• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Kunjungan antenatal care

Pelayanan antenatal merupakan cara untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi komplikasi. Pelayanan antenatal penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kehamilan berjalan normal dan tetap demikian seterusnya. Kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Sekarang ini sudah umum diterima bahwa setiap kehamilan membawa risiko bagi ibu.

Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan. Kunjungan baru ibu hamil (K1) adalah kontak ibu hamil yang pertama kali dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan antenatal standard, dalam pengelolaan program KIA disepakati bahwa

kunjungan ibu hamil yang ke empat (K4) adalah kontak ibu hamil yang keempat atau lebih dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan antenatal (Depkes RI, 2007).

Istilah kunjungan disini tidak hanya mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung ke fasilitas pelayanan, tetapi adalah setiap kontak tenaga kesehatan baik diposyandu, pondok bersalin desa, kunjungan rumah dengan ibu hamil memberikan pelayanan antenatal sesuai dengan standar dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil (Depkes RI, 2001):

a. Kunjungan ibu hamil pertama (Kl)

Kunjungan baru ibu hamil adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan.

b. Kunjungan ulang

Kunjungan ulang adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang kedua dan seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar selama satu periode kehamilan berlangsung. c. Kunjungan ibu hamil keempat (K4)

K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan dengan syarat:

1) Satu kali dalam trimester pertama (sebelum 14 minggu). 2) Satu kali dalam trimester kedua (antara minggu 14-28)

3) Dua kali dalam trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan setelah minggu ke 36).

3. Kualitas pemeriksaan antenatal

Pemeriksaan antenatal merupakan salah satu tahapan penting menuju kehamilan yang sehat. Pemeriksaan antenatal yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan. Tujuaannya adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat. Pemeriksaan antenatal dilakukan oleh tenaga yang berkompeten dalam memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil yaitu dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat (Depkes, 2010).

Pemeriksaan antenatal sangat penting dan wajib dilakukan oleh para ibu hamil karena dalam pemeriksaan tersebut dilakukan monitoring secara menyeluruh baik mengenai kondisi ibu maupun janin yang sedang dikandungnya. Pemeriksaan antenatal juga dapat mengetahui perkembangan kehamilan, tingkat kesehatan kandungan, kondisi janin dan bahkan penyakit atau kelainan pada kandungan yang diharapkan dapat dilakukan penanganan secara dini. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan kehamilan, sebagai bahan pengetahuan bagi para ibu hamil agar menuju kehamilan yang sehat dan keluarga yang berkualitas (Hutahaean, 2009).

Pemeriksaan antenatal ini merupakan upaya menurunkan angka kematian ibu dan perinatal. Dianjurkan agar pada setiap kehamilan, dilakukan antenatal care secara teratur dan sesuai dengan jadwal yang lazim berlaku (Manuaba, 2003).

Jadwal antenatal care (pemeriksaan antenatal) sebagai berikut (Manuaba, 2003) :

a. Trimester I dan II 1) Sebulan sekali

2) Pengambilan data hasil laboratorium 3) Pemeriksaan ultrasonografi

4) Nasihat diet

a) Empat sehat lima sempurna

b) Protein 0,5/kg BB, ditambah satu telor/hari 5) Observasi

a) Penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan b) Komplikasi kehamilan

6) Rencana

a) Mengobati penyakit

b) Menghindari terjadinya komplikasi kehamilan c) Imunisasi tetanus I

b. Trimester III

1) Setiap dua minggu kemudian sampe seminggu sampai tanda kelahiran tiba

2) Evaluasi data laboratorium untuk melihat hasil pengobatan 3) Diet empat sehat lima sempurna

4) Pemeriksaan ultrasonografi 5) Imunisasi tetanus II

a) Penyakit yang menyertai kehamilan b) Komplikasi hamil trimester III

c) Berbagai kelainan kehamilan trimester III

Adapun pemeriksaan antenatal saat antenatal yang berkualitas dapat dilihat dari saat anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa, prognosa dan terapi. Hal yang perlu diperhatikan saat pemeriksaan antenatal ialah sebagai berikut:

a. Anamnesa

Anamnesa adalah pertanyaan terarah yang ditujukkan kepada ibu hamil, untuk mengetahui keadaan ibu dan faktor risiko yang dimilikinya. Anamnesa dapat membantu untuk mengetahui dukungan terhadap ibu dan pengambilan keputusan dalam keluarga, sehingga membantu ibu dalam merencanakan persalinan yang baik (Depkes, 2007).

Menurut Depkes (2007) anamnesa pada kunjungan pelayanan antenatal pertama dari ibu hamil yang perlu diperhatikan meliputi :

1) Identifikasi ibu (nama, nama suami, usia, pekerjaan, agama dan alamat ibu)

2) Keluhan utama atau apa yang diderita, apakah ibu datang untuk memeriksa kehamilan atau ada masalah lain

3) Riwayat haid 4) Riwayat perkawinan

5) Riwayat kehamilan sekarang meliput: HPHT (haid pertama haid terakhir), gerak janin, masalah atau tanda-tanda bahaya,

Keluhan-keluhan yang lazim pada kehamilan, penggunaan obat-obatan (termasuk jamu), kekhawatiran lain yang dirasakan 6) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas sebelumnya seperti

riwayat hipertensi, perdarahan dan masalah-masalah yang lain 7) Riwayat penyakit yang pernah diderita/kesehatan seperti

penyakit jantung, paru, ginjal, diabetes melitus dll,

8) Riwayat keluarga meliputi penyakit keturunan, anak kembar, penyakit menular dll.

9) Riwayat sosial ekonomi dan budaya meliputi status perkawinan, riwayat KB, reaksi orang tua dan keluarga terhadap kehamilan, dukungan keluarga, pengambil keputusan dalam keluarga, kebiasaan makan dan gizi yang dikonsumsi, kebiasaan hidup sehat, beban kerja dan kegiatan sehari-hari, tempat melahirkan dan penolong yang diinginkan.

No. Anamnesa obstetri Risiko rendah Risiko tinggi

1. Umur penderita - Kurang 19 tahun

Diatas 35 tahun

2. Perkawinan - Infertilitas 3-5 tahun

3. Sejarah persalinan Spontan B, aterm, hidup Tidak pernah abortus, dan persalinan premature Tidak mengalami operasi dalam Rahim/persalinan Tanpa komplikasi kehamilan Persalinan premature, abortus Persalinan dengan tindakan atau operasi

4. Interval kehamilan Diatas 2 tahun atau di bawah 5 tahun

Tanpa metode KB

Terdapat komplikasi hamil

Anak terkecil 5 tahun atau lebih

5. Sejarah keluarga Tanpa penyakit yang dapat menganggu kehamilan

Penyakit keturunan Penyakit menyertai

hamil:

Penyakit darah, asma, jantung, ginjal dan lever Kehamilan kembar 6. Tanggal menstruasi terakhir Menentukan pikiran persalinan menurut rumus naegle

Umur hamil menurut tinggi fundus uteri Umur menurut gerak janin dan detak jantung Membandingkan orang bumil lainnya

Berdasarkan USG 7. Berat badan bayi Hamil 2500-3500 gr

Menurut rumus Johnson Menurut USG

BB > 4000 gr,

makrosomia sulit lahir pervaginam

Tabel 2.1 anamnesa kehamilan

Tabel diatas menjelaskan gambaran khusus dalam anamnesa kehamilan dari hasil anamnesa yang dilakukan oleh petugas kesehatan dapat memberikan gambaran khusus. Anamnesa tersebut juga menunjukan hasil kehamilan yang berisiko rendah dan berisiko tinggi. Pelaksanaan anamnesa yang sesuai pedoman dapat membantu untuk menentukan masalah yang akan ditetapkan (Manuaba, 2003)

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik harus dilakukan secermat mungkin. Pemeriksaan ini memerlukan ketelitian sehingga didapat diagnosa yang tepat dan pengobatan yang akurat. Tujuan pemeriksaan fisik ini adalah untuk mendeteksi penyulit atau komplikasi-komplikasi kehamilan. Pemeriksaan fisik pada ibu hamil meliputi :

1) Pemeriksaan luar, terdiri dari ;

a) Pemeriksaan umum meliputi keadaan umum ibu (keadaan gizi, kelainan bentuk badan dan kesadaran), status gizi ibu,

tanda vital, oedema, tinggi badan, berat badan, reflek, pemeriksaan laboratorium sederhana bila ada untuk kadar Hb, golongan darah dan urine rutin.

b) Pemeriksaan obstetri meliputi melihat kontraksi uterus dan palpasi perut dengan cara leopold yang dibagi dalam 4 tahap

2) Pemeriksaan dalam

Pemeriksaan dalam dilakukan pada saat kunjungan pertama pemeriksaan antenatal pada hamil muda dan sekali lagi pada kehamilan trimester III untuk menentukan keadaan panggul. c. Intervensi dasar

Intervensi yang diberikan pada ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC. Pemberian imunisasai (Tetanus Toksoid) TT lengkap: Untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemberian (tablet besi) minimnal 90 tablet selama kehamilan. Pemberian vitamin dan mineral yang disarankan pada ibu hamil.

d. Diagnosa

Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik, maka dapat ditegakkan diagnosa. Selain itu dapat diketahui :

1) Hamil atau tidak

2) Primigravida atau multigravida 3) Usia kehamilan

4) Janin hidup atau mati 5) Janin tunggal atau kembar

6) Letak anak

7) Anak intrauterin atau extrauterin 8) Keadaan jalan lahir

9) Keadaan umum penderita

Tujuan terapi pada ibu hamil adalah untuk mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya dalam kehamilan dan menjenlang persalinan. Keluhan yang mengganggu perlu diperhatikan dan diberi pengobatan. Berikan konseling pada ibu hamil mengenai kehidupan waktu hamil, hygiene dan gizi, pemeriksaan antenatal dan tanda-tanda bahaya kehamilan dll.

e. Penyuluhan

Penyuluhan kesehatan diartikan sebagai kegiatan pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan cara menyebarluaskan pesan dan mmenanamkan keyakinan. Dengan demikian, masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan dapat melakukan anjuran yang berhubungan dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan bertujuan mengubah perilaku kurang sehat menjadi sehat. Perilaku baru yang terbentuk, terbatas pada pemahaman sasaran, sedangkan perubahan sikap dan tingkah laku merupakan tujuan tidak langsung (Maulana, 2009).

Sasaran penyuluhan kesehatan, seperti juga sasaran pendidikan kesehatan, meliputi masyarakat umum dengan orientasi masyarakat pedesaan, masyarakat kelompok khusus dan individu dengan teknik pendidikan kesehatan individual (Maulana (2009) dan Effendy (1998).

Banyak faktor yang perlu diperhatikan terhadap saaran dalam keberhasilan penyuluhan kesehatan, diantaranya adalah tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat, kepercayaan masyarakat dan ketersediaan waktu dari masyarakat (Effendy, 1998).

Perawatan kehamilan adalah memberikan pengawasan atau pemeliharaan ibu hamil sampai melahirkan bayinya, dengan tujuan menurunkan angka kesakitan dan angka kematian ibu pada ibu-ibu hamil, melahirkan serta nifas. Karenanya seorang ibu hamil kesehatannya perlu diawasi atau dirawat agar ibu hamil selalu dalam keadaan sehat dan selamat, bila timbul kelainan pada kehamilan atau timbul gangguan kesehatan dapat diketahui secara dini dan dapat dilakukan perawatan yang tepat, dapat diberikan penyuluhan tentang cara memlihara sendiri watu hamil dan dapat diberikan suntikan kekebalan terhadap tetanus. Adapun pelaksanaan perawatan kehamilan sebagai berikut (Dainur, 1995):

a. Memberikan penyuluhan atau mengajarkan para ibu-ibu untuk pergi memeriksakan kehamilannya ke puskesmas secara teratur

b. Memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu tentang

c. Kebersihan perorangan, mandi setiap hari, kuku pendek, cukup istirahat dan tidur, makanan bergizi, keluarga berencana, anjuran untuk memepersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk persalinan dan untuk bayi yang akan dilahirkan, tanda-tanda bahaya kehamilan , kehamilan yang beresiko.

d. Dengan pengamatan yang cermat bila didapati kelainan-kelainan pada ibu hamil atau keluhan -keluhan yang tidak wajar kirimlah ke puskesmas untuk pemeriksaan dan pengobatan

f. Sistem rujukan

Sistem rujukan merupakan suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memnungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizintal kepada yang lebih kompeten, terjangkau dan dilakukan secara rasional. Tujuan sistem rujukan adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efesiensi pelayanan kesehatan secara terpadu (Syafrudin dan Effendi, 2009).

Salah satu kelemahan pelayanan kesehatan adalah pelaksanaan rujukan yang kurang cepat dan tepat. Rujukan bukan suatu kekurangan, melainkan suatu tanggung jawab yang tinggi dan mendahulukan kebutuhan massyarakat. Kita ketahui bersama bahwa tingginya kematian ibu dan bayi merupakan masalah kesehatan yang dihadapi oleh bangsa kita. Pada pembelajaran sebelumnya, telah dibahas mengenai masalah 3T (tiga keterlambatan) yang melatarbelakangi tingginya kematian ibu dan anak, terutama terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan (Syafrudin, 2009).

Adanya sistem rujukan, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu karena tindakan rujukan ditujukan pada

kasus yang tergolong beresiko tinggi. Oleh karena itu, kelancaran dapat menjadi faktor yang menentukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan perinatal, terutama dalam mengatasi keterlambatan. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus memiliki kesiapan untuk merujuk ibu atau bayi ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu jika menghadapipenyulit. Jika bidan lemah atau lalai dalam melakukannya, akan berakibat fatal bagi keselamatan jiwa dan ibu (Syafrudin, 2009).

Konsep kesejahteraan ibu merupakan konsep yang kompleks yang memerlukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi (KISS) pelaksanaan yang terarah dengan jelas sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan perinalatal. ditinjau dari struktur pelaksaanaan dengan puskesmas sebagai ujung tombaknya, polindes dan posyandu, maka dapat dibyang sasaran yang hendak vapai akan berhasil. Pesan kesehatreaan ibu pada massyarakat masyarakat sebagai berikut (Manuaba, 1998):

1. Segeralah datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat a. Melakukan perawatan antenatal

b.Melakukan pengawasan antenatal sebanyak 4 kali

c. Menasehati kapan harus datang ke pusat pelayanan kesehatan

d.Perut sakit atau terjatuh

e. Mengeluarkan darah campur lendir, mengeluarkan darah saja dan mengeluarkan cairan

f. Gerakan janin makin berkurang g. Badan panas sebagai tanda infeksi

2. Kepada keluargah diterangkan keadaan yang dapat membahayan saat hamil dan meningkatkan bahaya terhadap bayinya

3. Wanita hamil memerlukan makanan lebih dan istirahat cukup 4. Mendorong kesehatan reproduksi yang optimal

5. Wanita yang sehat jasmani dan rohani sejak saat kanak-kanank mempunyai penyulit kehamilan yang makin berkurang

Pemantauan kemajuan kehamilan dilakukan pada setiap kunjungan antenatal (pengukuran tekanan darah, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran tinggi fundus uteri, memantau gerakan janin); mendiagnosa kehamilan untuk mengetahui ada tidaknya komplikasi serta penanganannya) dan non medis (konseling perawatan kehamilan dan persiapan rujukan) Pemeriksaan, diagnosis pemantauan serta penanganan harus dilakukan sesuai standar. Namun dalam penerapan operasionalnya menurut Depkes (2010) dikenal standar minimal ”10T” untuk pelayanan Antenatal yang terdiri atas:

1) (Timbang) berat badan 2) Ukur (tekanan) darah

3) Tes nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas) 4) Ukur (tinggi) fundus uteri

5) Tes DJJ (denyut jantung janin)

7) Pemberian (tablet besi) minimnal 90 tablet selama kehamilan 8) (Tes) terhadap penyakit menular seksual

9) (Temu) wicara dalam rangka pensiapan rujukan 10)Tatalaksana kasus.

Kelompok the action on preeclampsia (APEC) mengenalkan sebuah brousur untuk membantu wanita memahami petingnya memeriksa tekanan darah mereka serta instruksi tentang kapan mencari rujukan bidan atau medis (Henderson, 2005).

Memperlakukan wanita sebagai mitra kerja-informasi tentang gejala yang dapat menunjukkan preeklampsia

a. Sakit kepala berat

b. Pandangan kabur atau kilatan cahaya c. Nyeri berat dibawah iga

d. Muntah-muntahh

e. Pembengkakan mendadak pada wajah, tangan dan kaki secara mendadak

Sumber; APEC, 1996

Tabel 2.2 kotak brosur APEC

B.Preeklampsia

Dokumen terkait