BAB II. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SEBAGAI
B. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
1. Landasan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama sampai Sekolah Menengah Atas, merupakan salah satu upaya pemerintah, khususnya menteri pendidikan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang hendak diberlakukan Departemen Pendidikan Nasional melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sesungguhnya dimaksudkan untuk mempertegas pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Yang artinya, kurikulum baru yang ini tetap memberikan tekanan pada pengembangan kompetensi siswa. Dalam prakteknya pemberlakukan KTSP tidak akan melalui uji publik maupun uji coba, karena kurikulum ini telah diujicobakan melalui KBK yang diterapkan ke beberapa sekolah yang menjadi pilot project (Masnur Muslich, 2007: 1-16).
Dalam kegiatan sosialisasi mengenai kurikulum tingkat satuan pendidikan (sekolah), tim sosialisasi berupaya agar para guru yang mengikuti kegiatan ini memiliki wawasan yang cukup sehingga dapat menyikapi dan melaksanakan pengembangan
kurikulum ini di masing-masing sekolahnya. Adapun yang menjadi landasan dibentuknya KTSP (Masnur Muslich, 2007: 1-9) ini adalah sebagai berikut:
a. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional b. PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan c. Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi
d. Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
e. Permendiknas No. 24/2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23/2006
Dengan landasan-landasan di atas, penerapan kurikulum yang baru ini semakin mendapat posisinya yang jelas dalam program pengembangan pendidikan bangsa Indonesia. Berdasarkan landasan tersebut, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dipahami sebagai kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dengan kata lain masing-masing-masing-masing sekolah, baik yang berada didaerah maupun dipusat kota, memiliki kesempatan untuk menyusun dan melaksanakan program satuan pendidikannya sesuai dengan situasi dan kondisi siswa.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mampu mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan, mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan, memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa, mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20%, memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan (Masnur Muslich, 2007: 1-16).
Sebagai kurikulum yang bersifat operasional, KTSP telah disertai dengan acuan-acuan operasional yang jelas. Oleh karena itu dalam buku yang berjudul KTSP Dasar
Pemahaman dan Pengembangan (Masnur Muslich, 2007: 11-21) dirumuskan antara lain:
a. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
b. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik
c. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan d. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
e. Tuntutan dunia kerja
f. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni g. Agama
h. Dinamika perkembangan global
i. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan j. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat k. Kesetaraan jender
l. Karakteristik satuan pendidikan
Acuan-acuan ini dibuat oleh pemerintah sebagai bentuk pedoman yang harus diperhatikan oleh masing-masing satuan pendidikan (sekolah) ketika menyusun kurikulum sekolahnya masing-masing. Dengan diberlakukannya KTSP, masing-masing sekolah diberi keleluasaan untuk mengolah setiap satuan pendidikan yang menyangkut berbagai aspek kehidupan siswa. Misalnya, aspek keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Melalui KTSP aspek ini sedemikian rupa diolah sehingga keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Konsekuensinya dalam pembentukaan kepribadian, kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. Hal ini menjadi jelas, bahwa urusan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang baik siswa tidak hanya menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran agama atau bimbingan dan konseling semata, tetapi seluruh guru bidang studi yang lain turut serta dalam usaha mengembangkan aspek ini dalam setiap pribadi siswa (Masnur Muslich, 2007: 11-15).
Selanjutnya dalam aspek peningkatan potensi, kecerdasan dan minat siswa perlu disesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. Model pendidikan yang holistik menjadi fokus perhatian dalam pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Sekolah sedapat mungkin mengembangkan berbagai sarana penunjang pendidikan sehingga setiap kemampuan, talenta siswa berkembangan sesuai dengan diri mereka sendiri. Dalam hal ini sekolah menjadi fasilitator bagi siswa dalam mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya. Pihak sekolah tidak bisa memaksa para siswanya untuk mampu tumbuh dan berkembang hanya semata-mata sesuai dengan visi-misi sekolahnya. Tingkat perkembangan siswa, baik dalam segi usia maupun kepribadian perlu dipertimbangkan sehingga proses pendidikan dapat dilakukan secara efektif dan efisien sesuai dengan kapasistas yang dimiliki (Masnur Muslich, 2007: 11-22).
Dalam KTSP, pihak sekolah juga dituntut untuk mempelajari lingkungan sekolah dan latar belakang siswa secara lebih cermat. Pemerintah sendiri, dengan memberlakukan KTSP bermaksud untuk mengembangkan daerah-daerah sehingga sebagai bentuk partisipasi aktif pihak sekolah terhadap program pemerintah adalah menyusun kurikulumnya dengan memperhatikan keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan ini merupakan latar belakang siswa yang siap difasilitasi dengan semaksimal mungkin. Sekolah tidak akan membangun sebuah masyarakat, budaya atau sejarah, melainkan para siswalah yang siap mengisi setiap ruang bidang-bidang kehidupan yang ada di dalam masyarakat sehingga semakin hari, masyarakat berkembang dengan lebih baik (Masnur Muslich, 2007: 11-22).
Sekolah bukanlah pelaku pembangunan, melainkan fasilitator pembangunan daerah. Dengan kata lain kurikulum yang disusun sesuai dengan keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah.
Pembangunan daerah yang berhasil akan berdampak positif terhadap pembangunan nasional. Dengan diberlakukannya KTSP, sekolah-sekolah daerah tidak bisa melakukannya secara egoistis. Falsafah dan ideologi negara, yakni Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap diperhatikan, artinya dalam pengembangannya, kurikulum sekolah perlu diarahkan pada usaha pengembangan global dalam tingkatan bangsa. Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan daerah dan nasional (Masnur Muslich, 2007: 11-22).
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pluralitas agama yang cukup menonjol di mata dunia. Berkaitan dengan pluralisme agama ini, kurikulum ini disusun dan dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang berlaku di lingkungan sekolah. Di bangku sekolah, para siswa jangan sampai ditanamkan sikap fanatik yang negatif. Meskipun dalam teori atau dalih setiap sekolah senantiasa menghindari hal ini, namun dalam kenyataannya tidak sedikit sekolah yang mengarahkan para siswanya untuk bersikap fanatik dan meremehkan penganut agama lain (Suparno, 2003: 36).
Dalam prakteknya bertentangan dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia, tetapi bangsa Indoensia adalah bangsa yang beragama, sehingga aturan negara tidak bisa dicampuri dengan urusan agama. Dalam aturan agama tidak boleh menjadi aturan negara. karena akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang plural dalam hal agama, budaya, suku dan bahasa.
Yang terpenting dalam menyusun kurikulum yang sesuai dengan KTSP adalah kurikulum memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (Masnur Muslich, 2007: 11-22).
Dalam proses persaingan global dalam pendidikan perlu ada ciri khas dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yakni memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada satuan-satuan pendidikan untuk mengembangkan diri, maka kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan. Setiap satuan pendidikan memiliki orientasi, visi dan spiritualitasnya masing-masing. Dalam pelaksanaan satuan pendidikan di Indonesia harus memiliki visi, spiritualitas dan orientasi pendidikan ke arah yang positif. Dalam pemberlakuanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sedapat mungkin dapat terus dihidupkan dan dikembangkan. Dalam praktek kehidupan sehari-hari sering dijumpai penggunaan sikap oleh orang muda untuk menunjuk suatu tingkah laku atau tindakan seseorang. Sehingga generasi muda dapat meneruskan tradisi dan budaya yang semakin berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Dalam prakteknya kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan (Kristianto, 2005: 4).
2. Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan