Minat yang dimaksud adalah semangat serta kemauan siswa kearah positif dalam hal ini adalah proses pembelajaran menulis karangan narasi. Adapun indikatornya fokus peneliti dalam menilai minat meliputi: siswa dengan segera melakukan pembentukan kelompok, siswa dengan segera mengerjakan tugas yang diberikan, siswa menggunakan waktu dengan efektif dan efisien, siswa tidak melakukan aktivitas sendiri di kelas (seperti: mengobrol dengan teman
commit to user
satu kelompok, memainkan benda, melamun saat proses pembelajaran berlangsung).
Dari prasiklus sampai dengan siklus III, minat siswa di setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa ada perkembangan positif siswa mendapat nilai 4 (baik); 14 siswa mendapat nilai 3 (sedang), 2 siswa mendapat nilai 2 (kurang); siklus I tercatat 14 siswa mendapat nilai 4 (baik); 12 siswa mendapat nilai 3 (sedang), dan 3 siswa mendapat nilai 2 (kurang); siklus II 16 siswa mendapat nilai 4 (baik); 13 siswa mendapat nilai 3 (sedang); siklus III tercatat 16 siswa mendapat nilai 5 (sangat baik), 6 siswa mendapat nilai 4 (baik); 6 siswa mendapat nilai 3 (sedang).
2. Kualiatas Hasil Pembelajaran Menulis Karangan Narasi
Penerapann metode pembelajaran investigasi kelompok juga mampu meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis karangan narasi pada siswa kelas V SD. Hal ini dapat dilihat dari indikator-indikator berikut:
a. Isi (gagasan yang dikemukankan)
Siswa mampu menentukan ide tulisan, gagasan dan mengembangkannya dengan cara bekerja sama dengan kelompok. Hal ini menjadikan isi tulisan siswa lebih berbobot. Gagasan atau ide tersebut dapat digali atau diperoleh dari berbagai sumber, antara lain pengalaman, pengamatan, imajinasi, serta pendapat dan keyakinan. Topik siap dijadikan bahan tulisan manakala rancangan topik tersebut dipusatkan pada hal-hal yang memang diketahui serta telah terbatas pada segi yang spesifik. Hal ini menjadi dasar bagi guru dalam menentukan metode investigasi kelompok untuk diterapkan pada siswa dalam pembelajaran menulis narasi.
Pada setiap siklus, aspek ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai siswa yang mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Pada siklus I, skor terendah siswa dalam aspek ini adalah 15; sedangkan skor terendah siswa pada siklus III adalah 17.
commit to user
b.Pengorganisasian Tulisan
Hasil kerja siswa berupa tulisan narasi pada setiap siklus menunjukkan bahwa siswa sudah mampu mengorganisasikan tulisan dengan baik. Hal itu menjadikan tulisan siswa mudah dipahami oleh pembaca meskipun masih ada beberapa siswa yang memiliki tulisan dengan gagasan yang meloncat-loncat tidak sistematis.
Peningkatan kemampuan pada aspek ini tampak dalam skor capaian siswa. Pada saat pretes, kemampuan siswa dalam mengorganisasikan tulisan masih tergolong rendah, dengan kisaran skor 7-18. Masih banyak diantara mereka yang kurang lancar dalam menuangkan ide, terpotong-potong dalam menyusunnya sehingga pembaca sulit memahami maknanya. Pada saat postes, kisaran skor tersebut mengalami peningkatan hingga mencapai skor maksimal 19 dan skor minimal 13.
c. Pemanfaatan Kosakata
Dalam tulisan narasi yang dibuat, siswa sudah mampu memanfaatkan potensi kata. Siswa sudah mampu menggunakan ungkapan-ungkapan yang memperindah karangan narasi. Hal ini menjadikan karangan narasi siswa tidak lagi membosankan untuk dibaca.
d.Penggunaan Kaidah Bahasa Tulis
Siswa telah mampu menggunakan kaidah bahasa tulis dengan baik dibandingkan pada saat survei awal. Hal ini diindikatori oleh sedikitnya kesalahan yang dilakukan siswa dalam penerapan bentuk bahasa. Struktur kalimat telah disusun menurut aturan sintaksis yang benar sehingga maksud yang terkandung dalam tulisan dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.
Penyingkatan kata dalam tulisan siswa juga sudah dapat diminimalkan. Pemakaian huruf kapital dan tanda baca juga sudah cukup tepat. Hanya sebagian kecil siswa yang masih melakukan kesalahan dalam aspek ini. Peningkatan pada aspek ini disebabkan oleh
commit to user
tindakan guru yang telah memaparkan kesalahan yang dialami siswa dan menerangkan cara memerbaikinya.
e. Karakteristik Tulisan
Pada saat survei awal, banyak diantara tulisan siswa yang bukan karangan narasi. Meskipun guru telah memerintahkan siswa untuk menulis narasi, sebagian besar siswa justru menulis jenis karangan deskripsi, eksposisi. Hal ini disebabkan oleh ketidakpahaman siswa terhadap karakteristik tulisan narasi. Setelah diberi penjelasan dan disajikan contoh-contoh tulisan narasi, nilai siswa pada aspek ini terus mengalami peningkatan.
Peningkatan dari setiap aspek penulisan tersebut menjadikan nilai siswa dalam menulis narasi juga mengalami peningkatan. Pada saat pretes, diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis narasi masih tergolong rendah. Hal ini tampak pada capaian nilai menulis narasi siswa yang masih jauh dari batas nilai ketuntasan hasil belajar (63) hanya 7 siswa yang mencapai nilai tersebut pada saat pretes. Kisaran nilai yang dicapai siswa saat itu berkisar 42-66. Peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada siklus I, dari 29 siswa yang hadir, 11 siswa yang sudah mampu menulis narasi dengan benar meskipun nilai mereka hanya berkisar 43-72. Pada siklus II, persentase kemampuan siswa dalam menulis narasi mengalami peningkatan, yaitu 66%. Hal itu berarti jumlah siswa yang mampu mencapai nilai ketuntasan hasil belajar rneningkat, yaitu sebanyak 21 siswa. Kisaran nilai yang dicapai siswa pada siklus II antara 53-77. Peningkatan cukup signifikan terjadi pada siklus III, pada siklus ini, 72% siswa telah mampu mencapai nilai ketuntasan hasil belajar meskipun ada 2 siswa mendapat nilai kurang dari batas minimal ketuntasan belajar yang telah ditentukan (63). Kisaran nilai pada siklus ini antara 61-89. Nilai siswa dari siklus ke siklus mengalami peningkatan sebagai tolok ukur kemampuan siswa dalam menulis narasi.
commit to user
Tabel 13. Rekapitulasi Nilai Menulis Narasi dari Siklus ke Siklus
No Nama Siswa Survei
Awal Siklus I Siklus II Siklus III Keterangan
1 Ifan Rizki Sunarto 42 43 64 66 Meningkat
2 Trisya Dinda A. 56 65 75 77 Meningkat
3 Wahyu Erianto 56 52 61 62 Meningkat
4 Alaina Gurnika 61 54 60 65 Meningkat
5 Anisa Purnamasari 64 51 65 69 Meningkat
6 Adi Cahyo Nugroho 43 43 58 61 Meningkat
7 Ahmad Gusali 63 57 64 75 Meningkat
8 Aditya Yudistira 53 57 68 75 Meningkat
9 Fitri Rusyana 58 63 72 75 Meningkat
10 Fery Dwi O. 53 51 56 67 Meningkat
11 Guntur Lenata D. 56 63 71 77 Meningkat
12 Ilham Soleil B. 55 53 55 77 Meningkat
13 Kristiyani S. 63 58 65 79 Meningkat
14 Lely Widyasari 63 64 69 83 Meningkat
15 Muhammad Daffa R. 63 63 65 65 Tetap
16 Nur’aini Fitria 43 63 77 85 Meningkat
17 Nicko Pradwimas S. 50 51 56 75 Meningkat
18 Novia Desta S. 51 72 85 89 Meningkat
19 Pradipta Barly P. 49 43 63 67 Meningkat
20 Putriana W. 51 63 71 85 Meningkat
21 Puspa Dwiyanti 65 59 69 71 Meningkat
22 Yuaninda Ajeng P. 57 70 73 77 Meningkat
23 Yustizia Kusuma R. 56 67 74 88 Meningkat
24 Andi Abdullah 50 43 65 84 Meningkat
25 Diki Hardinata 54 43 53 75 Meningkat
26 Nehemia Koes Januar 53 51 74 81 Meningkat
27 Intan 55 56 76 87 Meningkat
28 Ferdian R. 66 64 59 80 Meningkat
29 Aviandra Nazarika 50 57 63 68 Meningkat
commit to user
103
BAB V