Dasar hukum keberadaan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia adalah Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Instruksi Presiden ini ditujukan kepada Menteri Agama ini adalah merupakan Instruksi kepada Menteri Agama. Ini adalah merupakan Instruksi dari Presiden RI kepada Menteri Agama untuk menyebarluaskan Kompilasi Hukum Islam yang sudah disepakati tersebut. Diktum keputusan ini hanya menyatakan:
PERTAMA : Menyebarluaskan Kompilasi Hukum Islam, yang terdiri dari:
a. Buku I tentang Hukum Perkawinan b. Buku II tentang Hukum Kewarisan c. Buku III tentang Hukum Perwakafan
Sebagaiamana telah diterima baik oleh para alim ulama Indonesia dalam lokakarya di Jakarta pada tanggal 2-5 Februari 1988 untuk digunakan oleh Instansi Pemerintah dan oleh masyarakat yang memerlukannya.
KEDUA : Melaksanakan Instruksi ini dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh tanggungjawab.
Sedangkan Konsideran Instruksi tersebut menyatakan :
a. Bahwa ulama Indonesia dalam lokakarya yang diadakan di Jakarta pada tanggal 2 sampai dengan 5 Februari 1988 telah menerima baik rancangan buku Kompilasi Hukum Islam, yaitu Buku I tentang Hukum Perkawinan, Buku II tentang Hukum kewarisan, Buku III tentang Hukum Perwakafan
b. Bahwa Kompilasi Hukum Islam tersebut dalam huruf a oleh Instansi pemerintah dan oleh masyarakat yang memerlukannya dapat digunakan sebagai pedoman dalamn menyelesaikan masalah-masalah di bidang tersebut.
c. Bahwa oleh karena itu Kompilasi Hukum Islam tersebut dalam huruf a perlu disebarluaskan.
Kemudian lebih lanjut yang menjadi dasar dan landasan dari Kompilasi Hukum Islam ini adalah Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia tanggal 22 Juli 1991 Nomor 154 tahun 1991 tentang Pelaksana Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1991.
Konsideran Keputusan ini menyebutkan:
a. Bahwa Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1991 tanggal 10 juni 1991 memerintahkan kepada Menteri Agama untuk menyebarluaskan Kompilasi Hukum Islam untuk digunakan oleh Instansi Pemerintah dan oleh masyarakat yang memerlukannya;
b. Bahwa penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam tersebut perlu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh tanggungjawab;
c. Bahwa oleh karena itu perlu dikeluarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia tentang pelaksanaan Instruksi
Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1991 tanggal 10 juni 1991.
Dalam diktum Keputusan Menteri tersebut disebutkan sebagai berikut:
Pertama: Seluruh Instansi Departemen Agama dan Instansai Pemerintah lainnya yang terkait agar menyebarluaskan Kompilasi Hukum Islam di bidang Hukum Perkawinan, Kewarisan, dan Perwakafan sebagaimana dimaksud dalam dictum pertama Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991 untuk digunakan oleh Instansi Pemerintah dan masyarakat yang memerlukannya dalam menyelesaikan masalah-masalah di bidang tersebut. Kedua: Seluruh lingkungan Instansi tersebut dalam diktum pertama, dalam menyelesaikan masalah-masalah di bidang hukum perkawinan, kewarisan, dan perwakafan sedapat mungkin menerapkan kompilasi hukum Islam tersebut di samping Peraturan Perundang-Undangan lainnya. Ketiga: Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Direktur Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji mengkoordinasikan pelaksanaan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia ini dalam bidang tugasnya masing-masing.
Keempat: Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan. (Keputusan Menteri Agama Nomor 154 tahun 1991)
Pengaturan lebih lanjut termuat dalam Surat Edaran Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam atas nama Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam tanggal 25 Juli 1991 No.
3694/EV/HK.003/AZ/91 yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Tinggi Agama atau Ketua Pengadilan Agama diseluruh Indonesia tentang Penyebarluasan Instruksi Presiden RI Nomor 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991. Namun sayangnya di sini juga tidak disebutkan
teks resmi dan Kompilasi yang merupakan satu kesatuan dari Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991. (Abdurrahman, 1991, p. 50)
M.Yahya harahap, misalnya dalam tulisannya menyebutkan tujuan dari Kompilasi hukum Islam yang disusun pada waktu itu adalah:
a. Untuk merumuskan secara sistematis hukum Islam di Indonesia secara konkret
b. Guna dijadikan sebagai landasan penerapan hukum Islam di lingkungan Peradilan Agama
c. Dan sifat kompilasi, berwawasan nasional (bersifat supra sub cultural, aliran, atau mazhab) yang akan diperlakukan bagi seleuruh masyarakt Islam Indonesia, apabila timbul sengketa di depan sidang Peradilan Agama
d. Serta sekaligus akan dapat terbina penegakan kepastian hukum yang lebih seragam dalam pergaulan lalu lintas masyarakat Islam
B. Konsep Dasar Perundang-Undangan 1. Peristilahan Perundang-Undangan
Istilah Undang-Undang dapat digunakan dalam dua arti yang berbeda, yaitu :
a. Undang-Undang dalam arti formal. Undang-Undang dalam arti formal adalah peraturan yang disebut undang-undang mengingat formalitas cara terjadinya. Undang-Undang dalam arti formal ini biasanya cukup disebut sebagai undang-undang saja. Di Indonesia, Undang-Undang dalam arti formal dibuat dengan persetujuan bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.
b. Undang-Undang dalam arti material. Undang-Undang dalam arti material adalah peraturan yang disebut undang-undang mengingat
isinya yang mengikat umum. Di sini dikatakan “mengikat umum”
sebab berbeda dengan suatu surat keputusan yang mengikat hanya orang atau orang-orang tertentu saja karena di dalamnya disebutkan nama atau nama-nama tertentu. Undang-undang dalam arti material atau Peraturan Perundang-Undangan ini mencakup mulai dari Undang-Undang Dasar sampai di bawahnya.Yang dimaksud dengan undang sebagai salah satu sumber hukum yakni undang-undang dalam arti material atau peraturan perundang-undang undang-undangan.
(Donald Albert dan Frans Maramis, 2014, p. 90)
Ilmu pengetahuan perundang-undangan merupakan ilmu yang berhubungan dengan ilmu politik dan sosiologi, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian besar. (Indrati, 2007, p. 8), yaitu:
a. Teori perundang-undangan (gesetzgebungstheorie), yang berorientasi pada mencari kejelasan dan kejernihan makna atau pengertian-pengertian (begripsvorming dan begripsverheldering), dan bersifat kognitif (erkllarungsorientiert)
b. Ilmu perundang-undangan (gesetzgebungslehre), yang berorientasi pada melakukan perbuatan dalam hal pembentukan peraturan perundang-undangan, dan bersifat normative (handlungsorientiert).
Menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
Perundang-undangan Khasanah hukum mengenal kata/istilah
“peraturan perundang-undangan”merupakan terminologi hukum yang terkait dengan istilah“wetgeving” atau “wettelijke regelingen”.Menurut A. Hamid S Attamimi (1982 dan 1990), yang mengutip dari Kamus
Hukum Fockema Andreae (lihat juga Maria Farida Indrati 2007), kata
“wetgeving” diartikan :
1. Perbuatan membentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat atau tingkat daerah menurut tata cara yang ditentukan; dan
2. keseluruhan peraturan-peraturan negara tingkat pusat dan tingkat daerah. Inilah yang dimaksud dengan “Peraturan Perundang-undangan”.
Dengan perkataan lain, wetgeving atau perundang-undangan mempunyai dua pengertian:
1. Dari segi proses, perundang-undangan adalah perbuatan membentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat atau tingkat daerah.
2. Dari segi produk, perundang-undangan adalah keseluruhan peraturan-peraturan negara tingkat pusat dan tingkat daerah. Sedangkan kata
“wettelijkeregeling” diartikan sebagai peraturan-peraturan yang bersifat peraturan perundang-undangan.
Peraturan Perundang-undangan, Ilmu Hukum membedakan antara undang dalam arti materiil (wet in materiele zin) dan undang-undang dalam arti formal (wet in formelezin). Dalam arti materiil, undang-undang adalah setiap keputusan tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang yang berisi aturan tingkah laku yang bersifat atau mengikat secara umum. Inilah yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan.
Dalam arti formal, Undang-Undang adalah keputusan tertulis yang ditetapkan oleh pemerintah bersama parlemen sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dalam UUD. Peraturan perundang-Undangan adalah setiap putusan tertulis yang dibuat, ditetapkan dan dikeluarkan oleh Lembaga atau Pejabat Negara yang mempunyai (menjalankan) fungsi legislatif sesuai dengan tata cara yang berlaku
Secara Outentik Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang telah ditetapkan (Pasal 1 angka 2 UU Nomor 12 Tahun 2011).
A.Hamid S. Attamimi sebagaimana dikutip oleh Gede Marhaendra Wija Atmaja bahwa Peraturan perundang-undangan (wet in materiele zin) mengandung tiga unsur:
1. Norma hukum (rechtsnormen);
2. Berlaku ke luar (naar buitenwerken); dan
3. Bersifat umum dalam arti luas (algemeenheid in ruime zin)
Dengan demikian unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian peraturan perundang-undangan: Bentuknya, yakni peraturan tertulis (untuk membedakan dengan peraturan yang tidak tertulis).
Pembentuknya, ialah lembaga negara atau pejabat yang berwenang di bidang perundang-undangan, baik di tingkat pusat maupun ditingkat daerah. Sifat mengikatnya, yakni mengikat secara umum. Dimaksud dengan ”yang berwenang di bidang perundang-undangan”adalah baik berwenang secara atribusi maupun berwenang secara delegasi. Lebih lanjut dikemukakan pada uraian berikutnya. Dimaksud dengan ”mengikat secara umum” berkenaan dengan norma hukum yang terkandung di dalamnya, yakni norma hukum bersifat umum dalam arti luas dan berlaku ke luar. Norma hukum yang bersifat umum, dari segi subyeknya adalah norma hukum yang dialamatkan (ditujukan) kepada setiap orang atau orang-orang bukan tertentu dan dari segi obyeknya adalah norma hukum mengenai peristiwa yang terjadi berulang atau peristiwa yang bukan tertentu. (Atmaja, 2016, p. 3)
Sumber hukum adalah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yakni
aturan-aturan yang kalau dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata.
Alagra, membagi sumber hukum menjadi sumber materiil dan sumber hukum formil, yaitu :
a. Sumber hukum materiil ialah tempat darimana materi hukum itu diambil. Sumber hukum ini merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum, misalnya: hubungan sosial, hubungan kekuatan politik, situasi kondisi ekonomi, tradisi.
b. Sumber hukum formil ialah merupakan tempat atau sumber darimana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum.