• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

2.2. Landasan Teoretis

Dalam landasan teoretis ini dipaparkan beberapa konsep yang mendukung proses penelitian pengembangan ini. Konsep-konsep tersebut meliputi (1) hakikat desain pembelajaran, (2) pendekatan saintifik, dan (3) teks narasi.

2.2.1. Hakikat Desain Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit, dalam pembelajaran, terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan

metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan, serta didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada, kegiatan ini merupakan inti dari perencanaan pembelajaran (Degeng,1993:20). Oleh karena itu, unsur utama dalam pembelajaran adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan susunan rencana dalam bentuk kegiatan dan praktis agar tujuan pembelajaran tercapai (Chatib,2011:131).

Desain pembelajaran menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa, sehingga pertimbangan dalam mengembangkan desain pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran (Zook dalam Ahmadi dan Sofan,2014:61). Dengan demikian, suatu desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut (Shambaug dalam Ahmadi dan Sofan,2014:60).

Desain pembelajaran membagi proses perencanaan pembelajaran ke dalam langkah-langkah yang disusun secara logis dan sistematik untuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa dalam penyusunan desain pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan kurikulum yang digunakan (Sagala dalam Husamah dan Yanur,2013:37).

Husamah dan Yanur (2013:43) menyatakan bahwa desain pembelajaran memiliki tiga kriteria. Pertama, berorientasi pada kemampuan dasar dan gaya belajar siswa. Kedua, berpijak pada pendekatan sistem, yakni satu kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Ketiga, teruji secara

empiris untuk mengantisipasi berbagai kelemahan maupun kendala dalam pembelajaran.

Desain pembelajaran merupakan satu elemen dari empat unsur utama. Unsur tersebut antara lain desain materi, desain kompetensi, desain metode, dan desain evaluasi. Desain pembelajaran mutlak dikontekstualisasikan dengan empat unsur tersebut secara terbuka (Munthe,2009:53).

Kemdikbud (2013:17-22) menyebutkan bahwa prosedur pengembangan desain pembelajaran antara lain (1) mengembangkan materi pembalajaran, (2) kegiatan pembelajaran, dan (3) penilaian autentik.

Mengembangkan materi pembelajaran merujuk pada materi pokok dalam silabus dan kompetensi dasar yang termuat dalam kompetensi inti ke tiga (pengetahuan) dan ke empat (keterampilan) menjadi materi pembelajaran yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Materi yang berkategori fakta berisi kejadian atau peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dibaca, disentuh, atau diamati. Kemudian fakta yang dipersatukan tersebut akan membentuk sebuah konsep. Generalisasi hubungan antara konsep yang saling berkaitan tersebut mewujudkan sebuah prinsip. Penerapan prinsip tersebut kemudian dikembangkan menjadi sederetan langkah atau prosedur yang bertahap dan sistematis.

Mengembangkan kegiatan pembelajaran tidak dapat dipisahkan pada setiap materi pokok dalam silabus dan kompetensi dasar yang termuat dalam kompetensi inti ke tiga dan kompetensi inti ke empat. Kegiatan pembelajaran dikembangkan sesuai tujuan yang akan dicapai melalui tahapan penyusunan indikator dari tingkat terendah sampai tertinggi. Selanjutnya menyusun indikator

sikap spiritual dan sikap sosial sesuai dengan relevansi dan karakteristik yang tersirat dari kompetensi inti ke tiga dan kompetensi inti ke empat.

Penilaian autentik merupakanprosespengumpulan informasitentang perkembangandan pencapaian pembelajaranyangdilakukan anakdidikuntukmenunjukkan secaratepat bahwatujuan pembelajarandankompetensitelah benar-benardikuasaidandicapai, baik aspek sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Aspek sikap dilakukan melalui pengamatan aktivitas siswa yang merujuk pada indikator sikap yang dijabarkan dari kompetensi inti pertama (sikap spiritual) dan kompetensi inti ke dua (sikap sosial), seperti diskusi, kegiatan presentasi, praktik, dan tugas projek. Aspek pengetahuan dapat melalui tes dan non tes yang didesain dengan menyusun indikator soal yang merujuk pada kompetensi inti ke tiga (pengetahuan), seperti tes tertulis, praktik, tugas menjawab soal, atau membuat laporan tertulis. Aspek keterampilan dapat melalui pengamatan aktivitas siswa yang merujuk pada kompetensi inti ke empat (keterampilan), seperti kemampuan untuk menyaji, mengolah, menalar, mencipta, maupun memodifikasi. Pengamatan dapat dilakukan pada saat kerja kelompok, berdiskusi, presentasi, eksperimen, maupun tugas projek dalam bentuk portofolio seperti laporan tertulis atau hasil tugas projek.

Dari beberapa penjelasan di atas, maka desain pembelajaran berkenaan dengan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan yang harus

dicapai. Rumusan tersebut termasuk materi, metode, maupun teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. 2.2.2. Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang dibutuhkan bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh peserta didik (Zamroni dan Semiawan dalam Kemdikbud,2013:5). Oleh karena itu, pembelajaran saintifik menekankan keterampilan proses. Model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan sains adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam sistem penyajian materi secara terpadu (Beyer dalam Kemdikbud,2013:6).

Dalam model ini, peserta didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains. Dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya (Nur dalam Kemdikbud,2013:6).

Berdasar pada prinsip pembelajaran kurikulum 2013, Kemdikbud (2013:7-22) menyatakan bahwa pembelajaran kompetensi akan memperkuat proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Penguatan proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan saintifik, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu

dalam (1) mengamati, (2) menanya, (3) mencoba atau mengumpulkan data, (4) mengasosiasi atau menalar, dan (5) mengomunikasikan.

Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak. Kegiatan ini biasa disebut dengan observasi dalam proses pembelajaran, sehingga mendorong keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi.

Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan siswa dalam bentuk konsep, prinsip, maupun prosedur. Proses menanya dilakukan melalui kegiatan diksusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide atau gagasan dengan bahasa sendiri. Di dalam kegiatan menanya, siswa mengembangkan keterampilan lisan dan tertulis dalam merumuskan pertanyaan, dari yang sederhana dan pendek hingga pertanyaan kompleks dan kritis. Untuk mendorong hasil yang efektif dan efisien, proses menanya dalam diskusi harus disiapkan oleh guru, antara lain tujuan dan hasil kegiatan dirumuskan dengan jelas, prosedur dan alokasi waktu diskusi ditentukan, jika diperlukan tersedia lembar kerja diskusi, diberikan apresiasi yang cukup kepada siswa yang aktif berpartisipasi.

Kegiatan mencoba bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa, mengembangkan kreativitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini

mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta memperoleh, menyajikan, dan mengolah data. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam dua jenis, yaitu mencoba prinsip atau prosedur seperti yang dipeorleh melalui diskusi, dan mencoba mengaplikasikan prinsip atau prosedur pada situasi baru. Kegiatan mencoba dapat dilakukan dalam bentuk eksperimen atau tugas projek. Data baru yang diperoleh mendorong pemikiran lebih tinggi karena bukan sekadar membuktikan prinsip atau prosedur yang diketahui melainkan mencoba menerapkan dalam situasi baru.

Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Kegiatan ini dapat didesain oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga siswa melakukan aktivitas antara lain menganalisis data, mengelompokkan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau praktik. Kegiatan mengasosiasi dapat didesain dengan menggunakan lembar kerja ekperimen sehingga lebih terbimbing dan terarah sesuai dengan tujuan dan sasaran pembelajaran. Pada kegiatan tugas projek dan tugas produk umumnya tidak memerlukan lembar kerja karena siswa lebih bebas dalam berkreasi dan berinovasi.

Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar atau sketsa, diagram, dan grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi, membuat laporan, dan / atau unjuk karya. Kegiatan mengomunikasikan

menjadi sarana agar siswa terbiasa berbicara, menulis, atau membuat karya tertentu untuk menyampaikan gagasan atau ide, pengalaman, kesan, dan lain sebagainya. Dalam kegiatan presentasi, guru harus menjadwalkan secara efektif dengan membagi peran dan alokasi waktu kegiatan dalam satu semester atau satu tahun, sehingga setiap siswa mendapat kesempatan yang proporsional. Kegiatan ini juga membuka ruang bagi siswa untuk bebas berekspresi menuangkan inovasi dan kreativitasnya, seperti membuat blog, laporan deskriptif, dan video kegiatan dengan memanfaatkan website dan internet.

Berdasar pada kegiatan pembelajaran saintifik di atas, Kemdikbud (2013:7) menyebutkan bahwa langkah pembelajaran yang dilakukan guru adalah sebagai berikut. (1) Menyajikan atau mengajak siswa mengamati fakta atau fenomena secara langsung atau rekonstruksi sehingga siswa mencari informasi, membaca, melihat, mendengar, atau menyimak fakta atau fenomena tersebut. (2) Memfasilitasi diskusi dan tanya jawab dalam menemukan konsep, prinsip, hukum, maupun teori. (3) Mendorong siswa aktif mencoba melalui kegiatan eksperimen. (4) Memaksimalkan pemanfaatan teknologi dalam mengolah data, mengembangkan penalaran, dan memprediksi fenomena. (5) Memberi kebebasan dan tantangan kreativitas dalam presentasi dengan aplikasi baru yang terduga sampai tak terduga.

2.2.3. Teks Narasi

Narasi merupakan suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk atau perilaku yang dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu (Keraf,2010:136). Berbeda dengan Keraf,

Suwarni (2011:78) mengungkapkan bahwa narasi adalah cerita yang mengisahkan tentang seseorang atau kisah tertentu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa narasi merupakan kumpulan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau kejadian.

Sebuah cerita mempunyai karakter, setting, waktu, masalah, pemecahan masalah, maupun memberi solusi pada masalah tersebut (Nurudin,2010:77). Dalam tulisan narasi juga mempunyai tokoh yang terlibat dalam peristiwa yang diceritakan, sehingga narasi dapat ditulis berdasarkan imajinasi, pengalaman pribadi penulis, pengamatan, maupun wawancara (Latuconsina,2012:89).

Narasi dikelompokkan menjadi dua, yakni ekspositoris dan sugestif (Keraf,2010:35-36). Narasi ekspositoris bertujuan untuk memberi informasi pembaca agar mengetahui tahap-tahap kejadian berlangsungnya suatu peristiwa. Narasi sugestif bertujuan untuk menimbulkan daya khayal pembaca dengan cara menemukan makna baru secara eksplisit atau tersirat setelah selesai membaca.

Sesuai dengan perbedaan narasi ekspositoris dan sugestif tersebut, maka Keraf (2010:141-144) membedakan bentuk narasi menjadi dua, yaitu fiktif dan nonfiktif. Bentuk narasi fiktif sering dibicarakan dalam kesusastraan, seperti cerita pendek (cerpen), novel, dan dongeng. Bentuk narasi nonfiktif antara lain cerita sejarah, biografi, maupun otobiografi.

Berdasar pada pengertian dan bentuk narasi tersebut, pembelajaran bahasa Jawa dapat menggunakan teks narasi sebagai materi pembelajaran, seperti cerkak,

dongeng, novel, dan sebagainya. Pada teks narasi bahasa Jawa, pendidik dapat mengintegrasikan beberapa keterampilan berbahasa untuk dimiliki peserta didik

sesuai tuntutan kurikulum 2013. Peserta didik yang dikatakan terampil berbahasa harus mampu mencapai seluruh indikator dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang telah dirancang dan ditentukan oleh pendidik.

Kegiatan pembelajaran pada teks narasi bahasa Jawa seperti mengungkapkan isi teks, mengungkapkan watak tokoh, menanggapi isi teks, menulis ringkasan isi teks, memeragakan tokoh pada teks, dan mengungkapkan pesan moral yang terdapat pada isi teks. Selain itu, pendidik juga dapat mengintegrasikan dengan kompetensi dasar lain untuk menghubungkan dengan pembelajaran berikutnya, seperti menulis aksara Jawa tentang pesan moral yang terdapat pada isi teks narasi tersebut.

Oleh karena itu, teks narasi yang digunakan materi pembelajaran harus memperhatikan isi, ejaan, bahasa yang santun, dan mengandung pendidikan karakter. Di dalam teks narasi, pendidik perlu memperhatikan setiap indikator pada kompetensi dasar dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Dokumen terkait