• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.2 IMPLEMENTASI PROGRAM

1.2.2 Hasil Pengolahan Kuesioner

1.2.2.3 Kuesioner Kualitatif

Berikut ini adalah hasil dari kuesioner kualitatif yang diperoleh dari 17 orang responden, baik melalui pengisian kuesioner secara langsung maupun wawancara.

No Responden Input Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan

1 Responden 1 a. Agar diklat managerial, teknis fungsional dan bimbingan teknis khusus sebaiknya dilakukan secara rutin setiap tahun

b. Agar pemberi materi/narasumber memperhatikan praktek lebih dominan daripada teori

c. Agar lebih terbuka dengan tanya jawab pada saat memberi materi

d. Pendidikan kepegawaian perlu dijadikan materi pokok diklat di bimtek

e. Materi etos dan budaya kerja juga perlu (unwriten)

f. Aturan ASN terbaru yang tidak bisa diterapkan di Papua

15 No Responden Input Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan

Barat ini, khususnya untuk para SDM lokal. Hal ini dikarenakan tigal hal :

1. Mereka kurang disiplin

2. Tidak mau beban kerja pemikiran yang terlalu berat

3. Sukanya ikut kegiatan Bimbingan Teknis, selain dapat uang tetapi juga jalan-jalan

4. Untuk mengantisipasi masalah internal kepegawaian tersebut, Pak Badrudin menempatkan SDM non lokal untuk membantu menyelesaikan macetnya pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh SDM lokal, sehingga butuh pengorbanan banyak dari para SDM non lokal. Hal ini menjadi masalah serius.

5. Kemudian setelah mendengarkan saran dan curah pendapat dari pak badrudin kita meminta bantuan pak badrudin untuk memetakan calon responden untuk mengerjakan kuesioner yang kita bawa. Input Pak Badrudin atas peta distribusi kuesioner di lingkungan dinas dukcapil yaitu :

-Managerial/policy maker ( 2 kuesioner) Kepegawaian/Umum (2 kuesioner) - Keuangan (2 kuesioner )

- Fungsional (2 kuesioner)

2 Responden 2 a. Pada OPD kami belum ada kegiatan pelatihan bimbingan teknis bagi aparatur sipil, maka perlu dilakukan pelatihan bimbingan teknis bagi ASN terutama Kabid.

b. Perlu adanya koordinasi kedinasan terkait tugas dan fungsi dari masing-masing kepala seksi sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam menjalankn tugas sesuai tupoksi

16 No Responden Input Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan

3 Responden 3 Sebaiknya jika ada pelatihan agar disesuaikan dnegan momen yang tepat agar para ASN betul-betul bisa paham dengan tugas dan fungsi yang tepat

4 Responden 4 Harus sering diadakan pendidikan pelatihan dan pengembangan pegawai di OPD tapi setelah mengikuti pelatihan agar kembali ke OPD dan diterapkan atu dilaksanakan di OPD yang bersangkutan dengan apa yang telah didapat pada saat pelatihan

5 Responden 5 a. Agar dklat dan bimbingan teknis dilakukan setiap tahun di awal tahun

b. Diklat ASN pada pelaksanaan tugas staf harus dipraktekan dengan mengisi tugas

6 Responden 6 a. Sangat diharapkan untuk ASN harus mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan pegawai terutama ASN yang menduduki jabatan

b. Agar kegiatan-kegiatan seperti diatas dapat dipublikasikan serta dikomunikasikan dengan baik antar OPD/OPD

c. Kedepankan disiplin adminitrasi yang baik dan benar 7 Responden 7 a. Hendaknya pendidikan, pelatihan dan pengembangan

pegawai menjadi prioritas bagi pengembangan SDM ASN mengingat daerah Kabupaten Teluk Bintuni masih Kabupaten yang baru, jadi untuk lebih meningkatkan kompetensi setiap ASN

b. Pendidikan latihan dan pengembangan SDM harus disesuaikan dengan tupoksi maing-masing ASN pada OPD masing-masing

c. Hendaknya pelaksanaan diklat bukan seremonial biasa Cuma/hanya menghabiskan anggaran tanpa adanya

17 No Responden Input Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan

output/hasil yang diharapkan.

8 Responden 8 Untuk peningkatan pendidikan, latihan, dan pengembangan pegawai harus terus ditingkatkan dan ada afirmasi kepada masyarakat/PNS lokal serta dalam tahapan pelaksanaan dan evaluasi harus baik dan benar.

9 Responden 9 a. Diklat bagi ASN adalah reward dan juga hak disesuaikan kinerja ASN sesuai dengan Tupoksi masing-masing ASN

b. Penempatan pegawai sedianya disesuaikan dengan bidang ilmu serta dihindari intervensi kepentingan politik

c. Untuk Bappeda sedianya pegawai yang telah dikembangkan SDM-nya agar dapat dipertahankan sehingga tidak perlu lagi melakukan pembinaan dan pengembangan bagi pegawai yang dirotasi tanpa dasar 10 Responden 10 a. Sebaiknya diadakan setiap awal tahun

b. Sebaiknya bidang pendidikan dan pelatihan diprogramkan

c. Kirim pelatihan ke luar provinsi

11 Responden 11 ASN yang produktif dan aktif selama menjalankan tugas dan tanggung jawab seharusnya dibekali dengan ilmu yang didapat dari pendidikan dan pelatihan. Oleh karena itu, sewajarnya diberikan pelatihan-pelatihan yang memadai. Terimakasih 12 Responden 12 Ada BIMTEK terkait tupoksi masing-masing program

13 Responden 13 -Studi banding ke wilayah-wilayah yang sudah berkembang/maju

-Melakukan pelatihan-pelatihan bagi staff di lingkup OPD tersebut

18 No Responden Input Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan

-Pelaksana pelatihan di ikut sertakan tugas dan evaluasi bagi peserta pelatihan

14 Responden 14 - Pelatihan peningkatan kapasitas ASN disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing ASN

15 Responden 15 - Tidak ada karena tidak ada anggaran yang mendukung 16 Responden 16 - Diharapkan adanya partisipasi dari pihak lain (mitra

pemerintah/CSR) dalam mendukung program pemerintah kab. Teluk bintuni

- Diperlukan koordinasi/kerjasama yang baik dalam perencanaan pembangunan antara pemerintah dan pihak lain mitra pemerintah

- Lebih ditingkatkan kerjassama dan bantuan pembangunan baik kwalitas maupun kuantitasnya.

- Metode pembagian kuesioner ke Bappeda sebaiknya melalui Sekretaris Bappeda, karena dia yang lebih tahu tentang kondisi kepegawaian dan data kepegawaian di Bappeda.

- Disamping kuesioner terkait dengan kapasitas umum aparat pemerintah, sebaiknya juga dilakukan asessment soal kapasitas pegawai Bappeda terkait kapasitas khusus mereka, yaitu perencanaan pembangunan daerah. Hal itu didasarkan fakta, bahwa dengan sistem input online yang diselenggarakan oleh Bappenas, para pegawai bappeda disini tidak bisa mengikuti proses tersebut. Proses musyawarah perencanaan pembangunan kampung sampai dengan musrenbang nasional saja sudah keteteran apalagi sistem online. Musrenbang kampung diadakan setiap bulan Januari, Musrenbang distrik setiap bulan Maret, data hasil kedua musrenbang tersebut harus sudah masuk ke

19 No Responden Input Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan

kabupaten dan propinsi di akhir bulan maret dan awal april harus sudah diinput ke Jakarta. Dengan begitu cepatnya proses input online ke bappenas tersebut, para pegawai disini tidak bisa mengikuti sehingga butuh pemerkuatan perencanaan untuk tiga hal :

- Sumber Daya Manusia

- Sumber Daya Manusia yang paham sistem perencanaan online Bappenas

- Sumber Daya Manusia yang paham E-goverment

- Perlu dikaji ulang posisi 28 OPD yang dibentuk 2016, karena pada tahun 2017 terjadi banyak tumpang tindih kewenangan atau tupoksi antar OPD.Misalnya kasus yang terjadi antara Dinas Perum dengan Dinas Pengairan PU terkait dengan pembuatan sumur bor. Keduanya merasa bahwa pembuatan sumur bor berada dalam wilayah kewenangan dan tupoksinya akibat kerancuan atau ketidakjelasan aturan soal OPD.

1.2.2.4 Analisis Analytical Hierarchy Process (AHP)

Setelah melalui proses identifikasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan, maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis tiga bidang pendidikan dan pelatihan, yaitu bidang manajerial, bidang teknis/fungsional, dan bidang administrasi. Lebih lanjut, perlu dilakukan analisis terkait dengan aspek kurikulum, proses pembelajaran, pemateri, dan sarana dan prasarana yang perlu disiapkan oleh pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni setelah lembaga pendidikan dan pelatihan tersebut didirikan. Pada tahap ini digunakan alat analisis berupa Analytical Hierarchy Process (AHP).

Metoda AHP merupakan salah satu metoda pengambilan keputusan multikriteria, di mana berbagai kriteria penilaian akan ditentukan tingkat

ke-penting-20 annya secara relatif terhadap sesama kriteria. Kriteria-kriteria yang telah memiliki bobot tersebut kemudian digunakan sebagai alat untuk menentukan bidang usaha yang terbaik menurut kriteria-kriteria penilaiannya.

Penentuan Bobot Kriteria

Terkait dengan tujuan utama analisis menggunakan AHP, penentuan bobot penilaian Bidang Diklat manajerial, fungsional, dan administrasi di atas dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada beberapa OPD yang memiliki kepentingan terhadap pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan terhadap pegawai yang bersangkutan, baik pendidikan dan pelatihan yang dilakukan pada level manajerial, pendidikan dan pelatihan teknis/fungsional, dan pendidikan dan pelatihan administrasi.

Berikut adalah kuesioner yang digunakan untuk mengekspresikan persepsi para pemangku kepentingan di lingkungan internal pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni terkait dengan penilaian bobot kriteria Bidang Diklat.

Sama

Manajerial 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Fungsional

Manajerial 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Administrasi

Fungsional 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Administrasi

Kiri lebih penting Kanan lebih penting Factor Weighting Score

Faktor Faktor

Adapun hasil perbandingan antara empat kriteria tersebut diperoleh modus sebagai berikut:

 Nilai perbandingan Manajerial terhadap Fungsional 0,45

 Nilai Perbandingan Manajerial terhadap Administrasi 1,89

 Nilai perbandingan Fungsional terhadap Administrasi 1,79

Perbandingan tersebut disajikan dalam pair-wise comparison sebagai berikut:

Manajerial Fungsional Administr

Manajerial 1,00 0,45 1,89

Fungsional 2,22 1,00 1,79

Administrasi 0,53 0,56 1,00

21 Secara matematis dan untuk melakukan operasi penghitungan menggunakan AHP, maka pair-wise comparison dari ketiga kriteria Bidang Diklat digambarkan sebagai berikut:

Berikut adalah tahapan-tahapan penghitungan bobot kriteria menggunakan AHP:

1. Menghitung kuadrat matriks pair-wise comparison.

2. Menghitung nilai baris dan eigen-value dari setiap baris.

3. Menilai konsistensi eigen value dengan mengkuadratkan hasil kuadrat matriks pairwise comparison pada nomor 1. Dari hasil yang diperoleh, maka dihitung eigen value hasil perhitungan matriks dengan prosedur yang sama seperti pada nomor 2

4. Menghitung selisih eigen value pertama dengan eigen value kedua. Apabila selisih eigen value tersebut lebih kecil dari pada 0,10, maka perhitungan tersebut dinilai konsisten. Namun, apabila perhitungan selisih eigen value tersebut lebih besar dari pada 0,10, maka perhitungan dinilai tidak

konsisten. Inkonsistensi tersebut mengharuskan dilakukan pengumpulan data ulang melalui kuesioner.

Berikut adalah perhitungan sesuai dengan tahap-tahap di atas.

Menghitung kuadrat matriks. Sesuai dengan rata-rata geometris dari data yang terkumpul dalam membandingkan faktor-faktor pada setiap kriteria Bidang Diklat, maka diperoleh nilai matriks di atas. Untuk melakukan perhitungan kuadrat matriks, maka dilakukan perkalian matriks dengan matriks itu sendiri, dan digambarkan sebagai berikut:

22 Dari perhitungan di atas, maka diperoleh kuadrat matriks pairwise comparison sebagai berikut:

Menghitung nilai baris dan eigen value dari setiap baris. Setelah diperoleh kuadrat matriks di atas, maka dihitung eigen value dari setiap baris, di mana nilai eigen value tersebut akan menunjukkan bobot dari setiap baris.

Nilai EV

3,00 1,96 4,59 9,54 0,295

5,39 3,00 7,78 16,17 0,500

2,30 1,36 3,00 6,66 0,206

32,37

Nilai eigen value yang diperoleh dari perhitungan tersebut mewakili bobot dari masing-masing bidang, yaitu Diklat Manajerial, Diklat Teknis/Fungsional, dan Diklat Administrasi, masing-masing sebesar 29,50%, 50,00%, dan 20,60%.

Menilai konsistensi eigen value. Untuk memastikan konsistensi dan keandalan hasil perhitungan tersebut, maka diperlukan langkah tambahan, yaitu menghitung kembali nilai kuadrat matriks di atas untuk dikuadratkan kembali dan dihitung eigen value yang baru untuk diperbandingkan. Untuk itu, kuadrat matriks yang telah diperoleh harus dikalikan dengan matriks tersebut, dan menghasilkan nilai sebagai berikut:

Berikut adalah perhitungan eigen value dari matriks di atas:

Nilai EV

30,09 17,95 42,73 90,77 0,296

50,24 30,09 71,40 151,73 0,495

21,11 12,63 30,09 63,83 0,208

306,33

23 Menghitung selisih eigen value pertama dengan eigen value kedua. Dari perhitungan eigen value di atas, maka dapat dilakukan perbandingan dan penghitungan selisih sebagai berikut:

Dari hasil perhitungan di atas, maka dapat terlihat bahwa tidak terdapat selisih eigen value yang melebihi 0,10 atau 10%, sehingga dapat disimpulkan bahwa perhitungan bobot untuk setiap bidang Diklat di atas dapat diandalkan dan konsisten.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bobot untuk setiap kriteria yang telah dipilih masing-masing sebagai berikut:

Bidang Bobot

Diklat Manajerial 29,50%

Diklat Teknis/Fungsional 50,00%

Diklat Administrasi 20,60%

Penentuan Nilai Aspek Diklat pada Setiap Bidang Diklat. Setelah diperoleh bobot untuk setiap Bidang Diklat, maka dapat digambarkan hasil pemetaan sebagai berikut:

Untuk menentukan prioritas aspek diklat untuk setiap bidang diklat dan prioritas aspek diklat secara keseluruhan yang harus disiapkan, maka terlebih dahulu akan dilakukan perhitungan menggunakan AHP untuk setiap aspek Diklat pada setiap bidang Diklat. Secara umum, kuesioner yang digunakan dalam menghimpun persepsi para pemangku kepentingan adalah sebagai berikut:

Pendirian

24 Kiri lebih penting Kanan lebih penting

Berikut ini adalah pengolahan data di dalam matriks pairwise comparison untuk setiap aspek Diklat pada setiap bidang Diklat. Prosedur perhitungannya untuk menilai aspek Diklat dilakukan sama seperti perhitungan untuk menentukan bobot bidang Diklat di atas.

a. Pairwise comparison untuk Bidang Diklat Manajerial

Manajerial Kurikulum Pembelajaran Pemateri Sarana-Prasarana

Kurikulum 1,00 2,96 3,21 3,88

Pembelajaran 0,34 1,00 1,97 1,27

Pemateri 0,31 0,51 1,00 0,69

Sarana-Prasarana 0,26 0,79 1,45 1,00

Bentuk matriks pairwise comparison dari penilaian keempat aspek Diklat terkait dengan Bidang Diklat Manajerial adalah sebagai berikut:

[

Untuk menghitung eigen value dari matriks tersebut, maka matriks tersebut dikuadratkan, sehingga didapatkan matriks sekaligus eigen value sebagai berikut.

Nilai EV

4,00 10,60 17,87 13,73 46,21 0,524

1,62 4,00 6,87 5,21 17,69 0,201

0,97 2,48 4,00 3,23 10,69 0,121

1,23 3,07 5,28 4,00 13,58 0,154

88,17

25 Berdasarkan pada nilai eigen value di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terkait dengan Bidang Diklat Manajerial, maka skor pada masing-masing Aspek Diklat adalah sebagai berikut:

b. Pairwise comparison untuk Bidang Diklat Teknis/Fungsional

Fungsional Kurikulum Pembelajaran Pemateri Sarana-Prasarana

Kurikulum 1,00 3,95 4,73 3,13

Pembelajaran 0,25 1,00 0,47 1,09

Pemateri 0,21 2,13 1,00 0,78

Sarana-Prasarana 0,32 0,92 1,28 1,00

Bentuk matriks pairwise comparison dari penilaian keempat Aspek Diklat terkait dengan Bidang Diklat Teknis/Fungsional adalah sebagai berikut:

[

Untuk menghitung eigen value dari matriks tersebut, maka matriks tersebut dikuadratkan, sehingga didapatkan matriks sekaligus eigen value sebagai berikut.

Nilai EV

4,00 20,84 15,33 14,25 54,42 0,559

0,95 4,00 3,53 3,34 11,83 0,122

1,21 5,81 4,00 4,54 15,56 0,160

1,14 5,82 4,51 4,00 15,47 0,159

97,28

Berdasarkan pada nilai eigen value di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terkait dengan Bidang Diklat Teknis/Fungsional, maka skor pada masing-masing Aspek

Aspek Diklat Skor

26 Diklat adalah sebagai berikut:

Aspek Diklat Skor

Kurikulum 55,90%

Metoda Pembelajaran

12,20%

Pemateri 16,00%

Sarana-Prasarana 15,90%

c. Pairwise comparison untuk Bidang Diklat Administrasi

Administratif Kurikulum Pembelajaran Pemateri Sarana-Prasarana

Kurikulum 1,00 4,72 1,63 1,74

Pembelajaran 0,21 1,00 0,83 0,79

Pemateri 0,61 1,20 1,00 1,46

Sarana-Prasarana 0,57 1,27 0,68 1,00

Bentuk matriks pairwise comparison dari penilaian keempat Aspek Diklat terkait dengan Bidang Diklat Administrasi adalah sebagai berikut:

[

]

Untuk menghitung eigen value dari matriks tersebut, maka matriks tersebut dikuadratkan, sehingga didapatkan matriks sekaligus eigen value sebagai berikut.

Nilai EV

4,00 13,61 8,37 9,59 35,56 0,443

1,39 4,00 2,55 3,16 11,09 0,138

2,32 7,15 4,00 4,94 18,41 0,229

1,84 6,07 3,36 4,00 15,26 0,190

80,34

27 Berdasarkan pada nilai eigen value di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terkait dengan Bidang Diklat Administrasi, maka skor pada masing-masing Aspek Diklat adalah sebagai berikut:

Aspek Diklat Skor

Kurikulum 44,30%

Metoda Pembelajaran

13,80%

Pemateri 22,90%

Sarana-Prasarana 19,00%

Penentuan Skor Gabungan Setiap Bidang Usaha

Setelah mendapatkan skor setiap aspek Diklat untuk seluruh kriteria Bidang Diklat yang telah ditentukan, maka tahap terakhir untuk mengambil keputusan adalah dengan menghitung skor setiap Aspek Diklat dikalikan dengan nilai setiap kriteria Bidang Diklat. Tujuan dari penghitungan ini adalah untuk mengambil keputusan secara komprehensif dengan mempertimbangkan seluruh kriteria sesuai dengan bobotnya masing-masing. Perlu diperhatikan bahwa suatu Aspek Diklat dapat memiliki skor yang tinggi untuk beberapa kriteria Bidang Diklat, tetapi belum tentu Aspek tersebut memiliki skor gabungan yang tinggi, kecuali Aspek yang bersangkutan mendapatkan skor yang tinggi pada kriteria-kriteria Bidang Diklat berbobot tinggi.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, berikut adalah rangkuman dari skor bidang usaha untuk setiap kriteria:

Manajerial Teknis/

Fungsional

Administrasi

Kurikulum 52,40% 55,90% 44,30%

Metoda Pembelajaran

20,10% 12,20% 13,80%

Pemateri 12,10% 16,00% 22,90%

Sarana-Prasarana 15,40% 15,90% 19,00%

28 Penyajian nilai skor tersebut dapat disajikan dalam bentuk matriks sebagai berikut:

Hasil tersebut jika digabungkan dengan hasil perhitungan bobot kriteria, maka dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut.

Kurikulum 52,40% 55,90% 44,30% Bidang Diklat harus dikombinasikan dengan nilai bobot untuk setiap kriteria Bidang Diklat sebagai berikut:

29 Perhitungan di atas menghasilkan skor gabungan dan ranking sebagai berikut:

Aspek Diklat Skor Ranking

Kurikulum 52,50% 1

Sarana-Prasarana

16,39% 2

Pemateri 16,28% 3

Metoda Pembelajaran

14,83% 4

Dengan demikian, kesimpulan akhir mengenai hasil evaluasi menggunakan Analytical Hierarchy Process adalah sebagai berikut:

Pada Bidang Diklat Manajerial, preferensi dari para pemangku kepentingan di Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni adalah sebagai berikut:

o Kurikulum

o Metoda Pembelajaran o Sarana-Prasarana o Pemateri

Pada Bidang Diklat Teknis/Fungsional, preferensi dari para pemangku kepentingan di Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni adalah sebagai berikut:

o Kurikulum o Pemateri

o Sarana-Prasarana o Metoda Pembelajaran

Pada Bidang Diklat Administrasi/Keuangan, preferensi dari para pemangku kepentingan di Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni adalah sebagai berikut:

o Kurikulum o Pemateri

o Sarana-Prasarana o Metoda Pembelajaran

30 Dari ketiga Bidang Diklat tersebut, terlihat bahwa Aspek Kurikulum terkonfirmasi menjadi prioritas paling tinggi di antara Aspek Diklat yang lain. Pada Bidang Diklat Manajerial, Aspek Metoda Pembelajaran merupakan aspek terpenting kedua, sehingga harus dirancang suatu metoda pembelajaran yang khas untuk pendidikan dan pelatihan terhadap pegawai di level manajerial, yang mungkin berbeda dengan metoda pembelajaran pada Bidang Diklat lainnya. Sementara itu, Bidang Diklat Teknis/Fungsional dan Bidang Diklat Administrasi menempatkan Aspek Metoda Pembelajaran sebagai aspek yang paling tidak diprioritaskan.

Untuk Aspek Pemateri dan Aspek Sarana-Prasarana tidak dapat disimpulkan secara andal mengingat posisi ranking kedua aspek tersebut berbeda-beda pada analisis Bidang Diklat dan analisis secara keseluruhan. Meskipun secara ranking Aspek Sarana-Prasarana menempati ranking di atas Aspek Pemateri, tetapi perbedaan keduanya dapat dinilai tidak signifikan. Dengan kata lain, kedua Aspek tersebut memiliki tingkat prioritas yang sama.

31

RENCANA TINDAK LANJUT

Program Pendidikan dan Pelatihan di Kabupaten Teluk Bintuni sebenarnya sudah menjadi kebiasaan yang dijalankan setiap tahun, dengan menyediakan anggaran yang cukup besar, baik pada tingkatan pemerintah daerah, OPD, maupun distrik. Tabel berikut ini menunjukkan nilai alokasi belanja pada beberapa OPD.

OPD Anggaran Diklat

Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik 1,246,450,000

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 663,500,000

Pemberdayaan Masyarakat Desa 1,361,740,000

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2,022,200,000

Perencanaan 1,319,123,000

Perhubungan 1,497,000,000

Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman 1,200,000,000

Rumah Sakit Umum Daerah Bintuni 750,000,000

OPD setiap tahun mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dan pelatihan dengan nilai lebih dari 17 milyar Rupiah. Dari jumlah tersebut, berdasarkan hasil penelitian ini diperkirakan sebesar 80% anggaran pendidikan dan pelatihan digunakan untuk mengirimkan pegawai ke luar provinsi Papua Barat. Sehingga, sekitar 14 milyar anggaran terserap untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan ke luar provinsi.

Meskipun pengiriman pegawai untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar provinsi akan memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan yang lebih baik, hal tersebut juga dapat memunculkan dampak negatif, di antaranya adalah:

1. Kurangnya efektivitas pengembangan kapasitas pegawai yang dikirimkan.Tidak banyak kegiatan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh lembaga

32 pendidikan berupa bimbingan teknis, pelatihan, workshop, dan lain-lain dengan waktu yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

Seperti telah disebutkan di depan, anggaran pendidikan dan pelatihan untuk setiap pegawai yang dikirimkan adalah sebesar Rp20.000.000,00 yang digunakan untuk menerima materi pelatihan selama dua sampai dengan tiga hari. Tempat pendidikan dan pelatihan yang jauh juga akan mempengaruhi kesiapan dan kemampuan pegawai untuk menerima proses pembelajaran secara efektif.

2. Persepsi yang salah tentang pengiriman pegawai pada Diklat di luar wilayah.

Selama ini, pengiriman pegawai pada Diklat di luar wilayah kabupaten lebih banyak dianggap sebagai bentuk penghargaan. Tanpa adanya perubahan persepsi secara baik, maka kehadiran pegawai pada Diklat tersebut dapat keluar dari tujuan awal pengiriman pegawai tersebut.

3. Terbatasnya jumlah pegawai yang dapat dikirimkan pada Diklat di luar wilayah.

Dengan anggaran sebesar Rp20.000.000,00 per orang untuk mengikuti

pendidikan dan pelatihan di luar wilayah akan memperkecil kesempatan lebih banyak pegawai yang diikutsertakan dalam program pendidikan dan pelatihan tersebut.

4. Hasil pendidikan dan pelatihan tidak terstandar. Sering kali, output dari

pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh pegawai pada diklat yang dilakukan oleh lembaga yang berbeda memberikan hasil yang tidak standar dan pada akhirnya tidak dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari di Kabupaten Teluk Bintuni.

Oleh karena itu, meskipun persepsi bahwa pengiriman pegawai pada sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu bentuk penghargaan atas prestasi dan kinerja pegawai tersebut, dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas program pengembangan kapasitas aparatur sipil, pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dapat mulai mengembangkan sebuah mekanisme pendidikan dan pelatihan yang dilakukan di dalam wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.

Selain penyediaan anggaran di setiap OPD, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga mengalokasikan anggaran di setiap distrik sebagai berikut.

33

Sebagian besar program pendidikan dan pelatihan yang dilakukan pada tingkat OPD merupakan pendidikan dan pelatihan yang sifatnya teknis dan fungsional, sehingga peran OPD untuk mengirimkan pegawai pada program-program pendidikan dan pelatihan di lembaga pelatihan khusus tetap menjadi kewajiban. Sebagai contoh, mengirimkan auditor inspektorat untuk mengikuti diklat fungsional auditor, mengirimkan pegawai Dinas PU pada diklat ke-PU-an, dan mengirimkan tenaga kesehatan untuk mengikuti diklat di bidang kesehatan, mungkin tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparatur fungsional pelatih/widyaiswara di Kabupaten Teluk Bintuni.

Berbeda dengan pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan yang dilakukan oleh OPD, pendidikan dan pelatihan yang dilakukan oleh aparatur distrik lebih banyak dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas aparatur distrik untuk melaksanakan

34 tata kelola pemerintahan distrik yang lebih baik, sehingga kegiatan pendidikan dan pelatihan tersebut dapat dilakukan secara mandiri.

Dari hasil penelitian dan FGD yang telah dilakukan, maka peneliti menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sudah saatnya untuk merintis kegiatan pendidikan dan pelatihan di dalam wilayah kabupaten dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber dana yang dimiliki. Pemerintah Kabupaten dapat mulai menggeser kegiatan pendidikan dan pelatihan administratif untuk dilakukan secara internal. Sebagai contoh, pelatihan di bidang perencanaan dan keuangan. Kedua bidang pelatihan ini seharusnya dilakukan oleh seluruh OPD,

1. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sudah saatnya untuk merintis kegiatan pendidikan dan pelatihan di dalam wilayah kabupaten dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber dana yang dimiliki. Pemerintah Kabupaten dapat mulai menggeser kegiatan pendidikan dan pelatihan administratif untuk dilakukan secara internal. Sebagai contoh, pelatihan di bidang perencanaan dan keuangan. Kedua bidang pelatihan ini seharusnya dilakukan oleh seluruh OPD,

Dokumen terkait