• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Teori Capital(Modal)

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh MASDIN (Halaman 44-49)

TINJAUAN PUSTAKA

5. Landasan Teori Capital(Modal)

Usaha Bourdieu dalam menjadikan struktur dan agensi sebagai dualitas, selain tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang habitus, juga konsepnya tentang capital yang masih berkaitan erat dengan konsep habitus. Berbeda dengan konsep capital-nya Marxian yang cenderung bersifat materialistik dan determinasi ekonomi yang kemudian menerbitkan pertentangan kelas, Bourdieu tidak membatasi capital pada ekonomi. Menurutnya ada empat macam capital/modal.

Yakni modal ekonomi (uang, harta benda, kepemilikan dll.), modal kultural/budaya (modal informasi, pendidikan, keterampilan dll.), modal simbolis (agama, charismadll.).Modal-modal tersebut tidak bersikap tertutup, memungkinkan antara modal satu dengan modal lainnya saling bersentuhan, menegasi, menghadirkan modal lainnya. Di antara empat modal tersebut, menurut Bourdieu, yang mempunyai posisi penting dan paling berpengaruh yakni modal ekonomi. Dalam keterkaitannya dengan habitus, modal memiliki peran yang penting. Dalam diri seseorang, modal selalu hadir bersamaan dengan habitus.

Seperti sedikit disinggung di atas bahwa pergulatan resiprokal antar habitus dengan struktur yang dibarengi keikutsertaan agensi yang tidak begitu saja patuh kepada struktur. Agen selalu berusaha untuk kreatif, memetakan strategi untuk mengimprovisasi. Di situlah empat modal tersebut mempunyai posisi yang penting, menjadi bagian dari pergulatanagensi.Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun

nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubungan-hubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang.

Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:

a. Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya b. Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi

c. Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelar-gelar universitas) d. Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis.

e. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat perbedaan antara yang baik dan buruk.Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut.

Ada empat bentuk modal yang sangat penting menurut Bourdieu, yaitu:

1. Modal simbolis yang mengacu kepada derajat akumulasi prestiste, ketersohoran, konsekrasi atau kehormatan, dan dibangun diatas diaklektika pengetahuan (connaissance) dan pengenalan (reconnaissance).

2. Modal sosial: terdiri dari hubungan sosial yang bernilai antara individu, atau hubungan-hubungan dan jaringan hubungan-hubungan yang merupakan sumberdaya yang berguna dalam penentuan dan reproduksi kedudukan-kedudukan sosial. Misalnya seorang mahasiswa kenal baik dengan seorang dosen.

3. Modal ekonomi: segala bentuk modal yang dimiliki yang berupa materi, misalnya uang, emas, mobil, tanah, dan lain-lain.

4. Modal kultural menyoroti bentuk-bentuk pengetahuan kultural, kompetensi-kompetensi atau disposisi tertentu.

Bourdieu menjelaskan modal budaya dalam tiga dimensi: yaitu dimensi manusia yang wujudnya adalah badan, objek dalam bentuk apa saja yang pernah dihasilkan oleh manusia dan institusional, khususnya menunjuk pada pendidikan.

Dimensi manusia dari modal budaya adalah:

1. Embodied state yaitu keadaan yang membadan atau keadaaan yang terwujud dalam badan manusia atau yang menyatu seluruhnya dengan manusia sebagai satu kesatuan dengan kata lain terinternalisasi dalam individu. Modal budaya menurut Bourdieu, tidak bisa terbangun secara instan. contoh orang kaya tidak selamanya harus tinggal dirumah mewah dengan lingkungan yang bersih, asri dan rindang. Ada pula orang kaya yang tinggal di dalam gang sempit dengan lingkungan yang tidak sebersih dan seindah tempat tinggal orang kaya sebelumnya. Modal budaya ini tidak berpindah serta-merta seperti hadiah atau wasiat,

sebaliknya, ia diperolehi dari masa ke masa. Sebagai contoh ialah modal bahasa. Pertukaran linguistik, yang adalah sebuah relasi komunikasi antara pengirim dan penerima pesan, karena ia adalah sebuah konteks sosial, adalah juga sebuah pertukaran ekonomi. Di dalamnya berlaku juga logika ekonomi seperti produsen dan konsumen, modal linguistik, dan pasar di mana orang bisa memperoleh keuntungan baik material maupun simbolik. Dengan kata lain, ujaran tidak hanya untuk dimengerti, melainkan juga adalah sebuah tanda kekayaan (sign of wealth) dan tanda kekuasaan (sign of authority), yang bisa memaksakan sebuah dominasi.

2. Objectified state. Sementara dimensi objek dari capital budaya, dikenal sebagai objectified state yaitu suatu keadaan yang sudah dibendakan atau dijadikan objek oleh manusia (objektifikasi dalam materi). Ada elemen yang diakui secara sosial sehingga dalam masyarakat menilai dan memahami suatu arti yang sama. Contohnya, musik jazz dan mozart (materi) yang diidentikan sebagai aliran musik kelas menengah keatas dengan ritme irama yang kompleks dan berat.

3. Institutionalized state. Adapun dimensi institusional dari capital budaya menunjukkan suatu keadaan dimana benda-benda itu sudah menunjukkan entisitas yang sama sekali terpisah dan mandiri, yang diperlihatkan dalam system pendidikan. Dengan demikian, capital budaya menunjuk yang pada keadaan yang berwujud potensial, bagi seseorang yang diuangkan atau dipertukarkan dengan kapital-kapital

lainnya (terlegitimasi lembaga sosial). Seperti pendidikan yang terlegitimasi melalui sekolah (Lawang, 2004: 16-18).

Didalam Distinction, tempat konsepi diulas dengan rinci, Bourdieu mendefenisikan modal kultural sebagai suatu akuisisi kongnitif yang melengkapi agen sosial dengan empat terhadap, apresiasi terhadap, atau kompetensi didalam, pemilah-milahan relasi-relasi dan artefak-artefak kultural. Ia menyatakan bahwa

“sebuah karya seni mengandung makna dan kepentingan hanya bagi orang yang memiliki kompetensi kultural, yakni kode, tempat dimana karya itu dikodekan (encoded).” Pemilihan terhadap kode, atau modal kultural ini, diakumulasi melalui satu proses panjang akuisisi atau kulkulasi yang mencakup tindakan pedagogis keluarga atau anggota-anggota kelompok (pendidikan keluarga), anggota-anggota terdidik formal sosial (pendidikan yang tersebar), dan lembaga-lembaga sosial (pendidikan yang terlembaga-lembagakan). Layaknya modal ekonomi, bentuk-bentuk lain modal tersebar tidak setara diantara kelas-kelas sosial dan fraksi-fraksi kelas. Meskipun bentuk-bentuk modal itu sama-sama diubah dalam kondisi tertentu (contohnya jenis dan jumlah modal akademis yang tepat bisa diubah menjadi modal ekonomi melalui penempatan.(Bourdieu,2010:XIX).

Modal budaya juga dapat berupa seni, bahasa dan pendidikan. Menurut Bourdieu modal sebagai relasi social yang terdapat didalam suatu system pertukaran baik material maupun symbol tanpa adanya perbedaan. Modal harus ada didalam sebuah ranah. Di dalam rumusan generatif Bourdieu diejalaskan tentang keterkaitan antara habitus, modal, ranah yang bersifat langsung. Dimana nilai

yang diberikan modal dihubungkan dengan berbagai karakteristik social dan cultural habitus.

Habitus adalah kebiasaan masyarakat yang melekat pada diri seseorang dalam bentuk disposisi abadi, atau kapasitas terlatih dan kecenderungan terstruktur untuk berpikir, merasa dan bertindak dengan cara determinan, yang kemudian membimbing mereka. . Habitus tidak tetap atau permanen, dan dapat berubah di bawah situasi yang tak terduga atau selama periode sejarah panjang.

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh MASDIN (Halaman 44-49)

Dokumen terkait