25. Kegiatan Verifikasi Bantuan Hibah dan Bansos. Adapun jumlah anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan kegiatan ini sebesar Rp
4.3 Langkah Antisipatif dan Strategi Pemecahan Masalah
Dinamika perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya, baik secara lokal, nasional, dan global seperti mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), telah mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Jawa Barat. Sejumlah pengaruh positif dari kondisi ini juga diiringi dengan pengaruh negarif yang berdampak pada peningkatan potensi ancaman, gangguan, tantangan, dan hambatan dalam menciptakan kondusivitas daerah, serta tingginya intensitas gangguan kamtibmas. Potensi tersebut antara lain dalam aspek degradasi semangat kebangsaan dan bela negara, peningkatan konflik sosial, dan maraknya faham-faham dan gerakan yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, seperti gerakan GAFATAR, LGBT, serta kelompok-kelompok radikal.
Pada akhir tahun 2015, kembali merebak isu Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR). GAFATAR merupakan Organisasi Masyarakatan yang telah dinyatakan menyimpang dan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI); dan secara nasional telah menyatakan membubarkan diri pada tahun 2015 yang lalu. Namun, secara diam-diam kelompok ini telah menyebarkan ajarannya di sejumlah daerah termasuk di Jawa Barat. Kelompok ini secara masif telah berhasil mempengaruhi sejumlah warga masyarakat dan berhasil mengajak mereka untuk meninggalkan kampung halamannya untuk eksodus serta membentuk suatu komunitas yang eksklusif di suatu daerah di Kalimantan Barat.
GAFATAR menyatakan dirinya sebagai Organisasi Masyarakat yang kegiatannya berkedok kegiatan sosial, tetapi dalam kenyataannya telah mengajarkan dan menjalankan ajaran agama yang berindikasi menyimpang dari ajaran pokoknya, yaitu agama Islam. GAFATAR telah terbukti melakukan pencampuradukan atau sinkretisme tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi.
Dalam menghadapi kondisi ini, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat dituntut untuk selalu meningkatkan koordinasi dan kerja sama dengan stakeholders-nya dengan tetap mengacu kepada Tugas Pokok dan Fungsi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat serta
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mampu mencegah atau mereduksi potensi ancaman tersebut, antara lain seperti :
1) Pendidikan wawasan kebangsaan dan bela negara, dengan sasaran kelompok masyarakat yang berpotensi menyebarluaskan pendidikan tersebut, sehingga bisa menimbulkan efek bola salju yang akan menjangkau sasaran yang lebih luas. Kelompok sasaran seperi ini antara lain adalah ibu-ibu rumah tangga, kelompok PKK, Karang Taruna, dan guru-guru.
2) Pemberdayaan local whisdom seperti Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Budaya, dan Tokoh Agama serta komponen masyarakat lainnya dalam upaya mencegah atau mengurangi terjadinya konflik sosial.
3) Meningkatkan pendidikan wawasan kebangsaan dan nasionalisme kepada kelompok-kelompok yang dinilai memiliki berbedaan faham di masyarakat dan kelompok-kelompok radikal sebagai salah satu bentuk upaya deradikalisasi.
Selain itu, perkembangan politik dalam negeri selama tahun 2015 sampai dengan awal tahun 2016 memunculkan sejumlah perubahan dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan/ketatanegaraan khususnya yang berkaitan dengan Tupoksi Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Barat. Lahirnya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah menempatkan urusan pemerintahan yang selama ini menjadi tugas dan tanggung jawab bidang Kesbangpol menjadi urusan Pemerintahan Umum yang kewenangannya berada pada Presiden dan akan dilaksanakan oleh gubernur dan bupati/walikota dengan dibantu oleh instansi vertikal. Jajaran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat sebagai OPD yang secara langsung berkaitan dengan perubahan ini dituntut untuk menyusun langkah-langkah antisipasi dan persiapan yang dinilai perlu untuk menghadapi perubahan tersebut. Koordinasi dan komunikasi, baik secara vertikal dengan Ditjen Kesbangpol Kemendagri dan Kantor/Badan Kesbangpol Kabupaten/Kota, maupun secara horizontal dengan Setda Provinsi Jawa Barat dan Biro Organisasi Setda Provinsi Jawa Barat perlu dilakukan secara intensif.
Terbitnya Perpu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota yang kemudian telah disetujui oleh DPR pada awal
tahun 2015 telah mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat melalui Pilkada Langsung. Berbeda dengan Pilkada sebelumnya, dalam Perpu tersebut dinyatakan bahwa Pilkada Langsung akan dilakukan secara serentak dengan beberapa perbedaan dalam tahapan pelaksanaannya. Pada tahun 2015, terdapat 8 Kabupaten/Kota di Jawa Barat telah menyelenggarakan Pilkada serentak tersebut. Pilkada serentak berikutnya akan kembali diselenggarakan pada bulan Februari 2017.
Oleh karena itu, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat perlu memperhatikan dan memahami tahapan Pilkada serentak tersebut dan perlu melakukan langkah-langkah persiapan sedini mungkin untuk menunjang kelancaran penyelenggaraan Pilkada serentak tersebut. Selain itu, efektivitas kegiatan pendidikan politik masyarakat perlu ditingkatkan, sehingga partisipasi masyarakat dalam Pilkada meningkat. Hal ini penting mengingat keberhasilan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah dan tingkat partisipasi masyarakat merupakan salah satu barometer untuk mengukur kualitas demokrasi. Pada pelaksanaan pemilukada tahun 2015 secara umum telah berjalan dengan baik dan lancar dalam pelaksanaanya. Hal ini tentunya atas partisipasi masyarakat Jawa Barat yang telah mendukung pelaksanaannya dengan baik.
Perkembangan lain adalah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menerima beberapa tuntutan yudicial review terhadap Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Keputusan tersebut akan mempengaruhi pola hubungan Pemerintah dengan Ormas, sehingga akan berpengaruh kepada tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah khususnya Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Prov. Jawa Barat yang berkaitan dengan Ormas. Oleh karena itu, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat diharapkan mempelajari dan memahami dengan baik keputusan MK tersebut sehingga kinerja pelayanan kepada Ormas dapat tetap dilakukan sebagaimana dinyatakan dalam visi dan misi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat. Selain itu, pola fasilitasi/pembinaan Ormas yang dilakukan selama ini perlu diarahkan pada pengembangan Ormas-ormas unggulan yang dapat menjadi mitra kerja pemerintah yang dapat dipercaya. Hal ini untuk mencegah adanya perkembangan isu dan
yang lainya. Peran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Prov. Jawa Barat sangat penting dan strategis dalam mengatasi persoalan–persoalan tersebut.
Dalam Perencanaan Strategis (Renstra) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018 telah ditetapkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dalam periode tahun 2013-2018. Target capaian indikator keberhasilan setiap sasaran telah didesian untuk meningkat setiap tahunnya. Memperhatikan target sasaran tersebut dan mempertimbangkan dinamika dan perkembangan yang berkaitan dengan Tugas Pokok dan Fungsi Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Barat, maka perlu direncanakan dan dirumuskan kegiatan-kegiatan yang inovatif dan efektif yang mengarah kepada pencapaian target dan sasaran. Selain itu, kegiatan antarbidang seharusnya bersinergi dan saling mendukung, sehingga pencapaian target dan sasaran akan lebih optimal. Pada aspek pelaksanaan, setiap kegiatan harus dilaksanakan secara efektif, tepat sasaran, dan tepat waktu sehingga tujuan dan sasaran kegiatan dapat dicapai dan penyerapan anggaran dapat ditingkatkan.
Demikian LKIP Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat than 2015 ini disusun, untuk menjadi bahan penilaian dan masukan dalam pelaksanaan tugas di masa mendatang.
Bandung, Maret 2016
KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK PROVINSI JAWA BARAT
Drs. AGUS HANAFI, BBA Pembina Utama Muda NIP. 195912121981021001