• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI REGULASI DAN TATA KELOLA ZAKAT DI

B. Kuwait

1. Latar Belakang Sejarah dan Regulasi Zakat di Kuwait

Perkembangan pengelolaan zakat di Kuwait dapat disimpulkan menjadi tiga tahap utama.112 Tahap pertama, zakat dikelola secara pribadi dan sukarela, langung didistribusikan oleh muzaki. Tahap kedua, aktivitas kolektif Seiring dengan berkembangnya bangsa Kuwait dan tuntunan perkembangan ekonomi perdagangan yang menjadi sumber penghasilan penting secara nasional. Tahap ketiga, aktivitas terlembaga di awal abad ke-20. Embrionya adalah berdirinya "Perhimpunan Kebajikan Arab" (Al-jamiyyah Al-Khoiriyah Al Arabiyyah) tahun 1931 M.

111

Bank Indonesia. Pengelolaan Zakat yang Efektif: Konsep dan

Praktik di Berbagai Negara Seri Ekonomi dan Keuangan Syariah. (Jakarta:

Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah-Bank Indonesia, 2016). h. 200

112

Dalam perkembangannya, pengelolaan zakat diarahkan pada otoritas dan pengawasan negara yang direpresentasikan oleh dua kementerian, yaitu:

a.) Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, yang tugasnya mengarahkan kerja Baituz Zakat Kuwait sekaligus mengurus lembaga milik pemerintah;

b.) Kementerian Sosial dan Tenaga kerja yang bertugas mengurusi lembaga zakat swasta.

Pada 16 Januari 1982, pemerintah Kuwait menerbitkan UU No 5/82 tentang Pendirian Baitul Zakat. Baitul Zakat memiliki Dewan Direksi yang dipimpin langsung oleh Menteri Wakaf dan Urusan Islam dengan 10 anggota. Anggota terdiri dari wakil Menteri Wakaf dan Urusan Islam, Wakil Kementerian Sosial dan Tenaga Kerja, Kepala Rumah Tangga Istana, dan enam warga Kuwait yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya yang ditentukan oleh Pemerintah melalui sidang kabinet dengan masa jabatan 3 tahun dan bisa diperpanjang.

Namun, hukum zakat ini adalah paket sistematis pertama di sejarah modern negara itu. Karakter utama dari peraturan zakat di Kuwait adalah

a.) Peran pemerintah terbatas untuk mengatur upaya pengumpulan dan distribusi zakat. Untuk tujuan ini, Lembaga otonom pemerintah telah membentuk afiliasi dengan pelayanan wakaf, lembaga ini disebut Baituz Zakat. Tidak ada pengumpulan wajib yang d atur dalam hukum zakat. Baituz Zakat menerima secara yang ditawarkan oleh individu maupun sebagai donasi. kontribusi dan hibah dari individu dan swasta serta badan badan publik. Tidak adanya kewajiban membayarar zakat ke Baituz zakat ini, nyatanya tidak di pertanyakan atau dipersoalkan oleh pembayar yang religious, warga negara dan sekolah hukum. Oleh karena itu Baituz Zakat diperbolehkan menerima sumbangan dari pihak manapun.

b.) UU dan peraturan yang terkait tidak memaksakan Baitul Zakat untuk menerima zakat dan sumbangan. Baituz Zakat telah menetapkan bagian tertentu untuk menerima dan menyalurkan zakat dalam bentuk tertentu. Disisi lain lembaga ini dapat menerima ushr serta zakat pada setiap jenis harta tetap, selama hal itu diberikan kepada lembaga atas dasar sukarela.

c.) karena Kuwait tidak memiliki pajak penghasilan atau pajak kekayaan, maka peraturan tersebut tidak membuat referensi atau aturan apapun untuk konsesi pajak , juga tidak menyebutkan kerahasiaan catatan dan informasi zakat

2. Model Pengelolaan Zakat Di Kuwait

Undang-undang zakat di Kuwait memberikan bentuk manajemen inovatif yang menciptakan sebuah organisasi untuk mengelola zakat (Baitut Zakat) yang memiliki sisi kebebasan dalam penyesuaian aturan-aturan yang diperlukan dan peraturan yang merumuskan organisasi yang terstruktur, cara melakukan kegiatan dan prosedur pemberian pelayanan kepada penerima dan pemberi rakat potensial. Sebagai hasilnya, Baituz Zakat di Kuwait telah membentuk sebuah organisasi yang dilengkapi dengan baik dan memiliki teknik ilmiah dalam menangani tugasnya. Aspek utama dari jenis manajemen ini adalah sebagai berikut:

a.) Baituz Zakat telah menempatkan penekanan khusus pada perencanaan dan memperkenalkan ide-ide baru dengan menciptakan sebuah departemen untuk penelitian dan perencanaan. Telah juga dibentuk departemen untuk pelayanan sosial, hubungan masyarakat dan kegiatan luar negeri. Lembaga ini mempekerjakan pekerja sosial laki-laki dan perempuan untuk dapat mencapai keluarga miskin yang biasanya sulit dijangkau karena kerendahan hati mereka dan keinginan untuk menghindari perhatian publik.

b.) Beberapa ide-ide dan proyek baru telah diperkenalkan oleh Baituz Zakat Ini termasuk: proyek keamanan sosial anak

yatim, dana siswa miskin, dana amal permanen, proyek pelatihan , tunjangan dana mahasiswa, unit ponsel untuk digunakan dengan menyediakan layanan dari pintu ke pintu, proyek pinjaman, proyek untuk mempublikasikan Qur'an, proyek distribusi daging qurban, dan lain lain.

c.) Sumber pendapatan Baituz Zakat termasuk zakat, bantuan dari pemerintah, donasi umum, amal, dan pengembalian atas dan investasi. Baituz Zakat memelihara akun yang terpisah untuk setiap jenis sumber dana dan kemudian menggunakanya sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan dalam syariat dan oleh pendonor. Berbagai sumber daya keuangan telah memungkinkan organisasi zakat ini untuk mendiversifikasi tujuan-tujuannya dengan memasukan layanan tersebut, seperti pinjaman dan pembangunan bangunan amal, yang pembiayaannya melalui zakat.

d.) Pemerintah Kuwait menanggung semua beban administrasi organisasi zakat.

e.) Baituz Zakat memiliki akses langsung ke ahli syariah melalui badan konsultatif yang dibentuknya. Dengan bantuan badan ini, Baituz Zakat telah mampu melakukan beberapa informasi kegiatan yang bertujuan menciptakan kesadaran di antara pembayar zakat dan penerima. Untuk tujuan ini, beberapa brosur informasi telah dipublikasikan. f.) Kendati upaya untuk menjangkau orang-orang yang

membutuhkan dan miskin masih bergantung pada aplikasi yang disampaikan oleh individu yang potensial, namun Baituz Zakat Kuwait masih belum mampu meninggalkan metode ini menuju pendekatan humanistis.

g.) Selain Baituz Zakat, masih ada beberapa komite sukarela yang melakukan pengumpulan dan pendistribusian zakat. Pengelola zakat berupaya untuk mengorganisir para komite dan bekerja sama dengan mereka dalam memberikan

pelayanan pada pemberi dan penerima zakat. Sebuah peraturan dikeluarkan oleh pelayanan wakaf dalam rangka untuk mengatur pembentukan dan pelaksanaan komite tersebut dan untuk memberi mereka dukungan, namun bantuan dan kontrol tetap melalui Baituz Zakat.