C. Bidal Kesantunan (BK)
4. BK dalam Lakon Rama Gandrung Purbo Asmoro (RGPA) a. Bidal Kurmat
Bidal kurmat yang terdapat dalam lakon RGPAadalah tuturan (RGPA.Gn.002S) Kula wontên dhawuh pangandika kakangmas.Pronomina kakangmas merupakan ungkapan rasa hormat terhadap orang yang lebih tua atau orang yang mempunyai tingkat kedudukan yang lebih tinggi. Kata kakangmas yang diucapkan Lesmana saat dipanggil Ramawijaya menunjukkan perilaku seorang adik kepada kakaknya. Tentu saja pemakaian kakangmas dinyatakan lebih tepat bila dibandingkan dengan pemakaian sebutan kata ganti mas. Kata pilihan kakangmas mengandung nilai yang lebih tinggi dan disampaikan untuk menyapa seorang yang mempunyai tingkatan sosial yang lebih tinggi dan terhormat. Walaupun hubungan antaraLesmana dengan Ramawijaya adalah kerabat, tetapi tidak digunakan kata sapaan mas atau kakang saja. Berikut contoh tuturan yang mengandung pemakaian bidal kurmat.
Lesmana :Kula wontên dhawuh pangandika kakangmas.
(RGPA.Gn.002S)
Ramawijaya : Nyatane saya mundhak dina mundhak sasi munggahing taun kaya wis katon suda para reksasa ingkang padha ngreridhu marang para tapa.
Lesmana : Inggih kakangmas estunipun sedaya kalawau inggih labet saking dhawuh-dhawuh sabda jengandika kakangmas ingkang tuhu-tuhu dados pamecut laksitaning lekas rayi paduka pun Lesmana, kakangmas.
Terjemahan:
Lesmana : „Ya ada perintah apa kakanda‟.
Ramawijaya : „Setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun para raksasa yang menggangu para pwertapa makin berkurang‟.
Lesmana : „Demikian kakanda bahwa semua itu oleh karena perintah dan keputusan kanda Ramawijaya, yang menyebabkan hati saya tergugah‟.
commit to user
b. Bidal Tepa Salira
Tepa saliraterdapat dalam tuturan Inggih pêngéran inggih mênika wujud kasêtyan garwa paduka (RGPA.Gn.008S). Tuturan ini mengandung kesopanan dalam bidal tepa salira.Artinya,Sinta merasa dan tahun diri sebagai istri yang harus setia dan selalu menunjukkan dharma baktinya terhadap suami. Hal ini dapat dicermati pada saat Sinta menjawab pernyataan Ramawijaya tentang alas yang sedang ditempati semoga memberikan kebahagiaan hati Sinta dan tiada satu kurang apapun dalam mengarungi kehidupan di hutan itu. Oleh Sinta direspons dengan pernyataan bahwa dalam keadaan dimanapun wajib mendampingi suami.
Hal ini sebagai bidal tepa salira, yakni Sinta merasa diri bahwa sebagai istri bisa mengikuti serta merasa sukaduka bersama dengan suami dimanapun berada.
Pernyataan ini terlihat dalam kalimat sagêda angraosakên panandhanging kakang.
Ramawijaya : Muga-muga jroning alas iki andadekake suka senenging atimu satemah ora bakal nabet apa-apa ingkang nate mbok lakoni jroning Kraton Manthilidirja, wong ayu (RGPA.Gn.007)
Sinta : Inggih pengeran inggih menika wujud kasetyan garwa paduka. Wujud kasetyaning garwa menika boten namung ing kalane ingkang kakung maksih ngregem kawibawan miwah kamulyan nanging tumrap Sinta wujuding kasetyan kalawau inggih sageda angraosaken panandhanging kakang
Ramawijaya : Iya-ya, yayi Lesmana
Lesmana : Kula wonten dhawuh kakangmas.
Terjemahan:
Ramawijaya : „Saya harap di tengah hutan ini hatimu gembira dan tidak teringat kehidupanmu ketika berada di keraton‟.
Sinta : ‘Hiya pangeran itu merupakan kesetiaan saya kepada suami, tidak hanya ketika suami memegang kekuasaan, tetapi sedang dalam kesengsaraan tetap setia kepada suami‟.
Ramawijaya : „ Adinda Lesmana‟.
Lesmana : „ Ada apa kakanda‟.
c. Bidal Empan papan
Bidal empan papan antara lain terdapat pada tuturan (RGPA.Gn.011S) Nadyanta sampun mundur adoh para rêksasa nanging bisa waétekane sawanci-commit to user
wanci.Tuturan ini dapat membawa diri atau menyadari tempat kedudukan di dalam konstelasi masyarakat pengguna bahasa. Sesuai dengan status sosial peserta tutur yang lain, tuturan ini termasuk ke dalam empan papan karena Ramawijaya dapat membawakan diri dan menyadari pada saat para raksasa jauh mundur dari wilayahnya,tetapi suatu ketika mereka akan dapat kembali mendekati Ramawijaya. Hal ini dapat dikatakan sebagai empan papan karena dengan melihat kata nadyanta…nanging sawanci-wanci…menunjukan bahwa kata-kata itu memberikan makna sesuatu dengan keberadaannya yang disadari oleh Ramawijaya. Pembicaraan Ramawijaya terhadap Lesmana merupakan bidal kesopanan, khususnya empan papan
Ramawijaya: Nadyanta pun mundur adoh para rêksasa nanging bisa waé têkané sawanci-wanci lan nyatané uga akèh para pandhita hajar wasi ingkang padha dadi kurban. (RGPA.Gn.011S) Lesmana : Nun inggih ngestokaken dhawuh paduka
Ramawijaya : Lan sumurupa yayi sayektine waleh-waleh apa ingkang kudu tansah narbuka atinira Manawa sekabehing lelakon iki wus ditata dening kang gawe jagad. Kamulyan iku diparingake marang sujanma ingkang linuwih, kosok baline kasangsayan iku bakal diparingake marang wong kang tuna ing budi kang sarta nyelaki marang uripe.
Terjemahan:
Ramawijaya : „Walaupun para raksasa telah pergi jauh, tetapi mereka akan menyerang lagi bila ada kesempatandan kenyataan sudah banyak para pertapa yang menjadi korban‟.
Lesmana : „Siap kakanda‟.
Ramawijaya : „Harap diketahui dan dihayati bahwa kehidupan di dunia ini sudah diatur oleh Hyang Maha Kuasa. Kebahagiaan diberikan oleh orang yang bekerja keras dan berprestasi, sebaliknya malapetaka akan dialamai oleh orang yang melanggar norma dan hukum‟.
d. BidalAndhap asor
Tuturan (RGPA.Gn.119M) Ngaturi kauningan bilih kula dinukan déning kakangmbok Dewi Sinta ini disampaikan Lesmana kepada Ramawijaya yang intinya bahwa Lesmana memohon maaf atas kehadirannya menyusul Ramawijaya tanpa Sinta. Karena Lesmana selalu saja mendapat marah dari Sinta maka dengan sangat terpaksa Lesmana harus meninggalkan Sinta sendirian di commit to user
hutan.Padahal, Ramawijaya sudah berpesan agar tidak meninggalkan Sinta dalam kondisi sendiri. Andhap asor terletak dalam makna dinukan déning kakangmbok Dewi Sinta. Tuturan ini dikatakan sebagai andhap asor karena Lesmana merasa merendahkan diri di hadapan kakaknya, yakni Ramawijaya. Walaupun sebagai kakak dengan adik, Lesmana tetap merasa berjarak sosial lebih rendah bila dibandingkan Ramawijaya. Berikut tuturan yang mengandung bidal andhap asor.
Lesmana : Ngaturi kauningan Bilih kula dinukan déning kakangmbok Dewi Sinta. (RGPA.Gn 119M)
Ramawijaya : Apa sababe?
Lesmana : Wonten suwantenipun kakangmas Rama ingkang sambat-sambat ngaruara kuthah ludira pinancal dening kidang.
Kula sampun ngengetaken dhateng kakangmbok bilih menika sanes suwantenipun kakangmas, nanging jebul ageng pandakwanipun kakangmbok dhateng kula sinengguh kula tega dhateng sedanipun kakangmas dene kula boten purun sumusul. Eh….kakangmas kula tinarka menawi paduka prapteng pralaya kula badhe ngalap randha paduka kakangmas.
Terjemahan:
Lesmana : „Kakanda Ramawijaya, saya dimarahi kakanda Sinta‟.
Ramawijaya : ‟Apa sebabnya‟.
Lesmana : Terdengar suaranya kakanda Ramawijaya minta tolong karena kesakitan diserang oleh kijang. Sebetulnya saya memperingatkan bahwa suara itu bukan berasal dari Kakanda Ramawijaya, tetapi malah saya dituduh rela dan senang bila kakanda Rama meninggal karena tidak mau menusul ke hutan. Bilamana kakanda Rama meninggal saya dikira akan mengambil istri kakanda Sinta‟
D. Strategi Tindak Tutur dalam Catur (pocapan, janturan,dan ginêm) pada