KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan tinjauan Semiotika. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda yang mempunyai makna. Menurut A.Teew (1984:6) ”Semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala sastra sebagai alat komunikasi yang khas dalam masyarakat manapun”.Tokoh dalam semiotika terdiri atas Ferdinand de Saussure, Charles Sander Pierce.
Konsep Semiotik menurut Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa tanda mempunyai dua aspek, yakni penanda (signifier), dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formal yang menandai suatu petanda. Penanda adalah bentuk formal bahasa, sedangkan petanda adalah arti yang ditimbulkan oleh
12
bentuk formal. Tanda terdiri dari: bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut
signified. Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim
makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut ”referent”. Hampir serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai ”objek” sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata ”anjing” (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah, menurut Saussure, ”Signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari sehelai kertas.” (Sobur, 2006)
Pierce menciptakan teori umum untuk tanda-tanda dan telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dengan istilah ”semiotika” yang ternyata kata semiotika telah digunakan oleh seorang filsafat Jerman, yaitu Lambert. Pada abad ke-18 semiotika diartikan sebagai sinonim ”logika”. Menurutnya, logika harus mempelajari bagaimana bernalar, dan penalaran itu dilakukan melalui tanda-tanda. Alasan tanda-tanda itu dapat memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh semesta alam. Dengan demikian, secara harfiah dia mengatakan ˮKita
berpikir dalam tanda”. Oleh sebab itu, semua pikiran haruslah ada dalam tanda. Semiotika bagi Pierce adalah tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerjasama tiga subjek yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretan
13
(interpretant). Yang dimaksudkan subjek pada semiotika yang sifatnya abstrak, yang tidak dipengaruhi oleh kebiasaan berkomunikasi secara konkret.
Pierce membaginya sebagai berikut :
1. Tanda dan ground yaitu qualisign yaitu tanda-tanda merupakan tanda atas dasar tampilannya dalam kenyataan, dan legisign yang merupakan tanda dasar suatu pengaturan yang berlaku umum.
2. Tanda dan denotatum (icon, indeks, symbol)
3. Tanda dan interpretan-nya (berkembang dari tanda yang telah terlebih dahulu ada dalam benak orang yang menginterpretasikannya).
4. Tanda berfungsi dalam hubungannya dengan tanda yang lain (Sintaksis, Semantik, Pragmatik).
Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.Roland Barthes sebagai penerus pemikiran tersebut menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan order of signification, dengan mencakup denotasi (makna sebenarnya) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal).Semiotik dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to signify) dalam hal-hal ini tidak dapat dicampuradukkan
14
dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek-objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the
reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktivan
pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama.
1. Penanda (signifier) 2. Petanda (signified)
3. Tanda denotatif (denotative sign)
4. Penanda Konotatif (connotative signifier) 5. Petanda Konotatif(connotative signified) 6. Tanda Konotatif (connotative sign)
Dari uraian Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiologi Barthes dan para
15
pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna ”harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah.
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Berikut adalah bagan dan contoh analisis model semiotika Roland Barthes :
16
Pada tingkatan pertama (Language) Barthes memperkenalkan signifier (1) dan signified (2), yang gabungan keduanya menghasilkan sign (3) pada tingkatan pertama. Pada tingkatan kedua, sign (3) kembali menjadi SIGNIFIER (I) dan digabungkan dengan SIGNIFIED (II) dan menjadi SIGN (III). Sign yang ada ditingkatan ke dua inilah yang berupa MYTH (mitos) disebut juga sebagai
metalanguage. Di sini dapat dikatakan bahwa Makna denotatif adalah makna yang
digunakan untuk mendeskripsikan makna definisional, literal, gamblang atau
common sense dari sebuah tanda. Makna konotatif mengacu pada asosiasi-asosiasi
budaya sosial dan personal berupa ideologis, emosional dan lain sebagainya.
LANGUAGE
MYTH
Gambar Semiologi Roland Barthes
Barthes mencontohkan istilah ”mawar”. Sebagai signifier adalah kata ”mawar” itu sendiri (citra suara). Berfungsi sebagai signified adalah objeknya (bentuknya) ”wujud bunga mawar” sebagai konsep (mental). Ketika kedua hal tersebut digabungkan akan terwujud sign (1), yaitu ”mawar” sebagai entitas konkret. Dan mawar sebagai entitas konkret, ketika dikaitkan atau dikonotasikan secara arbitrer dengan hasrat (passion) akan menghasilkan SIGN (III) yang
1. kata ”mawar” 2. wujud bunga Mawar
3. entitas konkret mawar