• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEOR

C. Landasan Teoritik Pengembangan Multimedia Pembelajaran

1. Teori Belajar Behavioristik

Menurut teori behavioristik, C. Asri Budiningsih (2012:20) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dikatakan telah belajar apabila ia telah menunjukan suatu perubahan tingkah laku. Dalam teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon.menurut teori behavioristik, apa yang terjadi antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.

Thorndike dalam C. Asri Budiningsih (2012:21) menyatakan bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu realsi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi tersebut maka belajar menurut Thorndike merupakan perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu tidak dapat diamati.

Waston yang datang setelah Thorndike menyatakan pendapatnya tentang teori belajar behavioristik. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus

berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia meganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tidak perlu diperhitungkan.

Teori behavioristik dalam kaitannya dengan pengembangan multimedia pembelajaran adalah dalam proses pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan menggunakan media baru yaitu multimedia terdapat danya pemberian stimulus yang berupa pemberian materi pelajaran dan adanya respon yang berupa soal-soal latihan yang harus dijawab oleh siswa secara langsung.

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa teori behavioristik cocok di gunakan dalam pengembangan multimedia dalam proses pemberian stimulus atau materi kepada siswa atau keaktifan siswa dalam pembelajaran. Selain itu juga terdapat respon balikan yang diberikan secara langsung ketika siswa telah selesai mengerjakan soal latihan yang disediakan.

2. Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Aliran teori kognitif memandang kegiatan belajar bukanlah sekedar stimulus dan respon yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu, kegiatan belajar juga melibatkan mental yang aktif untuk mencapai,

mengingat, dan menggunakan pengetahuan (Baharudin & Elsa Nur Wahyuni, 2010: 87).

Diantara para pakar teori kognitif terdapat tiga pakar yang paling terkenal memiliki peran besar dalam teori ini yaitu Piaget, Bruner, dan Ausubel. Menurut Piaget mendefinisikan proses belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi (penyeimbang). Sedangkan Bruner mengatakan proses belajar menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Dengan teorinya yang disebut

free discovery learning, ia mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan

dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Sementara Ausubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap – tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami (Asri Budiningsih, 2012:36)

Ada lima tahapan teori kognitif pada multimedia pembelajaran interaktif seperti yang dikatakan oleh Mayer (2009: 80) yaitu:

1) Selecting Relevan Word

Tahap ini melibatkan perhatian berdasarkan kata – kata yang ditampilkan secara lisan di multimedia. Jika kata – kata disampaikan secara lisan,

proses ini dimulai di channel auditory, sedangkan apabila kata-kata disampaikan dalam bentuk teks, proses ini dimulai di channel visual.

2) Selecting Relevan Image

Proses ini yang terlibat adalah perhatian dan gambar. Input dalam tahap iini adalah gambar – gambar multimedia yang secara jelas masuk dalam sensor

virtual. Output dalam tahap ini adalah sebuah gambar yang merupakan

hasil kerja pemilihan dari beberapa gambar yang tersedia. Proses ini dimulai tidak hanya channel visual, tetapi juga memungkinkan untuk menggantikan bagian ini dengan channel auditory.

3) Organizing Selected Word

Pada tahap ini, peserta didik mengorganisasikan kata-kata ke dalam tampilan yang berkesinambungan misalnya frase atau kalimat yang bermakna. Input dalam tahap ini adalah kata – kata lisan atau frase yang berasal dari pesan verbal. Output dalam tahap ini adalah kata – kata atau frase yang bekesinambungan atau bermakna.

4) Organizing Selected Image

Pada tahap ini, peserta didik mengorganisasikan gambar yang dimaksud multimedia menjadi satu rangkaian gambar yang berkesinambungan atau serangkaian gambar yang masuk kedalam memori siswa dan outputnya adalah gambar – gambar yang tersusun rapi serta bermakna.

Tahap terakhir adalah tahap yang melibatkan hubungan antara word based

dan image based presentations. Tahap ini melibatkan perubahan dari dua

bagian yang berada berdasarkan kata dan gambar yang menjadi satu bagian yang bermakna untuk menghasilkan output yang terintegrasi berdasarkan pengetahuan pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya.

Impilkasi teori kognitif dalam multimedia pembelajaran yaitu mampu mengarahkan perhatian, pengarapan, dan interval dengan tampilan animasi yang variatif, mampu menyajikan materi pembelajaran dengan bentuk gambar atau sandi, maupun teks dengan tampilan yang variatif, sehingga pemahaman siswa pada suatu konsep lebih mendalam yang dapat disimpan dalam memori waktu yang relativ lama, dan mampu memberikan isyarat tambahan dalam rangka mengingat kembali kapabilitas yang diperoleh melalui latihan – latihan soal yang dapat dioperasikan secara variatf.

Dokumen terkait