BAB II STRATEGI ACTIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
2. Landasan Yuridis dan Landasan Psikologis
Yang di maksud dengan tjuan yuridis formal di sini adalh dasar hukum yang melandasi di terapkannya active learning.dalam
14Melvin L Sibermain, Active Learning 101 Cara Pembelajaan Ak tif, terj. Raisul Muttaqin, (Bandung: Nusa Media, 2004), hlm. 15.
konteks ini Adalah segala bentuk perundangan dan peraturan serta kebijakan pendidikan yang berlaku di negara kesatuan republik indonesia yang di dalmnya mengatur dan memberikan rambu-rambu tentang pelaksanaan proses pendidikan yang berlandaskan active learning.
Pertama : Secara yuridis termuat dalam Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Beberapa pasal tersebut antara lain :
Pasal 1 Ayat 1 :
揚endidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa negara_.15
Pasal 40 Ayat 2 :
Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban :
a. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenagkan, kreatif, dinamis dan dialogis.
b. Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatakn mutu pendidikan.
c. Memberi keteladanan dan menjaga nam baik lembaga, profesi dan kedudkan sesuai dengan kepercayaan yang di berikan kepadanya.16
Kedua : Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Beberapa pasal menyebutkan antara lain:
Pasal 19 Ayat 1 :
_ Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.”17
Ketiga : Undang-Undang RI No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
15Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Agama Republik Indonesia, Undang-Undang dan Peraturan Pemerntah RI tentang Pendidik ah Tahun 2006. hlm 5.
16Ibid, hlm. 28
17Tim Redaksi Fokus Media UU Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 Tentang Sisdik nas (Bandung : Fokus Media, 2003). hlm 74..
Pasal 1 Ayat 1 :
揋uru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,, melatih, menilai dan meng-evaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.”18
Dari peraturan pemerintah tersebut diketahui bahwa guru mempunyai peran yang sangat penting. Hal ini disebabkan keberhasilan implementasi standar proses pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan guru, sebab guru merupakan orang pertama yang berhubungan dengan pelaksanaan program pendidikan.
Dalam pelaksanaan standar proses pendidikan guru perlu memahami sekurang-kurangnya tiga hal; Pertama, pemahaman dalam perencanaan pogram pendidikan, yaitu menyangkut pemahaman dalam menjabarkan isi kedalam bentuk silabus yang dapat dijadikan dalam pembelajaran. Kedua, pemahaman dalam pengelolaan pembelajaran termasuk dalam desain dan implementasi strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan isi pendidikan. Ketiga, pemahaman tentang evaluasi baik yang berhubungan dengan evaluasi proses maupun evaluasi hasil pembelajaran.19
b. Landasan Psikologis
Sesuai dengan hakikat perkembangan diri siswa bahwa manusia lahir diperlengkapi dengan potensi-potensi yang memungkin-kan untuk berkembang secara kultural (tak sekedar mengulang bentuk tingkah laku serta perolehan budaya generasi pendahulunya).
Aktualisasi potensi kemanusiaan tersebut membutuhkan bantuan lingkungannya dalam bentuk transaksi yang interaktif atau dialogis (jadi tetap memberi peluang siswa untuk membuat pilihan-pilihan atau keputusan untuk dirinya) perkembangan manusia yang mencapai taraf
18Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam, Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidik an, (Jakarta: 2006), hlm 83.
19Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Proses Pendidik an, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm. 11.
dewasa hendaknya ditandai dengan kemandirian yang bertanggung jawab secara etis. Jadi strategi active learning secara psikologis selaras dengan martabat kemanusiaan siswa.20
Menurut Abraham Maslow yang dikutip pendapatnya oleh Nur Hasanah bahwa active learning adalah salah satu aplikasi dari teori konsep tentang manusia. Maslow mengatakan bahwa potensi manusia tidak terbatas, Maslow juga memandang manusia lebih optimis untuk menatap masa depan dan memiliki potensi yang akan terus berkembang. Active learning mencoba membuktikan bahwa semua anak punya potensi untuk berkembang sesuai dengan fase-fasenya.
Dengan active learning potensi siswa dapat terus berkembang dengan dilihat dari tingkat kreatifitasnya dan tentu saja dalam memecahkan masalah. Selain itu active learning adalah metode yang sangat menarik perhatian siswa dan memacu siswa untuk lebih memotivasi dirinya sendiri agar lebih kreatif dan kritis terutama untuk lebih percaya akan potensi yang dimiliki oleh diri sendiri (percaya diri).21
Sebagian siswa bisa belajar dengan sangat baik dengan hanya melihat orang lain melakukannya. Biasanya mereka ini menyukai penyajian informasi yang runtut. Mereka lebih suka menuliskan apa yang dikatakan guru. Selama pelajaran siswa visual biasanya diam dan jarang terganggu oleh kebisingan.22
Siswa visual ini berbeda dengan siswa yang belajarnya dengan cara mendengar atau auditori. Mereka dapat belajar lebih cepat dengan mendengarkan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru. Siswa auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya) serta kecepatan berbicara.
20A. Samana, Sistem Pengajaran, Prosedur Pengembangan Sistem Instruk sional (PPSI) dan Pertimbangan Metodologinya, (Jakarta: PT. Kanisius, 1992), hlm. 97.
21Cut Nur Hasanah, 擝elajar Lebih Menarik dengan Metode Active Learning _, http://genpositif.org/global/index.html.
22Melvin L. Siberman, op.cit. hlm. 21
Biasanya mereka dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.23
Sedangkan siswa kinestetik belajar terutama dengan terlibat langsung dalam kegiatan. Mereka cenderung impulsif, semau-gue, dan kurang sabaran.24 Siswa ini sulit untuk diam berjam-jam karena keinginan mereka beraktivitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Biasanya siswa kinestetik menghafal sesuatu dengan cara berjalan dan melihat.25
Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya berlajarnya siswa dapat berkembang dengan baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Dengan keadaan tersebut diperlukan sebuah metode serta strategi yang cepat yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran terutama materi PAI. Seorang guru harus menyadari betul tipe-tipe belajar siswanya. tentunya setiap tipe tersebut mempunyai kebaikan dan kekurangan masing-masing. Dari situlah peran guru akan sangat dibutuhkan untuk mengarahkan siswanya sesuai dengan kemampuannya.