• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

2. Kualitas Tes

1) Soal Tipe A

Validitas berdasarkan pada penghitungan validitas di bab III, hasil taraf signifikansi 5% untuk jumlah siswa 29 adalah 0,367. Validitas soal tipe A dapat dilihat pada (tabel 4.2 halaman 92) soal yang valid dan tidak valid dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.12 Hasil Analisis Validitas dan Kategori Butir Soal Tipe A Kriteria Nomor Soal

Valid 1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, 10, 11, 13, 15, 16, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 29, dan 30

Tidak Valid 5, 7, 12, 14, 17, 19, 27, dan 28

Berdasarkan tabel 4.2, pada soal tipe A soal yang valid berjumlah 22 butir soal atau sebanyak 73,3%. Soal valid tersebut terdapat pada nomor 1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, 10, 11, 13, 15, 16, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 29, dan 30. Sedangkan soal yang tidak valid sejumlah 8 butir soal atau sebanyak 26,7% terdapat pada nomor 5, 7, 12, 14, 17, 19, 27, dan 28.

2) Soal Tipe B

Validitas berdasarkan pada penghitungan validitas di bab III, hasil taraf signifikansi 5% untuk jumlah siswa 31 adalah 0,355. Validitas soal tipe B dapat dilihat pada (tabel 4.3 halaman 93) soal yang valid dan tidak valid dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.13 Hasil Analisis Validitas dan Kategori Butir Soal Tipe B

Kriteria Nomor Soal

Valid 1, 2, 3, 5, 6, 8, 9, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 26, dan 27

Tidak Valid 4, 7, 10, 11, 14, 20, 22, 23, 24, 25, 28, 29 dan 30 Berdasarkan tabel 4.3, pada soal tipe B soal yang valid berjumlah 17 butir soal atau sebanyak 56,7%. Soal valid tersebut terdapat pada nomor 1, 2, 3, 5, 6, 8, 9, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 26, dan 27. Sedangkan soal yang tidak valid sejumlah 13 butir soal atau sebanyak 43,3% terdapat pada nomor 4, 7, 10, 11, 14, 20, 22, 23, 24, 25, 28, 29 dan 30.

b. Reliabilitas

Uji reliabilitas pada soal tipe A dan Tipe B menggunakan reliabilitas belah dua atau yang sering disebut dengan Split-half Method (odd/even). Hasil dari reliabilitas pada soal tipe A adalah 0,573, sedangkan pada soal tipe B diperoleh hasil reliabilitas sebanyak 0,500. Instrumen pilihan ganda sudah diuji reliabilitasnya dengan memperoleh hasil dari uji reliabilitas soal tipe A dan tipe B termasuk dalam kategori “cukup” karena berada pada rentang 0,41 – 1,00.

c. Daya beda

Kriteria daya beda dapat dilihat pada (tabel 3.8 halaman 82). Daya beda dengan menggunakan kategori baik dan sangat baik di atas 0,30 yang berarti bahwa soal tersebut sudah dapat membedakan siswa yang pandai,

sehingga soal tersebut digunakan oleh peneliti. Soal yang mempunyai daya beda kurang dari 0,30 dibuang.

1) Soal Tipe A

Analisis daya beda tipe A dapat dilihat pada (tabel 4.4 halaman 95). Berikut ini adalah hasil analisis daya beda dan kategorinya:

Tabel 4.14 Hasil Analisis Daya Pembeda pada soal tipe A

Kriteria Nomor Soal

Baik Sekali 2, 4, 6, 8, 9, 11, 13, 14, 15, 20, 21, 23, 24, 25, 28, dan 30

Baik 1, 10, 18, dan 29

Cukup 7, 16, 22, dan 26

Sangat Tidak Baik 3, 5, 12, 17, 19, dan 27

Berdasarkan tabel di atas maka hasil daya beda yang dimiliki oleh soal tipe A pada kategori daya pembeda “sangat tidak baik” sebanyak 6 butir soal atau 20% terdapat pada nomor 3, 5, 12, 17, 19, dan 27, soal dengan kategori “cukup” sebanyak 4 butir soal atau 13,3% terdapat pada nomor 7, 16, 22, dan 26, soal dengan kategori “baik” sebanyak 4 butir soal atau 13,3% terdapat pada nomor 1, 10, 18, dan 29, sedangkan soal dengan kategori “baik sekali” sebanyak 16 butir soal atau 53,4% terdapat pada nomor 2, 4, 6, 8, 9, 11, 13, 14, 15, 20, 21, 23, 24, 25, 28, dan 30.

2) Soal Tipe B

Analisis daya beda tipe B dapat dilihat pada (tabel 4.5 halaman 96) Berikut ini adalah hasil analisis daya beda dan kategorinya:

Tabel 4.15 Hasil Analisis Daya Pembeda pada soal tipe B

Kriteria Nomor Soal

Baik Sekali 1, 2, 3, 5, 6, 8, 9, 12,13, 15, 16, 17, 18, 19, 21, dan 26

Baik 14, dan 27

Cukup 4, dan 10

Sangat Tidak Baik 7, 11, 20, 22, 23, 24, 25, 28, 29, dan 30 Berdasarkan tabel di atas maka hasil daya beda yang dimiliki oleh soal tipe B pada kategori daya pembeda “sangat tidak baik” sebanyak 10 butir soal atau 33,3% terdapat pada nomor 7, 11, 20, 22, 23, 24, 25, 28, 29, dan 30, soal dengan kategori “cukup” sebanyak 2 butir soal atau 6,6% terdapat pada nomor 4, dan 10, soal dengan kategori “baik” sebanyak 2 butir soal atau 6,6% terdapat pada nomor 14, dan 27, sedangkan soal dengan kategori “baik sekali” sebanyak 16 butir soal atau 53,4% terdapat pada nomor 1, 2, 3, 5, 6, 8, 9, 12,13, 15, 16, 17, 18, 19, 21, dan 26.

2. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran dibedakan menjadi kategori sukar, sedang, dan mudah. Rentang nilai untuk kategori tersebut dapat dilihat pada tabel 3.9 halaman 83)

1) Soal Tipe A

Analisis tingkat kesukaran pada soal tipe A dapat dilihat pada (tabel 4.6 halaman 98). Berikut ini adalah tingkat kesukaran dan kategori pada analisis soal tipe:

Tabel 4.16 Hasil Analisis Tingkat Kesukaran dan Kategori Soal Tipe A

Kriteria Nomor Soal Jumlah

Sukar 12, 15, 17, 27, dan 30 5 Sedang 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 14, 20, 23, 24, 25, 28, dan 29 14 Mudah 1, 2, 3, 11, 13, 16, 18, 19, 21, 22, dan 26 11

Berdasarkan tabel di atas pada soal tipe A yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “mudah” ada 11 butir soal atau 36,6% terdapat pada nomor 1, 2, 3, 11, 13, 16, 18, 19, 21, 22, dan 26, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sedang” ada 14 butir soal atau 46,6% terdapat pada nomor 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 14, 20, 23, 24, 25, 28, dan 29, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sukar” ada 5 butir soal atau 16,6% terdapat pada nomor 12, 15, 17, 27, dan 30. 2) Soal Tipe B

Analisis tingkat kesukaran pada soal tipe B dapat dilihat pada (tabel 4.7 halaman 99). Berikut ini adalah tingkat kesukaran dan kategori pada analisis soal tipe:

Tabel 4.17 Hasil Analisis Tingkat Kesukaran dan Kategori Soal Tipe B

Kriteria Nomor Soal Jumlah

Sukar 11, 23, 24, 26, 27, dan 30 6 Sedang 1, 3, 5, 7, 8, 12, 13, 14, 15, 16, 17,

18, 19, 20, 21, 22, 25, 28, dan 29

19

Mudah 2, 4, 6, 9, dan 10 5

Berdasarkan tabel di atas pada soal tipe B yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “mudah” ada 5 butir soal atau 16,6% terdapat pada nomor 2, 4, 6, 9, dan 10, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sedang” ada 19 butir soal atau 63,3% terdapat pada nomor 1, 3, 5, 7, 8, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 25, 28, dan 29, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sukar” ada 6 butir soal atau 20% terdapat pada nomor 11, 23, 24, 26, 27, dan 30. 3. Pengecoh

Pengecoh dapat dikatakan berfungsi baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% peserta tes.

1) Soal Tipe A

Analisis pengecoh soal tipe A dapat dilihat pada (tabel 4.8 halaman 101). Berikut ini adalah pengecoh dan kategorinya:

Tabel 4.18 Hasil Analisis Pengecoh dan Kategori Soal Tipe A Nomor

soal

Berfungsi Tidak berfungsi

1. B A, dan C 2. A B, dan C 3. - B, C, dan D 4. A, C, dan D - 5. B, dan D A 6. C, dan D B 7. A, C, dan D - 8. B, dan D A 9. B, dan D A 10. D A, dan B 11. A B, dan D 12. B, dan C A 13. A, B, dan D - 14. B, dan D A 15. B, dan C D 16. D A, dan C 17. C, dan D B 18. B A, dan D 19. B, dan C D 20. A, B, dan D - 21. A, B, dan C - 22. D A, dan B 23. A, B, dan C - 24. B, C, dan D - 25. C, dan D A

Nomor soal

Berfungsi Tidak berfungsi

26. B, dan C A

27. A, B, dan D -

28. B, dan C A

29. B, C, dan D -

30 B, C, dan D -

Berdasarkan tabel di atas, pada soal tipe A analisis pengecoh yang “tidak berfungsi” ada 29 option jawaban terdapat pada nomor 1 option A dan C, nomor 2 option B dan C, nomor 3 option B, C dan D, nomor 5 option A, nomor 6 option B, nomor 8 option A, nomor 9 option A, nomor 10 option A dan B, nomor 11 option B dan D, nomor 12 option A, nomor 14 option A, nomor 15 option D, nomor 16 option A dan C, nomor 17 option B, nomor 18 option A dan D, nomor 19 option D, nomor 22 option A dan B, nomor 25 option A, nomor 26 option A, dan nomor 28 option A. Pengecoh yang “berfungsi” ada 61 option pada nomor 4, 7, 13, 20, 21, 23, 24, 27, 28, dan 29. Option yang tidak tercantum adalah kunci jawaban 2) Soal Tipe B

Analisis pengecoh soal tipe B dapat dilihat pada (tabel 4.9 halaman 105). Berikut ini adalah pengecoh dan kategorinya:

Tabel 4.19 Hasil Analisis Pengecoh dan Kategori Soal Tipe B

Nomor soal

Berfungsi Tidak berfungsi

1. A, C, dan D - 2. B, dan C D 3. A, dan C B 4. D A, dan B 5. A, B, dan C - 6. B, dan C A 7. A, dan C D 8. A, B, dan C - 9. C, dan D A 10. B, dan D A 11. B, C, dan D - 12. C, dan D A 13. B, dan D A 14. B, C, dan D - 15. A, B, dan C - 16. A, C, dan D - 17. A, B, dan C - 18. A, B, dan C - 19. A, B, dan C - 20. A, C, dan D - 21. B, dan D A 22. A, B, dan D - 23. B, C, dan D - 24. A, dan C D

Nomor soal

Berfungsi Tidak berfungsi

25. A, C, dan D - 26. B, C, dan D - 27. B, C, dan D - 28. A, B, dan C - 29. A, B, dan D - 30 A, C, dan D -

Berdasarkan tabel di atas, pada soal tipe B analisis pengecoh yang “tidak berfungsi” ada 12 option jawaban terdapat pada nomor 2 option B, nomor 3 option D, nomor 4 option A dan B, nomor 6 option A, nomor 7 option D, nomor 9 option A, nomor 10 option A, nomor 12 option A, nomor 13 option A, nomor 21 option A, dan nomor 24 option D. Pengecoh yang “berfungsi” ada 78 option pada nomor 1, 5, 8, 11, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 29, dan 30. Option yang tidak tercantum adalah kunci jawaban.

Soal yang berkualitas baik adalah soal yang valid dan reliabel, mempunyai daya beda yang baik, tingkat kesukaran, dan pengecoh yang berfungsi dengan baik. Peneliti dapat mengambil kesimpulan dari pembahasan tentang validitas, reliabilitas, daya beda, tingkat kesukaran, dan pengecoh untuk mengambil soal yang berkualitas. Soal yang berkualitas baik pada soal tipe A adalah 1, 2, 4, 6, 8, 9, 10, 11, 13, 15, 18, 20, 21, 23, 24, 25, 29, dan 30. Soal yang berkualitas baik pada soal tipe B adalah 1, 2, 3, 5, 6, 8, 9, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 26, dan 27. Dari 60

soal yang telah dibuat peneliti, kemudian dianalisis menggunakan software TAP ada 35 soal yang berkualitas. Pada 35 soal tersebut masih ada beberapa pengecoh yang harus diperbaiki agar dapat berfungsi dengan baik. Pengecoh yang perlu diperbaiki pada soal tipe A adalah nomor 1A,1C, 2B, 2C, 6B, 8A, 9A, 10A, 10B, 11B, 11D, 15D, 18A, 18D, dan 25A, sedangkan pada soal tipe B pada nomor 2D, 3B, 6A, 7D, 12A, dan 13A.

129

BAB V KESIMPULAN

Pada bab ini membahas tentang kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa :

1. Langkah-langkah pengembangan tes hasil belajar ada 7 langkah dan dimulai dari potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validitas desain, revisi desain, uji coba produk, dan revisi produk. 7 langkah tersebut dilakukan oleh peneliti agar dapat mengembangkan dan menghasilkan produk final yang berupa soal tes hasil belajar pada mata pelajaran matematika kelas IV SD. Peneliti mengembangkan soal-soal untuk mengukur tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi pada kompetensi dasar 3.3 menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan satuan waktu, panjang, dan berat. Hasil penelitian pengembangan yang telah divalidasi. Validasi dilakukan oleh empat guru kelas IV SD dan validasi dari keempat guru tersebut mendapat hasil rata-rata dengan kategori “baik” sehingga tes hasil belajar matematika yang sudah dikembangkan sudah layak untuk diuji cobakan kepada subjek.

2. Uji coba yang dilakukan pada subjek menunjukkan bahwa tes hasil belajar yang dikembangkan oleh peneliti memiliki kualitas yang baik. Tes hasil belajar ini mempunyai kualitas baik karena sudah diuji validitas, reliabilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, dan pengecoh yang berfungsi. Kesimpulan dari uji coba pada subjek yaitu:

Pada soal tipe A soal yang valid berjumlah 22 butir soal atau sebanyak 73,3%. Soal yang tidak valid sejumlah 8 butir soal atau sebanyak 26,7%. Sedangkan soal tipe B soal yang valid berjumlah 17 butir soal atau sebanyak 56,7%. Soal yang tidak valid sejumlah 13 butir soal atau sebanyak 43,3%.

Hasil dari reliabilitas pada soal tipe A adalah 0,573, sedangkan pada soal tipe B diperoleh hasil reliabilitas sebanyak 0,500. Instrumen pilihan ganda sudah diuji reliabilitasnya dengan memperoleh hasil dari uji reliabilitas soal tipe A dan tipe B termasuk dalam kategori “cukup”.

Hasil daya beda yang dimiliki oleh soal tipe A pada kategori daya pembeda “sangat tidak baik” sebanyak 6 butir soal atau 20%, soal dengan kategori “cukup” sebanyak 4 butir soal atau 13,3%, soal dengan kategori “baik” sebanyak 4 butir soal atau 13,3% terdapat, sedangkan soal dengan kategori “baik sekali” sebanyak 16 butir soal atau 53,4%. Soal tipe B pada kategori daya pembeda “sangat tidak baik” sebanyak 10 butir soal atau 33,3%, soal dengan kategori

“cukup” sebanyak 2 butir soal atau 6,6%, soal dengan kategori “baik” sebanyak 2 butir soal atau 6,6%, sedangkan soal dengan kategori “baik sekali” sebanyak 16 butir soal atau 53,4%.

Pada soal tipe A yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “mudah” ada 11 butir soal atau 36,6%, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sedang” ada 14 butir soal atau 46,6%, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sukar” ada 5 butir soal atau 16,6%. Soal tipe B yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “mudah” ada 5 butir soal atau 16,6%, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sedang” ada 19 butir soal atau 63,3%, yang memiliki tingkat kesukaran dengan kategori “sukar” ada 6 butir soal atau 20%.

Pada soal tipe A analisis pengecoh yang “tidak berfungsi” ada 29 option jawaban. Pengecoh yang “berfungsi” ada 61 option. Pada soal tipe B analisis pengecoh yang “tidak berfungsi” ada 12 option. Pengecoh yang “berfungsi” ada 78 option.

Hasil analisis tes hasil belajar yang berkualitas adalah soal yang valid dan mempunyai daya beda yang baik. Soal yang berkualitas baik pada soal tipe A adalah 1, 2, 4, 6, 8, 9, 10, 11, 13, 15, 18, 20, 21, 23, 24, 25, 29, dan 30. Soal yang berkualitas baik pada soal tipe B adalah 1, 2, 3, 5, 6, 8, 9, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 26, dan 27.

Hasil analisis dari soal tipe A dan Tipe B akan dijadikan satu menjadi produk akhir. Soal yang baik dari soal tipe A dan tipe B sebanyak 35 soal atau 58,3% dari kisi-kisi soal yang sudah menunjukkan soal yang valid, reliabel, dan mempunyai kategori daya beda yang “baik” dan “baik sekali”. Tingkat kesukaran pada soal yang sudah berkualitas terdapat terdapat 11 soal sukar (31,43%), 18 soal sedang (51,43%), dan 6 soal mudah (17,14%). Pengecoh yang berfungsi ada 83 option, sedangkan pengecoh yang tidak berfungsi ada 21 option. Pengecoh yang tidak berfungsi akan diperbaiki sehingga pengecoh dapat berfungsi dengan baik.

B. Keterbatasan pengembangan

Peneliti menyadari bahwa dalam melaksanakan penelitian ini tidak sempurna. Produk yang dikembangkan oleh peneliti dan pelaksanaan penelitian mempunyai beberapa keterbatasan. Keterbatasan dari penelitian ini adalah:

1. Waktu untuk melakukan uji coba dilakukan setelah jam istirahat sehingga siswa sudah lelah saat bermain dengan teman pada saat jam istirahat.

2. Peneliti hanya menggunakan empat orang validator yang berprofesi sebagai guru kelas IV, karena mengalami kendala dalam mencari dosen matematika.

3. Prosedur penelitian dan pengembangan hanya berhenti pada langkah ke tujuh dari sepuluh langkah pengembangan menurut Borg dan Gall. Hal ini dikarenakan tujuh tahap tersebut sudah mencakup keseluruhan tahap dalam mengembangkan tes hasil belajar. Selain itu, adanya keterbatasan waktu dan biaya juga menjadi alasan peneliti melakukan modifikasi langkah pengembangan menurut Borg dan Gall tersebut. 4. Pengecoh yang tidak berfungsi dilakukan revisi namun revisi tidak

dilakukan pengujian kembali oleh peneliti.

5. Hasil analisis tingkat kesukaran belum sesuai dengan kurva normal yang ada dalam Widoyoko (2014: 136) yaitu 25% mudah, 50% sedang, dan 25% sukar.

6. Uji coba hanya dilakukan satu kali pada saat uji coba. C. Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya yang akan mengembangkan produk pengembangan tes hasil belajar pada mata pelajaran matematika kompetensi dasar 3.3 menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan satuan waktu, panjang, dan berat untuk siswa kelas IV sekolah dasar adalah sebagai berikut:

1. Waktu pengujian soal diusahakan pada pagi hari saat jam pertama dimulai, sehingga siswa masih semangat dan mampu mengerjakan soal-soal tersebut dengan optimal.

2. Pada tahap validasi desain, sebaiknya peneliti tidak hanya menggunakan guru kelas sebagai validator, tetapi perlu menambahkan dosen matematika, ahli bahasa dan ahli evaluasi pembelajaran sebagai validator ahli.

3. Sebaiknya penelitian pengembangan tes hasil belajar ini dilakukan dengan menggunakan 10 langkah penelitian dan pengembangan. 4. Pengecoh yang sudah direvisi sebaiknya dilakukan uji coba kembali. 5. Sebaiknya tingkat kesukaran dalam tes hasil belajar sesuai dengan

kurva normal yaitu 25% mudah, 50% sedang, dan 25% sukar. 6. Uji coba produk sebaiknya dilakukan minimal dua kali.

DAFTAR REFERENSI

Andiyastuti, Ana. (2016).Pengembangan Tes Hasil Belajar Matematika Kompetensi Dasar Melakukan Operasi Hitung Satuan Waktu Untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Arifin, Zaenal. (2009). Evalusasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. (2012). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

__________________. (2013). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan edisi 2. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Badrudin. (2014). Manajemen Peserta Didik. Jakarta: Permata Putri Media.

Devi Mardhiyanti, Ratu Ilma Indra Putri, dan Nila Kesumawati. (2011). Pengembangan Soal Matematika Model Pisa Untuk Mengukur

Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar”. Pascasarjana

UNSRI.

Dimyati & Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rinek Cipta.

Djemari Mardapi. (2008). Teknik Penyususnan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: Mitra Cendekia Press.

Jihad, Asep dan Haris Abdul. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo

Kompri. (2015). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Kunandar. (2013). Penilaian Autentik: Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kusaeri dan Suprananto. (2012). Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Kusaeri. (2014). Acuan dan Teknik Penilaian Proses dan Hasil Dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Kusdinar, Irwan. (2009). Pintar Bermatematika Matematika untuk SD Kelas 4. Jakarta: Pusat Pembukuan.

Mardapi, Djemari. (2008). Teknik Penyususnan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: Mitra Cendekia.

Masidjo, Ign. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Purwanto. (2008). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahayu, Wardani dkk. (2013). Pengembangan Instrumen Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ratnawulan, Elis dan Rusdiana H A. (2015). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: CV Pustaka Setia.

Runtukahu, J Tombokan dan Kendou Selpius. (2013). Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Siti Sofiyah, Susanto, dan Susi Setiawani. (2015). Pengembangan Paket Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Matematika Berdasarkan Revisi Taksonomi Bloom Pada Siswa Kelas V SD. Artikel Ilmiah Mahasiswa, 1(1), 1-7.

Suardi, Moh. (2012). Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi. Jakarta Barat: PT Indeks.

Sudaryono,dkk. (2013). Penegembangan Instrumen Penenlitian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sudjono, Nana. (1989). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Penerbit Alfabet. Sujana. (1990). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Sukardi H M. (2008). Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.

Sulistyorini. 2009. Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Teras.

Supratiknya, A. (2012). Penilaian Hasil Belajar Dengan Teknik Notes. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma .

Suparti dkk. (2009). Matematika Untuk SD/MI Kelas 4. Jakarta: Pusat Pembukuan.

Surapranata, Sumarna. (2004). Analisia, Validitas, Raliabilitas, Dan Interpretasi Hasil Tes Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Susilo, Muhammad Joko. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Susanto, A. (2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana

Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu : Konsep, Strategi, Dan Implementasinya Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: PT Bumi Aksara.

Widoyoko, S Eko Putro. (2009). Evaluasi Program Pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

______________________. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ______________________. (2012). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

______________________. (2014). Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wirasari, T.Y. (2014). Analisis Kualitas Soal Pilihan Ganda Ulangan Tengah Semester II Mata Pelajaran Matematika Kelas I Tahun Ajaran 2013/2014. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Winkel. (2004). Psikologi Pembelajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Yusuf, Muri. (2015). Asesmen dan Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group.

137

1. Narasumber 1

No. Pertanyaan

1. Apakah bapak/ibu guru membuat sendiri soal evaluasi/ulangan harian untuk mata pelajaran matematika? Jawaban: iya. Terkadang saya membuat sendiri soal evaluasi tersebut, namun saya juga terkadang mengambil soal yang ada pada buku paket atau LKS.

2. Jenis soal yang seperti apa yang sering bapak/ibu guru buat untuk membuat soal evaluasi/ulangan untuk siswa?

Jawaban: soal yang saya buat berbentuk pilihan ganda dan uraian.

3. Menurut bapak/ibu guru, bagaimana langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan soal?

Jawaban: langkah yang dilakukan adalah dengan menentukan SK dan KD terlebih dahulu kemudian membuat indikator dan tujuan, selanjutnya membuat soal. 4. Apakah bapak/ibu guru selalu membuat kisi-kisi soal

sebelum membuat soal ?

Jawaban: iya saya membuat kisi-kisi soal terlebih dahulu agar soal sesuai dengan SK dan KD.

5. Apakah ada kesulitan yang ditemui saat bapak/ibu guru membuat soal?

Jawaban: kesulitan yang saya alami adalah kesulitan membuat soal dengan kualitas yang baik.

6. Menurut bapak/ibu guru soal yang baik itu seperti apa ? Jawaban: soal yang baik itu soal yang mampu mengukur kemampuan siswa dan soal yang baik itu mempunyai daya beda, pengecoh , dan tingkat kesukaran.

Berdasarkan taraf kognitif yang ada pada Taksonomi Bloom, maka sampai pada taraf apa bapak/ibu guru membuat soal!

Jawaban: iya saya mengenal, namun saya tidak paham secara mendalam tentang taksonomi bloom.

Saya biasanya membuat soal sampai pada ranah menganalisis. Untuk soal pilihan ganda saya baru sampai pada ranah itu namun untuk uraian saya bisa membuat soal pada ranah mencipta.

8. Apakah dalam pembuatan soal bapak/ibu guru memperhatikan karakteristik butir soal?

Jawaban: iya, saya memperhatikan tingkat kesukaran soal dan pengecohnya.

9. Bagaimana karakteristik butir soal yang sering bapak/ibu guru buat?

 Bagaimana daya beda dalam soal tersebut?

 Apakah pengecohnya berfungsi dengan baik? membuat pengecoh itu bagaimana?

 Bagaimana tingkat kesukarannya? Untuk soal yang diberikan siswa, sebaiknya bagaimana tingkat kesukarannya?

Jawaban: soal yang buat menurut saya sudah memenuhi karakteristik pembuatan soal, namun saya belum menganalisis soal tersebut sehingga saya kurang mengetahui hasil analisisnya. Untuk tingkat kesukaran biasanya saya membuat soal itu lebih pada melihat kemampuan siswa yang berbeda satu dengan yang lainnya oleh sebab itu saya harus membuat soal yang tidak terlalu gampang dan tidak terlalu sulit dengan kata lain lebih pada tingkatan kesukaran sedang.

untuk setiap soal sebelum diberikan untuk dikerjakan siswa?

Jawaban: saya belum pernah menguji validitas dan reliabilitanya.

11. Bagaimana cara menguji validitas dan reliabilitas yang biasanya bapak/ibu guru lakukan?

Jawaban: saya belum menguji validitas dan reliabilitas, namun saya selalu menganalisis butir soal secara sederhana untuk melihat kemampuan siswa dalam menangkap materi pembelajaran.

12. Apakah bapak/ibu guru membutuhkan portotipe bentuk soal pilihan ganda yang memiliki kualitas baik dan disusun dengan langkah-langkah yang runtut?

Jawaban: iya saya membutuhkan portotipe bentuk soal pilihan ganda, karena saya juga ingin melihat seperti apa soal yang berkualitas baik.

13. Menurut bapak/bu guru pada pembelajaran matematika, materi apa yang membutuhkan portotipe soal?

Jawaban: pada materi geometri, KPK dan FPB serta pada pengukuran.

No. Pertanyaan

1. Apakah bapak/ibu guru membuat sendiri soal evaluasi/ulangan harian untuk mata pelajaran matematika? Jawaban: iya, saya membuat sendiri soal evaluasi/ulangan tersebut, namun saya juga terkadang mengambil soal pada buku paket, buku kumpulan soal, LKS, ataupun pada soal ulangan yang sebelumnya.

2. Jenis soal yang seperti apa yang sering bapak/ibu guru buat untuk membuat soal evaluasi/ulangan untuk siswa?

Jawaban: saya biasanya membuat soal berbentuk pilihan ganda dan uraian.

3. Menurut bapak/ibu guru, bagaimana langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan soal?

Dokumen terkait