BAB II LANDASAN TEORITIS
3. Emosi
a. Pengertian Emosi
Emosi dijelaskan sebagai motus anima yang harfiahnya “jiwa yang menggerakan kita”. Berlawanan dengan kebanyakan pemikiran konvensional, emosi bukan suatu yang bersifat positif atau negatif, tetapi emosi juga berlaku sebagai sumber energy autensitas, dan semangat manusia yang paling kuat dan dapat menjadi kebijakan intuitif. Dengan kata lain, emosi tidak lagi dianggap sebagai penghambat dalam hidup kita, melainkan sebagai sumber kecerdasan, kepekaan, kesewasaan, bahkan kebijaksanaan.
Emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere yang berakti bergerak menjauh. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Ahli psikologi memandang manusia adalah mahkluk yang secara alami memiliki emosi. Menurut James (Purwanto dan Mulyono 2006: 11) emosi adalah keadaan jiwa yang menampakan diri dari dengan sesutu perubahan yang jelas pada tubuh. Emosi setiap orang adalah mencerminkan keadaan jiwanya, yang akan tampak secara nyata pada perubahan jasmaninya.
Menurut Abu Ahmadi (2009: 101), perasaan atau emosi sesuatu keadaan rohaniah atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subjektif.
Menurut Daniel Goleman (2010: 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Berdasarkan dari definisi diatas maka pengertian emosi adalah suatu keadaan jiwa seseorang yang menimbulkan reaksi atau sebuah tindakan perubahan dalam waktu yang relative cepat dari suatu hal yang dialaminya.
b. Pengendalian Emosi
Pengendalian emosi (emotional regulation) merupakan satu aspek penting dalam pengendalian diri, aspek ini penting sekali dalam kehidupan manusia sebab musuh terbesar manusia bukan berada di luar dirinya, namun justru berada di dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, kemanapun seseorang pergi, maka orang tersebut selalu diikuti oleh “musuh‟‟nya. Pengendalian emosi merupakan aspek yang perlu dilatih sejak dini.
Pengendalian emosi yang harus dilaksanakan disekolah sepeerti patuh dan taat pada peraturan di sekolah, menghormati dan menghargai teman, guru, karyawan dan lain-lain, berani mengatakan tidak pada ajakan dan paksaan tawuran pelajar serta perbuatan tercela, hidup penuh kesederhanaan tidak sombong dan gengsian. Didalam interaksi dengan siapapun kiranya selalu bijaksana apabila belajar untuk mengontrol emosi.
Menurut Daniel Goleman (2010: 400) pengendalian emosi adalah kemampuan untuk mengatur pengeruh-pengaruh emosi yang menyusahkan seperti kegelisahan dan amarah, untuk menjegah emosi-emosi yang bersifat inpulsif. Dengan kata lain pengendalian emosi oleh diri sendiri berarti berupanya untuk meredam atau menahan gejolak nafsu yang sedang berlaku agar emosi tidak terekperesikan secara berlebihan, sehingga seseorang tidak sampai dikuasai sepenuhnya oleh arus emosinya.
Mampu mengontrol emosi dan tindakan-tindakan merupakan inti kecerdasan emosional, kuncinya adalah mengetahui keterbatasan-keterbatasan seseorang dan kapan seseorang mudah marah, misalnya mampu mengenali sinyal-sinyal peringatan berakti memberitahu seseorang waktu untuk menghindari situasi yang kiranya merugikan. Melepaskan diri dari situasi atau memfokuskan kepada sesuatu yang lain bisa memberi seseorang waktu untuk santai dan menyebarkan energy yang negative.
Pengendalian emosi diri seseorang yang baik dan yang buruk dapat terlihat dari kehidupan seseorang baik dari sifat dari dalam maupun dari luar, orang-orang yang memiliki pengendalian emosi.
Lebih lanjut orang-orang yang memiliki pengendalian emosi akan di jelaskan oleh Daniel Goleman.
Menurut Daniel Goleman (2010: 130-131) Mampu mengelola dengan baik perasaan-perasaan infulsif dan emosi-emosi yang menenkan, tetap teguh, berpikir positif, dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang paling berat. Berpikir dengan jerni dan tetap terfokus kendali dalam tekanan, bertindak menurut etika dan tidak perna mempermalukan orang lain. Memenuhi komitmen dan mematuhi janji,siap mengubah tanggapan dan taktik untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
c. Bentuk-bentuk Emosi
Daniel Goleman (2010: 411) Mengemukakan beberapah bentuk-bentuk emosi yaitu, Amarah, takut,benci, cinta, dengki, cemburu dan malu.
Lebih lanjut Daniel Goleman (2010: 411) akan menjelaskannya: a. Rasa marah adalah merupakan salah satu emosi alamiah yang
muncul ketika saat salah satu motivasi yang mendasar tak terpenuhi karena ada hambatan tertentu.
b. Rasa takut adalah merupakan salah satu emosi yang signifikan dalam kehidupan manusia, rasa takut sifatnya alamiah seseorang akan merasa takut saat dihadapkan pada situasi yang genting. c. Rasa benci lawan dari rasa cinta (emosi cinta). Manusia sangat
mencintai sesuatu yang menyenangkan, serta mendatangkan kenikmatan. Sebaliknya juga manusia membenci sesuatu yang membahayakan dirinya atau yang lainya.
d. Rasa dengki salah satu emosi yang melekat di dalam diri kebanyakan manusia.
e. Rasa cemburu merupakan suatu emosi yang yang mengelisahkan, emosi ini biasanya muncul ketika saat seseorang merasa ada orang lain yang menyaingi dirinya dalam mencintai seseorang. f. Rasa malu merupakan suatu kondisi emosional ketika saat
seseorang merasa takut dan menyesal karena telah melakukan suatu perbuatan tercela atau buruk.
Dari deretan daftar emosi tersebut, tenyata ada bahasa emosi yang bahkan dikenal oleh bangsa-bangsa di dunia, yaitu emosi yang di wujudkan dalam bentuk ekpresi wajah seperti marah, sedih dan senang.
Ali dan Ansori (2011: 163) membagi bentuk-bentu emosi dalam delapan katagori, yaitu amarah, kesidihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu. Lebih lanjut Ali dan Ansori (2011: 163) akan menjelaskan masing-masing bentuk-bentuk emosi.
a. Amarah, di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, tersinggung, bermusuhan, dan kebencian patalogis.
b. Kesedihan, didalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, di tolak, putus asa dan depresi.
c. Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, tidak senang, fobia.
d. Kenikmatan, didalamnya meliputi gembira, bahagia, riangan, riang, puas, senang, terhibur, bangga, kenikmatan, senang sekali dan mania.
e. Cinta, didalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
f. Terkejut, didalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana. g. Jengkel, didalamnya termasuk hina, jijik, mual, benci, tidak suka
h. Malu, didalamnya meliputi rasa bersalah, malu kesal hati, menyesal, hina, aib dan hati hancur lebur.