V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Hasil penelitian menunjukkan nilai laju pertumbuhan spesifik ikan gurami berkisar 0,62 – 0,92 %/hari. Data laju pertumbuhan spesifik dapat dilihat pada lampiran 6. Data rata-rata laju pertumbuhan spesifik dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Laju Pertumbuhan Spesifik Ikan Gurami
Perlakuan Laju Pertumbuhan Spesifik (%/hari) ± SD
Laju Pertumbuhan Spesifik ± SD P0 0,62b ± 0,14 1.06 ± 0,015 P1 0.74ab ± 0,11 1.11 ± 0,017 P2 0,78ab ± 0,19 1.13 ± 0,018 P3 0,92a ± 0,06 1,19 ± 0,005 P4 0,89a ± 0,16 1,18 ± 0,014
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan terdapat perbedaan (p<0,05)
Hasil analisa statistik pemberian asam amino lisin pada pada pakan komersial (Lampiran 10) menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0,05) terhadap laju perumbuhan spesifik ikan gurami. Berdasarkan uji Jarak Berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) diketahui bahwa laju pertumbuhan spesifik dalam penelitian ini yang tertinggi adalah P3 (0,92% /hari) dan laju pertumbuhan spesifik terendah adalah P0 (0,62% /hari) yang berbeda nyata dengan perlakuan P3 dan p4.
5.1.3 Retensi Protein
Hasil penelitian menunjukkan nilai laju retensi protein berkisar 32,18 –
85,55 %. Data retensi protein dapat dilihat pada lampiran 8. Hasil retensi protein dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Retensi Protein Ikan Gurami
Perlakuan Retensi Protein % ± SD Retensi Protein arcsin ± SD P0 32,18b ± 26,95 13,22 ± 0,015 P1 47,57ab ± 4,18 15,22 ± 0,017 P2 61,19a ± 9,94 16,24 ± 0,018 P3 85,55a ± 14,97 17,68 ± 0,005 P4 62,67a ± 23,91 15,73 ± 0,014
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan terdapat perbedaan (p<0,05)
Hasil analisa statistik pemberian asam amino lisin pada pada pakan komersial (Lampiran 11) menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0,05) terhadap retensi protein ikan gurami. Berdasarkan uji Jarak Berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) diketahui bahwa retensi protein tertinggi adalah P3(85,55%) dan retensi protein terendah adalah P0 (32,18%) yang berbeda nyata dengan perlakuan P2, P3, dan P4.
26 ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
5.2 Pembahasan
5.2.1 Laju Pertumbuhan
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu (Effendie, 1997). Meningkatnya pertumbuhan ikan gurami dapat dilihat dari laju pertumbuhan ikan. Menurut Effendi (1997) Perhitungan laju pertumbuhan yaitu berat biomassa ikan akhir dikurangi berat biomassa ikan awal dibagi dengan lama pemeliharaan ikan dengan satuannya gram/hari.
Berdasarkan dari hasil uji analisis statistik ANOVA tidak berbeda nyata (p>0,05) terhadap laju pertumbuhan dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Duncan
menunjukkan hasil yang berbeda nyata antara P0 dan P3 terhadap laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan tertinggi dalam penelitian ini ada pada perlakuan P3 (0,13 gram/hari) dengan pemberian dosis lisin 2% dalam pakan (protein pakan 30,62%) dan laju pertumbuhan terendah adalah P0 (0,09gram/hari) tanpa pemberian dosis lisin (protein pakan 25,15%).
Ikan membutuhkan protein pertama kali untuk pertumbuhannya (Halver, 1989). SNI (2000) menyebutkan bahwa kebutuhan protein dalam pakan ikan gurami ukuran 8-10 cm minimal 32%, sedangkan pada P0 protein pakan sebesar 25,12% dan P3 sebesar 30,62%. Protein pakan yang paling mendekati minimal kebutuhan protein ikan gurami adalah P3. Pakan digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan mengganti jaringan tubuh yang rusak, menunjang aktifitas metabolisme dan untuk pertumbuhan serta reproduksi (Herawati, 2005). P4 memiliki kandungan protein sebesar 32,06% yang berarti melebihi batas minimal
kebutuhan protein ikan gurami, namun bukan menjadi perlakuan yang tertinggi dalam penelitian ini. Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh ketidak seimbangan pemberian dosis lisin. Handajani dan Widodo (2010) menyatakan kelebihan lisin pada pakan akan menyebabkan menghambat penyerapan arginin, sehingga mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan.
5.2.2 Laju Pertumbuhan Spesifik
Laju pertumbuhan spesifik adalah laju pertumbuhan harian atau persentase pertambahan berat ikan setiap harinya (Anggraeni dan Abdulgani, 2013). Perhitungan laju pertumbuhan dari rumus Effendi (1997), yaitu pengurangan berat ikan akhir dengan berat ikan awal dibagi dengan persatuan waktu pemeliharaan ikan dikalikan dengan 100%.
Berdasarkan dari hasil uji analisis statistik ANOVA yang dilanjutkan Uji Jarak Duncan menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0,05) terhadaap laju pertumbuhan spesifik. Hasil pada penelitian ini yang paling tinggi adalah P3 (0,92% /hari) dengan pemberian dosis lisin 2%. Hasil paling rendah adalah P0 (0,62% /hari) dengan tanpa pemberian dosis lisin.
Hal ini menunjukkan bahwa penambahan lisin ke dalam pakan dapat meningkatkan laju pertumbuhan ikan dari pada tanpa pemberian lisin ke dalam pakan. Sesuai dengan penyataan Harpaz (2005) bahwa meningkatnya pertumbuhan ikan dengan penambahan dosis lisin pada pakan komersial dapat disebabkan oleh lisin adalah substrat untuk sintesis karnitin, yang diperlukan untuk pengangkutan asam lemak rantai panjang dari sitosol ke mitokondira untuk oksidasi. Suplementasi karnitin pada pakan dapat berfungsi sebagai pertumbuhan.
28 ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Peningkatan pertumbuhan dapat diketahui melalui peningkatan laju pertumbuhan dan laju pertumbuhan spesifik (Anggraeni dan Abdulgani, 2013).
5.2.3 Retensi Protein
Retensi protein merupakan gambaran dari banyaknya protein yang diberikan, yang dapat diserap dan dimanfaatkan untuk membangun ataupun memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak, serta dimanfaatkan tubuh ikan bagi metabolisme sehari-hari. Cepat tidaknya pertumbuhan ikan, ditentukan oleh banyaknya protein yang dapat diserap dan dimanfaatkan oleh ikan sebagai zat pembangun (Dani, 2004). Pengukuran retensi protein (PR) berdasar rumus Viola dan Rappaport dalam Mokoginta et al. (1995) yaitu pengurangan berat protein tubuh akhir dengan berat protein tubuh awal dibagi dengan berat protein yang di konsumsi.
Berdasarkan dari hasil uji analisis statistik ANOVA yang dilanjutkan Uji Jarak Duncan menyebutkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap retensi protein. Perlakuan paling tinggi pada retensi protein dalam penelitian ini adalah P3 (85,55%) dengan pemberian dosis lisin sebanyak 2%. P3 tidak berbeda nyata dengan P2 dan P4, namun berbeda nyata dengan P0. Hasil paling rendah adalah P0 (32.18%) dengan tanpa pemberian dosis lisin. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Palavesam. et al (2008) bahwa nilai protein ikan yang diberi pakan dengan ditambahkan lisin lebih tinggi dari pada nilai protein ikan yang diberi pakan tanpa ditambahkan lisin.
Terjadi penurunan retensi protein pada P4 (62,67%) yang diberikan dosis lisin sebanyak 2,5% ke dalam pakan. Hal ini mungkin dapat disebabkan karna
terjadi ketidak seimbangan lisin yang diberikan. Kelebihan lisin pada pakan akan menyebabkan menghambat penyerapan arginin, sehingga mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan (Handajani dan Widodo, 2010).
5.2.4 Kualitas Air
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan gurami, salah satunya adalah kualitas air. Air merupakan faktor yang penting dalam budidaya, kualitas air akan mempengaruhi kelangsungan hidup ikan gurami yang dibudidayakan. Kualitas air dapat didefinisikan sebagai kesesuaian air bagi kelangsungan dan pertumbuhan yang umumnya ditentukan oleh beberapa parameter kualitas air (Mahasri, 2009). Kualitas air yang diukur meliputi kandungan oksigen terlarut, pH, suhu dan amoniak.
Data kualitas air selama penelitian adalah kandungan oksigen terlarut 4mg/l. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Soetomo (2000) bahwa kandungan oksigen terlarut yang optimal dalam kegiatan budidaya adalah 5 ppm. Namun kandungan oksigen yang terlarut pada penelitian ini tidak menjadi racun bagi ikan. Ikan masih dapat melakukan aktivitas dengan normal. Sebab menurut Khairuman dan Amri (2003) menjelaskan bahwa kandungan oksigen terlarut dalam air minimum 3 ppm (part/milion).
Nilai pH selama penelitian berkisar 7,5 – 8,0. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Soetomo (2000) bahwa pH perairan optimal berkisar 7,5-8,5. Suhu perairan selama penelitian antara 28oC – 31oC. Hal ini sesuai dengan SNI (2000) keadaan suhu yang sesuai untuk hidup ikan antara 28- 32oC. Konsentrasi amoniak yang optimal dalam budidaya menurut Soetomo (2000) adalah tidak lebih dari 1
30 ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
ppm. Konsentrasi amoniak pada penelitian ini tidak lebih dari 1 ppm. Nilai konsentrasi amoniak berkisar 0 – 0,09 (mg/l). Kualitas air pada penelitian ini tidak berbahaya bagi ikan, sehingga tidak mengganggu aktivitas kehidupan bagi ikan.