• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurikulum 1984, proses perencanaan dan pengembangannya

Dalam dokumen SEPUTAR PENDIDIKAN 2012 (Halaman 46-61)

a. Proses Perencanaan 1) Evaluasi Kurikulum.

Kurikulum merupakan salah satu wahana utama untuk digunakan sebagai pedoman bagi pelaksana pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sejalan dengan arah kebijakan dalam pendidikan yang tercantum dalam GBHN 1983 maka perlu dilakukan serangkaian kegiatan evaluasi terhadap kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang berlaku, yaitu kurikulum 1975/1976/1977.

Pada tahun 1981 Pusbangkurrandik mengadakan kegiatan evaluasi dilakukan untuk mendeteksi kelebihan dan kekurangan serta permasalahan sebenarnya di sekolah. Dari hasil deteksi tersebut dapat disimpulkan bahwa kurikulum dari semua jenis dan jenjang pendidikan yang telah berjalan 9 tahun perlu mengalami penyesuaian dan penyempurnaan. Selain Ketetapan MPR no. II/MPR/1983 tetang Garis-Garis Besar Haluan Negara, hasil-hasil perintisan yang disebutkan dalam bagian 2 perlu dijadikan dasar pengembangan

kurikulum 1984. Atas dasar itu dikembangkan struktur program kurikulum 1984.

2) Evaluasi Hasil Penelitian

Evaluasi hasil perintisan Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) menunjukkan bahwa hasil belajar siswa baik dipandang dari sudut perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor ternyata baik. Demikian pula pada penerapan sistem maju berkelanjutan dengan dasar perbedaan kemampuan peserta didik (individual differencies), waktu belajar di Sekolah Dasar ternyata dapat dipersingkat dari 6 tahun menjadi 5 tahun, dan bagi peserta didik yang cerdas tingkat SMP dan SMA secara total dapat diselesaikan dalam 5 tahun. Dipandang dari kemampuan guru penggunaan modul (self contained module) dapat meniadakan atau banyak mengurangi kesalahan konsep dan memudahkan guru dalam melayani perbedaan individu belajar. Tetapi dipandang dari sudut administrasi pendidikan ternyata sulit dilakukan bila didesiminasikan ke sekolah-sekolah lain. Demikian pula dengan bahan pembelajaran menggunakan modul berdampak pada biaya pendidikan yang cukup mahal.

Evaluasi hasil perintisan CBSA di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sidoardjo (Jatim), Kabupaten Maros (Sulsel), Kabupaten Binjai (Sumut), Mataram (NTB) dan Keterampilan Proses IPA Sekolah Dasar di Kabupaten Cianjur dan Kota Madya Bandung menunjukkan perlunya materi kurikulum untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan diseleksi sehingga diperoleh konsep-konsep yang esensial guna mewujudkan kegiatan belajar-mengajar yang berpusat pada peserta didik..

b. Kurikulum 1984

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0461/U/1983 tentang perbaikan kurikulum Pendidikan Dasar dan

Menengah dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Kurikulum dibawah pimpinan Prof. DR. Conny Semiawan sesuai dengan tugasnya mengadakan perbaikan kurikulum yang hasilnya disebut dengan Kurikulum 1984 TK, SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, SPG/LB dan SMK baik yang setingkat dengan tingkat SMP maupun yang setingkat dengan tingkat SMA. Perbaikan terhadap kurikulum mencakup:

1) Peninjauan kembali secara menyeluruh kurikulum yang berlaku melalui pendekatan pengembangan dengan bertitik tolak pada:

a)Pilihan kemampuan dasar, baik pengetahuan maupun keterampilan yang perlu dikuasai dalam pembentukan kemampuan dan watak peserta didik.

b)Keterpaduan dan keserasian antara matra kognitif, afektif dan psikomotorik.

c)Penyesuaian tujuan dan struktur kurikulum dengan perkembangan masyarakat, pembangunan, ilmu pegetahuan dan teknologi.

2) Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa sebagai bidang/program yang berdiri sendiri, dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan Sekolah Menengah Tingkat Atas, termasuk Pendidikan Luar Sekolah.

3) Pengadaan program studi baru yang merupakan usaha memenuhi kebutuhan perkembangan di lapangan kerja.

Salah satu prinsip pengembangan kurikulum 1984 adalah prinsip dekonsentrasi yang mempunyai arti adanya pembagian kewenangan dalam pengembangan kurikulum antara Pusat dan Daerah. Kewenangan daerah dalam hal ini terutama terletak pada pengembangan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat dan lapangan kerja di daerah. Untuk maksud ini maka Staf Bidang Dikdas dan Dikmenum, Kanwil Depdikbud memerlukan koordinasi/kerjasama dengan Kantor Depdikbud tingkat Kabupatan dan atau Tingkat Kecamatan, Instansi lain yang terkait, misalnya Kanwil Depnaker, KADIN, dan Perusahaan,

Pemerintah Daerah antara lain Gubernur, Walikota/Bupati, khususnya BAPPEDA.

Upaya perbaikan kurikulum melalui pengembangan kurikulum dilakukan secara bertahap dalam arti hasil perbaikan kurikulum biarpun dilaksanakan pada tahun 1984/1985, tetapi upaya pemantapan tetap perlu diadakan secara terus menerus. Dengan perbaikan kurikulum yang berlaku dan dimantapkan secara terus menerus dapat diharapkan memberi peluang kepada peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya serta dapat lebih mampu memenuhi keanekaragaman kebutuhan masyarakat, terutama lapangan kerja.

Selain itu, Garis-Garis Besar Haluan Negara 1983 dan sesuai dengan arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Nugroho Notosusanto, mengisyaratkan dimasukkannya satu mata pelajaran baru yaitu mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dalam rangka Pendidikan Pancasila yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran nasional sebagai satu bangsa, menanamkan rasa cinta tanah air, merangsang kemampuan kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan serta membina kepribadian bangsa melalui proses integrasi dan internalisasi jiwa, semangat dan nilai-nilai 1945 kepada generasi muda. Mata pelajaran ini merupakan bagian terpadu pendidikan umum dan pendidikan humaniora. Dalam rangka mengembangkan materi mata pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa, Pusat Kurikulum telah bekerjasama dengan Direktorat Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional dan para pakar Sejarah yang ada di beberapa IKIP dan Universitas serta Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

1) Tujuan Instruksional

Mengingat bahwa pengembangan kurikulum 1984 juga menggunakan sistem pengembangan Program Pengembang Sistem Instruksional, maka langkah pertama adalah menelaah tujuan pendidikan nasional

yang terdapat dalam GBHN 1983 dan menjabarkannya menjadi tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional umum. Untuk melakukan penelaahan dan penjabaran tujuan pendidikan nasional ini dibentuk tim khusus dibawah pimpinan Prof. Dr. Conny Semiawan yang terdiri dari para ahli dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Prof. Dr. Mudomo (ITB), Prof. Dr, Andi Hakim Nasution (IPB), Prof. Dr. Yus Badudu (UNPAD), DR. Bagiono (Dikmenjur), Dr. R. Ibrahim dan Dr. Ratna Wilis Dahar, (IKIP Bandung), Dr. Zaini Machmud (IKIP Malang), Dr. Nababan (IKIP Jakarta), A.F. Tangyong MA, MA. (Puskur), Lexy C. Moleong (Puskur), Drs. Benny Karyadi, MA (Puskur).

2) Struktur Program

Setelah pengembangan tujuan-tujuan di atas dibentuklah struktur program untuk masing-masing tingkat pendidikan yang pada dasarnya memiliki program inti dan program pilihan. Kedua program ini batasnya tidak jelas misalnya pendidikan bahasa daerah, untuk daerah- daerah tertentu dimasukkan sebagai program inti yaitu program yang harus diikuti oleh semua peserta didik di daerah tersebut. Dalam struktur program kurikulum untuk Taman Kanak-Kanak hanya memiliki program inti. Selain itu bila di tingkat sekolah lain ada mata pelajaran, di Taman Kanak-Kanak ada bidang pengembangan. Bila di tingkat sekolah lain beban belajar dinyatakan dengan kredit per semester di Taman Kanak-Kanak dinyatakan dengan jam pelajaran per minggu.

a) Program Inti

Program inti adalah program yang berisikan mata pelajaran yang harus diikuti oleh semua peserta didik setiap jenjang pendidikan. Program inti diadakan dalam rangka (1) memenuhi tujuan satuan pendidikan yang bersangkutan, (2) mewujudkan upaya peletakan

dasar-dasar persatuan dan kesatuan antar satuan pendidikan, (3) mengacu pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, perubahan masyarakat, perkembangan pendidikan di negara-negara maju, serta (4) penguasaan pengetahuan minimal dan esensial bagi semua peserta didik.

b) Program Pilihan

Program pilihan adalah program yang dipilih berdasarkan kebutuhan daerah dan masyarakat. Khusus untuk tingkat SMA selain program pilihan terdiri dari program A dan program B.

Program A disajikan dalam bentuk program-program yang disesuaikan dengan kepentingan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, yaitu program Ilmu-Ilmu Fisik, program Ilmu-Ilmu Biologi, program Ilmu-Ilmu Sosial, dan program Pengetahuan Budaya (termasuk Pengetahuan Agama). Peserta didik dapat memilih salah satu program tersebut sesuai dengan kemampuan dan minatnya mulai kelas II SMA.

Masing-masing program tersebut memiliki kegunaannya.

(1) Program Ilmu-Ilmu Fisik (mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Bahasa Inggris) disediakan bagi peserta didik yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji baik gejala-gejala alamiah yang menyangkut benda/bahan tak hidup, seperti Fisika, Kimia, Elektronika, Astronomi, Geologi dan sebagainya, maupun bidang Matematika

(2) Program Ilmu-Ilmu Biologi (mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Matematika dan Bahasa Inggris) menyiapkan peserta didik yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji gejala-gejala alamiah yang hidup, seperti Pertanian, Kedokteran, Biologi, dan

sebagainya. Mata pelajaran Fisika dan Biologi dalam program Ilmu-Ilmu Fisik mempunyai bobot kredit yang berlainan dengan program Ilmu-Ilmu Biologi

(3) Program Ilmu-Ilmu Sosial (mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi dan Antopologi, Tatanegara, Matematika dan Bahasa Inggris) menyiapkan peserta didik yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji kehidupan sosial manusia seperti Ilmu Administrasi, Ilmu Ekonomi, Ilmu Politik, Sosiologi, Antropologi, Psikologi, dan sebagainya.

(4) Program Pengetahuan Budaya (mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi, Sejarah Budaya, Sastra, Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Daerah/Bahasa Asing Lainnya) menyiapkan peserta didik yang akan melanjutkan pendidikannya ke program studi pendidikan tinggi yang mengkaji aspek-aspek budaya, seperti Hukum, Pengetahuan Agama (Teologi), Filsafat, Bahasa, Sastra , Sejarah, dan sebagainya.

Peserta didik yang telah memilih suatu program tertentu dapat mengambil juga mata pelajaran yang lain, asal tidak mengganggu kelancaran penyelesaian program pokoknya.

Program B disediakan sebagai sarana untuk menampung minat dan bakat peserta didik untuk mendalami berbagai bidang kehidupan yang ada di masyarakat. Program ini lebih diarahkan untuk menyiapkan peserta didik yang akan langsung bekerja sesudah lulus SMA maupun yang akan memasuki akademi, politeknik, , program diploma, dan sebagainya.

Program B disajikan dalam bentuk program-program yang disesuaikan dengan bidang-bidang kehidupan di masyarakat. Bidang- bidang itu terdiri atas antara lain Teknologi Industri, Komputer,

Pertanian, Kehutanan, Jasa, Kesejahteraan Keluarga, Maritim, Budaya, dan sebagainya.. Adapun kegunaan masing-masing program adalah sebagai berikut.

(1)Pogram di bidang Teknologi Industri menyiapkan peserta didik yang memilih bidang teknologi industri sebagai lapangan kerjanya atau yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Komputer, ke Politeknik, Akademi Teknik, dan sebagainya.

(2)Program di bidang Komputer menyiapkan peserta didik yang memilih bidang komputer sebagai lapangan kerjanya atau yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Komputer, Program Diploma bidang Komputer dan sebagainya.

(3)Program di bidang Pertanian dan Kehutanan menyiapkan peserta didik yang memilih bidang pertanian dan kehutanan sebagai lapangan kerjanya atau yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Pertanian, Akademi Kehutanan, dan sebagainya.

(4)Program di bidang Jasa menyiapkan peserta didik yang memilih bidang jasa sebagai lapangan kerjanya atau yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Perdagangan, Akademi Parawisata, Akademi Sekretaris, dan sebagainya.

(5)Program di bidang Kesejahteraan Keluarga menyiapkan peserta didik yang memilih bidang kesejahteraan keluarga sebagai lapangan kerjanya atau yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Gizi, Akademi Kesejahteraan Keluarga, dan sebagainya. (6)Program di bidang Maritim menyiapkan peserta didik yang

memilih bidang kelautan sebagai lapangan kerjanya atau yang akan melanjutkan pendidikannya ke Akademi Pelayaran, Akademi Perikanan Laut, dan sebagainya.

(7)Program di bidang Budaya menyiapkan peserta didik yang memilih bidang budaya sebagai lapangan kerjanya atau yang akan

melanjutkan pendidikannya ke Akademi Bahasa, Akademi Teater, Akademi Seni Rupa, dan sebagainya.

(8)Program di bidang pengetahuan Agama menyiapkan peserta didik yang memilih bidang Agama sebagai lapangan kerjanya atau yang akan melanjutkan pendidikannya ke program-program pendidikan agama yang sederajat dengan tingkat Akademi atau program diploma.

Pada masing-masing program tersebut perlu diberi pengetahuan tentang wiraswasta, Undang-Undang Perburuhan dan Keselamatan Kerja, kecuali program di bidang pengetahuan Agama..

Berbeda dengan pendidikan keterampilan pada program inti, program B lebih diarahkan pada tujuan pembinaan keterampilan yang diperlukan sebagai bekal persiapan bagi para lulusan untuk bekerja/memasuki bidang-bidang kehidupan di masyarakat. Berbeda pula dengan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, program B memberikan bekal kemampuan dasar yang luas sedangkan kemampuan kejuruannya lebih terbatas/tidak selengkap Sekolah Menengah Kejuruan.

Masing-masing program pada Program A dan Program B pada dasarnya dapat diambil mulai semester manapun, tergantung waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan program yang bersangkutan. Peserta didik yang akan melanjutkan ke Universitas atau Institut dapat mengambil sebagian program dalam program B, demikian pula sebaliknya, asal tidak mengganggu kelancaran penyelesaian program pokok yang dipilihnya.

Evaluasi hasil perintisan kurikulum SMA Program B ini ternyata menunjukkan bahwa sangat sukar dilakukan mengingat sarana dan prasarana yang ada, sumber daya manusia, administrasi program persekolahan, dan sumber dana yang tersedia. Mengingat kesulitan itu

maka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ad-Interim, Prof. DR. Sumarlin menunda program B ini dalam waktu yang tidak ditetapkan. Di Sekolah Menengah Kejuruan, mata pelajaran dikelompokkan menjadi Mata Pelajaran Dasar Umum (MPDU), Mata pelajaran Dasar Kejuruan (MPDK) dan Mata Pelajaran Kejuruan (MPK).

Di Sekolah Pendidikan Guru, Mata Pelajaran dikelompokkan menjadi Mata Pelajaran Dasar Umum (MPDU), Mata pelajaran Dasar Keguruan (MPDK), dan Mata Pelajaran Kejuruan (MPK)..

Tujuan institusional, tujuan kurikuler, struktur program kurikulum dimasukkan dalam Buku I Kurikulum yaitu buka yang berisikan Landasan, Program dan Pengembangan.

3) Garis-Garis Besar Program Pengajaran

Berdasarkan tujuan institusional dan tujuan kurikuler, yang berpusat pada peserta didik, dijabarkanlah materi kurikulum yang dinyatakan dengan pokok bahasan – pokok bahasan dan deskripsinya. Materi kurikulum dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat sehingga tidak mungkin lagi meminta guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada peserta didik. Selain itu penemuan ilmu pengetahuan bersifat relatif. Suatu teori mungkin menjadi kadaluarsa dan ditolak setelah data baru mampu membuktikan kekeliruan atau kurang keterluasan teori yang dianut. Jika kita masih bersikeras meminta guru mengajarkan semua fakta dan konsep maka kita secara tidak sadar mendesak guru untuk bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar dan karena terdesak waktu guru akan memilih jalan yang termudah yaitu menyampaikan materi tersebut dengan metode ceramah. Jelaslah hal itu bertentangan dengan prinsip pendekatan CBSA dan Keterampilan Proses. Dengan demikian, jika kita hendak menanamkan sikap ilmiah dalam diri peserta didik maka cara menuangkan informasi

sebanyak-banyaknya ke dalam pikiran peserta didik tidaklah sesuai dengan azas pendidikan. Karena itu, timbul pemikiran bahwa materi adalah sekedar alat untuk melatih peserta didik berpikir kritis, menanamkan keterampilan mental dan fisik untuk memecahkan masalah. Dalam rangka pengembangan materi setiap mata pelajaran, Prof DR. Conny Semiawan mengarahkan para pengembang materi yaitu janganlah kita menjejalkan “ikan” kepada anak untuk dimakan sebanyak-banyaknya tetapi hendaknya kita dapat memberikan “kail” kepada anak untuk dapat memancing sendiri. Jadi yang terpenting adalah prosesnya bukan hasilnya.

Dengan demikian pengembangan materi kurikulum yang hanya mencantumkan pokok-bahasan pokok-bahasan saja dengan waktu belajar tidaklah cukup. Alternatif pendekatan/metode pembelajaran menjadi sangat penting. Dalam pengembangan materi mata pelajaran ini Pusat Kurikulum telah bekerja sama dengan para pakar yang ada di IKIP/Universitas dan direktorat tekait dalam lingkungan Direktorat Jendeal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Agama khususnya Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, dan Direktorat Jarahnitra. Pusat Kurikulum perlu memberikan pendekatan pengajaran/cara belajar-mengajar yang berpusat pada siswa, sesuai dengan pokok bahasan/bahan pengajaran dan yang mampu menanamkan keterampilan dasar untuk belajar seumur hidup dan sesuai dengan waktu yang disediakan. Dengan perkataan lain pendekatan/cara belajar mengajar yang dikembangkan pada Kurikulum 1984 diarahkan untuk membentuk kemampuan peserta didik untuk mencari , menemukan dan mengelola hasil perolehannya atau pendekatan yang mengacu pada bagaimana peserta didik harus belajar yaitu belajar bagaimana cara belajar (Learning How to Learn – Novak and Gowin). Selain itu sumber/media belajar dan pendekatan evaluasi yang sesuai juga merupakan saran untuk

tditerapkan oleh guru. Tujuan instruksional umum, pokok bahasan dan deskripsinya, pendekatan pengajaran/cara belajar mengajar, sumber/media belajar dan pendekatan evaluasi dicantumkan dalam buku II Kurikulum 1984 yang dikenal dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) mata pelajaran tertentu. Format GBPP yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum ternyata dapat diterima dan digunakan untuk Sekolah-Sekolah dalam lingkungan Departemen Agama, Sekolah-sekolah Kejuruan dan Sekolah-Sekolah Keguruan.

4) Pedoman

Pusat kurikulum menyadari bahwa masih banyak guru yang tidak berlatar belakang pendidikan guru dan kurang faham dengan pendidikan peserta didik. Karena itu Pusat Kurikulum menganggap perlu mengembangkan berbagai macam pedoman. Pedoman-pedoman pelaksanaan Kurikulum 1984 yang disusun meliputi:

1.Pedoman Proses Belajar Mengajar 2.Pedoman Penilaian

3.Pedoman Bimbingan 4.Pedoman Pembinaan Guru 5.Pedoman Sistem Kredit

6.Pedoman Pelaksanaan Penataran

7.Pedoman Pelaksanaan Program B untuk SMA 8.Pedoman Kerja Lapangan untuk Sekolah Kejuruan

9.Pedoman Praktik Pengalaman Lapangan untuk Sekolah Keguruan.

Pedoman-pedoman ini bersifat umum dan dapat berlaku untuk semua jenis dan jenjang pendidikan, kecuali pedoman no. 7, 8, dan 9.

Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksudkan dengan perangkat kurikulum 1984 adalah;

1.Landasan, Program, dan Pengembangan 2.Garis-Garis Besar Program Pengajaran

3.Pedoman-pedoman Pelaksanaan Kurikulum 1984 5) Pokok Pelaksanaan Kurikulum

Dalam pelaksanaan kurikulum 1984 untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah berlaku beberapa kegiatan yaitu kegiatan kurikuler, administrasi kurikulum dan bimbingan karier/

a) Kegiatan kurikuler

Kegiatan kurikuler dibagi menjadi 3 bagian yaitu kegiatan intra kurikuler, kegiatan kokurikuler dan kegiatan ekstra kurikuler

Kegiatan Intra-Kurikuler dilakukan di sekolah yang jatah

waktu/kreditnya telah ditentukan dalam struktur program.

Kegiatan Ko-Kurikuler adalah kegiatan di luar jatah

waktu/kreditnya yang telah ditentukan dalam struktur program. Tujuan kegiatan ini adalah agar peserta didik dapat memperdalam, menghayati apa yang dipelajari dalam kegiatan Intra-Kurikuler. Kegiatan Ko-Kurikuler adalah kegiatan seperti mempelajari buku- buku tertentu, merancang dan melakukan penelitian sederhana, membuat karangan, dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. Hasil kegiatan peserta didik ini diperhitungkan dalam menentukan nilai peserta didik.

Kegiatan Ekstra-Kurikuler adalah kegiatan di luar jatah

waktu/kredit yang telah ditentukan dalam strktur program, termasuk waktu libur sekolah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperluas pengetahuan peserta didik, mengenal hubungan antar berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat , dan melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya. Kegiatan Ekstra-Kurikuler antara lain dapat berupa kunjungan ke obyek- obyek tertentu misalnya gunung, pantai, candi, museum, membuat drama, palang merah remaja, dokter kecil, pramuka, dan sebagainya.

b) Administrasi Kurikulum

Di tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama diterapkan jam pelajaran/minggu sedangkan di jenjang pendidikan Menengah diterapkan sistem kredit semester. Diterapkannya sistem kredit semester dimaksudkan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna pendidikan sekaligus dikaitkan dengan sistem penilaian peserta didik. Satu kredit diartikan dengan 1 (satu) jam pelajaran tatap muka ditambah dengan ½ (setengah) jam pelajaran pekerjaan rumah per minggu per semester.

c) Pendekatan Belajar dan Penilaian

Proses belajar-mengajar dilaksanakan dengan lebih banyak mengacu kepada bagaimana peserta didik belajar, selain kepada apa yang ia pelajari. Dengan demikian proses belajar mengajar perlu berpusat pada peserta didik (student centered) daripada berpusat pada guru (teacher centered). Pendekatan belajar- mengajar harus diarahkan pada Cara Belajar Siswa Aktif yang telah diperkenalkan oleh PPPG tahun 1963 oleh Prof. DR. Raka Joni, laporan Beeby dan Ibu Prof. Dr. Pakasi, Panitia 11, Modular Instruction PPSP, hasil penelitian Dr. Arya Djalil dan Christine Mangindaan tahun 1979, mutu proses belajar mengajar dari proyek Supervisi Pendidikan. Sedangkan pendekatan keterampilan proses dilaksanakan agar peserta didik mampu mengelola perolehan belajarnya Pendekatan Keterampilan Proses ini juga mendapat perhatian dari British Council dengan mengirim konsultannya ke Pusbangkurrandik yaitu Prof. Wynne Harlen, Ph.D dan Philip Adey, Ph.D

d) Bimbingan Karier

Pelaksanaan Bimbingan Karier penting artinya untuk menyesuaikan pendidikan dengan perbedaan individu peserta didik dan kebutuhan lingkungan. Bimbingan karier bukan hanya berarti bimbingan tugas tetapi perlu memiliki arti yang lebih luas yaitu bimbingan agar peserta didik mampu (1) memahami dirinya, (2) memahami lingkungan/dunia kerja dan tatahidup tertentu, dan (3) mengembangkan rencana dan kemampuan untuk mengambil keputusan tentang masa depannya.

Dalam pelaksanaannya nara sumber yang ada di masyarakat perlu diikut sertakan agar program pendidikan dapat disesuaikan dengan berbagai bidang kehidupan.

5) Pengembangan dan Pentahapan Pelaksanaan Kurikulum 1984

Pengembangan Kurikulum 1984 perlu berpedoman pada azas-azas (1) berdasarkan Pancasila, Undang-Undang 1945 dan GBHN, (2) Keluwesan dengan mempertimbangkan baik tuntutan kebutuhan peserta didik pada umumnya maupun kebutuhan peserta didik secara individu sesuai dengan minat dan bakatnya, serta kebutuhan lingkungan, (3) Pendekatan Pengembangan yang berarti bahwa pengembangan kurikulum dilakukan secara bertahap dan terus menerus.yaitu dengan jalan melakukan penilaian terhadap pelaksanaan dan hasil-hasil yang telah dicapai untuk maksud perbaikan/pemantapan dan pengembangan lebih lanjut, dan (4) Peran serta daerah dimana daerah berwewenang menjabarkan lebih lanjut materi program keterampilan dan khususnya program B untuk Sekolah Menengah Atas.

Kurikulum 1984 dilaksanakan secara bertahap mulai dari kelas I pada tahun ajaran 1984/1985, kelas I dan kelas II pada tahun ajaran 1985/1986, dan seterusnya.

Dalam dokumen SEPUTAR PENDIDIKAN 2012 (Halaman 46-61)

Dokumen terkait