KESIMPULAN DAN SARAN
B. Landasan Teori 1 Pendidikan Moral
Secara bahasa moral berasal dari bahasa latin yaitu kata“mores”yang berarti tata
cara dalam kehidupan atau adat istiadat.7 Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia,
moral berarti ajaran baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak dan kewajiban.8
Menurut Nasikh Ulwan dalam bukuTarbiyatul Aulad Fil Islam juz 1, hal 156
yaitu9:
“Pendidikan moral adalah serangkaian prinsip dasar moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa pemula hingga ia menjadi seorang mukalaf, yakni siap mengarungi lautan kehidupan”.
Berbeda dengan yang diungkapkan Nasikh Ulwan, tokoh dari Barat yakni Kohlberg, mengungkapkan bahwa:
“morality has generally been definedas conscience, as a set of cultural rules of
social action which have been internalized by the individual”.10
Menurut Kohlberg moralitas secara umum telah didefinisikan sebagai hati nurani, sebagai seperangkat aturan budaya dan sosial yang telah diinternaliasi oleh
6Bungin, Burhan 2006.Metodologi Penelitian Kualitatif. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada) hlm. 55 7Budianingsih. 2004.Pembelajaran Moral. (Jakarta: PT. Rineka Cipta ) hlm. 24
8Alfandi.Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. (Solo: Sendang Ilmu )
9Abdullah Nasikh Ulwan, juz 1, hal 156 www.abdullahelwan.net di akses tanggal 9 oktober 2016
10L. Hoffman Martin. Lois Wladis Hoffman. 1964. Review of Child Development Research. (New York) p. 383.
5
Berdasarkan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam GBHN, pendidikan moral di Indonesia bisa dirumuskan sebagai berikut:
“ Pendidikan moral adalah suatu program (sekolah dan luar sekolah) yang mengorganisasikan dan menyederhanakan sumber- sumber moral dan disajikan dengan pertimbangan psikologis untuk tujuan pendidikan. Menurut para ahli pendidikan moral, tujuanpendidikan moral akan mengarahkan seseorang menjadi bermoral, yang terpenting adalah bagaimana agar seseorang dapat menyesuaikan
diri dengan tujuan hidup bermasyarakat”11
Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, pendidikan moral di Indonesia dimaksudkan agar manusia menjadi bermoral, dan bukan pendidikan
tentang moral yang akan mengutamakan penalaran moral (moral reasoning) dan
pertumbuhan intelegensi sehingga seseorang bisa melakukan pilihan dan penilaian moral yang paling tepat. Di Indonesia pendidikan moral lebih tertuju bagaimana dapat menanamkan nilai- nilai moral dan membentuk sikap moral seseorang.
2. Anak Usia Dini
Menurut Mansur, bahwa Pendidikan Anak Usia Dini mencakup perkembangan fisik dan non fisik dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani, motorik, akal pikir, emosional dan sosial. Kemudian menurut Hasan, menambahkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini merupakan jenjang pendidikan yang menitik beratkan pada aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, bahasa, komunikasi dan sosial. Pendidikan Anak Usia Dini ini merupakan jenjang pendidikan yang diselenggarakan sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar. Sehingga pada usia dini merupakan masa terpenting bagi pendidik atau orang tua dalam merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
Definisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menurut para Ahli di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kesamaan diantaranya Pendidikan Anak Usia dini merupakan proses pembinaan tumbuh kembang anak dari sejak lahir sampai usia 6 (enam) tahun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan proses tumbuh kembang anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun, yang mencakup perkembangan fisik dan non fisik antara lain meliputi perkembangan jasmani dan rohani kecerdasan, daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, berbahasa atau komunikasi dan sosial yang tepat agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal melalui pemberian stimulus berupa intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi yang cukup, penyediaan kesempatan untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif.
3. Psikologi Anak Usia Dini
Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Psyche yang berarti jiwa dan
logos berarti ilmu. Jadi Psikologi secara bahasa dapat diartikan dengan ilmu yang
11Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Konstektual Dan Futuristik. (Jakarta: PT Bumi aksara) hlm. 22
6
manisfestasi dari kondisi kejiwaan yang dialaminya. Kemudian psikologi perkembangan anak usia dini dapat diartikan sebagai bagian dari cabang ilmu psikologi perkembangan yang mengkaji tentang segala aspek pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia dini serta implikasinya terhadap perilaku anak usia dini.12
Pendidikan anak usia dini dapat disimpulkan bahwa anak yang berusia sekitar nol tahun hingga enam tahun yang melewati masa bayi, masa batita, dan masa prasekolah. Berbagai aspek perkembangan yang melingkupi perkembangan anak usia dini antara lain aspek perkembangan motorik, kognitif, emosi, sosial, bahasa, moral dan agama.
Menurut Novan Ardy Wiyani dalam bukunya yang berjudul “Psikologi
Perkembangan Anak Usia Dini” menjelaskan tentang ruang lingkup psikologi perkembangan anak usia dini adalah mengkaji tentang :
a. Aspek perkembangan fisik-motorik pada anak usia 0-6 tahun
b. Aspek perkembangan kognitif pada anak usia 0-6 tahun
c. Aspek perkembangan bahasa pada anak usia 0-6 tahun
d. Aspek perkembangan sosial-emosi pada anak usia 0-6 tahun
e. Aspek perkembangan moral dan agama pada anak usia 0-6 tahun13
4. Metodologi Pembelajaran Anak Usia Dini
Metodologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagaimana dikutip oleh
Abdul Azis14 berarti “ilmu tentang metode atau uraian tentang metode”.
Sedangkan metode berarti “cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.”
Kesimpulannya, metodologi adalah hasil melihat (setelah mempelajari) metode atau cara kerja bersistem, yang digunakan untuk melaksanakan sesuatu agar tercapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini cara yang digunakan untuk mendidik anak usia dini.
Mendidik anak usia dini tidak semudah mendidik anak Sekolah Dasar (SD) maupun orang dewasa, karena membutuhkan metodologi yang unik dan kreatif. Metode yang digunakan menurut Asmani, harus disesuaikan dengan tahap usia
anak. Adapun metode yang bisa digunakan adalah 15:
a. Metode Observasi, yaitu membiarkan anak mencoba-coba sesuatu, misalkan anak dibiarkan menggambar bunga dengan berbagai warna atau anak diberi kosakata baru dan membiarkannya untuk merangkai kalimat.
b. MetodeMain Mapping, yaitu membuat jaringan topik, misalnya meminta anak
menjelaskan konsep meja berdasarkan bentuknya, maupun fungsinya.
c. Metode Global (Ganze Method), yaitu meminta anak membuat suatu
kesimpulan dengan kalimatnya sendiri, misalnya meminta anak menceritakan kembali buku yang telah dibacanya dengan menggunakan rangkaian kalimat sendiri.
12Novan Ardy Wiyani. 2014.Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini. (Yogyakarta: Gava Media) hlm.7 13Novan Ardy Wiyani. 2014.Psikologi...hlm. 10
14Azis, Abdul.Metodologi Pendidikan Agama Islam.
15Asmani, Jamal Ma’mur. 2009 .ManajemenStrategisPendidikan Anak Usia Dini. (Yogyakarta: Diva Press) hlm.
7
teorinya, misalnya setelah anak belajar tentang tanaman, lalu anak belajar menanam.
e. Metode Learning by Doing, yaitu belajar sambil beraktivitas (bermain),
misalnya mewarnai gambar, menyusun balok.
f. MetodeHome Schooling Group, yaitu menjadikan lingkungan terdekat (rumah)
anak sebagai tempat belajar, misalnya anak mendengarkan ibu membaca doa- doa atau ayat-ayat al-Qur’an.
g. Metode Bilingual, yaitu mengenalkan anak bahasa-bahasa asing, misalnya
berbicara dengan dua bahasa pada anak.
Metode Observasi, Experimental Method, Learning by Doing, Home
Schooling Group, dan Bilingual dapat digunakan dalam proses pembelajaran pada
semua tingkatan umur anak usia dini. Dan metodeLearning by Doing adalah yang
paling cocok digunakan dalam proses pembelajaran anak usia dini.
Khusus untuk penggunaan metode Main Mappingdan Ganze Methoddalam
proses pembelajaran perlu memperhatikan tingkat umur dan kecerdasan anak. Umur yang berbeda tentu saja membuat penalaran anak berbeda. Demikian pula kecerdasan anak yang berbeda membuat pemahaman anak berbeda pula antara satu dengan yang lain.
Selain metode di atas, juga terdapat metode- metode yang berpengaruh terhadap anak menurut Nasikh Ulwan yang dikutip oleh Jalalludin Mirri di dalam
bukunya “Pendidikan Anak dalam Islam” antara lain :
a. Pendidikan dengan keteladanan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Mengingat pendidik adalah seorang figur terbaik dala pandangan anak, yang tindak tanduk, sopan santunnya, disadari atau tidak akan ditiru oleh mereka. Bahkan bentuk perkataan, perbuatan, dan tindak tanduknya akan senantiasa tertanam dalam kepribadian anak. Oleh karena itu masalah keteladanan merupakan faktor penting dalam menentukan baik buruknya anak.
b. Pendidikan dengan adat kebiasaan adalah dimensi praktis dalam upaya pembentukan (pembinaan) persiapan. Metode dengan pembiasaan berperilaku dengan akhlak yang baik. Pendidikan pembiasaan ini sangatlah penting diajarkan dari anak usia dini karena daya tangkap dan potensi pada anak usia dini dalam menerima pengajaran dan pembiasaan adalah sangat besar dibanding pada usia lainnya, maka hendaklah para pendidik, serta orang tua memusatkan
perhatian pada pengajaran anak- anak tentang kebaikan dan upaya
membiasakannya, sejak ia mulai memahami realita kehidupan. Sehingga jika dibiasakan pada kebaikan dan diajarkan kebaikan kepadanya, maka ia akan tumbuh pada kebaikan tersebut, dan akan berbahagialah di dunia dan akhirat. c. Pendidikan dengan nasihat adalah metode pendidikan yang cukup berhasil
dalam pembentukan akidah anak dan mempersiapkannya baik secara moral, emosional maupun sosial dengan cara pemberian nasehat. Nasihat dan petuah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak- anak kesadaran akan hakekat sesuatu, mendorong mereka menuju harkat dan martabat yang luhur, menghiasi dengan akhlak yang mulia, serta membekalinya dengan prinsip- prinsip Islam. Metode ini termasuk metode yang tertuang dalam
8
d. Pendidikan dengan perhatian/ pengawasan adalah metode dengan senatiasa mencurahkan perhatian penuh dan mengikuti perkembangan aspek akidah dan moral anak, mengawasi dan memperhatikan kesiapan mental dan sosial, di samping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan kemampuan ilmiahnya. Pendidikan dengan perhatian/ pengawasan merupakan modal dasar yang dianggap paling kokoh dalam pembentukan manusia seutuhnya yang sempurna, yang menunaikan hak setiap orang yang memilikinya dalam kehidupan dan termotivasi untuk menunaikan tanggung jawab secara sempurna. Melalui upaya tersebut akan tercipta muslim yang hakiki, sebagai batu utama untuk membangun pondasi Islam yang kokoh.
e. Pendidikan dengan hukuman adalah metode dengan pemberian hukuman sesuai dengan takaran, artinya menghukum dengan tujuan mendidik anak. Pendidik maupun orang tua hendaklah bijaksana dalam menggunakan cara hukuman yang sesuai, tidak bertentangan dengan tingkat kecerdasan anak, pendidikan, dan pembawaannya. Di samping hal tersebut hendaknya tidak segera menggunakan hukuman, kecuali setelah menggunakan cara- cara lain. Hukuman adalah cara yang paling akhir.16
Dari penjabaran beberapa metode pengajaran yang dikemukakan para ahli, bahwasanya metode hendaknya digunakan secara bijak dalam pelaksanaannya serta harus melihat situasi dan kondisi anak. Misalnya metode hukuman haruslah dilakukan ketika anak sudah melalui tahap pemberian metode yang lain contohnya setelah dinasehati, jadi metode hukuman diberikan atau merupakan cara yang terakhir dalam proses pembentukan akhlak.