• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Konsep Manajemen Risiko

2. Langkah - Langkah Penerapan Manajemen Risiko

a. Perencanaan manajemen risiko, perencanaan meliputi langkah menetapkan bagaimana mendekati dan merencanakan aktivitas manajemen risiko untuk proyek.

b. Identifikasi risiko, tahapan selanjutnya dari proses identifikasi risiko adala mengenali jenis-jenis risiko yang mungkin (dan umunya) dihadapi oleh setiap pelaku usaha.

c. Analisis risiko kualitatif, analisis kualitatif dalam manajemen risiko ialah proses menilai dampak serta kemungkinan dari risiko yang sudah diidentifikasi. Proses ini dilakukan dengan menyusun risiko berdasarkan efeknya terhadap tujuan proyek.

d. Analisis risiko kuantitatif artinya proses identifikasi secara numeric probabilitas dari setiap risiko dan konsekuensinya terhadap tujuan proyek.

e. Perencanaan respon risiko, Risk response planning merupakan proses yang dilakukan untuk meminimalisasi tingkat risiko yang dihadapi hingga batas yang dapay diterima.

f. Pengendalian dan monitoring risiko, langkah ini merupakan proses mengawasi risiko yang telah diidentifikasi, memonitor risiko yang tersisa, serta mengidentifikasi risiko baru,

memastikan pelaksanaan risk management plan serta mengevaluasi keefektifannya dalam mengurangi risiko.19 3. karakteristik Risiko

Dalam pengertian risiko di atas dapat disimpulkan bahwa risiko selalu berhubungan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan yang tidak di duga/ tidak dibutuhkan. dengan demikian risiko ini mempunyai karakteristik:

a) adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa.

b) Adalah ketidakpaastian yang Bila terjadi akan mengakibatkan kerugian.

Jadi ketidakpastian merupakan syarat yang mengakibatkan timbulnya risiko. kondisi ketidakpastian sendiri muncul karena banyak sekali sebab, diantaranya:

1) Tenggang waktu antara perencanaan suatu kejadian sampai kegiatan itu berakhir, dimana makin panjang tenggang waktunya akan makin besar ketidak pastiannya.

2) Keterbatasan informasi yang tersedia yang diperlukan untuk penyusunan rencana.

3) Keterbatasan pengetahuan/kemampuan pengambilan keputusan dari perencanaan.

19 Arif Lokobal, Manajemen Risiko Pada Perusahaan Jasa Pelaksanaan Kontruksi Di Provinsi Papua, (Jurnal Ilmiah Media Engineering Vol.4 No.2, 2014), Hal. 111-112

4. Wujud Risiko

Risiko dapat terwujud dalam berbagai bentuk, diantaranya:

a) Berupa kerugian atas harta milik/kekayaan atau penghasilan, misalnya yang diakibatkan oleh kebakaran, pencurian, pengangguran dan sebagainya.

b) Berupa penderitaan seseorang, misalnya sakit/cacat karena kecelakaan.

c) Berupa tanggung jawab hukum, contohnya risiko dari perbuatan atau peristiwa yang merugikan orang lain.

d) Berupa kerugian karena perubahan pasar, contohnya karena terjadinya perubahan harga, perubahan selera konsumen, dan sebagainya.20

5. Macam-macam Risiko

Risiko bisa diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain:

1) Berdasarkan sifatnya

1. Risiko Spekulatif yaitu risiko yang ada karena terjadinya penyimpangan kejadian sesungguhnya yang merugikan dari kejadian yang diharapkan.

2. Risiko murni yaitu risiko yang muncul dari suatu peristiwa yang betul-betul tidak disengaja.

3. Selain risiko spekulatif dan murni, berdasarkan sifatnya juga ada : Pertama, risiko fundamental, yaitu risiko yang

20 Reni Maralis, Manajemen Risiko, (Yogyakarta : CV Budi Utama, 2019), Hlm. 4-5.

penyebabnya tidak dapat dilimpahkan pada seseorang dan yang menderita tidak hanya satu orang/beberapa orang, tetapi banyak orang, contoh banjir, angin topan dan bencana lainnya. kedua, risiko dinamis, yaitu risiko yang timbul karena perkembangan serta kemajuan (dinamika) masyarakat pada bidang ekonomi, ilmu serta teknologi.

contoh : risiko keuangan.

4. Dapat tidaknya risiko tersebut dialihkan pada pihak lain:

a. Risiko yang bisa dialihkan kepada pihak lain.

b. Risiko yang tidak dapat dialihkan kepada pihak lain.

2) Berdasarkan sumber risiko :

a. Risiko sosial, yaitu risiko yang disebabkan oleh prilaku manusia. contoh: peperangan, pencurian, penggelapan, pembunuhan, kerusuhan, dan sebagainya.

b. Risiko ekonomi, yaitu risiko yang timbul sebagai akibat dari prilaku dan kondisi ekonomi. contoh: inflansi, resesi, perubahan kesukaan konsumen, persaingan, dan sebagainya.

c. Risiko fisik, yaitu risiko yang ada ditimbulkan oleh kondisi alam. contoh: badai, banjir, gempa bumi, dan sebagainya.

d. Berdasarkan Sumbernya risiko juga dapat dibagi menjadi risiko internal, yaitu: 1) risiko yang bersumber dari dalam perusahaan, contoh: kecelakaan kerja serta mismanajemen,

2) risiko ekternal, yaitu risiko yang bersumber dari luar perusahaan, contoh: persaingan.21

6. Risiko dan Tuntunan Al-Quran

Risiko artinya ketidakpastian yang bisa diperkirakan atau diukur dan telah diketahui tingkat probabilitas kejadiannya. Sebagaimana menyebutkan bahwa risiko merupakan ketidakpastian yang mampu dikuantitaskan besaran kerugiannya. dengan demikian, ketidakpastian yang tidak bisa diperkirakan tidak termasuk risiko. perbedaan antara risiko dengan ketidakpastian terletak pada “ada tidaknya informasi”

tentang ketidakpastian terebut. Ketidakpastian yang tidak terdapat informasinya bukan disebut risiko.

Selain terkait dengan ada tidaknya informasi, risiko juga berarti kemungkinan menemui kegagalan, kerusakan, kehilangan dan bahaya.

Ini ialah keniscayaan mengingat risiko adalah elemen kehidupan di dunia ini serta salah satu faktor yg perlu dipertimbangkan dalam investasi. Utamanya, ketika seseorang harus merogoh keputusan untuk mengerti tentang penyeleksian instrumen investasi yang khusus dari upaya memasuki usaha yang baru. banyak kaum muslim menyalahartikan konsep tersebut. Setiap muslim percaya bahwa masa akan datang artinya berada di tangan yang kuasa sebagai akibatnya tidak perlu berusaha untuk meraihnya, padahal seharusnya setiap

21 Reni Maralis, Manajemen Risiko, (Yogyakarta : CV Budi Utama, 2019), Hal. 6-7.

muslim wajib bekerja keras untuk memenuhi serta menghadapi syarat tersebut, sebagaimana firman Allah SWT. dalam Surah Al-R‟ad 11:

َُّن

mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaga secara bergiliran dan ada juga beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. yang dikehendaki dalam ayat ini merupakan malaikat yang menjaga secara bergiliran an disebut malaikat hafazhah. tuhan tidak akan mengubah keadaan mereka (nasib suatu kaum), selama mereka tidak ingin mengubah sebab-sebab kemunduran mereka.22

7. Risiko perbankan

Manajemen risiko adalah suatu pembuatan keputusan yang berkontribusi terhadap tercapainya tujuan perusahaan dengan penerapan baik ditingkat kegiatan individual dan pada bidang

22 Veithzal Rivai Dan Rifki Ismal, Islamic Risk Management For Islamic Bank, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), Hal. 59-60.

fungsional.23 Sehingga, manajemen risiko ialah unsur penting yang penerapannya sangat perlu diperhatikan, khususnya di bank sebagai salah satu lembaga keuangan (financial institution).24

Penerapan manajemen risiko bisa meningkatkan sharecholder value, memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank di masa mendatang, menaikkan metode serta proses pengambilan keputusan yang sistematis yang didasarkan atas ketersediaan informasi, yang dipergunakan sebagai dasar pengukuran yang lebih seksama mengenai kinerja bank, dan membentuk infrastruktur manajemen risiko yang kokoh dalam rangka menaikkan daya saing bank.25

Bagi perbankan bisa menaikkan share value, memberikan gambaran kepala pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank di masa datang, meningkatkan metode serta proses pengambilan keputusan ang sistematis berdasarkan atas ketersediaan informasi, digunakan sebaga dasar pengukuran yang lebih akurat tentang kinerja bank, digunakan untuk menilai risiko yang melekat pada instrument atau kegiatan usaha bank yang cukup kompleks serta membangun

23 Berg Dan Henz, Risk Management Procedure, Methods, And Experiences, (Journal RT A, Vol. 1, No 2, Hal. 48.

24 Khoirul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), Hal.

48.

25 Rivai Veitzal Dan Arifin Arviyan, Islamic Bangking: Sebuah Teori, Konsep Dan Aplikasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013) Hal. 48.

infrastruktur manajemen risiko yang kokoh dalam rangka meningkatkan daya saing bank.26

C. PEMBIAYAAN

1. Pengertian Pembiayaan

Menurut Kasmir, pembiayaan merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang didanai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Sedangkan menurut Muhammad, Pembiayaan adalah salah satu tugas utama bank yaitu pemberian fasilitas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang artinya deficit unit.27

Kemudian berdasarkan UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Bab 1 Pasal 1 Ayat 25 menjelaskan pembiayaan merupakan penyediaan dana atau tagihan yang dipersamaaan dengan itu berupa: a) transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah. b) transaksi sewa beli dalam bentuk ijaroh muntahiyah bitamblik. c) transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam dan isthisna. d) transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qard.

e) transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multi jasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank

26 Rahmani Yulianti, Manajemen Resiko Perbankan Syariah, Jurnal: La Riba, Vol. 3, No.

2.

27 Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001). Hal 101.

syariah dan atau unit usaha syariah serta pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujroh, tanpa imbalan, atau bagi hasil.28

Pembiayaan atau financing merupakan pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang sudah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. dengan kata lain, pembiayaan artinya pendanaan yg dikeluarkan buat mendukung investasi yang telah direncanakan. istilah pembiayaan pada intinya berarti I believe, I trust, aku percaya, aku memberikan kepercayaan . Perkataan pembiayaan yang berarti (trust) berarti lembaga pembiayaan selaku sahib al-mal menaruh kepercayaan kepada seseorang untuk melaksanakan amanah yg diberikan. Dana tersebut harus digunakan dengan sahih, adil, dan harus disertai menggunakan ikatan serta syarat-syarat yang jelas dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Setiap lembaga keuangan syari‟ah memiliki falsafah mencari keridaan Allah SWT. untuk memperoleh kebajikan pada dunia serta akhirat. oleh sebab itu, setiap kegiatan lembaga keuangan yang dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama wajib dihindari.29

Jadi bisa disimpulkan, pembiyaan artinya pendanaan yang diberikan oleh satu pihak ke pihak lain dan menyampaikan fasilitas

28 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Press, 2014). Hal.

102.

29 Rahmat Ilyas, Konsep Pembiayaan Dalam Perbankan Syari‟ah, Vol9, No 1, 2015.

dana untk memenuhi kebuuhan pihak-pihak yang membutuhkan dana pada investasi yang telah direncanakan.

2. Syarat Sahnya Akad Pembiayaan

Sebelum pembiayaan direalisasikan, terlebih dahulu harus dibuat akad atau perjanjian yang mengatur hak dan kewajiban antara kedua belah pihak. pada praktik akad atau perjanjian pembiayaan mempunyai banyak sekali macam istilah, diantaranya, perjanjian pembiayaan, persetujuan membuka pembiayaan, dan sebagainya.

Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya bahwa syarat sahnya akad pada dasarnya sama dengan syarat sahnya suatu perjanjian yang sebagaimana dipengaruhi dalam hukum positif, yaitu pasal 1320 KUH Perdata. untuk sahnya suatu perjanjian berdasarkan ketentuan pasal 1320 KUH Perdata diperlukan empat syarat:

1) Sepakat mereka yang mengikat diri (sighat al-aqd)

Yang dimaksud dengan “sepakat mereka yang mengikatkan diri” artinya bahwa apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu disetujui atau disepakati oleh pihak yang lain. tidak terdapat kesepakatan apabila suatu perjanjian muncul karena ada paksaan (dwang/ikrah), kekhilafan (dwaling/ghalath) atau penipuan (bedrog/taghrir-tadlis).

2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan

Berdasarkan ketentuan pasal 1329 KUH Perdata, pada dasarnya setiap orang adalah cakap untuk membentuk

perikatan-perikatan, Jika dia oleh undang-undang tidak dinyatakan tidak cakap. berdasarkan ketentuan pasal 1330 KUH Perdata, orang-orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian artinya:

a. Orang yang belum dewasa

b. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan

c. Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu.

Berdasarkan ketentuan pasal 330 KUH Perdata, belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun, dan tidak lebih dahulu telah menikah. Anak yang belum dewasa harus diwakili orang tuanya. Pasal 98 ayat (1) komplikasi hukum islam juga menegaskan bahwa batas usia anak yang bisa berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tadi tidak memiliki cacat fisik mupun mental atau belim pernah melangsungkan pernikahan.30

3. Berakhirnya Akad Pembiayaan

Perlu dipahami secara baik bahwa jangka waktu fasilitas pembiayaan berbeda dengan jangka waktu akad pembiayaan. Jangka

30 Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakatra : Pt Gramedia Pustaka Utama, 2012), Hal. 153-155.

waktu fasilitas pembiayaan merupakan tenggang waktu yang diberikan oleh bank kepada nasabah penerima fasilitas pembiayaan untuk menggunakan fasilitas pembiayaan (penyedia uang atau tagihan) yang disediakan oleh bank. jika tenggang waktu tersebut sudah jatuh tempo, maka nasabah penerima fasilitas harus mengembalikan pembiayaan tersebut dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan atau bagi hasil.

Sedangkan jangka waktu akad pembiayaan artinya tenggang waktu berlakunya akad pembiayaan tersebut, yaitu semenjak ditandatangani oleh bank dan nasabah penerima fasilitas hingga dengan dibayarnya semua outstanding pembiayaan nasabah bersama biaya-biaya yang timbul sesuai akad pembiayaan. dengan dilunasinya semua outstanding kewajiban nasabah tersebut, maka berakhir juga perikatan antara bank dengan nasabah yang bersangkutan. Sepanjang kewajiban nasabah kepada bank belum dilunasi seluruhnya, maka pembiayaan tersebut masih tetap berlaku serta menjadi dasar aturan bagi bank untuk menuntut haknya kepada nasabah yang bersangkutan.

Berakhirnya akad (intiha al-„aqdi), menurut fathurrahman djamil, merupakan menggunakan tiga cara :

1) Berakhirnya masa berlaku akad

2) Dibatalkannya oleh pihak-pihak yang berakad 3) Saah satu pihak yang berakad meninggal dunia

Terminasi akad, menurut Syamsul Anwar, mencakup 4 hal :

1) Terminasi akad berdasarkan kesepakatan (al-iqalah)

2) Terminasi akad terkait pembayaran urbun di muka

3) Terminasi karena salah satu pihak menolak melaksanakannya

4) Terminasi akad karena tidak mungkin dilaksanakan.

Akad pembiayaan merupakan sama dengan perjanjian pada umumnya. karena perjanjian adalah salah satu sumber perikatan, dan akad juga merupakan salah satu iltizam, maka menurut ekonomis penulis berdasarkan qiyas atau penafsiran secara analogi, ketentuan tentang berakhirnya perikatan sebagaimana diatur dalam Pasal 1381 KUH Perdata sebagai hukum positif, juga dapat berlaku sebagai cara berakhirnya akad dalam transyaksi perbankan syariah.31

4. Dasar hukum Pembiayaan

Dalam Al-Quran, istilah pembiayaan sendiri tidak secara ekplisit disebutkan, tapi keberaaannya di ilhami oleh ayat-ayat Al-Quran dan contoh dari Rasullullah SAW dan tradisi para sahabat. Dasar hukum pembiayaan tersebut merupakan sebagai berikut:

a. Al-Quran

Ayat al-Quran yang digunakan menjadi pedoman untuk melakukan pembiayaan, dan menjadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-nya. terdapat dalam Al-Quran Surat Luqman Ayat 34 :

31 Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakatra : PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), Hal. 237-239.

ٌَِّإ

pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Maksud berasal kutipan ayat diatas ialah insan tidak dapat mengetahui dengan sempurna apa yang akan diusahakan besok atau yang akan diperolehnya, tetapi demikian mereka mewajibkan berusaha.

b. Al-Hadist

Dari riwayat abu dawud.

artinya: “Telah menceritakan pada kami ahmad bn yunus, sudah menceritakan pada kami zuhair, sudah menceritakan pada kami simak, sudah menceritakan kepadaku abdurrahman bin abdullah bin mas‟ud, dari ayahnya, beliau mengatakan; rasulullah shallalahi

„alaihi wasallam melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi makan riba, saksinya dan penulisnya. (Hr. Abu dawud)”

5. Analisis Pembiayaan

Adalah suatu proses analisis yang dilakukan untuk menilai suatu permohonan pembiayaan yang telah diajukan oleh calon nasabah.

dengan melakukan analisi permohonan pembiayaan, pihak pertama akan memperoleh keyakinan bahwa proyek yang akan di biayai layak.

Melakukan analisis pembiayaan dengan tujuan untuk mencegah secara dini kemungkinan terjadinya default oleh nasabah. Analisis pembiayaan ialah salah satu faktor yang sangat penting bagi pihak pertama dalam mengambil keputusan untuk menyetujui/menolak permohonan pembiayaan. Analisis ini baik akan menghasilkan keputusan yang sempurna. Analisis pembiayaan artinya salah satu faktor yang bisa dipergunakan sebagai acuan bagi pihak pertama untuk menyakini kelayakan atas permohonan pembiayaan nasalah.32

6. Jenis-jenis akad pembiayaan, yaitu:

1. Mudharabah 2. Musyarakah 3. Murabahah 4. Piutang salam 5. Istishna 6. Ijarah 7. Qardh 8. Ar-rahn

32 Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), Hal. 94-95.

D. MUDHARABAH

1. Penjelasan Terminologi Mudharabah

Untuk mempermudah memahami terminologi mudharabah ini berikut disajikan beberapa defenisi dari beberapa mazhab.

1) Mazhab Hanafi

Mereka secara tektual menegaskan bahwa syarikat mudharabah ialah suatu akad (kontrak) dan mereka juga menyebutkan unsur-unsur pentingnya, yaitu berdirinya syarikat ini atas usaha fisik dari satu pihak dan atas modal dari pihak yang lain. tetapi dalam defenisi tersebut tidak dijelaskan cara pembagian laba antara kedua orang yang bersyarikat.

Sebagaimana mereka juga tidak menjelaskan kondisi yang wajib ditentukan pada masing-masing pihak yang melakukan kontrak serta kondisi yang wajib di penuhi pada modal.

2) Mazhab Maliki

Dalam defenisi mereka telah disebutkan berbagai persyaratan dan batasan yang wajib dipenuhi dalam mudharabah dan cara pembagian laba, yaitu dengan bagian jelas yang tertentu sesuai kesepakatan antara kedua orang yang bersyarikat. tetapi defenisi ini tidak menegaskan kategorisasi mudharabah menjadi suatu akad (kontrak), melainkan dia menyebutkan bahwa mudharabah ialah pembayaran (penyerahan modal) itu sendiri.

3) Mazhab Syafi‟i

Meskipun dia telah menegaskan kategorisasi mudharabah sebagai suatu akad, namun dia tidak menjelaskan apa yang wajib dipenuhi dari persyaratan dari kedua pihak yang melakukan akad, sebagaimana dia juga tidak mengungkapkan cara pembagiaan laba.

4) Mazhab Hambali

Meskipun defenisi ini telah menyebutkan bahwa pembagiaan laba ialah antara kedua orang yang bersyarikat menurut dengan yang mereka tentukan, namun pada defenisi ini tidak menjelaskan lafaz akad, sebagaimana juga belum menjelaskan persyaratan yang harus di penuhi di diri kedua orang yang melakukan akad.

Mudharabah artinya suatu akad (kontrak) yang memuat penyerahan modal khusus atau semaknanya tertentu dalam jumlah, jenis serta karakternya (sifatnya) berasal orang yang diperolehkan mengelola harta (jaiz attashrruf) pada orang lain yang „aqil, mumayyiz, serta bijaksana, yang dia pergunakan untuk berdagang menggunakan mendapatkan bagian tertentu dari manfaatnya pada kesepakatan.33

33 Muhamad, Manajemen Pembiayaan Mudharabah, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2019), Hal. 84-86.

2. Pengertian Mudharabah

Pembiayaan mudharabah adalah akad kerjasama dua orang atau lebih di mana salah sau pihak bertindak menjadi penyedia modal secara penuh (shahibul maal) dan pihak lain bertindak menjadi yang menjalankan usaha (mudharib) di mana pembagian laba sesuai dengan kesepakatan bersama di awal akad, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik dana. namun Jika kerugian disebabkan oleh pengelola dana, maka pengelola dana yang harus menanggungnya.34

Mudharabah ialah kontrak antara dua pihak dimana satu pihak disebut rab al-mal (investor) mempercayakan pada pihak kedua, yang disebut mudharib, untuk tujuan menjalankan usaha dagang.35

Mudharabah merupakan akad kolaborasi usaha antara dua pihak, dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan semua 100%

modal, sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola. keuntungan usaha secara mudharabah dibagi berdasarkan kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola.36

Jadi mudharabah artinya kerjasama yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih, pihak pertama menjadi penyedia modal dan pihak lainnya menjadi pengelola modal dengan pembagiaan laba dalam suatu kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sedangkan Jika

34 Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Wat Tamwil (Bmt), (Yogyakarta: UII Press, 2004), Hal. 26.

35 Sayyid Sabiq, Fihq Al-Sunnah, Juz 11, (Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabiyah, 2004), Hal.

303.

36 Wahbah Az-Zuhaily, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, Jilid V, Hal. 79.

mengalami kerugian yang disebabkan oleh kelalaian pengelola modal, maka pengelola modal yang wajib menanggung kerugian tersebut.

3. Landasan hukum Mudharabah

Dasar hukum pembiayaan mudharabah tersebut sudah dipertegas dalam Al-Quran:

Qs. Al-Jumuah Ayat 10 :

َ َّللَّٱ ْاوُسُك ۡذٱَو ِ َّللَّٱ ِم ۡضَف ٍِي ْاىُغَخۡبٱَو ِض ۡزَ ۡلۡٱ ًِف ْاوُسِشَخَٱَف ُة َٰىَهَّصنٱ ِجٍَِضُق اَذِإَف ٌَىُحِهۡفُح ۡىُكَّهَعَّن ا ٗسٍِثَك ١١

Artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”

Qs. An-naba‟ ayat 11 :

ا ٗشاَعَي َزاَهَُّنٱ اَُۡهَعَجَو ١١

Artinya : “dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”

Qs. Al-A‟raaf ayat 10 :

ۡىُكَن اَُۡهَعَجَو ِض ۡزَ ۡلۡٱ ًِف ۡىُك َََُّّٰكَي ۡدَقَنَو ٌَوُسُك ۡشَح اَّي ٗلٍَِهَق هَشٍِ ََٰعَي اَهٍِف

١١

artinya : “Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedkitlah kamu bersyukur”

Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa manusia sangat dianjurkan untuk berusaha agar menerima rezeki yang halal. banyak cara untuk mencari rezeki yang halal salah satunya dengan melakukan mudharabah yaitu kerja sama dengan pihak lain.

4. Jenis Mudharabah

1) Mudharabah mutlaqah

salah satu jenis mudharabah, dimana pemilik usaha (mudharib) diberikan hak yang tidak terbatas untuk melakukan investasi oleh pemilik kapital (shahibul mal).

2) Mudharabah muqayyadah

salah satu jenis mudharabah, dimana pemilik usaha (mudharib) dibatasi haknya oleh pemilik kapital (shahibul mal), diantaranya dalam hal jenis usaha, waktu, tempat usaha, dll.37 5. Rukun serta kondisi Mudharabah

Adapun rukun mudharabah menurut ulama syafi‟iyah, rukun qiradh ada enam:

1) Pemilik barang yang menyerahkan barang-barangnya.

2) Orang yang bekerja, yaitu pengelola barang yang diterima dari pemilik barang.

3) Aqad mudharabah, dilakukan oleh pemilik modal dengan pengelola modal.

4) Maal, yaitu harta utama atau modal.

5) Amal, yaitu bidang pekerjaan (proyek) pengelolaan yang bisa membuat laba .

6) Laba.

37 Sunarto Zukifli, Perbankan Syariah, (Jakarta: Pt Bestari Buana Murni, 2007), Hal. 56-57.

Sedangkan syarat sahnya akad mudharabah sangat berhubungan dengan rukun mudharabah. Diantara syarat sahnya merupakan

1) Modal atau barang yang diserahkan itu berbentuk ung tunai. apabila barang itu berbentuk mas atau perak batangan, perhiasan, dll, maka mudharabah tersebut batal.

2) Bagi orang yang melakukan akad disyaratkan mampu melakukan tasharruf, akad yang dilakukan oleh anak-anak

2) Bagi orang yang melakukan akad disyaratkan mampu melakukan tasharruf, akad yang dilakukan oleh anak-anak

Dokumen terkait