KETERANGAN AWAL PRESIDEN
B. Landasan Filosofis Pasal 40 ayat (2b) UU ITE Perubahan
Sebelum Pemerintah menyampaikan keterangan terkait norma materi muatan yang dimohonkan oleh para Pemohon untuk diuji, Pemerintah terlebih dahulu menyampaikan landasan filosofis pengaturan Pasal 40 ayat (2b) UU ITE Perubahan sebagai berikut:
1. Dampak positif dan negatif Internet
Internet dapat menjadi pedang bermata dua (double-edged sword) karena dapat memberikan dampak baik secara positif maupun negatif dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Internet telah memfasilitasi negara-negara di dunia untuk memasuki era informasi dan digital. Selain itu, komunikasi dan transaksi dapat dilakukan lintas batas negara secara cepat dan efisien. Akan tetapi, internet juga membawa berbagai permasalahan seperti keamanan, perlindungan hak asasi manusia dan data pribadi. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia memiliki dua peran dan tanggung jawab yang saling terkait dalam menyikapi sisi positif dan negatif internet. Pertama, Pemerintah memfasilitasi pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik sebagaimana diatur dalam Pasal 40 ayat (1) UU ITE. Kedua, Pemerintah melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan akibat penyalahgunaan informasi elektronik dan
transaksi elektronik yang menganggu ketertiban umum, sebagaimana diatur dalam Pasal 40 ayat (2) UU ITE.
2. Ruang Siber dan Kedaulatan Negara dalam Mengatur Ruang Siber
a. Peranan pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik dan melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan merupakan bentuk penerapan kedaulatan negara Indonesia dalam mengatur subjek atau objek yang hadir secara fisik atau virtual di teritorinya.
b. Ruang siber (cyberspace) dan internet merupakan dua sisi dari satu mata uang. Internet menggambarkan keterhubungan berbagai sistem elektronik (seperti komputer, laptop, handphone, tablet) sebagai satu kesatuan jaringan global melalui penerapan teknologi informasi dan komunikasi serta sejumlah standar dan protokol. Di lain pihak, ruang siber merefleksikan sifat virtual dari jaringan global tersebut yang memungkinkan para pengguna internet melakukan berbagai transaksi atau aktivitas secara elektronik (virtual) di ruang tersebut. Selain itu, ruang siber juga memiliki karakteristik ubiquitous. Sifat virtual dari ruang siber memungkinkan orang-orang yang terhubung dengan internet dapat mengakses informasi dari, atau mentransmisikan informasi ke berbagai penjuru dunia.
c. Negara-negara di dunia telah berusaha untuk mengatur ruang siber sebagaimana mereka telah mengatur ruang fisik (darat, laut, udara dan angkasa). Meskipun belum menemukan konsensus dalam mengatur ruang siber secara komprehensif, negara-negara di dunia menilai bahwa hukum international berlaku dalam pengaturan ruang siber. Salah satu prinsip fundamental dalam hukum internasional yang relevan dalam pembahasan kasus a quo ialah mengenai prinsip teritorial, yaitu bahwa keberadaan manusia ataupun komputer dalam ruang fisik
suatu negara merupakan suatu dasar yang dapat digunakan oleh negara tersebut untuk, antara lain:
1) melarang para pengguna internet yang berada dalam teritorinya secara fisik mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya informasi atau dokumen elektronik tertentu; atau
2) melarang informasi atau dokumen elektronik tertentu untuk
ditransmisikan, didistribusikan, disimpan atau diakses ke dalam komputer yang berada di yurisdiksinya;
Larangan-larangan sebagaimana dimaksud di atas dapat dikategorikan sebagai cybercrime dalam arti luas. Sebagaimana dijelaskan dalam dokumen the Tenth UN Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders, Vienna, 10-17 April 2000, A/CONF.187/15 bahwa cybercrime dalam arti luas atau “computer-related crime” ialah “any illegal behavior committed by means of, or in relation to, a computer system or network, including such crimes as illegal possession, offering or distributing information by means of a computer system or network.”
3. Pengaturan Konten yang Dilarang Dalam Instrumen Internasional
Beberapa instrumen internasional telah mengatur konten yang dilarang yang meliputi larangan untuk mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya suatu jenis konten, misalnya:
a. Council of Europe Treaty 185/2001 on Convention on Cybercrime, Budapest, 23.XI.2001 melarang perbuatan “offering or making available, distributing or transmitting child pornography through a computer system” (Article 9).
b. Council of Europe Treaty 189/2003 on Additional Protocol to the Convention on Cybercrime, Concerning the Criminalization of Acts
of a Racist and Xenophobic Nature Committed through a Computer System, Strasbourg, 28.I.2003 melarang perbuatan
“distributing, or otherwise making available, racist and xenophobic material to the public through a computer system” (Article 3).
c. Arab Convention on Combating Information Technology Offences melarang perbuatan:
1) "the production, display, distribution, provision, publication ...
pornographic material or material that constitutes outrage of modesty through information technology” (Article 12.1);
2) “the acquisition of children and minors pornographic materials or children and minors material that constitutes outrage of modesty, through information technology or a storage medium for such technology” (Article 12.3).
3) “dissemination and advocacy of the ideas and principles of terrorist group” (Article 15.1).
Larangan-larangan tersebut merupakan bentuk dari pembatasan kebebasan berekspresi yang banyak ditemui di berbagai regulasi negara-negara di dunia yang dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari berbagai aspek sebagaimana dijelaskan oleh Frank La Rue:
“legitimate types of information which may be restricted include child pornography (to protect the rights of children), hate speech (to protect the rights of affected communities), defamation (to protect the rights and reputation of others against unwarranted attacks), direct and public incitement to commit genocide (to protect the rights of others), and advocacy of national, racial or religious hatred that constitutes incitement to discrimination, hostility or violence (to protect the rights of others, such as the right to life)”.
(UN General Assembly A/HRC/17/27, 16 May 2011 on Report of the Special Rapporteur on the Promotion and Protection of the Right to Freedom of Opinion and Expression, Frank La Rue, para. 25)
4. Pengaturan Konten yang Dilarang Dalam Hukum Nasional
Dalam konteks Indonesia, beberapa undang-undang juga mengatur konten yang dilarang, antara lain:
a. UU ITE dan perubahannya melarang perbuatan, antara lain dengan sengaja dan tanpa hak:
1) mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya informasi atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan (Pasal 27 ayat (1)), perjudian (Pasal 27 ayat (2)), penghinaan atau pencemaran nama baik (Pasal 27 ayat (3)), pengancaman atau pemerasan (Pasal 27 ayat (4));
2) menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik (Pasal 28 ayat (1));
3) menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (Pasal 28 ayat (2)); dan 4) mengirimkan informasi atau dokumen elektronik yang berisi
ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi (Pasal 29).
b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pornografi melarang perbuatan menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi (Pasal 4).
c. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mengatur larangan dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan penggandaan ciptaan (Pasal 113).
5. Peran Pemerintah dalam Melindungi Kepentingan Umum
a. Karakteristik ruang siber yang virtual dan dapat diakses dari mana saja (ubiquitous) memungkinkan transmisi, distribusi, atau diseminasi konten yang dilarang dapat dilakukan secara masif dan menimbulkan kerugian yang signifikan bagi individu, masyarakat, pelaku usaha maupun negara.
b. Dalam menyikapi cepatnya transmisi atau distribusi konten yang dilarang dan dampak negatif dari transmisi atau distribusi konten yang dilarang tersebut, UU ITE mengatur tanggung jawab serta kewajiban bagi Pemerintah c.q. Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk melindungi kepentingan umum. Pasal 40 ayat (2) UU ITE mengatur bahwa Pemerintah melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan informasi elektronik dan transaksi elektronik yang menganggu ketertiban umum, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara umum, Pemerintah Indonesia tidak dapat menghentikan seseorang yang secara fisik berada di luar wilayah Indonesia untuk mentransmisikan atau mendistribusikan konten yang menurut hukum Indonesia dilarang ke dalam wilayah Indonesia. Akan tetapi, negara Indonesia dapat mencegah penyebarluasan konten yang dilarang menurut hukum Indonesia dalam yurisdiksi Indonesia.
Oleh karena itu, bentuk dari tanggung jawab Pemerintah Indonesia dalam melindungi kepentingan umum yang diatur dalam Pasal 40 ayat (2a) UU ITE ialah dengan menetapkan kewajiban Pemerintah untuk melakukan pencegahan penyebarluasan dan penggunaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang dilarang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melakukan pencegahan dimaksud, Pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pemutusan akses dan/atau
memerintahkan kepada Penyelenggara Sistem Elektronik untuk melakukan pemutusan akses terhadap Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar hukum (Pasal 40 ayat (2b) UU ITE Perubahan).
Dengan perkataan lain, norma tersebut harus dilihat secara utuh dan satu kesatuan dengan Pasal 40 ayat (1), ayat (2) dan ayat (2a) UU ITE Perubahan. Menganalisa Pasal 40 ayat (2b) UU ITE Perubahan terlepas dari pasal-pasal tersebut akan menghilangkan pemahaman akan tujuan serta manfaat dari norma Pasal a quo.
C. Tanggapan Pemerintah Atas Pokok Permohonan para Pemohon