• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laju Perkecambahan (Germination Rate)

BAHAN DAN METODE

F. Pengamatan Parameter

4. Laju Perkecambahan (Germination Rate)

Data rataan pengamatan parameter laju perkecambahan terdapat pada Lampiran 10 dan rataan laju perkecambahan setelah ditransformasi terdapat pada Lampiran 11. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 12) menunjukkan bahwa berbagai perlakuan pemecahan dormansi memberi pengaruh yang nyata terhadap laju perkecambahan. Rataan Laju Perkecambahan (Germination Rate) benih aren (A. pinnata) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan Laju Perkecambahan (Germination Rate)Benih Aren (A. pinnata) dengan Berbagai Perlakuan Pemecahan Dormansi

Perlakuan Rataan S0 S1 S2 S3 S4 S5 53,61 a 44,60 b 52,90 a 0,00 b 0,00 b 40,18 b

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa rataan laju perkecambahan benih tercepat terdapat pada perlakuan perendaman dengan H2SO4 pekat 65% (S5) sebesar 40,18 hari setelah dikecambahkan dimana perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan pembuangan hilum dengan pisau (S1), perlakuan penggongsengan (S3) dan perendaman dengan air panas kemudian direndam pada air dingin (S4) tetapi berbeda nyata dengan pengikisan dengan kertas pasir (S2) dan dengan perlakuan kontrol (S0). Laju perkecambahan benih terendah terdapat pada perlakuan penggongsengan (S3) dan perendaman dengan air panas kemudian direndam pada air dingin (S4) karena tidak terjadi perkecambahan sehingga nilai yang diperoleh 0,00 hari dan berbeda nyata dengan seluruh perlakuan.

Pembahasan

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa terdapat berbagai perlakuan pemecahan dormansi terhadap benih aren (A. pinnata) memberi pengaruh yang nyata terhadap seluruh parameter yang diamati, yaitu persentase perkecambahan, persentase perkecambahan normal, kecepatan perkecambahan dan laju perkecambahan.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman dengan H2SO4 pekat (65%) dapat lebih meningkatkan perkecambahan benih aren (A. pinnata) jika dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai rataan yang diperoleh pada beberapa parameter pengamatan yang menunjukkan nilai terbaik yaitu persentase perkecambahan tertinggi (80,00%), persentase perkecambahan normal (16,67%), kecepatan perkecambahan (0,21), dan laju perkecambahan (40,18 hari setelah dikecambahkan). Dengan perlakuan perendaman dengan H2SO4 pekat (65%) menjadikan kulit biji lebih mudah dimasuki oleh air pada waktu proses imbibisi dan semakin cepat pula benih dapat menembus kulit biji dalam melakukan proses perkecambahan. Menurut Sutopo (2004), perlakuan dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti asam sulfat dan asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah sehingga terjadi proses imbibisi yang merupakan proses awal dari suatu perkecambahan.

Perlakuan pembuangan hilum dengan pisau dan perlakuan pengikisan dengan kertas pasir juga menghasilkan nilai rataan yang cukup bagi perkecambahan benih dimana perlakuan ini juga berbeda nyata dengan perlakuan perendaman dengan H2SO4 pekat (65%) pada seluruh parameter yang diamati,

hal ini dapat dilihat pada Lampiran 1. Dengan demikian kedua perlakuan ini juga dapat meningkatkan perkecambahan. Dengan perlakuan pembuangan hilum dengan pisau dapat memecahkan dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau gas, resistensi mekanis kulit perkecambahan yang terdapat pada kulit biji sehingga menjadikan kulit biji semakin tipis yang akan mempermudah masuknya air dan gas sehingga terjadi proses imbibisi dan semakin cepat pula benih dapat menembus kulit biji dalam melakukan proses perkecambahan. Menurut Sutopo (2004), perlakuan skarifikasi mencakup mengikir atau menggosok kulit biji dengan kertas empelas dan melubangi kulit biji dengan pisau menjadikan luas permukaan kulit yang menjadi tipis lebih luas sehingga air dan udara yang berperan dalam proses perkecambahan menjadi lebih mudah masuk, sehingga terjadi proses imbibisi yang merupakan proses awal dari suatu perkecambahan, air masuk ke dalam biji sehingga kulit benih akan melunak. Penyerapan air oleh benih yang terjadi pada tahap pertama biasanya berlangsung sampai jaringan mempunyai kandungan air 40 – 60%.

Perlakuan pengikisan dengan kertas pasir juga memiliki nilai rataan yang cukup bagi perkecambahan benih. Benih ada yang berkecambah tetapi dalam jangka waktu yang cukup lama. Menurut Sutopo (2004) bahwa pengikisan dengan kertas pasir merupakan salah satu cara untuk memecahkan dormansi benih yang disebabkan oleh struktur benih yaitu kulit benih yang keras. Diduga dengan pengikisan, luas permukaan kulit yang menjadi tipis lebih luas, sehingga air dan udara yang berperan dalam proses perkecambahan menjadi lebih mudah masuk.

Dormansi benih dapat disebabkan antara lain adanya impermeabilitas kulit benih terhadap air dan gas (oksigen),embrio yang belum tumbuh secara sempurna,

ambatan mekanis kulit benih terhadap pertumbuhan embrio, belum terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena ketidakseimbangan antara zat penghambat dengan zat pengatur tumbuh di dalam embrio. Berbagai hasil penelitian memberikan indikasi kuat bahwa dormansi benih aren dapat dipatahkan bila diberi perlakuan fisik dan kimia. Hal yang sama juga dapat dilihat pada benih yang diberi perlakuan skarifikasi dengan kertas amplas yang daya berkecambahnya 46,95%, sedangkan kontrolnya 31,60%. Perlakuan ini memungkinkan air masuk kedalam benih untuk memulai berlangsungnya proses perkecambahan benih (Saleh, 2004).

Pada perkecambahan benih Aren (A. pinnata) terdapat perkecambahan yang normal dan perkecambahan yang tidak normal (abnormal), dimana perkecambahan abnormal tidak terjadi pembentukan tunas dan daun primer dan untuk benih pohon-pohonan bila dari microphyl keluar daun dan bukannnya akar, dapat dilihat pada Lampiran. Menurut Sutopo (2004), menyatakan salah satu ciri dari perkecambahan abnormal antara lain :

1. Kecambah yang rusak, tanpa kotiledon, embrio yang pecah dan akar primer yang pendek

2. Kecambah yang bentuknya cacat, perkembangannya lemah atau kurang seimbang dari bagian-bagian yang penting.

3. Kecambah yang tidak membentuk chlophyl 4. Kecambah yang lunak

5. Untuk benih pohon-pohonan bila dari microphyl keluar daun dan bukannya akar.

Pada beberapa perlakuan yang diberikan dapat terlihat pada Tabel 2 bahwa perlakuan perendaman dengan H2SO4 pekat (65%) memiliki nilai tertinggi pada parameter persentase perkecambahan normal jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perkecambahan normal atau tidak normal dari suatu benih dapat dipengaruhi oleh faktor dalam (genetik) benih maupun faktor luar (lingkunagan) seperti infeksi jamur atau mikroorganisme lainnya. Kamil (1992) menyatakan bahwa pada umumnya apabila kebutuhan untuk perkecambahan seperti air, suhu, oksigen dan cahaya dipenuhi, biji bermutu tinggi akan menghasilkan kecambah atau bibit yang normal (normal seedling) tetapi oleh karena faktor luar seperti infeksi jamur atau mikroorganisme lainnya selama pengujian perkecambahan atau sudah terbawa di dalam biji dan biji bermutu rendah, maka kemungkinan kecambah (bibit) yang dihasilkan tidak normal (abnormal seedling).

Menurun atau meningkatnya kecepatan perkecambahan berhubungan dengan persentase perkecambahan. Hal ini dikarenakan kecepatan perkecambahan berbanding lurus dengan persentase perkecambahan, dimana semakin tinggi persentase perkecambahan maka kecepatan perkecambahan juga semakin tinggi, ini dapat terlihat jelas dari hasil yang diperoleh pada perlakuan perendaman dengan H2SO4 pekat 65% (S5). Kartasapoetra (2003) menjelaskan bahwa kecepatan berkecambah merupakan gambaran vigor benih yang ditunjukkan dengan benih yang bervigor tinggi pada kondisi apapun akan berkecambah lebih cepat dibandingkan yang bervigor rendah. Dan benih yang memiliki kecepatan berkecambah yang tinggi cenderung lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik.

Laju perkecambahan tercepat terdapat pada perlakuan perendaman H2SO4 pekat 65% (40,18 hari setelah dikecambahkan), dimana hasil ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan pembuangan hilum dengan pisau (44,6 hari setelah dikecambahkan). Dari hasil penelitian ini dapat terlihat bahwa perlakuan perendaman H2SO4 pekat 65% telah mampu mempercepat laju perkecambahan dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Dapat disimpulkan bahwa dari seluruh parameter yang diamati perlakuan dengan perendaman H2SO4 pekat 65% yang dapat cepat meningkatkan perkecambahan dibandingkan dengan perlakuan pemecahan dormansi yang lainnya.

Perlakuan penggongsengan selama 5 menit dan perendaman dengan air panas selama 2 menit kemudian direndam pada air dingin selama 60 menit memberi pengaruh yang buruk terhadap perkecambahan, dimana pada kedua perlakuan ini benih tidak ada yang berkecambah. Hal ini diduga karena terlalu tingginya suhu yang digunakan pada masing-masing perlakuan yang menyebabkan rusaknya jaringan-jaringan di dalam benih sehingga menyebabkan kematian pada embrio benih yang menyebabkan benih tidak dapat berkecambah. Menurut Sutopo (2004), suhu adalah salah satu faktor yang berperan dalam proses perkecambahan, tetapi suhu yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terganggunya proses perkecambahan bahkan dapat mengakibatkan kematian dan kecambah tidak normal (abnormal).

Perendaman dengan air panas kemudian dengan air dingin juga mengalami kematian. Air panas yang digunakan adalah air yang baru mendidih. Diduga embrio benih mati pada saat pemberian perlakuan perendaman dengan air panas. Menurut Chairani dan Subronto (1988) bahwa perlakuan pemanasan sampai pada

suhu 80°C yang diberikan pada benih aren dapat meningkatkan persentase perkecambahan karena perebusan dengan air panas 80°C mungkin dapat melarutkan dan mematikan inhibitor, dan melemahkan kulit biji yang keras. Perkecambahan benih aren bukan hanya daya berkecambah yang rendah tetapi juga lambatnya benih berkecambah. Benih aren yang dikecambahkan secara alami pada kondisi terang dapat berkecambah setelah 7 bulan (Rabaniyah, 1993).

Dokumen terkait