• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN

B. Landasan Teori

Istilah Viktimologi pertama kali di perkenalkan oleh pengacara dari Yarusalem yang bernama B. Mendelshons , dalam artiannya viktimologi sendiri memeberikan pemahaman tentang permasalahan kejahatan dengan mengamati dan mempelajari para korban kejahatan.

Proses viktimisasi dan akibat yang ditimbulkannya dalam rangka menciptakan kebijaksanaan dan tindakan pencegahan menekan kejahatan secara lebih bertanggung jawab (Sunarso, 2012:3)..

Viktimologi memberikan pengertian yang lebih baik tentang korban

kejahatan sebagai hasil perbuatan manusia yang menimbulkan penderitaan mental, fisik, dan sosial (Sunarso, 2012:62) .

Viktimologi merupakan suatu pengetahuan ilmiah yang mempelajari suatu viktimisasi (krimimal) sebagai suatu permasalahan manusia yang merupakan suatu dalam kenyataan sosial. Viktimologi juga mencoba membirikan pemahan dan pencerahan permasalahan kejahatan dengan mempelajari para korban kejahatan, proses viktimisasi dan akibat-akibatnya dalam memciptakan kebijaksanaan dan juga tindakan pencegahan dan menekan kejahatan secara lebih bertanggung jawab. (Sunarso,2012;2 )

Ada beberapa ruang lingkup viktimologi sebagai berikut:

a. Berbagai Macam Viktimisai Yang Dilihat Dari Paradigma Viktimisasi

1. Viktimisasi politik :penyalah gunaan kekuasaan dan Ham dan campur tangan angkatan yang diluar fungsinya sendiri.

2. Viktimisasi ekonomi terjadinya pertimpangan antara pemerintah dan konglomerat, produksi barang-barang yang tidak bermutu dan merusak kesehatan, termasuk aspek lingkungan hidup

3. Viktimisasi keluarga, seperti penyiksaan perkosaan terhadap istri anak dan orang tua .

24

4. Viktimisasi media, dalam hal ini dapat disebut dengan penyalah gunaan obat bius, alkoholisme, malpraktik bidang kedokteran.

5. Viktimisasi Yuridis, dimensi ini cukup luas baik menyangkut aspek peradilan dan lembaga permasyarakatan maupun yang menyangkut dimensi deskriminai.

b. Peserta Yang Terlibat Dalam Viktimisasi 1. Korban

Merupakan orang yang mengalami kerugian atas sebuah tindak pidana dan merasa tidak mendapat keadilan, implikasi kerugian yang diderita seperti penderitaan fisik, psikis, dan meliputi pula kerugian materil dan kerugian immaterial, yang berakibat pada ketakutan pada korban, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tak berdaya.

2. Aturan mengenai viktimologi (pembuat undang-undang) Aspek hukumnya bisa dilihat terutama dalam kitab Undan- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Selain itu juga dibetuk pengadilan tentang Hak Asasi Manusia yang telah di jalankan sejak tahun 2002. Didasarkan atas Undang-Undang No.26 tahun 2000. Implementasinya ditungkan dalam peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2003 tentang

Kompensasi, Restetusi, dan Rehabilitasi terhadap korban pelanggaran Ham.

26

c. Respon Terhadap Suatu Viktimisasi

Usaha prefensi dalam menanggulangi kejahatan dapat dilakukan

1. Menyadari bahwa akan ada kebutuhan dan dorongan sosial atau tekanan sosial dan tekanan ekonomi yang dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang ke arah perbuatan jahat

2. Memusatkan perhatian kepada individu yang menuntukkan potensial kriminal, meskipun diakibatkan dari gangguan psikologi maupun bilogis atau kurang mendapatkan kesempatan sosial ekonomi yang cukup baik.

2. Teori Anomie oleh Merton

Merton adalah sosiolog pertama mendapatkan penghargaan National Medal of Science dari presiden Amerika tahun 1994. Lebih dari 20 universitas besar memberikan gelar kehormatan padanya.

Robert K. Merton wafat 23 Febuari 2003 diusia 93 tahun. Sebagai tokoh sosiolog beraliran fungsionalis struktural, Merton mengamati secara intens perubahan dalam masyarakat. Dari amatanya tersebut ia menyatakan bahwa ada perubahan dalam sebuah masyarakat memberikan hasil positif, dikatakan fungsional (fungsi), dan ada perubahan sosial membuahkan hasil negatif disebut disfungsional.

Kemudian Merton mengkaji hubungan antara kebudayaan, struktur, dan anomi (kondisi tanpa norma). Merton mendefinisikan kebudayaan

dan struktur sosial sebagai serangkaian nilai normatif dan hubungan sosial yang mengendalikan perilaku dan mempengaruhi anggota masyarakat. Sedangkan anomi adalah kondisi relasi antara norma yang baik dari masyarakat dengan kemampuan anggota untuk mengikuti norma yang baik tersebut terjadi disfungsi (Siahaan. 2009)

Budaya masyarakat tergantung pada tujuan masyarakat, yang mungkin sama bagi semua anggota masyarakat atau berbeda dan ketika ada kesenjangan, akan ada ketegangan yang serius dan dapat melemahkan ikatan terhadap norma dan itu disebut oleh ( Durkheim 1858-1917). Anomi diperkenalkan oleh Emile Durkheim, didefinisikan sebagai keadaan tanpa norma (deregulation) di dalam masyarakat.

Keadaan deregulation atau normlessness tersebut kemudian menimbulkan perilaku deviasi (menyimpang) (Siahaan. 2009). Seperti Durkheim, Merton berpendapat bahwa penyimpangan adalah aspek normal masyarakat, masyarakat tidak perlu terlalu represif, karena tindakan kriminal terkadang memberikan kemajuan sosial dan solidaritas sosial.

Pada kondisi Anomi, orang dapat saja menerima atau menolak tujuan budaya dengan cara-cara yang diinstutisionalkan dengan tujuan dan cara-cara yang tidak disetujui secara budaya. Hasilnya yaitu seperangkat alternatif adaptasi logis yang mungkin dilaksanakan untuk mengatasi tekanan, salah satunya merupakan konformitas dan sedangkan yang lainnya adalah penyimpangan.

28

Perilaku menyimpang (deviasi sosial) menurut Merton merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu. Merton menyebutkan terdapat lima tipe deviasi sosial, penyimpangan sosial, yang itu sebenarnya bentuk adaptasi individu atau kelompok, yaitu;

a. Conformity/konformitas, terdapat pada masyarakat-masyarakat yang relatif stabil. Cara-cara yang telah melembaga memberikan peluang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk mencapai nilai-nilai sosial-budaya yang menjadi cita-citanya, atau perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.

b. Innovation/inovasi, tekanan terlampau diletakkan pada nilai-nilai sosial-budaya yang pada suatu saat berlaku sedangkan warga masyarakat merasakan bahwa cara atau kaidah-kaidah untuk mencapai tujuan tersebut kurang memadai, atau perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat (dengan melakukan tindak kriminal).

Contoh mas kawin untuk nikah nilainya terlalu mahal, maka kawin lari.

c. Ritualism, terjadi pada warga masyarakat yang berpegang teguh pada kaidah-kaidah yang berlaku walaupun harus mengorbankan nilai-nilai sosial budaya yang ada dan berlaku, atau perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya, namun masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat.

d. Retreatism/pengunduran atau pengasingan diri, terjadi apabila nilai-nilai sosial-budaya yang berlaku tak dapat tercapai melalui cara-cara yang telah ada/melembaga.

e. Rebellion/pemberontakan, merupakan adaptasi yang memperlihatkan ketidakteraturan sistem yang menciptakan tujuan budaya, adaptasi ini akan membentuk tatanan sosial yang baru untuk menciptakan tujuan budaya dan cara memperoleh tujuan yang baru tersebut.

Dokumen terkait