TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teoritis .1 Teori Agensi .1 Teori Agensi
Hubungan agensi timbul antara satu pihak, disebut prinsipal, yang menyewa pihak lain disebut agen, untuk melaksanakan sejumlah jasa dan prinsipal mendelegasikan wewenang pembuat keputusan pada agen. Para pemegang saham adalah para prinsipal dan chief executive officer (CEO) adalah agennya. Pemegang saham menyewa CEO dan mengharapkan CEO untuk bertindak demi kepentingan pemegang saham. Perbedaan tujuan prinsipal dan agen menurut Supriyono (2000:
185) adalah:
1. Agen dianggap menerima kepuasan tidak hanya dari kompensasi keuangan, namun juga dari kepuasan lain yang diperoleh dari hubungan agensi. Di lain pihak, prinsipal (pemegang saham) dianggap hanya tertarik pada kembalian (return) keuangan yang tumbuh dari investasinya dalam perusahaan. Kepuasan lain yang diinginkan agen dapat berbentuk waktu senggang, kondisi kerja yang lebih baik, menjadi anggota club organisasi yang ekslusif dan fleksibel jam kerja. Bagi prinsipal, waktu senggang agen dianggap berlawanan dengan usaha untuk meningkatkan nilai perusahaan, preferensi agen terhadap waktu senggang merupakan keengganan kerja (work adversion) dan agen yang tidak memberi usaha berarti pengelakan (shirking) tanggung jawab.
2. Prinsipal dan agen mempunyai perbedaan preferensi risiko. Prinsipal netral risiko dan agen segan risiko. Prinsipal perusahaan biasanya terdiri dari banyak pemilik, mereka dapat mengurangi risiko dengan mendiversifikasikan kekayaannya dan menjadi pemilik saham pada berbagai perusahaan. Oleh karena itu, pemilik tertarik dengan nilai yang diharapkan atas investasinya sehingga relatif netral risiko. Di lain pihak, kekayaan utama agen biasanya bertumpu pada kemampuan pribadi yang dimilikinya. Agen sulit mendiversifikasikan kekayaan sehingga mereka segan risiko (risk averse).
Para pemegang saham mungkin tidak dalam posisi untuk memantau aktivitas-aktivitas CEO setiap hari sehingga sulit untuk mengetahui apakah CEO bekerja dengan baik sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Demikian pula persero selaku prinsipal terhadap manajer unit bisnis selaku agen, persero mungkin tidak dalam posisi untuk memantau aktivitas-aktivitas para manajer unit bisnis setiap hari. Situasi ini menimbulkan ketimpangan informasi antara prinsipal dan agen dikenal dengan istilah asimetri informasi.
Asimetri informasi adalah situasi yang terbentuk karena prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kinerja agen sehingga prinsipal tidak pernah dapat menentukan kontribusi usaha-usaha agen terhadap hasil-hasil perusahaan yang sesungguhnya. Asimetri informasi tersebut dapat timbul dalam beberapa bentuk:
1. Tanpa pemantauan, hanya agen yang mengetahui apakah ia bekerja dengan baik demi kepentingan prinsipal
2. Agen mungkin mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan daripada prinsipal
3. Agen dalam melaksanakan tugasnya mungkin diarahkan oleh informais pribadi.
2.1.2 Pengungkapan Manajemen Risiko
Berapa banyak informasi yang harus diungkapkan tidak hanya tergantung pada keahlian pembaca, akan tetapi juga standar yang dibutuhkan. Laporan keuangan bukan satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan, informasi dan gambaran mengenai tata kelola perusahaan juga penting
dalam pengambilan keputusan bagi seorang investor, oleh karena itu perusahaan-perusahaan harus mengungkapkan informasi secara luas dan lengkap.
Pengungkapan menurut Evans yang dikemukakan oleh Suwardjono (2005:578) adalah“ supplying information in the financial statements, including the statements themselves, the notes to the statements, and the supplementary disclosures associated with the statements. It does not extend to public or private statements made by management or information outside the financial statements.”
Tiga konsep pengungkapan yang umumnya diusulkan adalah:
(Hendriksen,1994: 204)
1. Pengungkapan yang cukup (adequate) adalah pengungkapan yang minim untuk membuat laporan tidak menyesatkan.
2. Pengungkapan wajar (fair) adalah tujuan etis adar memberikan perlakuan yang sama bagi semua pembaca potensial.
3. Pengungkapan lengkap (full) adalah penyajian semua informasi yang relevan.
Tipe pengungkapan yang diimplementasikan oleh perusahaan dikategorikan menjadi dua yaitu pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) . Pengungkapan wajib (mandatory disclosure) merupakan pengungkapan yang diharuskan oleh peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah peraturan yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Sedangkan pengungkapan sukarela merupakan pengungkapan yang melebihi dari yang diwajibkan.
Di Indonesia, ketentuan pengungkapan wajib (mandatory disclosure) ditetapkan oleh pembuat kebijakan akuntansi yaitu IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Salah satunya peraturan yang dibuat oleh OJK adalah peraturan No. VIII. G. 7 berdasarkan SK Ketua Bapepam
Nomor Kep-347/BL/2012 pada tanggal 25 Juni 2012 tentang penyajian dan pengungkapan laporan keuangan emiten atau perusahaan publik. Sedangkan IAI membuat perarutan mengenai pengungkapan diatur dalam PSAK No. 60 (revisi 2013). PSAK 60 (2013) Instrumen Keuangan: Pengungkapan menggantikan PSAK 60 (2010) Instrumen Keuangan: Pengungkapan yang telah disesuaikan pada bulan Oktober 2012. PSAK 60 ini merupakan adopsi IFRS 7 Financial Instrument: Disclosure per efektif 1 Januari 2013.
Dalam PSAK 60 (revisi 2013) disebutkan definisi pengungkapan risiko yang terdiri dari:
1. Risiko pasar
Risiko di mana nilai wajar atau arus kas masa depan suatu instrumen keuangan akan berfluktuasi karena perubahan harga pasar. Risiko pasar meliputi tiga jenis, yaitu: risiko mata uang, risiko suku bunga, dan risiko harga lain.
2. Risiko harga lain
Risiko di mana nilai wajar atau arus kas masa depan instrumen keuangan akan berfluktuasi karena perubahan harga pasar.
3. Risiko suku bunga
Risiko di mana nilai wajar atau arus kas masa depan dari suatu instrumen keuangan akan berfluktuasi karena perubahan suku bunga pasar.
4. Risiko mata uang
Risiko di mana nilai wajar atau arus kas masa depan dari suatu instrumen keuangan akan berfluktuasi karena perubahan kurs valuta asing.
5. Risiko kredit
Risiko di mana suatu pihak atas instrumen keuangan akan menyebabkan kerugian keuangan terhadap pihak lain diakibatkan kegagalannya dalam memenuhi suatu kewajiban.
6. Risiko likuiditas
Risiko di mana suatu entitas akan menghadapi kesulitan dalam memenuhi kewajiban terkait dengan liabilitas keuangannya yang diselesaikan dengan penyerahan kas atau aset keuangan lain.
Dalam PSAK 60 (revisi 2013) Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan para pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi jenis dan
cakupan jenis risiko yang timbul dari instrumen keuangan yang mana entitas terekspos pada akhir periode pelaporan. Pengungkapan memfokuskan pada risiko yang timbul dan bagaimana risiko tersebut dikelola. Penyediaan pengungkapan kualitatif dalam konteks pengungkapan kuantitatif memungkinkan pengguna menghubungkan pengungkapan terkait sehingga memahami gambaran keseluruhan sifat dan cakupan risiko.
Peraturan OJK (Bapepam-LK No.X K6) atau KEP-134/BL/2006 tentang kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten atau perusahaan publik.
Dalam peraturan tersebut dijelaskan mengenai manajemen risiko adalah
“penjelasan mengenai risiko-risiko yang dihadapi perusahaan serta upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengelola risiko tersebut, misalnya: risiko yang disebabkan oleh fluktuasi kurs atau suku bunga, persaingan usaha, pasokan bahan baku, ketentuan negara lain atau peraturan internasional, dan kebijakan pemerintah”
2.1.3 Manajemen Risiko
2.1.3.1 Definisi Manajemen Risiko
Risiko didefinisikan sebagai peluang atau kemungkinan dari bahaya, kerugian, cedera, atau konsekuensi yang tidak diharapkan. Kegiatan-kegiatan perusahaan yang mengandung risiko harus segera dikelola dengan mengindentifikasi risiko, mengukur dan memperkirakan konsekuensi serta mengambil tindakan yang tepat dalam mengendalikannya. Proses tersebut adalah rangkaian manajemen risiko. Menurut Idroes (2011:5) “Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi,
kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses”.
Manajemen risiko adalah usaha yang secara rasional ditujukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kerugian dari risiko yang dihadapi. Kasidi (2010 : 4) sedangkan COSO ERM – Integrated Framework (2004:2), mendefinisikan manajemen risiko “a process, effected by an entity’s board of directors, management and other personnel, applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that may affect the entity, and manage risk to be within its risk appetite, to provide reasonable assurance regarding the achievement of entity objectives”.
2.1.3.2 Tujuan dan Manfaat Manajemen Risiko 1. Tujuan Manajemen Risiko
Menurut Salim A. Abbas (2005:201) “tujuan yang hendak dicapai dengan manajemen risiko ialah mengelola perusahaan supaya mencegah perusahaan dari kegagalan, mengurangi pengeluaran, menaikkan keuntungan, menekan biaya produksi, dan sebagainya”