BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Metode Penentuan Kadar Logam
2.3.3. Kurva Kalibrasi
Dalam metode kurva kalibrasi ini, dibuat seri larutan standar dengan berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur dengan SSA.
Selanjutnya membuat grafik antara konsentrasi (C) dengan absorbansi (A) yang menghasilkan garis lurus melewati titik nol dengan slope = ε. B atau slope = a.b.
Absorbansi larutan sampel diukur dan dimasukkan ke dalam persamaan regresi linear pada kurva kalibrasi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.3 berikut :
Gambar 2.3 Kurva kalibrasi (Syahputra, 2004).
14 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Februari sampai dengan Maret 2020 di Laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cutter, cawan petri 3 buah, spatula, neraca analitik, cawan porselin 3 buah, corong 3 buah, gelas ukur 25 mL, erlenmeyer 250 mL 6 buah, labu ukur 50 mL 3 buah, pipet volume 10 mL, lumpang dan alu, hotplate, tabung reaksi dan raknya, labu ukur 100 mL 5 buah dan spektrofotometer serapan atom (SSA).
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuades, kertas saring Whatman No.42, asam nitrat (HNO3) pekat, timbal (II) nitrat (Pb(NO3)2), merkuri (II) nitrat (Hg(NO3)2), dan tiram bakau (Crassostrea sp.).
3.3 Metode Penelitian 3.3.1 Preparasi Sampel
Sampel tiram bakau (Crassostrea sp.) diambil dari daerah pesisir Kuala Langsa KM 6. Cangkang tiram dibuka dengan menggunakan cutter dan dikeluarkan isinya. Setelah itu daging tiram dicuci hingga bersih dengan air mengalir. Daging yang telah dicuci kemudian dikeringkan diruang terbuka.
Sampel yang belum benar-benar kering dioven pada suhu 60°C selama ± 11 jam sampai sampel kering. Setelah itu sampel dihaluskan menggunakan mortal hingga berbentuk serpihan kecil.
3.3.2 Pembuatan Larutan Standar
3.3.2.1 Pembuatan Larutan Induk Pb 1000 ppm
Sebanyak 1,599 g Pb(NO3)2 ditimbang dengan teliti dilarutkan dengan 10 mL HNO3 di dalam labu ukur 1000 ml. Kemudian ditambahkan akuades sampai tanda batas.
15
3.3.2.2 Pembuatan Larutan Standar Pb
Larutan standar Pb 100 mg/L dibuat dengan cara memindahkan 10 mL larutan induk 1000 mg/L ke dalam labu ukur 100 mL kemudian diencerkan sampai tanda batas. Larutan standar Pb 0 mg/L; 0,5 mg/L; 1 mg/L; 1,5 mg/L dan 2 mg/L dibuat dengan cara memindahkan 0 mL; 5 mL; 10 mL; 15 mL dan 20 mL larutan induk 100 mg/L ke dalam labu ukur 1000 mL kemudian diencerkan sampai tanda batas.
3.3.2.3 Pembuatan Larutan Induk Hg 1000 ppm
Sebanyak 1,618 gram merkuri (II) nitrat (Hg(NO3)2) ditimbang dan dilarutkan dengan akuades sebanyak 100 mL dalam gelas kimia. Selanjutnya larutan dimasukkan kedalam labu ukur 1000 mL dan diencerkan dengan akuades sampai tanda batas.
3.3.2.4 Pembuatan Larutan Standar Hg
Larutan standar Hg 100 ppm dibuat dengan cara memindahkan 10 mL larutan induk Hg 1000 mg/L ke dalam labu ukur 100 mL kemudian diencerkan sampai tanda batas.
Larutan standar Hg 1000 ppb atau 1 ppm dibuat dengan cara memindahkan 1 mL larutan standar Hg 100 ppm ke dalam labu ukur 100 mL lalu diencerkan hingga tanda batas. Kemudian dibuat larutan 100 ppb dengan cara memindahkan 10 mL larutan standar Hg 1000 ppb ke dalam labu ukur 100 mL dan diencerkan hingga tanda batas. Larutan standar Hg 100 ppb dipipet sebanyak 0 mL; 10 mL; 17,5 mL; 22,5 mL; 30 mL dan 35 mL kemudian dimasukkan masing-masing ke dalam labu ukur 50 mL dan diencerkan dengan akuades sampai tanda batas. Sehingga diperoleh larutan deret standar Hg dengan konsentrasi berturut-turut 0 ppb; 20 ppb; 35 ppb; 45 ppb; 60 ppb dan 70 ppb.
3.3.3 Analisis Logam Berat Pb dan Hg
Sampel daging tiram bakau (Crassostrea sp.) ditimbang seksama sebanyak 5,000 gram dalam cawan porselin, lalu dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer.
Kemudian ditambahkan 5 mL HNO3 pekat, didiamkan 24 jam kemudian sampel dipanaskan di atas hotplate pada suhu 125°C selama 1 jam hingga semua sampel
larut. Setelah semua sampel larut, kemudian didinginkan dan ditambahkan akuades sebanyak 25 mL. Larutan disaring dengan kertas saring Whatman No.42 ke dalam labu erlenmeyer. Kemudian filtrat dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL dan ditepatkan volumenya dengan akuades hingga tanda batas. Filtrat tersebut kemudian dipipet sebanyak 5 mL dan diukur dengan SSA.
Absorbansi masing-masing larutan standar diukur dan dibuat kurva kalibrasinya. Pengukuran dengan SSA untuk logam Pb menggunakan lampu katoda Pb dan logam Hg menggunakan lampu katoda Hg. Persamaan regresi linear yang diperoleh akan digunakan untuk menentukan konsentrasi logam berat Pb dan Hg dalam sampel.
3.3.4 Analisis Data
Dari hasil pengukuran masing-masing absorbansi larutan standar maka dibuat kurva kalibrasi untuk masing-masing logam. Sumbu X adalah konsentrasi dalam (mg/L) sedangkan sumbu Y adalah nilai absorbansi (A). Persamaan regresi linier adalah :
y = bx + a Keterangan: y= Absorbansi sampel (A)
b= Slope atau kemiringan kurva x= Konsentrasi sampel (mg/L)
a= Intercept atau perpotongan (Skoog, 1985).
Untuk menentukan konsentrasi dari larutan sampel maka nilai absorbannya (y) dimasukkan kedalam persamaan regresi linier dari kurva standar tersebut. Kadar logam dinyatakan dalam satuan mg/kg yaitu:
Kadar logam (mg/Kg) = 𝐶 (𝑚𝑔/𝐿) .𝑃 .𝑉 𝑘𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Keterangan: C= Konsentrasi dari pembacaan kurva (mg/L) V= Volume larutan sampel (L)
P= Faktor pengenceran Kg= Massa sampel (kg).
17 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Preparasi Sampel
Proses pengambilan sampel tiram bakau (Crassostrea sp.) diambil dari daerah pesisir Kuala Langsa KM 6, Kota Langsa, Aceh. Tiram bakau (Crassostrea sp.) diambil pada saat air laut sedang surut. Tiram bakau (Crassostrea sp.) banyak hidup di rawa-rawa dan menempel pada akar pohon bakau dan bebatuan yang terdapat di daerah pesisir Kuala Langsa. Setelah itu sampel tiram bakau (Crassostrea sp.) dibersihkan dan dikeluarkan dari cangkangnya. Kemudian daging tiram bakau yang telah bersih dikeringkan di ruang terbuka. Proses preparasi sampel tiram bakau dapat dilihat pada Gambar 4.1 dibawah ini.
(a) (b) (c)
Gambar 4.1 Proses Preparasi Sampel Tiram Bakau (a) Pemisahan Cangkang dengan Daging Tiram Bakau (b) Pencucian Daging Tiram Bakau (c) Pengeringan
Sampel di Ruang Terbuka.
Sampel tiram bakau yang belum kering, selanjutnya dioven pada suhu 60°C selama ± 11 jam. Kemudian dihaluskan menggunakan mortal hingga berbentuk serpihan kecil. Tahapan sampel tiram bakau menjadi serpihan kecil dapat dilihat pada Gambar 4.2.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 4.2 Proses Pembuatan Serbuk Tiram Bakau (Crassostrea sp.) (a) Sampel Tiram Bakau yang akan Dioven (b) Sampel Tiram Bakau yang telah Dioven (c) Proses Penghalusan Sampel Menggunakan Mortal (d) Sampel yang Sudah Halus
dan Siap untuk Ditimbang.
4.2 Pengaturan Alat Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)
Hal pertama yang dilakukan sebelum menganalisis logam berat timbal (Pb) dan logam berat merkuri (Hg) adalah mengatur alat pada Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). SSA adalah suatu instrumen yang mengukur absorbansi suatu sampel berdasarkan panjang gelombang tertentu dan tergantung pada sifat unsurnya.
Pengaturan alat SSA memiliki tujuan agar diperoleh atom-atom pada tingkat yang paling banyak dalam nyala api yang dilewati oleh radiasi. Atom-atom akan menyerap energi radiasi dan kemudian berubah ke keadaan tereksitasi.
19
Pada kondisi yang optimum akan diperoleh serapan yang maksimum (Nuraini, 2009). Panjang gelombang yang digunakan merupakan panjang gelombang maksimum, dimana konsentrasi juga maksimum sehingga menghasilkan kepekaan dan keakuratan yang tinggi. Daya serap yang dihasilkan pada panjang gelombang maksimum relatif lebih konstan sehingga diperoleh kurva kalibrasi yang linier (Hendayana, 1994).
Pemilihan panjang gelombang timbal (Pb) tergantung variasi larutan standar yang digunakan untuk menganalisis sampel tiram bakau (Crassostrea sp.). Panjang gelombang yang digunakan adalah 217 nm dikarenakan konsentrasi larutan standar Pb yang akan diuji berada diantara 0,20 - 20,0 ppm. Pemilihan panjang gelombang harus sesuai dengan range konsentrasi yang telah ditentukan agar menghasilkan kurva kalibrasi yang liniar. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 4.3 panjang gelombang untuk masing-masing larutan standar logam Pb.
Gambar 4.3 Panjang Gelombang Untuk Masing-Masing Larutan Standar Logam Pb (Dokumentasi Penelitian).
Logam berat merkuri (Hg) menyerap cahaya pada panjang gelombang 253,7 nm. Perbedaan alat SSA untuk logam berat Pb dan Hg berada pada proses atomisasinya. Proses atomisasi pada logam berat Pb menggunakan nyala atau flame, sedangkan pada logam berat Hg proses atomisasi tanpa nyala atau
menggunakan VGA (Vapor Generation Accesory). Metode VGA bertujuan untuk menghindari hilangnya logam berat Hg yang memiliki sifat mudah menguap.
Alat SSA untuk logam berat Pb dan Hg dapat dilihat pada Gambar 4.4 dibawah ini.
(a) Alat Spektrofotometri Serapan Atom Untuk Logam Berat Pb.
(b) Alat Spektrofotometri Serapan Atom Untuk Logam Berat Hg.
Gambar 4.4 Alat Spektrofotometri Serapan Atom untuk Logam Berat Pb dan Logam Berat Hg (Dokumentasi Penelitian).
21
4.3 Analisis Logam Berat Timbal (Pb) dan Logam Berat Merkuri (Hg) pada sampel Tiram Bakau (Crassostrea sp.)
4.3.1 Analisis Logam Berat Pb pada sampel Tiram Bakau
Analisis logam berat Pb pada tiram bakau (Crassostrea sp.) menggunakan metode destruksi basah. Fungsi dari destruksi adalah untuk memutus ikatan antara senyawa organik dan logam yang akan dianalisis. Agar unsur-unsur tersebut tidak saling mengganggu dalam analisis, maka salah satu unsur harus dihilangkan yaitu dengan cara pemanasan untuk menyempurnakan destruksi. Dalam analisis sampel tiram bakau ini menggunakan larutan HNO3 pekat yang berfungsi sebagai destruktor. Dengan adanya proses destruksi tersebut diharapkan yang tertinggal hanya logam-logamnya saja.
Teknik yang digunakan dalam analisis logam berat timbal (Pb) pada tiram bakau adalah metode kurva kalibrasi. Dalam metode ini larutan standar dibuat dengan berbagai variasi konsentrasi dan kemudian nilai absorbansi diukur dengan SSA sehingga diperoleh kurva kalibrasi larutan standar Pb dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5 Kurva Kalibrasi Larutan Standar Pb.
Pada Gambar 4.5 menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai konsentrasi Pb maka nilai absorbansi semakin tinggi. Hal ini terlihat dari nilai R2 sebesar 0,9959.
Nilai koefisien kolerasi (R2) dinyatakan ukuran kesempurnaan antara nilai y = 0.0725x - 0.0015
absorbansi dan nilai konsentrasi yang membentuk garis lurus (linearitas). Linearitas dikatakan sempurna apabila nilai R2 mendekati 1. Dari kurva kalibrasi Pb didapatkan nilai R2 sebesar 0,9959. Sensitivitas kurva kalibrasi Pb dinyatakan dengan nilai slope.
Slope merupakan nilai kemiringan dari grafik antara absorbansi terhadap konsentrasi.
Dari kurva kalibrasi Pb didapatkan nilai slope sebesar 0,0725. Nilai ini menunjukkan setiap satu satuan perubahan konsentrasi akan menghasilkan perubahan absorbansi sebesar 0,0725. Suatu titik perpotongan antara suatu garis dengan sumbu y pada diagram atau kurva saat nilai x = 0 disebut intercept. Pada kurva kalibrasi Pb nilai intercept atau perpotongan yang diperoleh adalah 0,0015. Berdasarkan Gambar 4.5 diperoleh persamaan kurva kalibrasi timbal (Pb) adalah y = 0,0725x – 0,0015. Berdasarkan kurva kalibrasi diperoleh kandungan logam berat timbal (Pb) pada Tabel 4.1 berikut.
Pada Tabel 4.1 terlihat bahwa analisis logam berat Pb pada sampel tiram bakau (Crassostrea sp.) dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan yang diberi kode A1, A2, dan A3. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kadar logam berat Pb pada daging tiram bakau (Crassostrea sp.) untuk 3 kali pengulangan adalah berturut-turut sebesar 2,993 mg/Kg;
1,724 mg/Kg; dan 1,668 mg/Kg dengan rata-rata 2,1283 mg/Kg. Jika dibandingkan batas maksimum kandungan logam berat timbal (Pb) menurut SNI 7387 Tahun 2009 yaitu 1,5 mg/Kg maka dapat dinyatakan bahwa kandungan logam berat timbal (Pb) dalam daging tiram bakau (Crassostrea sp.) ini tidak aman untuk dikonsumsi masyarakat.
Sumber pencemaran logam berat timbal (Pb) pada daging tiram bakau (Crassostrea sp.) yang berada di daerah pesisir Kuala Langsa dapat berasal dari bahan bakar bensin yang digunakan nelayan sebagai alat transportasi mencari ikan dan hasil laut lainnya yang dapat menyebabkan adanya logam Pb di pesisir Kuala Langsa. Dari 75% kandungan timbal (Pb) dalam bahan bakar bensin diemisikan ke udara oleh kendaraan bermotor 40% jatuh pada jarak dekat; 8% jatuh pada jarak agak jauh; 24%
jatuh pada jarak jauh; dan 3% jatuh pada jarak yang tidak bisa diukur (Perkins, 1979).
Menurut Nita (2007), bahwa kendaraan bermotor dapat menghasilkan logam berat timbal dari emisi bahan bakar yang digunakan ke perairan laut. Kapal atau perahu yang menggunakan mesin dan asap juga terdapat timbal yang mencemari perairan. Selain dari bahan bakar bensin, sumber pencemaran logam berat Timbal (Pb) pada tiram bakau dapat juga berasal dari cat pelapis kapal, baterai, pembakaran limbah domestik seperti kaleng oleh warga yang bermukim di wilayah tersebut (Baird dan Cann, 2012).
23 Tabel 4.1 Hasil Analisis Logam Berat Pb pada Sampel Tiram Bakau (Crassostrea sp.).
Sampel
Limbah pelumas juga dapat menimbulkan bahaya lingkungan karena adanya kandungan logam dan kontaminan lainnya (Nerin et al., 2000 dalam Hasyim, 2016). Menurut Abdel-Jabbar (2010), ada beberapa kandungan berbagai jenis logam berat dari pelumas bekas yang dihasilkan dari kendaraan bermotor maupun kapal atau perahu salah satunya adalah logam timbal. Dalam pelumas bekas terdapat kandungan logam timbal sebesar 138 mg/Kg, akibatnya, air laut di daerah pesisir Kuala Langsa menjadi tercemar oleh adanya bahan bakar bensin untuk kapal nelayan, limbah dosmestik yang mengendap di dasar perairan dan limbah pelumas bekas yang dihasilkan dari kendaran bermotor maupun kapal atau perahu nelayan. Cara pengambilan makanan tiram bakau (Crassostrea sp.) ini yaitu dengan menyaring makanan (filter feeder) yang terlarut dalam air. Tiram bakau ini hanya memperoleh makanan dari benda-benda yang terhanyut dalam air.
Tiram bakau (Crassostrea sp.) sangat digemari oleh masyarakat setempat, sehingga jika tiram ini terkontaminasi oleh logam berat Pb maka akan membahayakan kesehatan masyarakat yang mengonsumsinya. Daya racun logam berat Pb yang melebihi ambang batas di dalam tubuh dapat mempengaruhi fungsi kognitif, kemampuan belajar, menghambat pertumbuhan tinggi badan, penurunan fungsi pendengaran, merusak fungsi organ tubuh seperti ginjal, sistem saraf dan reproduksi serta menghambat perkembangan otak (Baird dan Cann, 2012).
4.3.2 Analisis Logam Berat Hg pada Sampel Tiram Bakau
Analisis logam berat merkuri (Hg) pada sampel tiram bakau (Crassostrea sp.) menggunakan metode yang sama seperti analisis logam berat Pb pada sampel yaitu metode destruksi basah.
Teknik analisis logam berat Hg pada tiram bakau sama seperti analisis logam berat Pb pada tiram bakau yaitu menggunakan metode kurva kalibrasi.
Kurva kalibrasi standar merupakan bagian penting dalam melakukan pengujian kadar suatu logam atau unsur dalam analisis SSA. Sebelum membuat kurva kalibrasi terlebih dahulu dibuat larutan standar dengan berbagai variasi konsentrasi dan kemudian absorbansi diukur dengan SSA sehingga diperoleh kurva kalibrasi larutan standar Hg dapat dilihat pada Gambar 4.6.
25
Gambar 4.6 Kurva Kalibrasi Larutan Standar Hg.
Pada Gambar 4.6 dapat dilihat bahwa semakin besar nilai absorbansi maka semakin besar nilai konsentrasi yang diperoleh. Larutan standar merkuri (Hg) dibuat dari larutan baku 1000 ppm. Kemudian dibuat larutan standar 100 ppm.
Lalu dari larutan 100 ppm dibuat larutan 1 ppm atau 1000 ppb kemudian diencerkan. Setelah itu dibuat larutan 100 ppb dari larutan 1000 ppb kemudian diencerkan. Kemudian diencerkan kembali sehingga diperoleh larutan deret stan dar Hg 0 ppb; 20 ppb; 35 ppb; 45 ppb; 60 ppb; dan 70 ppb. Pengenceran dilakukan dengan menggunakan akuades. Dari hasil penelitian kurva kalibrasi Hg diperoleh persamaan y = 0,0165x + 0,0520 dan nilai R2 sebesar 0,9988.
Slope merupakan sensitivitas atau nilai kemiringan dari grafik antara absorbansi terhadap konsentrasi. Nilai slope pada kurva kalibrasi Hg sebesar 0,0165 yang menunjukkan setiap satu satuan perubahan konsentrasi akan menghasilkan perubahan absorbansi sebesar 0,0165. Koefisien kolerasi (R2) dinyatakan sebagai ukuran kesempurnaan antara nilai absorbansi dan nilai konsentrasi yang membentuk garis lurus (linearitas) apabila nilai R2 mendekati 1.
Nilai R2 dari kurva kalibrasi Hg sebesar 0,9988. Intercept merupakan titik perpotongan antara suatu garis dengan sumbu y pada diagram atau kurva saat nilai x = 0. Nilai intercept atau perpotongan pada kurva kalibrasi Hg yang diperoleh
Dari hasil penelitian analisis logam berat Hg pada sampel tiram bakau diperoleh kadar logam dari masing-masing sampel tiram sebesar 0,052 mg/Kg;
0,097 mg/Kg; dan 0,011 mg/Kg dengan rata-rata sebesar 0,053 mg/Kg.
Berdasarkan hasil penelitian kandungan logam berat Hg pada tiram bakau (Crassostrea sp.) masih dibawah batas maksimum menurut SNI 7387 Tahun 2009 sebesar 1,0 mg/Kg, namun tiram bakau tetap saja tidak aman untuk dikonsumsi karena kandungan logam berat Pb pada tiram bakau (Crassostrea sp.) melebihi ambang batas menurut SNI 7387 Tahun 2009 sebesar 1,5 mg/Kg. Hal ini terjadi karena di daerah pesisir Kuala Langsa tidak ada pabrik industri maupun penambangan emas secara tradisional sehingga kadar logam berat Hg masih dibawah ambang batas SNI 7387 Tahun 2009.
Logam berat Hg biasanya berasal dari berbagai macam limbah rumah tangga, tambang emas dan berbagai industri yang menghasilkan pencemaran mengandung logam berat Hg dan masuk ke dalam perairan laut.
Kandungan logam berat merkuri (Hg) umumnya berasal dari kegiatan penambangan emas secara tradisional yang menggunakan raksa sebagai media pengikat emas dan membuang limbah yang masih mengandung merkuri ke perairan (Stancheva, 2013). Salah satu cara pengolahan bijih emas adalah proses amalgamasi yang menggunakan logam berat merkuri (Hg) dalam proses pengolahannya (Mirdat, 2013). Selain itu logam berat Hg yang terdapat di perairan dihasilkan dari kegiatan penambangan dimana logam berat Hg digunakan untuk memisahkan emas dari batuan dan tanah dalam bentuk sulfida (Buyang, 2013).
27
27 Tabel 4.2 Hasil Analisis Logam Berat Hg pada Sampel Tiram Bakau (Crassostrea sp.).
Sampel Tiram Absorbansi Sampel
Konsentrasi (mg/L)
Berat Sampel
(gr)
Volume Sampel (mL)
Kadar Logam (mg/Kg)
Rata-Rata (mg/Kg)
Batas maksimum menurut SNI 7387 Tahun 2009
(mg/Kg)
B1 0,13834 0,0052 5,0001 0,052
B2 0,21340 0,0097 5,0001 50 0,097 0,053 1,0
B3 0,07082 0,0011 5,0000 0,011
28 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian analisis kandungan logam berat timbal (Pb) dan logam berat merkuri (Hg) dalam daging tiram bakau (Crassostrea sp.) di daerah pesisir Kuala Langsa dengan metode Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sampel daging tiram bakau mengandung logam berat timbal (Pb) dan logam berat merkuri (Hg).
2. Kandungan logam berat Pb pada daging tiram bakau (Crassostrea sp.) untuk 3 kali pengulangan sebesar 2,993 mg/Kg; 1,724 mg/Kg; dan 1,668 mg/Kg dengan rata-rata sebesar 2,1283 mg/Kg, sedangkan kandungan logam berat Hg pada daging tiram bakau (Crassostrea sp.) dari masing-masing sampel tiram sebesar 0,052 mg/Kg; 0,097 mg/Kg;
dan 0,011 mg/Kg dengan rata-rata sebesar 0,053 mg/Kg.
3. Kandungan logam berat Hg pada tiram bakau masih dibawah batas maksimum sesuai SNI 7387 Tahun 2009 meskipun demikian, tiram bakau tidak aman untuk dikonsumsi karena kandungan logam berat Pb pada tiram bakau melebihi batas maksimum yang ditentukan oleh SNI 7387 Tahun 2009.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk logam berat yang lain pada tiram bakau dengan metode yang berbeda untuk mengetahui aman atau tidaknya tiram bakau untuk dapat dikonsumsi oleh masyarakat.
29
DAFTAR PUSTAKA
Abdel-Jabbar, N.M. 2010. Waste Lubricating Oil Treatment by Absorption Process Using Different Adsorbents. InternationalJournal of Chemichal and Biological Enginereing 3:2.
Amin, B., Evi Afriyani, Mikel. 2011. Distribusi Spasial Logam Pb dan Cu pada Sedimen dan Air Laut Permukaan di Perairan Tanjung Buton Kabupaten Siak Provinsi Riau. Jurnal Teknobiologi. 2(1): 1-8.
Astuti, I., Karina, S., dan Dewiyanti, I. 2006. Analisis Kandungan Logam Berat Pb pada Tiram Crassostrea culcullata di Pesisir Krueng Raya, Aceh Besar.Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala Darussalam. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. 1 (1).
Baird, C. 1995. Environmental Chemistry. W. H. Freeman and Company. New York.
Baird C, Cann M. 2012. Environmental Chemistry Edisi kelima. W. H. Freeman and Company. New York.
Buyang, Y. 2013. Analisis Kadar Timbal dan Kadmium Pada Air. Jurnal Agricola 3(1) Maret 2013.
Castro, P., Huber M. E., 2007. Logam Dalam Sistem Makhluk Hidup. Published by McGraw-Hill.
Chen, C. W., Chen, C. F., & Dong, C. D. 2012. Contamination and potential ecological of mercury in sediments of Kaohsiung river mouth, Taiwan.International Journal of Envitonmental Science and Development.
3(1): 66-71.
Cotton, F. Alert dan G. Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Penerjemah Sahati Suharto, Yarti A. Koestoer. Jakarta: UI Press.
Darmono. 1995. Marine Of Biology, Sixth Edition. Jakarta: UI Press.
Duangdee T dan Wantana Y. 1999. Living Oysters in Thailand. Phuket Marine Biological Center Special Publication 19(2): 363-370. Dalam: Hylleberg J (ed.). Proceedings of the Ninth Workshop of the Tropical Marine Mollusc Programme (TMMP) at Lombok, Indonesia 19-29 August 1998. Hosted by LIPI in collaboration with IPB, UNSRAM, UNSRAT, UNHAS, and UNPATTI.
DPPKP Banda Aceh. 2014. Mengenal Manfaat Tiram untuk Kesehatan. Diakses 26 Agustus 2014,http://dppkp.bandaacehkota.go.id/2014/08/26mengenal-manfaat-tiram-untuk-kesehatan/.
Fardiaz, S. 2005. Polusi air dan Udara. Kanisius. Yogyakarta.
Hendayana, S. 1994. Kimia Analitik Instrument Edisi Kesatu. Semarang: IKIP Semarang Press.
Hutagalung H.P. 1991. Pencemaran Laut oleh Logam Berat. Dalam Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teknik Pemantauannya. P30-LIPI.
Jakarta.
Izwandy. 2006. Pengaruh Faktor-Faktor Persekitaran terhadap Pertumbuhan dan Kemandirian Tiram Komersil, (Crassostrea iredalei Faustino 1932) di Kawasan Penternakan Tiram di Kg. Telaga Nenas, Perak. Tesis. Universitas Sains Malaysia.
Koester, Y dan Raldi. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran, Terjemahan dari Chemistry and Ecotoxicology of Pollution oleh D.W Connel. Jakarta:
UI Press.
Lovatelli,A. 1988. Status Of Oyster Culture In Selected Asian Countries.
Bangkok. Network of Aquculture Centres in Asia.
Lu, F. C. 2006. Toksikologi Dasar: Asas, Organ Sasaran, Dan Penilaian Resiko.
Penerjemah: Edi Nugroho, Pendamping Zunilda S. Bustami dan Iwan Darmansyah. Jakarta: UI Press.
Markus, T. L. 2009. Proses bioakumulasi dan biotransfer merkuri (Hg) pada organisme perairan di dalam wadah terkontrol. Matematika Dan Sains.
14(3), 89-95.
Mirdat, Patadungan, Y.S. 2013. Status Logam Berat Merkuri (Hg) dalam Tanah pada Kawasan Pengelolahan Tambang Emas di Kelurahan Pobaya Kota Palu. e-J Agrotekbis 1(2): 127-134 ISSN 2338-3011.
Moenir, M. 2010. Kajian Fitoremidiasi Sebagai Alternatif Pemulihan Tanah Tercemar Logam Berat. Teknologi Pencegahan dan Pencemaran Industri.
2(2): 115-123.
Nateewathana,A. 1995. Taksonomi Account Of Commercial and Edible Molluscs, excluding Cephalopods, Of Thailand. Phuket Marine Biology Center special publication 15 : 93-116.
Nerin et al., 2000. Limbah Pelumas Bekas dalam Logam Berat. Hlm 11-15.
Dalam Hasyim, U.H. 2016. Review Kajian Adsorpsi Logam dalam Pelumas Bekas dan Prospek Pemanfaatannya sebagai Bahan Bakar. Jurnal Konversi 5 (1) : 11-15.
31
Nita E, M.S. Mahendra, I.N. Wardi. 2007. Dampak Aktivitas Masyarakat Terhadap Tingkat Pencemaran Air Laut di Pantai Kuta Kabupaten Badung serta Upaya Pelestarian Lingkungan. Program Magister Ilmu Lingkungan.
BAPEDAL, Kabupaten Badung.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Cetakan Kedua. Djambatan, Jakarta.
Noor. 1989. Spektroskopi Analitik. Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia.FMIPA Ujung Pandang: UNHAS.
Nugroho, A. 2006. Bioindikator Kualitas Air. Jakarta: Universitas Trisakti. 4-5.
Nuraini, T. 2009. Mtode Penentuan Kadar Logam Timbal (Pb) Dalam Sosis Kaleng Menggunakan Destruksi Basah Dengan Variasi Zat Pengoksidasi
Nuraini, T. 2009. Mtode Penentuan Kadar Logam Timbal (Pb) Dalam Sosis Kaleng Menggunakan Destruksi Basah Dengan Variasi Zat Pengoksidasi