BAB III PEMBAHASAN DAN PRINSIP KERJA PIP
3.3. Simulasi Cara Kerja PIP
3.3.1. Langkah-langkah Pengujian
a) Rangkailah terlebih dahulu rangkaian didalam gambar 3.6 dibawah ini
Gambar 3.6. Rangkaian Simulasi fasilitas PIP
b) Untuk rangkaian Horizontal sinkronisasi (HS) pin out dihubungkan pada ICUOC III (pin HS ) sedangkan pin in dihubungkan pada IC PVP9390A (pin HS)
c) Rangkaian vertical sinkronisasi (VS) dari pin VS pada IC PVP9390A dihubungkan ke IC501 (IC Defleksi)
d) Pin SEL (Selector) dihubungkan ke pin FBL (Fast Blinking) pada IC UOC III
e) Pin CVBS1 dihubungkan ke video monitor out pada televisi, video monitor out ini sebagai pengganti tuner 2
f) Pin RGB dihubungkan ke Pin RGB out pada IC UOC III
g) Pin VDD33 dihubungkan ke inputan 3V yang terdapat pada rangkaian televisi
h) Pin SDC dan SCL dihubungkan ke PC (Personal Computer)
30
i) Instal software PIP controller untuk IC PVP9390A. Nyalakan televisi dan buka program contoler PIP
j) Setelah program controller PIP terbuka, Klik pada icon display yang tertera di PC kemudian klik icon ON untuk menyalakan fasilitas PIP pada televisi
k) Setelah icon ON diklik amati televisi apakah gambar PIP telah keluar bersama dengan gambar utama. Lihat Gambar 3.7
Gambar 3.7 Tampilan PIP
l) Apabila fasilitas PIP belum tampil pada layar televisi, priksalah kabel SEL yang terhubung dengan FBL menggunakan oscilloscope, bentuk sinyal harus seperti pada gambar 3.6
m) Apabila sinyal SEL bagus akan tetapi fasilitas PIP belum muncul, lanjutkan pemeriksaan pada pin Horizontal sinkronisasi dan Vertical sinkronisasi.
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data dan Analisa
Pengambilan data sangat dibutuhkan untuk memastikan rangkaian bekerja dengan baik sesuai dengan spesifikasi dari kedua IC Prosessor tersebut, baik IC UOC III maupun IC PVP9390A. Untuk keperluan pengambilan data ini yang diukur adalah televisi FB1E chassis.
4.1.1 Pengukuran sinyal Horizontal Sinkronisasi
Horizontal sinkronisasi atau yang sering disingkat HS merupakan sarana komunukasi agar dapat membuat sinkron antara dua IC Prosessor. Dibagian ini harus benar-benar diperhatikan mengingat akibat kerusakan bagian ini akan mengakibatkan sistem PIP tidak bekerja dengan baik. Dalam pengukuran horizontal sinkronisasi ini peralatan yang diperlukan adalah current probe dan oscilloscope. Data dan hasil pengukuran dapat ditunjukan dalam gambar berikut ini.
Gambar 4.1 Bentuk sinyal Horizontal Syn. (Kondisi PIP ON)
32
Gambar 4.2 Bentuk Sinyal Horizontal Syn. (Kondisi PIP OFF) Pada gambar 4.1 terlihat bentuk sinyal horizontal sinkronisasi pada saat fasilitas PIP diaktifkan. Sedangkan pada gambar 4.2 adalah bentuk sinyal horizontal sinkronisasi pada saat sistem PIP di non aktifkan. Dari hasil pengukuran dapat diketahui bahwa sinyal horizontal sinkronisasi tidak ada perubahan pada saat aktifkan ataupun di non aktifkan, begitu pula dengan nilai tegangan dan frequency tidak mengalami perubahan. Pada saat sistem PIP diaktifkan nilai VCC adalah 3.4 Vp-p dan pada saat di nonaktifkan nilai tidak berubah, hal ini juga terjadi pada nilai frequensinya, pada saat PIP diaktifkan nilai frequensinya dalah 15.63Khz sedangkan pada saat di nonaktifkan nilai tetap tidak ada perubahan.
4.1.2 Pengukuran Sinyal Vertical Sinkronisasi
Untuk vertical sinkronisasi, pengukuran dan alat yang digunakan tidak jauh berbeda dengan pengukuran Horizontal Sinkronisasi. Data dan hasil pengukuran dapat dilihat dalam gambar berikut :
Gambar 4.3 Bentuk sinyal Vertikal Syn. (Kondisi PIP ON)
Gambar 4.4 Bentuk sinyal Vertical Syn. (Kondisi PIP OFF)
Hasil pengukuran dari vertical sinkronisasi ini juga tidak berbeda dengan pengukuran sinyal Horizontal sinkronisasi. Bentuk sinyal, nilai tegangan dan frequency tidak berubah pada saat sistem PIP diaktifkan ataupun dinonaktifkan.
34
4.1.3 Pengukuran Sinyal SEL (Selector)
Gambar 4.5 Bentuk sinyal SEL (Sistem PIP ON)
Gambar 4.6 Bentuk Sinyal SEL (Sistem PIP OFF)
Pada gambar diatas terlihat hasil pengukuran sinyal SEL. Pada saat sistem PIP diaktifkan (Gambar 4.5) terlihat sinyal SEL sedangkan pada gambar 4.6 adalah bentuk sinyal SEL pada saat sistem PIP dinonaktifkan. Disitu terlihat ada perbedaan bentuk sinyal, tegangan dan frequency. Dari hasil pengukuran SEL ini dapat disimpulkan bahwa apabila PIP dinonaktifkan maka terputuslah komunikasi antara IC UOC III dengan IC PVP.
4.1.4 Pengukuran Sinyal Error
Dalam pengujian alat, khususnya pada waktu pengukuran sinyal sering kali ditemukan ketidaksesuaian dalam bentuk sinyal itu sendiri, sehingga mengakibatkan gambar PIP menjadi tidak sesuai dengan gambar yang diharapkan.
Salah satu bentuk sinyal horisontal yang menunjukkan sinyal yang cacat adalah seperti gambar 4.7 dibawah ini.
Gambar 4.7 Bentuk Sinyal Horizontal Syn. NG (Kondisi PIP Rolling).
Pada gambar diatas menunjukkan sinyal Horizontal yang tidak bagus, dalam hal ini maka akan mengakibatkan perubahan pada gambar PIP, karena kondisi sinyal Horizontal yang dihasilkan oleh IC PIP tidak sinkron terhadap sinyal horizontal yang dihasilkan dari sinyal horizontal IC UOC III. Dengan bentuk sinyal Horizontal diatas maka akan mengakibatkan gambar PIP menjadi tidak sesuai, ketidak sesuaian gambar PIP bisa dilihat pada gambar 4.8 di bawah ini. Gambar PIP yang terlalu masuk kedalam sehingga tidak terlihat gambar PIP secara keseluruhan.
36
Gambar 4.8 Gambar PIP yang tidak sesuai
4.1.5 Pengukuran Temperature IC PVP 9390A
Untuk mengetahui bahwa IC PIP yang digunakan adalah IC yang aman pada saat dioprasikan, perlu diukur juga temperaturnya. Pengukuran dilakukan selama 6 hari. Data pengukuran temperature ditunjukan pada table 4.1 dibawah ini
Tabel 4.1 Temperature IC PVP 9390A
Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa temperature terendah pada saat pengetesan hari pertama dan mengalami peningkatan pada hari ke 2, ke 4 dan ke 5, akan tetapi pada hari ke 6 dan ke 7 teperatur cenderung stabil.
Di pabrik TV SANYO, telah menetapkan standar temperature dengan konversi 40°C (pers.1) dimana penghitungannya dengan rumus:
Final temperatur = TIC + ( 40-TA ) °C...( pers.1 ) Keterangan :
TIC : Temperatur IC ( PVP9390A ) terukur TA : Temperatur ruangan terukur
Prosedur pengukuran temperature adalah menggunakan temperaturemeter yang telah dikalibrasi ( uR Recorder 1000 ) yang dihubungkan ke ICPVP9390A oleh termoccople wire, dan TV dalam keadaan ON dengan kondisi normal ( Back covered ). Karena spesifikasi PT. SANYO Electronics Indonesia adalah final temperatur ≤ 90°C, maka dapat diketahui bahwa temperature IC PVP 9390A diatas dapat digunakan sebagai IC Prosessor PIP pada rangkaian TV SANYO.
Dengan demikian prosese desain fasilitas TV PIP tersebut dapat dilanjutkan.
4.2 Data Gambar Chassis dan TV dengan fasilitas PIP.
Gambar 4.9 Gambar Modul PIP
Gambar 4.10 Kombinasi IC UOC III dan IC PVP
38
Gambar 4.11 Kombinasi IC UOC III dan IC PVP 9390A dalam satu chassis.
Gambar 4.12 Bentuk Tampilan PIP (Scan)
Gambar 4.13 Bentuk tampilan PIP (Posisi Bawah)
Gambar 4.14 Tampilan PIP (Posisi atas)
40
Gambar 4.15 Gambar Pengujan Sinyal PIP
Gambar 4.16 Gambar PIP Mode Scan Channel
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasi analisa dan simulasi televisi berfasilitas Picture In Picture (PIP) menggunakan IC PVP 9390A Micronas ini dapat disimpulkan bahwa :
¾ IC PVP 9390A dapat dikombinasikan dengan IC UOC III Philips untuk menampilkan fasilitas televisi PIP.
¾ Penggunaan IC PVP sebagai penunjang utama fasilitas televisi PIP memiliki beberapa kelebihan preduksian gambar mulai dari ¼ sampai 1/8 dari ukuran normal dan bisa diatur dalam steps untuk 2 line dan 4 pixel.
¾ Dengan penggunaan IC PVP 9390A sebagai fasilitas PIP pada televisi SANYO kiranya dapat dijadikan sales poin agar televisi SANYO dapat menguasai pangsa pasar baik didalam negeri maupun diluar negeri.
5.2 Saran
Dari kesimpulan di atas penulis dapat memberikan saran sebagai barikut:
¾ Untuk televisi SANYO penulis memberikan saran agar kiranya IC PVP 9390A dapat terus digunakan karena memiliki berbagai keuntungan baik dari segi teknis maupun ekonomis.
¾ Bagi yang tertarik untuk mendalami dan mengembangkan Ilmu rekayasa Elektronika khususnya televisi berfasilitas PIP, penulis sarankan agar Tugas Akhir ini menjadi salah satu rujukan sehingga dapat yang lebih efektif dan lebih berkualitas.
42
DAFTAR PUSTAKA
1. Malvino, Ph. D, Albert Paul, Prinsip – Prinsip Elektronika 1, Edisi kedua, Penerbit Erlangga Jakarta, 1994.
2. Pantur Silaban, Ph.D, Arvin Grabel, Dasar-dasar Elektroteknik 1, Edisi Kelima, Penerbit Erlangga Jakarta, 1981.
3. Power supply team, Switch ModePower Supplies, Reference Manual and Design Guide, Rev. 2, ON Semiconductor, Apr-2000
4. Switched Mode Power Supplies team, Power Semiconductor Applications, Philips Semiconductor.
5. Semiconductor team, Power Semiconductor Applications, Philips Semiconductor, 1994
6. http://www.geocities.com/asrofi82/Iptek/Elektro/Elkadasar-catudaya.
7. http://www.elektroindonesia.com/elektro/elek25.