• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

Bagan 3.3 Langkah Penelitian Pengembangan

B. Setting Penelitian

Setting penelitian membahas mengenai waktu penelitian, tempat penelitian, subjek penelitian, dan objek penelitian.

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa dengan kebutuhan khusus autisme di SD Tamanmuda Tamansiswa berjumlah 1 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Taman Muda Yogyakarta yang telah mengalami masa pubertas. Subjek penelitian pengembangan media buku cerita edukasi seksualitas sebagai berikut:

a. Subjek Validator media

Subjek validator untuk media pembelajaran buku cerita bergambar yang berjudul aku menjaga tubuh terdiri dari dosen ahli media pembelajaran edukasi seksualitas, guru kelas, serta guru pendamping khusus. Subjek uji coba validitas ini memiliki kriteria akademis, yaitu dosen ahli materi edukasi seksualitas materi media dan sumber belajar yang memiliki pengalaman mengajar selama minimal 5 tahun. Sedangkan untuk guru kelas yang mendampingi dan memberikan pembelajaran selama satu tahun di SD Taman Muda Tamansiswa, dan untuk guru pendamping khusus siswa yang mendampingi subjek selama kurang lebih satu tahun.

b. Subjek Implementasi Media Buku Cerita Bergambar

Subjek implementasi media buku cerita adalah siswi kelas 5 dengan jumlah 1 siswa yang didampingi oleh guru pendamping pendamping khusus. Sasaran uji coba ditujukan kepada siswa dengan kebutuhan autisme, dan guru pendamping khusus siswa tersebut menjadi sasaran uji coba dan mengisi kuisioner penilaian terhadap media pembelajaran buku cerita. Apabila terdapat saran perbaikan, maka peneliti melakukan perbaikan.

2. Objek Penelitian

Objek dari penelitian ini adalah produk yang berupa media berbentuk buku cerita.

Media buku cerita ini digunakan untuk memberikan pembelajaran edukasi seksualitas kepada anak autisme. Di dalam buku tersebut berisikan mengenai cara merawat dan menjaga diri ketika siswi dengan kebutuhan autisme sudah mengalami masa pubertas.

3. Lokasi Penelitian

Pengambilan data yang digunakan untuk penelitian dilaksanakan di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa, Yogyakarta. Beralamatkan di Jalan Tamansiswa No. 25, Mergangsan, Yogyakarta. Peneliti memilih melaksanakan penelitian di lokasi tersebut karena di SD Taman Muda Tamansiswa menerima siswa dengan kebutuhan autisme.

4. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester Genap tahun ajaran 2020/2021, dan dilaksanakan pada bulan Januari- Juli tahun 2020.

C. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sesuai dengan karakteristik yang dibutuhkan. Sugiyono (2010) menjelaskan teknik pengumpulan data merupakan teknik yang digunakan untuk mendapatkan suatu data dengan menggunakan beberapa teknik tertentu. Data yang diperoleh dan dikumpulkan oleh peneliti akan mempengaruhi rumusan masalah beserta hipotesisnya (Richey, 2009).

1. Observasi

Nasution (dalam Sugiyono, 2010) menjelaskan observasi merupakan dasar semua dari ilmu pengetahuan. Melalui observasi, peneliti dapat memperoleh data ptensi dan masalah berupa fakta yang dapat diguanakan untuk melakukan penelitian. Marshall (dalam Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa melalui observasi peneliti dapat belajar mengenai makna perilaku yang terjadi di lingkungan tersebut. Pengamatan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis, dimana peneliti mempunyai tujuan memperoleh data mengenai perilaku dan kemampuan anak autisme dalam memahami seksualitas diri .

Observasi yang dilakukan oleh peneliti merupakan observasi partisipatif. Peneliti dalam melaksanakan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber, sebagai perantara sumber data yaitu guru pendamping khusus siswa autisme dikarenakan siswa tersebut masih kesulitan untuk berkomunikasi dan peneliti ikut dalam kegiatan siswa selama kurang lebih 4 jam.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan jika peneliti melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga peneliti ingin mengetahui

hal-hal yang dialami dan menjadi kendala dari responden yang jumlah respondennya sedikit kecil (Sugiyono, 2010). Peneliti menggunakan teknik wawancara terbuka sebagai teknik pengumpulan data agar peneliti dapat mendapatkan informasi yang lebih mendalam informasi yang diperoleh. Tujuan dari wawancara yaitu untuk memperoleh informasi mengenai media dan desain media yang cocok digunakan anak autisme mempelajari mengenai edukasi seksualitas.

3. Kuisioner

Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti mengetahui secara pasti variabel yang diukur dan tahu mengenai apa yang bisa diharapkan dari responden (Sugiyono, 2010). Creswell (2011) menjelaskan kuisioner merupakan teknik pengumpulan data dimana responden mengisi pertanyaan yang dibuat oleh peneliti kemudian sertelah diisi lengkap oleh responden akan dikembalikan kembali ke peneliti. Peneliti dapat menggunakan kuisioner untuk memperoleh data yang terkait mengenai pengembangan media buku cerita bergambar.

Peneliti menggunakan kuisioner pertanyaan tertutup dengan menyediakan alternatif jawaban yang harus dipilih oleh responden tanpa kemungkinan memberikan jawaban lain.

D. Instrumen Penelitian

Penelitian pengembangan ini menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pernyataan kuisioner. Gray (dalam Setyosari, 2010) mengemukakan bahwa instrumen merupakan alat seperti kuisioner dan pedoman wawancara yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Frenckel Wallen (dalam Sugiyono, 2010) menjelaskan bahwa instrumen merupakan berbagai alat ukur yang digunakan secara sistematis untuk pengumpulan data dalam suatu penelitian. Creswell (2011) mengemukakan bahwa peneliti menggunakan pedoman instrument untuk mengukur kemampuan individu, mengamati perilaku agar dapat dilakukan pengembangan melalui wawancara agar dapat membuat suatu produk tertentu.

1. Pedoman Kusioner

Kuisioner validasi dibuat untuk mengetahui dan mengevaluasi kualitas dari produk yang sudah dihasilkan mengenai buku cerita bergambar edukasi seksualitas

yang sudah dikembangkan oleh peneliti melalui proses uji validasi produk yang dilakukan oleh dosen ahli dan 1 siswa SD Tamanmuda Tamansiswa. Isi kuisioner mencangkup pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan dengan spesifikasi produk yang dikembangkan serta kolom untuk mengisi komentr dan saran bagi peneliti. Hasil dari validasi instrument tersebut akan digunakan sebagaimasukan revisi erbaikan produk tersebut.

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Pedoman Kuisioner Aspek yang diukur Deskripsi indikator

Desain dan pengorganisasian

1. Kelengkapan buku cerita.

2. Keruntutan dari buku cerita.

3. Bentuk fisik dari buku cerita yang menarik.

4. Penggunaan warna pada buku.

Kebahasaan dan isi 5. Bentuk fisik huruf dan gambar buku cerita yang menarik.

6. Penggunaan bahasa tulis yang baik.

7. Memuat materi edukasi seskualitas

8. Pemberikan ilustrasi yang dapat membantu siswa dalam memahami materi.

9. Buku cerita sesuai dengan kondisi keseharian siswa.

Dasar pembuatan kisi-kisi disesuaikan dengan teori Nurgiyantoro (2009) mengenai ciri-ciri buku cerita yang baik. Setelah kisi-kisi selesai dibuat, peneliti menyusun instrumen kuisioner untuk melakukan penilai khusus produk yang telah dihasilkan yaitu berupa buku cerita bergambar.

2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara digunakan oleh peneliti sebagai bahan dasar untuk melakukan wawancara dan memperoleh yang akan berguna sebagai data awal.

Peneliti melaksanakan wawancara dengan salah satu guru SD Tamanmuda Taman Siswa dan guru pendamping dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan berguna untuk mengetahui assessmen, kepribadian serta kemampuan merawat dan memahami diri siswa tersebut. Kisi-kisi wawancara dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.2 Kisi-kisi Pedoman Wawancara

No Aspek yang diamati

1 Masalah yang dihadapi

2 Pembelajaran edukasi seksualitas

3 Strategi pendampingan mengenai edukasi seksualitas 4 Media pembelajaran yang digunakan

3. Pedoman Observasi

Pedoman observasi bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan observasi untuk mendapatkan informasi dari lapangan. Observasi dilakukan di kelas 5 SD Taman Muda Ibu Pawiyatan selama kurang lebih 4 jam pelajaran dan 15 menit istirahat dan di rumah subjek selama kurang lebih 4 jam. Aspek yang diamati berupa perilaku dan kemampuan subjek dalam memahami edukasi seksualitas dalam kegiatan kesehariannya. Kisi-kisi observasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.3 Kisi-kisi Pedoman Observasi

No Variabel Aspek

1 Perilaku Sikap, kemampuan berkomunikasi, emosional 2 Pembelajaran Strategi pembelajaran disekolah dan di rumah

3 Tingkat kemampuan Kemampuan dan pemahaman subjek mengenai edukasi seksualitas

E. Teknik Analisis Data

Data penelitian ini dianakaisis secara kuantitatif dan kualitatif, dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Teknik Analisis Data Kuantitatif

Data kuantitatif didapatkan dari skor yang diperoleh dari kusisoner yang telah diberikan kepada ahli, guru kelas atas SD Taman Muda Ibu Pawiyatan dan guru pendamping. Data yang diperoleh lalu dianalisis sebagai hasil penilaian. Skala penilaian terhadap buku cerita dijabarkan sebagai indikator yang dapat diukur. Setiap pertanyaan dihubungkan dengan 4 pernyataan sebagai berikut:

Sangat baik : 5

Baik : 4

Cukup baik : 3

Kurang baik : 2

Sangat tidak baik :1

Dari hasil perhitungan skor data yang diperoleh, peneliti mengkonversikan menjadi data kualitatif skala lima dengan acuan menurut Widoyoko (2009) sebagai berikut:

Tabel 3.4 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima Interval skor

2 ( skor maskimal ideal + skor minimal ideal) Simpangan baku ideal ( SBi) : 1

6 ( skor maskimal ideal – skor minimal ideal)

X : Skor aktual

Dari rumus konversi data maka untuk menghitung dan mengetahui rerata skor maka digunakan rumus sebagai berikut:

Diketahui

Skor kategori sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik.

Jawaban:

Gambar 2.1 Perhitungan Skor Akhir

= 3 + (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (1,80 . 0,67)

Berdasarkan perhitungan maka dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 3.5 Hasil Konversi Data

Klasifikasi skor menjadi pedoman bagi peneliti dalam menentukan kualitas dan kelayakan media yang dikembangkan berdasarkan hasil penilaian yang diberikan oleh ahli, guru kelas dan guru pendamping khusus. Produk dikatakan dalam kategori layak jika memperoleh rerata skor lebih dari 2,60, namun jika nilai yang diberikan 2,60 maka produk tersebut dikatakan tidak valid dan harus melakukan perbaikan.

2. Teknik Analisis Data Kualitatif

Data kualitatif yang didapat berupa kritik dan san yang dikemukakan oleh para ahli untuk memperbaiki pengembangan media buku cerita bergambar. Data kualitatif diambil pada saat wawancara uji validasi. Adapun komentar terebut diperoleh dari komentar para ahli yang akan memberikan masukan terhadap kelayakan buku cerita yang telah disusun oleh peneliti. Data dianalisis disesuakan dengan aspek-aspek

Rerata skor Kategori

yang ingin diukur sebagai dasar untuk mengetahui kelayakan produk yang dihasilkan.

42 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Potensi dan Masalah

Sebelum peneliti melakukan pengembangan media buku cerita anak mengenai edukasi seksualitas, peneliti mencari potensi dan masalah yang berguna memperoleh infomasi awal untuk melakukan penelitian di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa, Yogyakarta. Potensi dan masalah dilakukan dengan cara melakukan observasi dan menganalisis potensi dan masalah yang dialami oleh siswa autisme.

Sebelum peneliti melakukan observasi, peneliti membuat instrument. Peneliti melakukan obervasi kurang lebih selama 4 mata jam pelajaran dan 15 menit waktu istirahat dan pengamatan di rumah selama kurang lebih 4 jam. Hasil dari observasi akan dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil Observasi Anak Autisme Hal yang

Diamati

Hasil Pengamatan

Perilaku siswa Ketika sedang berada di dalam kelas siswa cenderung lebih diam, dan pasif. Kemampuan komunikasi anak sangat kurang sehingga menyebabkan siswa jarang sekali melakukan interaksi dengan teman di dalam kelasnya. Saat pembelajaran berlangsung subjek cenderung diam dan mencatat pembelajaran yang berada di papan tulis. Setelah selesai mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh guru, siswa hanya duduk dan membeo nyanyian namun dengan suara lirih. Saat istirahat berlangsung siswa juga duduk di meja dan emakan bekal yang dia bawa dari rumah. Sesekali saat subjek merasa gatal, siswa menggaruk dan menyentuh bagian dada untuk menghilangkan rasa gatalnya guru pendamping khusus berulang kali mengingatkan siswa jika siswa mulai menggaruk bagian dada atau kemaluannya.

Ketika anak autisme sedang berada di rumah, anak cenderung lebih aktif. Siswa senang sekali mewarnai sehingga saat mengerjakan tugas rumah yang diberikan, anak harus diawasi oleh guru pendamping khusus, agar anak mau mengerjakan. Saat mengalami mestruasi, subjek cenderung lebih sensitif atau moody, jika merasa kurang nyaman atau tidak sesuai dengan keinginannya siswa terkadang menangis atau bahkan tantrum.

Pembelajaran Pembelajaran yang diajarkan pada hari itu adalah sejarah mengenai tamansiswa. Guru memberikan materi dengan menuliskan poin-poin penting di papan tulis, lalu anak menyalin tulisan yang berada di papan tulis.

Saat pembelajaran berlangsung anak cenderung diam dan mencatat pembelajaran yang berada di papan tulis.

Setelah selesai mengerjakan siswa hanya duduk, membeo nyanyian namun dengan suara lirih.

Pembelajaran pada saat itu hanya menggunakan media papan tulis saja tidak ditambahkan dengan gambar dan pendukung materi lainnya. Sehingga beberapa anak berkebutuhan khusus lainnya hanya menulis tanpa mengetahui maknanya. Materi mengenai edukasi seksualitas juga jarang sekali di bahas saat pembelajaran karena dianggap tabu. Pembahasan edukasi seksualitas juga hanya dilakukan pada saat pembelajaran tematik

IPA saja yang membahas mengenai reproduksi manusia namun tidak secara mendalam. Tidak ada media dan buku yang menunjang pembelajaran mengenai edukasi seksualitas. Guru pendamping memberikan pengarahan berupa verbal jika anak mulai menggaruk-garuk bagian dada atau kemaluan.

Pemahaman seksualitas

Kemampuan anak terhadap pemahaman kata dan pola piker subjek masih sama dengan anak umur 6-7 tahun.

Siswa sudah mampu memahami organ-organ tubuh dan fungsinya, namun untuk organ reproduksi masih kurang mendalam. Siswa sudah dapat melakukan buang air kecil dan besar secara mandiri, untuk mandi anak sudah mampu sendiri namun untuk menerapkan kemampuan mandi yang benar masih kurang. Anak sudah mengalami masa pubertas. Anak juga sudah paham bagaimana mencuci pembalut, namun terkadang subjek masih kesulitan untuk menggunakan pembalut sehingga anak menggunakan cloudy. Guru pendamping khusus yang juga mendampingi siswa saat berada di rumah

Observasi dilakukan secara 3 kali, yaitu saat berada di sekolah satu kali sedangkan untuk di rumah 2 kali. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu mengenai pola pikir dan kemandirian yang dimiliki siswa setara dengan anak usia 6-7 tahun, tidak sesuai dengan umur anak autisme yang sekarang berusia 14 tahun.

Siswa tersebut sudah mengalami pubertas sehingga perkembangan tubuh mulai nampak seperti pada anak seusianya, dan siswa sudah mengalami menstrusasi.

Namun, kemampuan pemahaman mengenai seksualitas diri mengenai membersihkan diri saja. Selain itu, siswa juga belum menunjukkan rasa ketertarikan antar lawan jenis.

Sikap siswa saat pembelajaranpun lebih cenderung diam, namun pada saat dia mengalami masa menstruasi siswa tersebut cenderung lebih senstif atau moody, yang terkadang membuat anak lebih sering menangis atau tantrum. Saat sedang istirahat terkadang secara tidak sadar terkadang siswa menggaruk bagian dada dan kemaluan.

Siswa sudah paham akan kebersihan diri, namun siswa kurang paham akan kebersihan organ kemaluannya. Pembelajaran mengenai organ tubuh, terutama organ kelamin masih sangat kurang. Pengenalan mengenai organ reproduksi juga tidak dibahas secara rutin dan mendalam.

Berdasarkan hasil dari observasi yang dilakukan oleh, peneliti menyimpulkan materi dan media pembelajaran mengenai edukasi seksualitas masih kurang, atau

bahkan tidak ada buku yang menunjang pembelajaran edukasi seksualitas saat di sekolah. Selain melakukan obervasi peneliti juga melakukan wawancara. Peneliti melakukan wawancara terbuka, namun peneliti juga berpacu pada aspek yang ingin peneliti ketahui pada guru kelas V dan guru pendamping khusus siswa autisme di SD Tamanmuda Tamansiswa. Wawancara dilakukan kepada guru kelas dikarenakan guru kelas memberikan pembelajaran saat berada di sekolah, dan guru pendamping khusus siswa yang mendampingi keseharian siswa secara langsung baik di sekolah maupun di rumah sehingga guru pendamping mengerti bagaimana keadaan dan perkembangan siswa selama kurang lebih 2 tahun. Berikut tabel hasil wawancara kepada guru kelas dan guru penamping khusus:

Tabel 4.2 Hasil Wawancara Guru Kelas V

Garis Besar Pertanyaan Hasil Wawancara

1. Apakah di sekolah ini sudah melaksanakan edukasi seks kepada anak? Materi apa saja yang diberikan?

Sudah terlaksana, edukasi seksualitas pada anak terlebih kelas atas yaitu kelas 4,5,dan 6 yaitu pada saat pembelajaran IPA tidak secara mendalam karena kterkadang masih dianggap tabu terlebih guru pendampiing di kelas terdapat orang tua pemilihan kata yang digunakan juga sulit. Guru juga membahas mengenai edukasi seksualitas. Materi yang diberikan mungkin untuk pengarahan ke kamar mandi sebaiknya sendiri tidak boleh memeluk teman yang mempunyai jenis kelamin berbeda.

2. Bagaimana strategi pembelajaran

yang diterapkan untuk

memperkenalkan seksualitas kepada anak?

Strategi pembelajaran secara verbal, selain menjelaskan materi pembelajaran guru juga memberikan pesan mengenai materi yang diberikan.

Selain itu juga guru memberikan contoh konkret kepada siswa agar siswa melakukan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Apakah ada hambatan saat Guru memberikan materi mengenai edukasi seksualitas?

Anak autisme sulit untuk fokus dan berkomunikasi, sehingga guru harus berulang kali memberikan arahan serta memilih kata yang tepat agar anak

autisme dapat paham dan menerapkannya

4. Apakah pada sudah ada media penunjang untuk pembelajaran edukasi seksualitas?

Selama ini hanya buku pembelajran saja, jika khusus untuk edukasi seksualitas belum.

5. Apakah edukasi seksualtas akan efektif jika diberikan media sebagai penunjang pembelajran? Media seperti apakah yang dibutuhkan oleh siswa autisme?

Efektif, dan sangat membantu dikarenakan anak autisme sulit untuk melakukan komunikasi. Media yang dibutuhkan untuk penunjang pembelajaran mungkin disesuaikan dengan anak tersebut, jika bentuk sepertu buku atau kartu sebaiknya gambar yang jelas dan mengguanakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak.

Tabel 4.3 Hasil Wawancara Guru Pendamping Khusus

Garis Besar Pertanyaan Hasil Wawancara 1. Apa saja pendampingan guru

berikan mengenai edukasi seksualitas?

Pendampingan yang diberikan yaitu berupa pengarahan seperti pengenalan organ tubuh dan fungsinya dan lebih spesifik.

2. Bagaimana strategi pembelajaran

yang diterapkan untuk

memperkenalkan seksualitas kepada anak?

Strategi pembelajaran lebih kepada pengarahan. Guru memberikan contoh dan memberi kalimat perintah jika anak tidak boleh memegang bagian dada di tempat umum dan sebagainya.

Pembelajaran juga harus dilang secara berkala agar anak paham dan mengingatnya.

3. Apakah sebagai guru pendamping khusus sudah memberikan pengajaran mengenai merawat dan menjaga kebersihan dan keamanan organ reproduksi?

Penerapan edukasi seksualitas mengenai merawat dan menjaga baik keberihan dan keamanan sudah dilaksanakan. Siswa sudah bisa untuk mencuci dan mengganti pembalut yang digunakan, atau mencuci organ kelamin ketika sudah selesai buang air kecil atau besar maupun saat mandi juga. Namun untuk kebersihan secara detail sguru sudah mengajarkan, namun siswa belum memahami.

4. Apakah perlu mengajarkan edukasi seksualitas kepada anak autisme?

Guru merasa sangat perlu adanya edukasi seksualitas pada anak autisme, agar secara mandiri anak mampu menjaga, merawat organ tubuh pada dirinya.

5. Apakah dalam memberikan pengarahan mengenai edukasi seksualitas sudah diberikan media?

Jika dibuat media mengenai edukasi seksualitas untuk anak autisme apakah pembelajaran akan efektif?

Selama ini belum ada gambar, namun guru memberikan pengarahan dan memberi contoh jika memberikan contoh mencuci pembalut ya menggunakan pembalut. Sangat efektif, dikarenakan anak autisme lebih bisa menyerap informasi secara visual terlebih anak autisme juga suka sekali dengan gambar-gambar.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, peneliti menyimpulkan pelaksanaan edukasi seksualitas kepada anak autisme sudah dilaksanakan, namun kurang mendalam dikarenakan pembahasan terkadang masih dianggap tabu.

Kemampuan secara kognitif siswa autisme masih kurang guru kelas dan guru pendamping pribadi siswa melalui komunikasi secara verbal dan diberikan contoh konkret harus setiap hari dan setiap kali mengingatkan. Terlebih saat siswa autisme tidak sadar menggaruk organ bagian kemaluan dan dada. Guru pendamping pribadi juga sudah memberikan arahan terbukti saat siswa melakukan buang air kecil siswa secara pribadi mampu untuk melakukannya. Edukasi seksualitas juga sangat perlu diajarkan kepada anak autisme karena kesulitan komunikasi dan memahami diri orangtua terkadang merasa khawatir jika anak tidak mampu secara mandiri menjaga kebersihan organ serta menjaga diri dari pelecehan seksual. Hambatan yang dialami guru saat memberikan edukasi seksualitas kepada anak autisme yaitu mengenai pemilihan kata dan arahan terlebih tidak adanya media atau buku penunjang edukasi seksualitas pada anak autisme. Pendampingan edukasi seksualitas yang diberikan oleh guru kepada anak biasanya memalui komunikasi verbal yang terkadang juga membuat anak ausitme suli untuk memahami. Guru sangat memerlukan buku media edukasi seksualitas kepada anak autisme namun, gambar dan pemilihan kata disesuaikan dengan kemampuan, menarik minat serta membantu komunikasi anak autisme dalam pembelajaran edukasi seksualtas.

Potensi yang peneliti temukan yaitu kemampuan komunikasi dan pemahaman yang dimiliki anak autisme masih setara anak umur 6-7 tahun sehingga membuat guru lebih sering memberikan pengarahan kepada anak autisme. Guru pendamping khusus menambahkan kemampuan pemahaman mengengenai diriku seorang wanita dan sebagainya masih belum dipahami anak. Strategi pembelajaran edukasi seksualitas hanya menggunakan contoh konkret dan komunikasi verbal. Namun, anak autisme senang sekali dengan gambar dan warna cerah. Masalah yang ditemukan peneliti menemukan bahwa anak autisme belum memahami organ diri dan anak autisme kurang diberikan materi, bimbingan dan tidak ada media pendukung mengenai edukasi seksualitas.

2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang lebih dalam mengenai anak autisme di kelas 5 SD Taman Muda.

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara kepada guru kelas serta guru pendamping pribadi siswa. Peneliti juga membuat pertanyaan wawancara berdasarkan observasi yang sudah dilakukan peneliti agar peneliti dapat mengetahui

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara kepada guru kelas serta guru pendamping pribadi siswa. Peneliti juga membuat pertanyaan wawancara berdasarkan observasi yang sudah dilakukan peneliti agar peneliti dapat mengetahui

Dokumen terkait