TERHADAP FENOMENA PERNIKAHAN BEDA AGAMA
C. Analisis Komparatif terhadap Pernikahan Beda Agama di Indonesia Pernikahan beda agama, sedari awal sudah dinyatakan, menjadi fenomena
1. Landasan Pernikahan Beda Agama dalam Islam dan Katolik
Landasan hukum untuk memutuskan persoalan pernikahan beda agama baik dalam Islam maupun Katolik bersumber pada kitab suci masing-masing. Meski terdapat perbedaan pendapat dalam penafsiran dan sebagainya, baik kitab suci Islam maupun Katolik memiliki kesamaan sikap dalam menjawab persoalan pernikahan beda agama. Islam maupun Katolik beranggapan bahwa pernikahan beda agama adalah sesuatu yang terlarang secara agama.
Namun demikian masing-masing menyisakan celah untuk kemungkinan dilangsungkannya pernikahan beda agama. Dalam hal ini, kitab suci Islam, al-Quran, menurut penulis, sebagaimana juga diakui Ulil Abshar Abdalla, lebih revolusioner menyikapi fenomena pernikahan beda agama. Meski berjalan secara evolutif, al-Quran kemudian secara eksplisit menyatakan bahwa pernikahan beda agama dalam Islam diperbolehkan. Dalam teksnya, al-Quran menyatakan dengan tegas bahwa lelaki muslim boleh menikahi perempuan Ahl al-Kitab (non-Muslim).
Meski masih menyisakan perdebatan hingga sekarang, mengenai siapa saja yang bisa disebut Ahl al-Kitab, banyak pendapat dalam Islam yang menyatakan bahwa Ahl al-Kitab dapat dilekatkan kepada setiap agama, yang mempunyai kitab suci, yang mempunyai tuntunan jelas untuk kehidupan umatnya, tidak hanya untuk Yahudi dan Nashrani, atau lebih sempit lagi hanya untuk Ahl al-Kitab pada jaman Nabi.
Teks kitab suci Katolik tidak ada yang menyatakan secara eksplisit mengenai bolehnya pernikahan beda agama yang melibatkan umat katolik. Kemungkinan untuk itu baru ada ketika membaca hukum kanon gereja, itupun pasangan yang hendak melakukan pernikahan beda agama terlebih dahulu diharuskan memenuhi persyaratan yang tidak ringan sebagaimana tercantum dalam kanon 1125 dan 1126.
Persyaratan-persyaratan tersebut, menurut penulis, pertanda bahwa Katolik masih memperlihatkan keengganan untuk mengabsahkan pernikahan beda agama. Dengan persyaratan tersebut, Katolik sebenarnya secara tidak langsung mencegah terjadinya pernikahan beda agama atau minimal mencegah menurunnya tingkat keimanan generasi penerusnya. Lebih jauh, dengan disyaratkannya pernikahan beda agama, Katolik mengharapkan agar tidak kehilangan penganut. Hal itu terbukti dengan adanya persyaratan bagi pasangan Katolik untuk menjamin pendidikan anaknya berjalan sesuai dengan iman Kristiani. Untuk kasus ini, Islam sebenarnya memiliki ketakutan yang tidak jauh berbeda.
Karena pada faktanya pernikahan beda agama masih sangat sulit untuk dilangsungkan, ditambah sikap gereja dan Kantor Urusan Agama (dalam Islam) yang masih berbeda-beda dalam menyikapi pernikahan beda agama, maka
pernikahan beda agama bisa dilaksanakan di Kantor Catatan Sipil. Dalam Katolik, pemberkatan dapat dilangsungkan oleh gereja sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam gereja yang bersangkutan. Dalam Islam upacara akad nikah, tidak harus terlebih dahulu dibacakan dua kalimat syahadat, sebagaimana umumnya pada pernikahan sesama muslim. Sayangnya, masih banyak pejabat gereja maupun pejabat KUA yang masih awam dengan penafsiran tokoh-tokoh agama yang secara substantif tidak mensyaratkan kesamaan agama sepasang laki-laki dan perempuan yang hendak melangsungkan pernikahan. Maka pernikahan beda agama, di Indonesia hingga sekarang, masih menjadi sesuatu yang amat sulit untuk dilakukan. Tak heran kalau kemudian banyak pasangan beda agama yang hendak melanjutkan ke jenjang pernikahan menjadi gagal, dan kalaupun tetap kukuh dengan keinginannya untuk menikah melakukan pernikahannya di luar negeri.
2. Keterkaitan Pemahaman Keagamaan terhadap Fenomena
Pernikahan Beda Agama dan Hubungan Anta-agama di Indonesia Penafsiran belakangan yang banyak bermunculan, baik di Islam maupun Katolik, menerbitkan secercah harapan untuk pasangan berbeda agama agar dapat membangun hubungan keluarga dalam ikatan pernikahan. Penafsiran demikian tak lain merupakan refleksi berkepanjangan atas fakta pluralitas kehidupan masyarakat Indonesia yang multi agama, bangsa, budaya, bahasa, dan sebagainya. Fakta inilah yang menjadikan pernikahan beda agama tak mungkin lagi untuk dihindari.
Lebih dari itu, kini, banyak kasus pasangan yang menikah meski masing-masing pasangan memiliki atau menganut agama yang berbeda dapat membangun
sebuah keluarga yang sejahtera, atau dalam bahasa Islam sakinah, mawaddah, warahmah. Keluarga dari pasangan pernikahan beda agama menjadi keluarga yang memiliki kadar toleransi sangat besar. Sikap demikian yang sebenarnya sangat konstrukstif untuk memelihara fakta pluralitas yang ada di Indonesia. Pluralitas tidak bisa disikapi dengan eksklusifitas, melainkan saling menghormati dan toleransi. Akan sia-sia upaya memajukan dialog antar agama kalau umat masing-masing agama tetap merasa eksklusif dengan umat dari agama lainnya.
Dari fakta-fakta di atas, ditambah dengan keyakinan penulis bahwa perbedaan agama, bangsa dan keturunan tidak bisa menjadi penghalang terhadap perkawinan, maka, menurut penulis, pernikahan beda agama sudah tidak bisa lagi dilarang. Pernikahan beda agama seharusnya disikapi secara lebih bijak oleh masing-masing tokoh agama. Agama adalah keyakinan dalam hati dan tidak mungkin dapat digoyahkan begitu saja, seperti oleh cinta atau ikatan pernikahan. Tidak boleh ada lagi ketakutan konversi agama dan sebagainya yang semakin mengarah pada sikap eksklusif dalam menyikapi dan memahami agama.
Pemahaman agama yang demikian akan berkontribusi positif tidak hanya untuk pernikahan beda agama melainkan untuk hubungan antar-agama secara lebih luas. Agama adalah jalan masing-masing individu untuk memperoleh keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan pernikahan adalah usaha pasangan laki-laki dan perempuan untuk membina sebuah rumah tangga yang bahagia dan sejahtera. Kebahagian rumah tangga, tidak ditentukan secara absolut oleh kesamaan iman atau agama, melainkan komitmen masing-masing pasangan untuk membangun keberlangsungan, keutuhan, dan keharmonisan rumah tangga.
B. Saran
Dalam tulisan ini penulis menyarankan:
1. Tulisan ini tidak begitu sempurna sebagai kajian pernikahan beda agama, karenanya, bagi yang mau mendalami fenomena ini, disarankan untuk mengakses sumber-sumber lain yang qualified baik dari Islam maupun Katolik, bahkan dari agama-agama lain, terlebih karena tulisan ini hanya berpretensi untuk membahas pendapat Islam dan Katolik.
2. Pembacaan teks-teks keagamaan harus dilakukan secara berimbang, agar tidak terjadi sikap apriori terhadap salah satu agama.
3. Perlunya diciptakan budaya penafsiran teks-teks keagamaan yang konstruktif, berbudaya pluralis dan kontekstual, sehingga tidak sempit dalam memahami agama, tidak ada lagi eksklusivitas suatu agama terhadap agama lain..
4. Perlu adanya payung hukum yang definitif tentang pernikahan beda agama. Sehingga yang hendak melakukannya tetap bisa merasa tenang dan tidak terkucilkan sebagai warga Negara.