• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA

B. Langkah-Langkah Penelitian dan Pengembangan

Plomp (1997) memberikan suatu model dalam mendesain sebuah produk pendidikan melalui 5 fase108, yaitu : fase investigasi awal, fase desain, fase realisasi/konstruksi, fase tes atau validasi, evaluasi dan revisi, dan fase implementasi

108 H. Hobri, Metodologi Penelitian Pengembangan, (Jember; Pena Sabilillah; 2010) , 17.

61

1. Investigasi awal.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap investigasi awal adalah menghimpun informasi permasalahan pembelajaran

al-dan merumuskan rasional pemikiran pentingnya mengembangkan model, mengidentifikasi dan mengkaji teori-teori yang melandasi pengembangan model antara lain : teori-teori yang melandasi model pembelajaran yang relevan dengan pembelajaran ulum al- bidang , teori tentang model pembelajaran dan pengembangannya.

Pada tahapan ini juga dilakukan analisis terhadap kondisi peserta pembelajaran yang meliputi: kemampuan, dan kemauan belajar, analisis kurikulum yaitu, analisis materi (mengidentifikasi, merinci, dan menyusun konsep secara sistematis untuk pengorganisasian materi pelajaran), dan merumuskan kompetensi dasar dan kriteria kinerja.

Sebagaimana yang peneliti ulas dalam pendahuluan, bahwa ilmu sebagai salah satu cabang ilmu

al-dipelajari secara spesifik di pondok-pondok pesantren maupun di perguruan tinggi Islam. Padahal ilmu Qiraat merupakan sumber yang utama dari semua cabang ilmu Pendidikan Agama Islam. Kendala yang paling umum dalam mempelajari ilmu adalah : minimnya ketersediaan kitab dan buku , minimnya pengajar yang kompeten, dan kurangnya penguasaan tehadap gramatika bahasa arab teutama ilmu shorof. Membaca keadaan ini, peneliti berusaha menuangkan pengetahuan dan pengalaman belajar

62

maupun mengajar ke dalam bahan ajar berbahasa Indonesia.

2. Tahap Perancangan (Desain)

Kegiatan yang dilakukan dalam perancangan model ini adalah memilih format buku model, diperoleh gambaran buku model yang berisikan; rasional model, memahami teori-teori pendukung yang dapat dimasukkan dalam komponen-komponen model, menetapkan garis-garis besar deskripsi dan komponen-komponen model, menguraikan petunjuk pelaksanaan, serta contoh penerapan model.

Kegiatan yang dilakukan dalam mendesain komponen-komponen model meliputi:

a. Mendesain sintaks pembelajaran.

Sintaks adalah pola keseluruhan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini strategi yang dipilih adalah strategi pembelajaran ekspositori109.

Table 3.1

Sintaks pembelajaran ekspositori

Fase Aktivitas guru Aktivitas peserta didik

1 2 3

1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik

Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakangpelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan peserta didik untuk belajar

Peserta didik mendengarkan dan melakukan persiapan

109 Strategi ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok peserta didik. Ali Mudlofir & Evi Fatimatur Rusydiyah. Desain Pembelajaran Inovatif, (Depok: Raja Grafindo Persada: 2016). 63

63

1 2 3

2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan

Guru

mendemonstrasikan keterampilan dengan benar,atau

menyajikan informasi tahap demi tahap

Peserta didik mendengarkan

3. Membimbing pelatihan

Guru merencanakan dan memberikan bimbingan pelatihan awal

Peserta didik mengajukan pertanyaan 4. Mengecek

pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek apakah peserta didik telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik

Peserta didik menjawab

pertanyaan-pertanyaan dari guru

5. Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan

Guru mempersiapkan kesempatan

melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dari kehidupan sehari-hari

Peserta didik menerima tugas dari guru untuk pertemuan selanjutnya

b. Mendesain organisasi pembelajaran. Organisasi dalam pembelajaran adalah bagaimana mengatur dan mensistematis bahan pengajaran dan menyampaikannya kepada peserta pembelajaran110. Mendesain organisasi pembelajaran sangat diperlukan untuk membantu tercapainya tujuan pembelajaran.

c. Mendesain prinsip reaksi, yaitu memberikan gambaran kepada guru bagaimana memperlakukan santri sebagai subjek belajar yang bmemiliki persepsi, imajinasi, perhatian, dan daya nalar serta

110 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses

64

bagaimana memandang dan merespon setiap perilaku yang ditunjukkan oleh santri selama pembelajaran

d. Mendesain sistem pendukung, seperti syarat/kondisi yang diperlukan agar model pembelajaran yang sedang didesain dapat terimplementasi seperti setting kelas, sistem instruksional, perangkat pembelajaran, fasilitas belajar, dan media yang diperlukan selama pembelajran.

e. Mendesain dampak dari pembelajaran. Dampak di sini ada dua macam yaitu dampak instruksional dan dampak pengiring. Dampak instruksional adalah, dampak yang merupakan akibat langsung dari pembelajaran, sedangkan dampak pengiring adalah akibat tidak langsung dari pembelajaran.

Dalam fase ini peneliti mengumpulkan beberapa kitab dan buku baik yang ditebitkan dari luar negeri maupun dalam negeri sebagai acuan peneliti dalam mengembangkan produk. Kitab-kitab tersebut adalah :

a. Faidlu al-Barokat karangan KH. Arwani Kudus b. Kaidah Qiraat Imam Tujuh karangan Ahmad Fathoni c. Pengantar ilmu Qiraat 10

d. Metode Maisuro e. Minah al-Ilahiyyah f. Al-Budur al-Zahirah

Selain itu peneliti juga berdiskusi secara tatap muka (talaqqi) dengan para ahli untuk konsp-konsep dan kondisi pendukung supaya

65

produk bisa dipakai dan diimplementasikan secara optimal sekaligus menemukan keterbatasan-keterbatasan produk agar bisa dilakukan perbaikan.

3. Tahap Realisasi (konstruksi)

Tahapan ini sebagai lanjutan kegiatan pada tahap desain. Pada tahap ini dihasilkan prototype satu atau (awal) sebagai realisasi hasil perancangan model. Kegiatan yang dilakukan pada fase ini meliputi:

menyusun sintaks pembelajaran, menetapkan sistem social, menyusun reaksi yaitu memberikan gambaran pada guru memberikan scaffolding serta bagimana memandang dan merespon stiap perilaku yang ditunjukkan oleh santri selama pembelajaran, menentukan sistem pendukung yaitu syarat/kondisi yang diperlukan agar model pembelajran yang sedang didesain dapat terimplementasi, seperti setting kelas, sistem instruksional, perangkat pembelajran, fasilitas belajar, dan media yang diperlukan selama pembelajaran berlangsung, termasuk menyusun petunjuk penggunaan perangkat pembelajaran, menyusun dampak dari pembelajran. Model pembelajran hasil dari fase ini selanjutnya disebut dengan prototype 1.

Hasil-hasil konstruksi diteliti kembali apakah kecukupan teori-teori pendukung model telah terpenuhi dan diterapkan dengan baik pada setiap komponen-komponen model sehingga siap diuji validitasnya oleh para ahli dan praktisi dari sudut rasional teoritis dan konsistensi konstruksinya.

66

Pada tahap ini, dihasilakan prototype 2 sebagai bagian terintegrasi dari prototype 1 model, yakni realisasi hasil perancangan perangkat pembelajaran yang diperlukan. Hasil-hasil konstruksi diteliti kembali apakah rencana pembelajran telah menggambarkan secara operasional sintaks yang ditetapkan, apakah teori-teori pendukung model telah diterapkan dengan baik pada buku guru, buku santri, dan lembar kegiatan santri sehingga fasilitas santri dapat terpenuhi dalam mengkontruksi pengetahuan dengan bantuan guru. Dengan demikian, seluruh perangkat pembelajaran siap diuji valid tidaknya oleh para ahli dan praktisi berdasarkan aspek rasional teoritis dan konsistensi konstruksinya.

4. Tahap tes, Evaluasi, dan Revisi

Pada tahapan ini dilakukan 2 kegiatan utama, yaitu kegiatan validasi, dan melakukan ujicoba lapangan prototype model hasil validasi.

a. Kegiatan Validasi

Sebelum kegiatan validasi model dan perangkat pembelajaran dilakukan, terlebih dahulu dikembangkan instrument. Jenis instrument yang digunakan dalam fase ini adalah lembar validasi. Sebelum digunakan terlebih dahulu divalidasi oleh para pakar untuk mengkaji layak atau tidak layaknya instrument-instrumen tersebut digunakan untuk mengukur aspek-aspek yang ditetapkan ditinjau dari kejelasan tujuan pengukuran yang rumuskan, kesesuaian butir-butir pertanyaan

67

untuk setiap aspek, penggunaan bahasa, dan kejelasan petunjuk penggunaan instrument.

Kegiatan validasi isi dan validasi konstruksi model dilakukan dengan memberikan buku model dan instrument validasi pada para pakar dan praktisi. Para ahli yang bertindak sebagai validator adalah

pakar pendidikan al- dan yang

berpengalaman dalam mengembangan model pembelajaran, ahli bahasa, ahli teknologi pembelajaran dan manajemen pendidikan, serta guru sebagai paraktisi. Saran dari pakar dan praktisi tersebut digunakan sebagai landasan penyempurnaan atau revisi model.

Kegiatan yang dilakukan pada waktu menvalidasi model adalah sebagai berikut.

1) Meminta pertimbangan ahli dan praktisi tentang kelayakan model pembelajaran (pada prototype 1) yang telah direalisasikan. Untuk kegiatan ini diperlukan instrument berupa lembar validasi dan buku model yang diserahkan kepada validator. Untuk menilai apakah rancangan produk ini layak digunakan, maka bahan ajar risalah mufidah ini divalidasi oleh ahli materi ilmu , ahli bahasa, kurikulum pesantren, dan desain oleh :

68

a. Dr. H. Amin Fadlillah, SQ., MA. : Dosen tetap IAIN Jember.

b. Ahmad Suyono, S.Pd.I,.SH : Bidang musabaqoh Tilawatil Quran dan pembina mujawwad dan Qiraat di LPTQ Kabupaten Jember.

c. Yuslam Af-idatul Muzayyanah,S.Ag: pembina tahfidz dan ilmu PP. Yasinat Wuluhan Jember.

d. Dr. Syarifah Marwiyah, M.Pd.I : Dosen tetap IAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember.

e. Dr. Khotibul Umam, MA. : dosen tetap IAIN Jember.

f. Dr. Andi Suhardi, M.Pd., : dosen tetap IAIN Jember

2) Melakukan analisis terhadap hasil validasi dari validator. Jika hasil analisis menunjukkan:

a) Valid tanpa revisi, maka kegiatan selanjutnya adalah uji coba lapangan.

b) Valid dengan sedikit revisi, maka kegiatan selanjutnya adalah merevisi terlebih dahulu, kemudian langsung uji coba lapangan.

c) Tidak valid, maka dilakukan refisi sehingga diperoleh prototype baru model. Kemudian kembali pada kegiatan sebelumnya yaitu meminta pertimbangan ahli dan praktisi. Disini ada kemungkinan terjadi siklus (kegiatan validasi secara berulang) untuk mendapatkan model yang valid.

69

Setelah memperoleh buku model yang valid, selanjutnya dilakukan validasi perangkat pembelajaran, dengan tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan diatas.

5. Kegiatan ujicoba

Sebelum kegiatan ujicoba menggunakan model yang sedang dikembangkan, terlebih dahulu dikembangkan instrument. Jenis instrument yang digunakan dalam fase ini adalah lembar observasi.

Tujuan dariuji coba ini adalah untuk melihat sejauh mana efektifitas dan efesiensi model dalam pelaksanaan selama pembelajaran di kelas.

Berdasarkan hasil ujicoba lapangan dan analisis data hasil ujicoba dilakukan revisi. Ujicoba dan revisi ini kemungkinan dilakukan berulang-ulang sampai diperoleh prototype model (buku model, perangkat pembelajaran, dan instrument) yang diinginkan berdasarkan aspek-aspek efesiensi dan efektifitas yang diharapkan. Beberapa kegiatan yang dilakukan pada ujicoba adalah:

a. Melakukan ujicoba lapangan

Uji coba produk adalah kegiatan inti dalam penelitian pengembangan. Kegiatan ini meliputi :

1) Focus Group Discussion (FGD) sebanyak 10 orang 2) Uji coba perorangan sebanyak 6 orang

3) Uji coba kelompok sebanyak 12 orang 4) Uji coba terbatas sebanyak 20 orang 5) Uji efektifitas produk sebanyak 20 orang

70

b. Melakukan analisis terhadap data hasil ujicoba.

Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengukur efektifitas model yang sedang dikembangkan sekaligus menjadi acuan dalam kegiatan revisi.

c. Melakukan revisi berdasarkan hasil analisis data hasil ujicoba.

Ujicoba, analisis, dan revisi ini dimungkinkan terjadi siklus (kegiatan ujicoba serta berulang) untuk mendapatkan prototype final model yang memenuh efektifitas dan efisiensi produk yang diharapkan. Sejalan dengan setiap tahapan pengembangan model, mulai dari tahap pengkajian awal sampai tahap tes, evaluasi, dan revisi seluruh komponen-komponen model, perangkat pembelajaran, dan instrument penelitian diimplemantasikan dengan situasi saat ini. Jika terdapat perbaikan (revisi) atau perubahan pada model maka segera dilakukan peninjauan pada bagian-bagian perangkat dan instrument penelitian. Untuk melakukan revisi sejalan dengan perubahan dan revisi pada model. Selanjutnya diimplementasikan apa yang telah dihasilkan saat ini.

Sebelum ujicoba dilakukan terlebih dahulu diberikan penjelasan pada guru mitra pembelajaran dan pengamat yang mengamati jalannya proses pembelajaran. Dalam uji coba ini juga dilakukan uji awal dan akhir untuk mengetahui reliabilitas, validitas, dan sensifitas instrumenstes, dan aktivitas pembelajaran data empiric.

71

Secara operasional kegiatan, validasi prototype 1 (yang terdiri dari model, perangkat-perangkat pembelajran, dan instrument) dilakukan secara bersamaan, sehingga apabila kriteria kevalidan model belum dipenuhi, maka ketika merevisi model (sebagian atau keseluruhan) dilakukan bersamaan/serentak merevisi perangkat-perangkat dan instrument yang terkait. Misalkan terjadi revisi atau perubahan pada sintaks (tahapan pembelajaran), maka dilakukan secara bersamaan revisi/perubahan pada rencana pembelajaran sebab rencana pembelajaran adalah operasional dari sintaks.

Sebagai contoh, berikut ini gambaran secara operasional kegiatan pada tahap-tahap pengembangan model, perangkat pembelajran, dan instrument penelitian ini, secara skematis dapat digambarkan dalam gambar :

72

Gambar 3.1 Prosedur Penelitian.

Dokumen terkait