BAB II LANDASAN TEORI
4. Langkah- langkah Pemberdayaan
Pertama, Enabling : yaitu menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang. Asumsinya adalah pemahaman bahwa setiap orang, setiap masyarakat mempunyai potensi yang dapat dikembangkan artinya tidak ada orang atau masyarakat tanpa daya. Pemberdayaan adalah upaya untuk membanguna daya dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki masyarakat serta upaya mengembangkannya.
17Rajuminpora, Pemberdayaan Anak dari Keluarga Miskin, (Universitas Indonesia JurusanIlmu Kesejahteraan Sosial 2003), 40
Kedua, Empowering : yaitu memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat melalui langkah-langkah nyata yang menyangkut penyediaan berbagai input dan pembukaan dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin berdaya. Upaya yang paling pokok dalam empowerment ini adalah meningkatkan taraf pendidikan dan derajat kesehatan serta akses ke dalam sumber-sumber kemajuan ekonomi (modal, teknologi, informasi, lapangan keja, pasar) termasuk pembangunan sarana dan prasarana dasar seperti (irigasi, jalan, listrik, sekolah, layanan kesehatan) yang dapat dijangkau lapisan masyarakat paling bawah yang keberdayannya sangat kurang. Oleh karena itu diperlukan program khusus, karena program- program umum yang berfungsi untuk semua tidak selalu menyentuh kepentingan lapisan masyarakat seperti ini.
Ketiga, Protecting : yaitu melindungi dan membela kepentingan masyarakat lemah. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan masyarakatnya merupakan unsur penting,
sehingga pemberdayaan masyarakat sangat erat hubungannya dengan
pementapan, pembudayaan dan pengalaman demokrasi (Friedmann,-1994). Pendekatan pemberdayaan pada intinya memberikan tekanan pada otonomi pengambilan keputusan dari kelompok masyarakat yang berlandaskan pada sumberdaya pribadi, langsung, demokratis dan pembelajaran sosial. Dalam hal ini Friedmann menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya sebatas bidang ekonomi saja tetapi juga secara politis, sehingga pada akhirnya masyarakat akan memiliki posisi tawar (bargaining position) baik secara nasional maupun internasional. Sebagai titik fokusnya adalah aspek lokalitas,
24
karenacivil societyakan merasa lebih siap diberdayakan lewat isu-isu lokal.19 Jadi Kemampuan Pelaku Pemberdayaan adalah kemampuan yang dimiliki oleh pelaku pemberdayaan yang diharapkan dapat memberdayakan masyarakat. Kemampuan pelaku pemberdayaan diukur melalui tiga aspek perilaku yaitu: (a) Pengetahuan/kognitif, (b) Sikap/afektif,dan (c) Keterampilan/psikomotorik. Keberdayaan masyarakat adalah dimilikinya daya, kekuatan atau kemampuan oleh masyarakat untuk mengidentifikasi potensi dan masalah serta dapat menentukan alternatif pemecahannya secara mandiri. Keberdayaan masyarakat diukur melalui tiga aspek (a) kemampuan dalam pengambilan keputusan, (b) kemandirian dan (c) kemampuan memanfaatkan usaha untuk masa depan.20
. Yatim
1. Anak Yatim
Pengertian anak yatim mempunyai versi pemahaman dalam mendefinisikan kata yatim. Ada yang memahami anak yatim itu bukan hanya anak ayahnya yang sudah meninggal dunia, akan tetapi lebih dari itu, ia adalah anak yang belum dapat sebuah kesejahteraan hidup dan pendidikan yang layak, kendati orang tuanya masih hidup.21 Dalam kamus bahasa Indonesia, kata yatim mempunyai pengertian yaitu anak yang tidak beribu dan ayah.22
19Munawar Noor, Pemberdayaan Masyarakat, Jurnal Ilmiah CIVIS, Vol I, Juli 2011, 87.
20Kesi Widjajanti, Model Pemberdayaan Masyarakat, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 12 No. 1, Juni 2015. 18.
21Zubaidi, Wacana Pemberdayaan Alternative, Rakam Perspektif Pengembangan dan Pwwemberdayaan Masyarakat htt),225.
Sedangkan piatu adalah mempunyai pengertian tidak beribu, yatim piatu biasa dianalogikan tidak mempunyai ayah atau ibu sebagai kedua orang tuanya. Dalam hal ini anak yatim/ piatu harus mendapatkan perhatian dan perlindungan yang berstatus belum baligh. Dalam hal ini pendididkan terhadap anak yatim/ piatu guna mencerdaskan masa yang akan datang.
Sesuai dengan firman Allah SWT :
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas /pandai memelihara harta, maka serahkanlah pada mereka harta- hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelajakannya sebelum mereka dewasa. Barang siapa (diantara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta yang menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkanharta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan kasi- saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka, dan cukuplah Allah sebagai pengawas(atas persaksian itu).
Penulis memahami bahwa pengertian anak yatim/piatu bukan hanya tidak punya ayah/ ibu akan tetapi dia mempunyai keterbatasan seperti lemah fisik, ekonomi, pengetahuan yang harus di bantu oleh setiap orang- orang yng mau di cintai Allah SWT.
26 Allah SWT berfirman : ) 1 ( ) 2 ( ) 3 ( ) 4 ) ( 5 ) ( 6 ) ( 7 (
Artinya Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(QS. Al Maa uun: 1-7).
Surat Al Maa uun adalah di antara surat Makkiyah (yang turun sebelum hijrah). Surat ini berisi penjelasan mengenai orang-orang yang mendapat ancaman karena mendustakan hari pembalasan. Sifat tidak menyayangi anak yatim dan orang miskin, juga lalai dari shalat dan Riya di dalamnya. Mereka pun enggan menolong orang lain dengan harta atau pun suatu manfaat.23
Dalam konteks keindonesiaan, nama yatim diperuntukan anak yang bapaknya meninggal dunia. Sedangkan bila yang meninggalnya adalah bapaknya dan ibunya sekaligus, maka anak tersebut anak yatim piatu. Ada sebuah fenomena yang menarik dari yatim dan piatu. Di Indonesia ada sebuah skala prioritas dalam pemberian santunanan terhadap anak yatim; yatim-piatu lebih besar daripada santunan terhadap anak yang di sebut yatim saja. Dalam tinjauan Ushul fiqih, skala prioritas semacam ini biasa saja dimasukan dalam katagorifatwa al-khithab/ mafhum aulawy (pemahaman secara eksplisit dengan memaknai skala prioritas).
23Muhammad Abduh, Rumaysho,Tidak menyayangi Anak Yatim dan Orang Miskin. Di akses pada 10 april 2015, darihttp://rumaysho.com/tafsir-al-quran/tidak-menyayangi-yatim-dan-orang-miskin-2706.
Artinya secara filosofis bisa digambarkan, bahwa anak yang ditinggal mati kedua orang tua mesti lebih diprioritaskan dari pada anak yang ditinggal mati bapaknya saja. Padahal sejatinya dalam fikih tidak terdapat skala prioritas seperti yang terjadi dalam konteks keindonesiaan.24
Memang dalam konteks bahasa Arab juga mempunyai klarifikasi yang jelas tentang anak yatim. Dalam dunia Arab, disamping anak yatim sebagai sebutan dikarenakan bapaknya meninggal, juga ada nama lathim bagi anak yang kedua orang tuanya meninggal, sertaujmibagi anak yang ibunya telah meninggal. Sejauh ini klarifikasi penamaan tersebut tidak memiliki pengaruh apapun terhadap penetapan hUkum fikih.25
UUD 45 pasal 34 bahwa : Fakir miskin dan anak- anak terlantar dipelihara oleh negara 26. Yayasan Yatim Mandiri mencatat jumlah anak yatim di Indonesia saat ini mencapai 3,2 juta jiwa. Jumlah terbanyak ada di NTT dan Papua."Secara rinci, anak yatim di Indonesia saat ini berjumlah 3.176.642 anak dengan 157.621 anak di antaranya dari Jatim," kata Pembina 'Yatim Mandiri' H Nur Hidayat di Surabaya, Senin (1/4). Data yang dihimpun Yatim Mandiri hingga 2012 itu mencatat anak yatim terbanyak di Indonesia ada di NTT dengan jumlah mencapai 492.519 anak, kemudian disusul Papua yang jumlahnya mencapai 399.462 anak. Mereka ditampung pada 8.000-an panti asuhan,27
24AnakYatim dan Kajian Fikih Realitas Sosial (Jawa Timur : Pustaka SODIGIRI 1425 H), 13.
25AnakYatim dan Kajian Fikih Realitas Sosial, 14.
26UUD 1945
27Karta Raharja, Republik Online,Anak Yatim di Indonesia capai3,2 juta.
28
Adapun permasalahan yang dihadapi anak yatim bisa dilihat dalam dua pandangan, yaitu : pertama : Masalah umum yang sama dihadapi setiap anak yaitu pendidikan Bagi anak-anak yang mempunyai orang tua sudah pasti sedikit banyaknya akan memperoleh pengalaman dan pendidikan dari lingkungan kelurganya. Lain halnya dengan anak yatim yang terasa terkucilkan dan akan menimbulkan semangat untuk menentukan masa depannya melaui jalur pendidikan, karena mereka merasa tidak adanya dukungan atau sokongan untuk menghadapi hidup lebih baik, yang banyak dihadapi oleh para anak- anak yang di tinggal orang tuanya/ yatim. Kedua :Yaitu masalah yang dihadapinya rasa kasih sayang dan masalah ekonomi. Pada masalah kasih sayang sangat berharga bagi mereka untuk mempunyai semangat hidup. Hal ini jarang sekali orang memperhatikan kasih sayang kepada anak yaim secara tulus.
. 2. Dhuafa
Perkataan dhuafadalam kosa kata al- Quran merupakan bentuk jama dari perkataandha if. Kata ini berasal dari katadha fan, yadh ufu,dhu fanyang secara umum mengandung dua pengertian lemah atau berlipat ganda. Tentu saja dalam pembahasan dhuafa ini secara literal yaitu orang- orang yang lemah. Menurut al-Ashfahani perkataan dhuafa merupakan lawanan dari quwwah yang berarti kuat. Kalau menurut imam Khalil, pakar ilmu nahwu istilah dhu fu biasanya menunjukan lemah fisik, sedangkan dhafu biasanya menunjukan lemah akal atau pendapat. Dengan demikin dhaif dalam bentuk tunggal dan dhufa dalam bentuk
jamak, memiliki pengertian yang luas, memiliki orang yang berkemampuan lemah fisik, pengetahuan, keyakinan, kemauan, dan juga lemah ekonomi.28
Dari segi kemampuan fisik, baik yang belum cukup umur atau lanjut usia atau karna faktor kesehatan, maka yang dimaksud dengan dhuafa adalah anak kecil, orang lanjut usia dan orang yang menyandang cacat fisik, penyakit bawaan sejak lahir atau cacat setelah dewasa. Hal ini sebagai mana al- Quran yang berikut ini:
Tidak berdosa (karna tidak pergi berperang) atas adhuafa, orang yang lemah, orang yang sakit, dan orang yang tidk memperoleh apa yang akan mereka infakan, apabila mereka berlaku ikhlaskepada Allah dan Rasul-Nya (Qs.at-Taubah 9: 91).
Dan Allah-lah yang mencipakanmu dalam keadaan lemah kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah itu lemah (kembali) beruban (Qs. Ar-Rum30: 91).
Sementara itudhuafadari segi pengetahuan adalah mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang terbatas karna faktor bawaan sejak lahir atau keterbatasan kesempatan untuk mengembangkan diri dengan mengikuti pendididkan, baik
30
pendidikan formal nonformal atau pendidikan masyarakan (community development).29
Sementara itu dhuafa dari segi keyakinan dan kemauan adalah orang orang yang yang tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengubah nasib, meningkatkan kesejahteraan, dan merancang masa depan anak-anak dan keturunan mereka agar lebih baik dari pada banding nasib mereka sendiri dengan memotong mata rantai kemiskinan. Pendidikan dalam hal ini merupakan satu-satunya yang memotong matarantai kemiskinan sehingga anak mereka mendapatkan mobilitas vertikal dan peningkatan mobilitas horizontal. Ada sebuah iklan dimasyarakat yang berbunnyi.
Bapaknya tukang Koran, anaknya jadi wartawan , yang merupakan mobilitas vertikal, yang merupakan peningkatan struktur sosial pada proesi yang serumpun. Bisa juga orang yang menimpa orang bapaknya jadi kopral dan anaknya jadi jendral .
Sementara itu, berangkat ketidak percayaan diri untuk mengubah nasib, maka pada waktu yang sama orang- orang dhuafa adalah mereka yang sangat lemah memingkatakan kesajahteraan keluarga mereka. Karna faktornya ada ada sebuah belenggu oleh keadaan, sehingga menyerah begitu saja pada keadaan dan keputusan yang berat, sebagaimana firman Allah SWT :
Dan hendaklah takut (pada Allah)orang- orang yang sekiramya mereka (wafat) meninggalkan keturunan yang lemah di belakang merekayang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa pada Allah, hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (Qs. An- Nisa 4 : 9).
Dalam menjelaskan ayat di atas ar-Raghib al- Ashfahani dalam kitab
Mufradat Alfazh al-Quran menyatakan bahwa yang di maksud dengan istilah
dhiafan pada surah an- Nisa tersebut memiliki beberapa pengertian. Dhaif fi al-jism, yakni lemah secara fisik. Maksudnya, bahwa orang yang beriman tidak boleh membiarkan anak- anak mereka memiliki fisik, tubuh dan badan yang lemah. Orang tua mereka harus memperhatikan mereka akan kualitas kesehatan anak- anak mereka dengan memberikan makanan dan minuman yang bergizi. Bagi orang yang beriman, dengan memenuhi makanan dan minuman yang seimbang atau bergizi yang sebagai mana yang dirumuskan empat sehat lima sempurna, akan tetapi harus memenuhi syarrat halalan thayiban, yakni halal secara fikih dan kualitas bagi kesehatan.30
Secara garis besar faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan dibagi menjadi 3 macam : Pertama : Faktor internal manusia, faktor yang muncul dari diri manusia itu sendiri seperti malas, kurang disiplin, lemah dan lain sebagainya. Kedua : Faktor non individu yaitu kemiskinan yang terjadi berasal dari individuseperti penyelenggaraan pemerintahyang korup dan sejenisnya atau
32
system ekonomi otoriter yang menguntungkan pemilik modal saja. Ketiga : Faktor visi teologi, yaitu sebuah faktor yang terjadi di masyarakat yang beragama yang terjadinya kecendrungan umat beraga memperlakukan kemiskinan sebagai suatan takdir dari Tuhan.31
Untuk meningkatkan daya tarik hidup perlu adanya sebuah pendididkan yang berbasis islam yang mempunyai tujuan dalam keluarga/ panti asuhan untuk menjadi sebuah pandangan hidup melandasi seluruh aktifitas pendidikan. Dasar menyangkut masalah ideal yang fundamental, oleh karna perlukan landasan yang kokoh yang tidak mudah terubah, serta komperhensif, sehingga pendidkan tidak terombang-ambing oleh kepentingan dan ketentuan sesaat yang bersifat teknis dan pragmatis, menurut Achmadi untuk menentukan dasar pendidikan diperlukan jasa filsafat agar diperolehan nilai kebenaran yang meyakinkan, di samping diperlukan teologi seorang muslim.32
Oleh karerna pandangan hidup manusia adalah al- Quran dan Hadits, maka dasar pendidikan dasar al-Quran dan Hadits di dalam terdapat nilai inti dan fundamental yaitu tauhid yang dijadikan dasar penting dan utama dalam pendidikan islam. Didalanya juga terdapat kesatuan ummat dan rahmatan lil
alamin.Menuju masyarakat yang berdaya sebagai penerus bangsa.33
31Syahrini Harahap, Islam: Konsep dan Implementasi Pemberdayaan (Yogyakarta, PT Tiara Wacana. 1999), 86.
32Achamadi, Ideologi Pendididkan Islam Paradigma Humanisme Teosntri, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005), 82.
33Ulfatmi, Keluarga Sakinan Dalam Perspektif Islam (Studi kasus pasangan berhasil mempertahankan keutuhan perkawinan Kota Padang) (Jakarta : Kementrian Agama RI, 2011), 38.
. ¡¢£¤¥¦§ ¨ ©¢£ 3. Panti Asuhan
Panti menurut epistimologi berarti rumah, tempat (kediaman), sedangkan asuhan berarti bimbingan atau didikan, jadi panti asuhan tempat/ rumah untuk membimbing. Sedangkan panti asuhan menurutut terminalogi adalah rumah tempat pengasuh , membimbing merawat anak yatim, piatu dan sebagainya.34
Secara konseptual dapat dikatakan bahwa panti asuhan adalah suatu lembaga yang memberikan pelayanan kepada anak- anak terlantar/ yatim dan
dhuafa,memberikan pelayanan pengganti perwakilan anak-anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental, social pada anak asuh sehingga anak asuh mendapat perhatiann dan mendapatkan kesempatan yang luas dan memadai bagi perkembangan kepribadian sesuai yang di harapkan cita- cita bangsa sebagai insan yang aktif dalam pembangunan sosial.35
Kamus besar bahasa Indonesia dalam mengartikan anak asuh adalah
panti tempat kediaman asuh yang berarti menjaga, merawat dan mendididk anak kecil, sedangkan asuhan berarti didikan.36 Dan menurut kajian ushul fikih
tentang yayasan yatim/ panti asuhan secara etimologi, panti berarti suatu nama dari sebuag organisasi, sedangkan ditinjau dari realita yang berlaku di Indonesia panti yatim adalah sebuah organisasi yang mewadahi dan menangani anak-anak 34Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Puataka, 1996), Cet-ke 7, 727.
35Depsos RI.Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penyantunan dan Pengentasan Anak Terlantar Melalui Panti Asuhan, (Jakarta: Binkesos , 1989), 3.
36Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1998), Cet. ke-1, 54.
34
yatim. Melihat definisi ini, maka panti bukanlah sebagai sebuah bangunan yang banyak disalah artikan oleh kebanyakan orang. Akan tetapi sebuah organisasi yang dimiliki oleh siapa saja. Sementara bangunannya biasa jadi milik pemerintah, masyarakat perorangan atau bukan milik siapa- siapa/ wakaf. Ditinjau dari kacamatafikihkeberadaan panti dan yayasan berstatus sebagaijihah ammah37
yang sama dengan status masjid atau pondok pesantren karna itu, penguatan hukum, penanganan, pengelolaan dan segala hal yang terkait juga sama harus ada seorang atau kelompok yang menangani panti tersebut yang biasanya diistilahkan dengannadhir38atau wali.39
- Hak Milik Panti Yatim/ Asuhan dan Klasifikasinya
Telah dikemukakan diatas, bahwa panti asuhan adalah sebuah organisasi sebagai jihah ammah . Sedangkang jihah ammah juga bias memiliki kekayaan sebagai mana seorangan. Adapun cara panti asuhan memiliki kekayaan bias dengan bermacam- macam. Klasifikasinya :
a. Pendapatan yang dihasilkan dari harta yang di miliki panti itu sendiri. b. Harta yang dihasilkan oleh para donator,bai atas nama shadaqah,
hibah, hadiah dan lain sebagainya, yang memang diberikan atas nama panti tersebut / bukan atas nama yatim yang ditempatinya.
c. Penghasilan dari barang yang diwakafkan untuk panti
37Jihah Amahah adalah sesuatu yang berstatus umumdan tidak tertentu terhadap seorang, seperti masjid, madrasah, ponpes dll.
38
Nadhiradalah orang yang bertugas mengurusimarahdanijarah. Menjaga barang wakafan dan merawatnta, memberikan pada orang yang berhak menerima.Nadhir ada dua, adanadhir aamdan ada nadhir seperti imam,hakim, nadhir khashyaitu orang yang ditunjuk jadinadhir.
d. Hasil dari barang mailikpanti yang disewakan
Dari beraneka ragam harta pemasukan panti dan maksud pemberian dari para donator, maka perlu juga ada pemilihan status dari beragamnya harta tersebut sebagai mana berikut40:
a. Ada harta untuk imarah b. Ada harta untuk mashalih
c. Ada juga untuk dimutlakan / tidak ada ketentuan yang mengikat, baik untk
imarah41danmushalih42
UUD 1945 ayat 1- 3 mengatur 1- Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. 2- Negara mengembangkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memperdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuaidengan martabat kemanusiaan. 3- Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasiltas pelayanan umum yang layak43
Penelitian yang dilakukan oleh Kementrian Sosial pada tahun 2006 dan 2007 bekerjasama dengan UNICEF menunjukan perlunya solusi yang tepat dalam kerangka pola pengasuhan dengan system monitoring yang sistematis untuk
40AnakYatim dan Kajian Fikih Realitas Sosial, 32- 34.
41Imarahadalah harta yang dapat dari sumbangan donator dengan tujuan untuk pembangunan fisik panti asuhan atau hal- hal yang terkait dengan pembangunan, seprti untuk merenovasi, rehabilitas, perlengkapan inventaris/ perlengkapan untuk kebutuhan panti asuhan. Konsekuensinya harta iamarah tidak boleh digunakan pada suatu hal selain dengan pembangunan fisik.
42Mushalih adalah harta yang disumbangkan oleh donator atas nama mushalih/ bagi kemaslahatan panti atau anak yatim yang menempatinya. Berarti mushalih memiliki cakupan lebih luah dari iamarah bias digunakan untuk pembangunan fisik, biaya pendidikan, sandang pangan bagi para anak yatim.
36
melindungi kepentingan terbaik bagi anak. Pentingnya perubahan kebijakan dalam penyelenggara pelayanan pengasuhan alternatif anak menjadi dasar perlindungan anak. Telah diakui bersama bahwa keluarga adalah lingkungan terbaik bagi anak untuk tumbuh .44
Pendekatan alternatif yang perlu dikembangkan untuk melindungi anak terlantar adalah dengan tidak serta merta dimasukan mereka ke panti asuhan, tetapi mengembalikan mereka kepada orang tua/ jika masi ada atau sanak saudara yang terdekat. Disini peran pemerintah dan pekerja sosial dibutuhkan. Karna kebanyakan dari anak terlantar berasal dari keluarga miskin. Maka yang dibutuhkan adalah program penguatan keluarga untuk membantu meningkatkan perekonomian keluarga, salah satunya dengan pemberian modal, program penguatan keluarga yang dilakukan melalui pendamingan dan pengawasan yang ketat dan terukur oleh pekerja sosial. Namun dibutuhkan penyadaran kepada berbagai kalangan untuk megedepankan pendekatan yang berbasis keluarga dari pada sekedar meningkatkan jumlah panti asuhan.45
44Muhammad Teja, Info Singkat Kesejahteraan Sosial, (Perlindungan Terhadap Anak Terlantar dipanti Asuhan), Vol. IV No.05/I/P3D1/Maret/2014. 10.
45Muhammad Teja, Info Singkat Kesejahteraan Sosial, (Perlindungan Terhadap Anak Terlantar dipanti Asuhan), Vol. IV No.05/I/P3D1/Maret/2014. 11
ª« ª¬¬ ¬
®¯° «±²® ±® ³¬ ¬ « ±
A. Profil Yayasan Pembangunan Masyarakat Sejahtera (YPMS)
Berawal dari kegiatan pengajian jamaah keliling, yang diasuh oleh K.H. Jauhari Zain. Mempunyai niat wakaf yang berupa rumah serta bangunan sebidang tanah dengan luas 2200 M dari seorang jamaah pengajian. Ketika di kemudian hari niat untuk membangunkan sebuah yayasan muncul pada seorang ulama besar yang bernama K.H. Jauhari Zain dan dibantu oleh jamaah untuk mendirikan sebuah tempat untuk penampungan anak-anak asuh yang awal dilaksanakanya tahun 1989 M sampai pada saat ini sudah hampir 241 anak asuh.
Yayasan Pembangunan Masyarakat Sejahtera adalah Yayasan yang dilegalitaskan oleh pemerintah dengan demikian bagi anak asuh/ keluarga tak usah cemas akan kenyamanan dan ketenangan dalam kehidupan di panti sosial tersebut.
Sesungguhnya bila kita dilahirkan keadaan miskin maka syukurilah telah hadir di dunia, akan tetapi bila telah dewasa dalam keadan miskin maka ini sebuah kepedihan yang membuat diri kefakiran yang menuju kefakiran.
Yayasan ini untuk memperdayakan untuk anak didik yang belum mampu berdaya agar jangan sampai di hari tuanya menjadi orang menyesal (dunia dan akhirat) berikut ini adalah untaian data yang telah didapat oleh penulis dari