SISTEM PENDIDIKAN NON FORMAL PADA KAWASAN KUMUH
HUBUNGAN UNSUR POKOK PENDIDIKAN NON FORMAL
2.7 Landasan Operasional Pelaksanaan Pendidikan Non Formal
Adanya proses pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi di tempat asal menyebabkan timbulnya pergerakan antara dua atau lebih lokasi guna lahan yang berbeda pada suatu kawasan perkotaan (Bourne, 1982:250). Pola guna lahan di daerah perkotaan mempunyai hubungan yang erat dengan pola pergerakan penduduk. Pola guna lahan akan mempengaruhi pola pergerakan dan jarak. Gerak manusia kota dalam kegiatannya adalah dari rumah ke tempat kerja, ke pasar, ke toko, ke tempat hiburan, kemudian bagi penduduk menjembatani jarak antara berbagai pusat kegiatan disebut aksesbilitas (Jayadinata, 1999: 156).
Sistem pergerakan (sistem aktivitas) terjadi sebagai akibat dari adanya aktivitas yang dilakukan dengan didukung oleh tersedianya sistem jaringan tranportasi. Sistem aktivitas merupakan fungsi dari penduduk dengan segala kegiatannya (seperti perumahan, perkantoran, perdagangan, dan sebagainya). Sedangkan sistem jaringan transportasi merupakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung terjadinya pergerakan (misalnya jaringan jalan, kereta api, pesawat terbang, terminal, pelabuhan, dan sebagainya) agar tercipta suatu sistem pergerakan yang lancar, aman, cepat, nyaman dan murah sesuai dengan lingkungannnya.
2.7 Landasan Operasional Pelaksanaan Pendidikan Non Formal
2.7.1 Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional
Pemerataan dan perluasan akses pendidikan diarahkan pada upaya memperluas daya tampung satuan pendidikan sesuai dengan prioritas nasional, serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik dari berbagai
golongan masyarakat yang berbeda baik secara sosial, ekonomi, gender, lokasi tempat tinggal dan tingkat kemampuan intelektual serta kondisi fisik. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas penduduk Indonesia untuk dapat belajar sepanjang hayat dalam rangka peningkatan daya saing bangsa di era global, serta meningkatkan peringkat IPM hingga mencapai posisi sama dengan atau lebih baik dari peringkat IPM sebelum krisis.
Beberapa kebijakan dan program strategis yang disusun dalam rangka memperluas pemerataan dan akses pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Memperluas akses bagi anak usia sekolah 7–15 tahun, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak atau belum terlayani di jalur pendidikan formal untuk memiliki kesempatan mendapatkan layanan pendidikan di jalur non formal; 2. Memperluas akses bagi penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas baik
laki-laki maupun perempuan untuk memiliki kesempatan mendapatkan layanan pendidikan keaksaraan melalui jalur pendidikan nonformal. Perluasan kesempatan bagi penduduk buta aksara dilakukan dengan menjalin berbagai kerjasama dengan stakeholder pendidikan, seperti organisasi keagamaan, organisasi perempuan, dan organisasi lain yang dapat menjangkau lapisan masyarakat, serta perguruan tinggi;
3. Perluasan Pendidikan Wajar pada Jalur Non-Formal; termasuk kebijakan strategis untuk mendukung program Wajar. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan angka partisipasi (APM/APK) dikdas melalui program Paket A dan B. Program ini sangat strategis untuk menjangkau peserta didik yang memiliki berbagai keterbatasan untuk mengikuti pendidikan formal,
terutama anak-anak dari keluarga tidak mampu, daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah konflik, atau anak-anak yang terpaksa bekerja;
4. Pendidikan Kecakapan Hidup; merupakan kebijakan strategis bagi peserta didik yang orang tuanya miskin dan orang dewasa miskin dan/atau pengangguran. Pendidikan ini akan memberikan kompetensi yang dapat dijadikan modal untuk usaha mandiri atau bekerja, mengingat masih besarnya jumlah mereka, maka kegiatan strategis ini menjadi sangat penting peranannya bagi penanggulangan kemiskinan dan pengangguran (Depdiknas 2005-2009, 2005: 47-53)
2.7.2 Strategi Penuntasan Renstra dalam Bidang Pendidikan Non Formal Usaha pemerintah menuntaskan rencana strategis dalam bidang non pendidikan formal adalah dengan menterjemahkan misi-misi Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah. Misi tersebut antara lain: mendorong terwujudnya kelembagaan kursus dan kursus para-profesi yang berorientasi pada peningkatan kecakapan hidup yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta pelayanan yang semakin meluas, adil dan merata, khususnya bagi penduduk miskin dan penganggur terdidik, dapat bekerja dan atau berusaha secara produktif, mandiri dan profesional (Direktorat Jenderal PLS, 2007)
Dalam hal lain disebutkan bahwa untuk melakukan pembinaan kursus dan kelembagaan, pemerintah berusaha meningkatkan kualitas kelembagaan kursus dan pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat. Hal ini dilakukan dengan cara mewujudkan kelembagaan kursus yang berorientasi pada wirausaha pedesaan, wirausaha perkotaan, menajemen pengelolaan dan penyelenggaraan kursus yang
berlandaskan pada penjaminan mutu, standarisasi, akreditasi uji, profesi dan sertifikasi serta beorientasi pada peluang tenaga kerja yang bermutu, relevan dan berdaya saing (Dirjen PLS, 2007).
2.7.3 Pokok-pokok Pembangunan Pendidikan Non Formal
Pembangunan pendidikan non formal di Indonesia di atur dengan adanya pokok-pokok pembangunan pendidikan non formal yang tertuang dalam keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Nomor: Kep-120 / E / KP/ 2007 tentang Pokok-pokok Kebijakan Pembangunan Pendidikan Non Formal. Dalam keputusan tersebut disampaikan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang pendidikan nonformal sebagai arah pelaksanaan kegiatan, baik di tingkat pusat maupun di daerah (Dirjen PLS, 2007).
Pokok-pokok kebijakan pembangunan pendidikan nonformal tahun 2007 mencakup: 1) Program pendidikan anak usia dini; 2) Program pendidikan kesetaraan paket A dan paket B dalam rangka pelaksanaan wajib belajar; 3) Program pendidikan non formal, meliputi: a) Program pendidikan keaksaraan; b) Program pendidikan kesetaraan paket C; c) Program pendidikan kursus dan PKH; 4) Program peningkatan budaya baca dan pembinaan perpustakaan; 5) Program pengarus utamaan gender (PUG) bidang pendidikan; 6) Program revitalisasi kelembagaan PNF dan Satuan PNF lainnya (Dirjen PLS, 2007).
Dalam keputusan tersebut juga disebutkan bahwa kepada para kepala Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota dan jajarannya diminta agar menjabarkan Pokok-pokok Kebijakan Pembangunan Pendidikan Non Formal
Tahun 2007 ke dalam program masing-masing satuan kerja sesuai dengan tugas dan fungsinya secara terukur, sistematis, dan akuntabel (Kepdirjen, 2007). Daerah Khusus Ibukota Jakarta melalui Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi telah menjabarkan keputusan tersebut dalam sebuah program yaitu Program Pendidikan Non Formal dan Informal dengan tolok ukur capaian program 1) meningkatnya akses dan mutu layanan pendidikan berbasis masyarakat meliputi pendidikan keterampilan dan kecakapan hidup (life skill); 2) Pendidikan keaksaraan; dan 3) Pendidikan kesetaraan yaitu program kejar paket A, B, C dan informal (Dirjen PLS, 2008)