Berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa maka diperoleh data tentang sikap siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada tabel berikut ini:
Tabel 4.13 : Sikap Siswa Terhadap Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
No Persepsi Siswa
Ss S Ks Ts
Jlh % Jlh % Jlh % Jlh %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Pembelajaran kelompok kerja dengan cara kelompok tim ahli dapat menumbuhkan motivasi saya untuk bekerja sama dengan kelompok lain dan rasa tanggung jawab dalam diri saya.
6 30 14 70
2. Melalui kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli dapat memudahkan saya untuk memahami dan
menjawab soal-soal pelajaran yang diberikan
4 20 16 80
3. Melalui kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli, pelajaran yang tidak saya pahami dapat saya tanyakan pada
teman yang
memahaminya.
4. Melalui kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli membuat kreativitas saya dalam belajar matematika menjadi berkembang.
5 25 55 75
5. Pembelajaran kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli sebaiknya digunakan pula untuk mempelajari materi lain dalam mata pelajaran matematika.
9 45 11 55
6. Pembelajaran kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli dapat
membantu saya
menerapkan apa yang saya pelajari dalam kehidupan sehari- hari.
9 45 11 55
7. Pembelajaran kerja kelompok dengan tim ahli membuat pelajaran matematika lebih
menarik dan
menyenangkan saya.
9 45 11 55
8. Dalam pembelajaran kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli sangat membantu saya untuk melanjutkan kejenjang pelajaran berikutnya atau yang lebih tinggi.
7 35 13 65
9. Melalui pembelajaran kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli memberikan kepada saya rasa percaya diri sehingga saya dapat
memahami pendapat Lanjutan Tabel 4.13
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
teman-teman.
10. Melalui pembelajaran kerja kelompok dengan cara kelompok tim ahli guru lebih bersifat membimbing dari pada menjelaskan pelajaran.
9 45 11 55
Berdasarkan data kuesioner tersebut di atas yang diperoleh dari jawaban siswa kelas V menyatakan bahwa mereka pada umumnya setuju dilaksanakannya pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw dalam pembelajaran matematika khusunya pada materi operasi hitung bilangan bulat. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa sebagai berikut :
1) Dapat menumbuhkan motivasi dan rasa tanggung jawab yang sangat setuju 6 orang (30%) dan yang setuju 14 orang (70%).
2) Memudahkan memahami soal yang sangat setuju 4 orang (20%) dan yang setuju 16 orang (80%).
3) Pelajaran yang tidak dipahami dapat ditanyakan pada teman sangat setuju 7 orang ( 35%) dan yang setuju 13 orang (65%).
4) Kreativitas dalam belajar matematika menjadi lebih berkembang yang sangat setuju 5 orang (25%) dan yang setuju 15 orang (75%).
5) Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebaiknya digunakan pada materi lain dalam pembelajaran matematika yang sangat setuju 9 orang (45%) dan yang setuju 11 orang (55%).
6) Membantu menerapkan apa yang dipelajari dalam kehidupan sehari- hari yang sangat setuju 9 orang (45%) dan yang setuju 11 orang (55%).
7) Membuat pelajaran matematika lebih menarik yang sangat setuju 9 orang (45 %) dan yang setuju 11 orang (55 %).
8) Membantu untuk melanjutkan kejenjang pelajaran berikutnya yang sangat setuju 7 orang (35%) dan yang setuju 13 orang (65%).
9) Memberikan rasa percaya diri yang sangat setuju 5 orang (25%) dan yang setuju 15 orang (75%).
10) Guru lebih bersifat membimbing yang sangat setuju 9 orang (45%) dan yang setuju 11 orang (55%).
B.Pembahasan
Dari temuan yang diperoleh melalui kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan 2 siklus dengan 4 kali pertemuan 4 x (2 x 35 menit) melalui observasi kegiatan pembelajaran, observasi aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran, penilaian formatif, dan kuesioner tentang sikap siswa, maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw efektif dalam pembelajaran operasi hitung bilangan bulat, hal ini terlihat dari :
1) Kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaarn kooperatif tipe Jigsaw di kelas sebagaimana direncanakan guru sebelumnya berlangsung baik. Hal ini dapat dilihat dari presentase hasil observasi teman sejawat
terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti yaitu siklus I pertemuan pertama 93,33% dan pertemuan kedua 96,67% (rata-rata 95,00%). Siklus II pertemuan pertama 100% dan pertemuan kedua 100% (rata-rata 100%). Rata-rata keseluruhan 97,5%.
2) Dalam kegiatan pembelajaran mulai dari siklus I sampai siklus II terlihat aktivitas siswa sangat baik, hal ini sesuai dengan persentase hasil observasi teman sejawat terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar yaitu siklus I pertemuan pertama70,00% dan pertemuan kedua 86,00% (rata-rata 78,00%). Siklus II pertemuan pertama 92,00% dan pertemuan kedua 96,00% (rata-rata 94,00%). Adanya kerjasama yang baik diantara anggota kelompok, baik pada kelompok ahli maupun kelompok asal dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa dituntut saling asah, asih, dan asuh atau saling mencerdaskan. Dengan kata lain bahwa dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini dapat menciptakan interaksi yang asah, asih dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga belajar dari sesama teman. Adanya kerjasama, pertama menghasilkan prestasi akademik dan dapat meningkatkan produktivitas siswa lebih tinggi, kemudian kedua secara psikologis siswa lebih sehat dalam bekerja sama, memiliki penghargaan diri, ketiga, dapat mengembangkan beberapa sifat positif, seperti siswa lebih memperhatikan orang lain, mendukung serta hubungan sosial yang terjadi antar siswa lebih baik dari sebelumya.
3) Tindakan kelas dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam operasi hitung bilangan bulat di kelas V dinyatakan berhasil dan tujuan pembelajaran yang ditetapkan tercapai. Hal ini dibuktikkan dari hasil pelaksanaan siklus I yang dilakukan 2 kali pertemuan dan satu kali refleksi telah terdapat kemajuan yang berarti, ini terlihat dari hasil tes yang dilaksanakan pada siklus I nilai rata-rata pada pertemuan pertama yaitu 55,0 dan pertemuan kedua 58,5 (rata-rata nilai siklus I 56,7) di bawah indikator ketuntasan belajar, kemudian meningkat pada siklus II, pertemuan pertama menjadi 66,5 dan pada pertemuan kedua 76,0 (rata-rata nilai siklus II 71,3) di atas indikator ketuntasan belajar yang ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil formatif dari siklus I ke siklus II.
Efektivitas penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
tersebut dimungkinkan karena pada kelompok ahli materi pembelajaran dibahas oleh semua anggota kelompok ahli secara mendalam sampai materi tersebut dipahami oleh oleh semua anggota, kemudian semua anggota kelompok ahli kembali kekelompok asal harus menyampaikan informasi yang diperoleh pada kelompok ahli kepada anggota kelompok asal sehingga semua siswa ikut terlibat aktif dalam pembelajaran, dan siswa dapat saling bertukar informasi tentang materi yang dipelajari.
Setiap akhir pertemuan diberikan penghargaan kepada kelompok asal yang memperoleh skor tertinggi. Penentuan skor kelompok diambil dari nilai formatif setiap anggota kelompok asal. Oleh karena itu seluruh nggota kelompok/tim
bertanggung jawab atas kesuksesan kelompoknya selain keberhasilan masing-masing individu. Dengan demikian setiap anggota kelomok selalu berusaha mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik agar mereka dapat menciptakan kinerja lebih baik untuk tim mereka. Persaingan sehat akan tercipta baik secara kelompok maupun secara individu. Menurut teori motivasi, kesuksesan kelompok, kesuksesan perorangan, dan persaingan sehat merupakan sumber motivasi belajar (Slavin,1975). Kesuksesan perorangan sangat mempengaruhi kesuksesan kelompok, namun setiap anggota kelompok berdasarkan kebersamaan yang mereka alami selama belajar menyebabkan mereka juga sangat memperhatikan keberhasilan kelompok.
Dari hasil kuesioner tentang sikap siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada umumnya siswa setuju, yaitu yang menjawab sangat setuju 35%, setuju 65%, kurang setuju 0%, dan tidak setuju 0%.
Dari beberapa temuan tersebut di atas berarti model pembelajarn kooperatif tipe Jigsaw dapat dijadikan salah satu model pembelajara n untuk meningkatkan ketrampilan siswa dalam memahami pelajaran khususnya operasi hitung bilangan bulat sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.