• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA

J. Pemerian Bahan

4. Laktosa

Laktosa adalah gula yang diperoleh dari susu, dalam bentuk anhidrat atau mengandung satu molekul hidrat. Laktosa berupa serbuk atau masa hablur, putih atau putih krem. Tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di udara tetapi

menyerap bau. Mudah (dan pelan-pelan) larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam klorofom dan dalam eter (Anonim, 1995).

5. Polivinilpirolidon (PVP)

PVP adalah bahan pengikat yang efektif dalam pembuatan granul effervescent. Bahan ini biasa ditambahkan pada serbuk untuk digranulasi basah yang kemudian dibasahkan dengan cairan penggranul. Penambahan air harus sangat hati-hati dan dikontrol untuk mencegah terjadinya reaksi effervescent dini (Mohrle, 1980).

Polivinilpirolidon (PVP) merupakan polimerisasi dari 1-vinilpirolid-2- on. Bentuknya berupa serbuk putih atau putih kekuningan, berbau lemah atau tidak berbau dan higroskopis. PVP mudah larut dalam air, etanol (95%), dan dalam kloroform P. Kelarutan tergantung dari bobot rata-rata dan tidak larut dalam ester P (Anonim, 1995).

6. Aspartam

Aspartam merupakan pemanis yang kekuatannya dua ratus kali lebih manis dibandingkan sukrosa dan penggunaannya sangat luas di masyarakat. Stabil ketika kering, tetapi dapat terhidrolisis pada saat ada lembab. Dapat terdegradasi selama pemanasan, menggunakan suhu yang tinggi dalam jangka waktu pendek, diikuti oleh pendinginan yang cepat dapat memperkecil kemungkinan aspartam terdegradasi. Aspartam dapat digunakan bersama-sama dengan sakarin, sukrosa, glukosa dan siklamat, rasanya dapat ditingkatkan jika digunakan dengan natrium bikarbonat, garam-garam glukosa, dan laktosa. Tidak menimbulkan rasa pahit

setelah dimakan, akan tetapi stabilitasnya tergantung pada pH dan suhu. Stabil pada pH antara 3,4-5 dan pada suhu pendingin (Allen, 2002).

Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.5.1.4547 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan, penggunaan aspartam masih diperbolehkan tetapi wajib mencantumkan peringatan fenilketonuria: mengandung fenilalanin, yang ditulis dan terlihat jelas pada label makanan atau minuman atau sediaan lain yang menggunakan pemanis buatan aspartam (Anonim, 2004). Menurut PerMenKes RI No: 208/Men.Kes/PER/IV/85 tentang Pemanis Buatan, ADI (Acceptable Daily Intake) atau penggunaan aspartam yang diperbolehkan dalam 1 hari adalah 0-40 mg/kg BB (Anonim, 1985). Sejak tahun 1980, WHO dan FDA menyarankan penggunaan aspartam (dibandingkan sakarin dan siklamat) sebagai pengganti sukrosa bagi yang diet kalori (penderita diabetes), dan aspartam tidak menyebabkan kanker (Muchtaridi, 2006).

K. Desain Faktorial

Desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi yaitu teknik untuk memberikan model hubungan antara variabel respon dengan satu atau lebih variabel bebas. Desain faktorial digunakan dalam percobaan untuk menentukan secara simulasi efek dari beberapa faktor dan interaksinya yang signifikan (Bolton, 1990).

Pada desain faktorial dua level dan dua faktor diperlukan empat percobaan (2n = 4, dengan 2 menunjukkan level dan n menunjukkan jumlah faktor), yaitu (1) A dan B masing-masing pada level rendah, (a) A pada level tinggi dan B pada level rendah, (b) A pada level rendah dan B pada level tinggi, (ab) A dan B masing-masing pada level tinggi.

Respon yang ingin diukur harus dapat dikuantitatifkan (Bolton, 1990). Rancangan percobaannya termuat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel I. Notasi formula desain faktorial

Formula Faktor A Faktor B Interaksi 1 - - + a + - - b - + - ab + + +

Besarnya interaksi dapat dihitung dengan mengurangkan rata-rata respon pada level maksimum dengan rata-rata respon pada level rendah (Bolton, 1990). Konsep dari perhitungan efek adalah sebagai berikut:

Efek A = 2 1} {b a} {ab+ − + Efek B = 2 1} {a b} {ab+ − + Interaksi A dan B = 2 b} {a ab} {1+ − +

Menurut Bolton (1990), adanya interaksi dapat juga diketahui dengan cara membuat grafik hubungan respon dan level faktor. Jika kurva menunjukkan garis sejajar, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada interaksi antar eksipien dalam

menentukan respon. Jika kurva menunjukkan garis tidak sejajar atau berpotongan, maka dapat dikatakan bahwa ada interaksi antar eksipien dalam menentukan respon.

Persamaan umum dari desain faktorial adalah sebagai berikut : Y = b0 + b1(A) + b2(B) + b12 (A)(B) Y = respon hasil atau sifat yang diamati

(A),(B) = level bagian A dan B, yang nilainya antara -1 sampai +1 b0,b1,b2,b12 = koefisien, dapat dihitung dari hail percobaan

Desain faktorial memiliki beberapa keuntungan, metode ini memiliki efisiensi yang maksimal untuk memperkirakan efek yang dominan dalam menentukan respon. Keuntungan utamanya bahwa metode ini memungkinkan untuk mengidentifikasi efek masing-masing faktor, maupun efek interaksi antar faktor. Metode ini ekonomis dalam arti mampu mengurangi jumlah penelitian jika dibandingkan dengan meneliti 2 efek faktor secara terpisah (Muth, 1999).

L. Landasan Teori

Temulawak merupakan salah satu tanaman berkhasiat yang terdapat di Indonesia. Khasiat temulawak untuk mengobati berbagai macam penyakit mengakibatkan munculnya berbagai jenis sediaan obat yang mengandung

temulawak utamanya kurkumin. Kurkumin pada temulawak berkisar antara 1,6-2,2%.

Ekstrak rimpang temulawak yang digunakan diperoleh dengan metode maserasi. Keunggulan metode maserasi dibandingkan metode ekstraksi yang lain

adalah lebih mudah dalam pengoperasiannya sehingga tidak membutuhkan suatu keahlian khusus, lebih murah karena tidak memerlukan peralatan yang khusus dan dapat menghemat waktu.

Bentuk granul effervescent dari temulawak memiliki beberapa keuntungan yaitu menghasilkan gas CO2 yang memberikan sensasi menyegarkan saat digunakan serta dapat menutupi rasa pahit dan pedas dari temulawak sehingga bentuk sediaan ini menjadi satu pilihan untuk meningkatkan minat konsumen. Kerugian dalam granul effervescent ialah kesulitan untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia karena sistem effervescent tidak stabil dengan adanya lembab. Keberadaan lembab akan menghasilkan reaksi asam dan basa yang terlalu awal sehingga terjadi reaksi effervescent prematur. Untuk mengurangi keberadaan lembab maka semua pekerjaan untuk pembuatan granul effervescent termasuk uji sifat fisik granul dilakukan di dalam ruangan dengan kelembaban relatif maksimal 25% pada suhu ruangan 25°C.

Metode yang digunakan dalam pembuatan granul effervescent adalah metode granulasi basah dengan penambahan cairan non reaktif. Keuntungan dari granulasi dengan cairan non reaktif adalah tidak semua bahan dalam formula perlu kontak dengan cairan penggranul atau panas pada proses pengeringan. Namun metode ini masih memerlukan beberapa proses setelah granul dikeringkan sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama dan proses yang cukup rumit. Selain itu uap dari cairan penggranul, biasanya etanol atau isopropanol, seringkali berbahaya sehingga harus dihilangkan dan dikumpulkan.

Dalam pembuatan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak diperlukan bahan-bahan yang dapat menghasilkan reaksi effervescent. Natrium bikarbonat dan asam tartrat-asam fumarat dipilih sebagai sumber basa dan sumber asam karena diharapkan campuran antara basa dan asam ini jika bereaksi dengan adanya air akan menghasilkan gas CO2 sebagai hasil reaksi effervescent. Gas CO2 ini yang kemudian berfungsi sebagai penghancur dalam granul effervescent.

Campuran asam lebih dipilih dibandingkan dengan menggunakan asam tunggal karena pada penggunaan asam tunggal dalam sediaan effervescent akan menimbulkan kesukaran, yaitu akan menghasilkan granul yang menggumpal sehingga akan mempengaruhi kualitas granul effervescent yang dihasilkan. Asam tartrat bersifat higroskopis, mudah larut dalam air, kekuatan asamnya cukup baik. Dengan sifat asam tartrat yang sangat higroskopis akan menyulitkan dalam pembuatan granul effervescent, sehingga asam tartrat kemudian dikombinasikan dengan asam fumarat yang bersifat kurang higroskopis dibandingkan sumber asam yang lain sehingga jumlah lembab yang masuk ke dalam bahan dapat dikurangi. Untuk bagian basa dipilih natrium bikarbonat karena memiliki sifat mudah larut dalam air serta dapat menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar yaitu sebanyak 52% dibandingkan dengan sumber basa yang lain.

Metode desain faktorial digunakan untuk menentukan contour plot sifat fisik tablet dengan rumus Y = b0 +b1(A) + b2(B) + b12(A)(B). Persamaan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui komposisi natrium bikarbonat dan campuran asam tartrat-asam fumarat tertentu untuk menghasilkan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak dengan sifat fisik yang dikehendaki, selain itu dengan metode

desain faktorial dapat juga dicari eksipien yang mempunyai pengaruh dominan terhadap sifat fisik granul effervescent serta ada tidaknya interaksi antar eksipien yang mempengaruhi sifat fisik granul effervescent yaitu kecepatan alir, waktu larut, dan kandungan lembab granul.

M. Hipotesis

1. Diduga antara natrium bikarbonat dan campuran asam tartrat-asam fumarat serta interaksinya ada yang merupakan faktor dominan yang menentukan sifat fisik granul effervescent ekstrak rimpang temulawak.

2. Diduga dapat ditemukan area optimum natrium bikarbonat dan campuran asam tartrat-asam fumarat pada komposisi tertentu untuk menghasilkan granul effervescent ekstrak rimpang temulawak dengan sifat-sifat fisik yang dikehendaki.

Dokumen terkait