• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian dan Waktu

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.2 Langkah-Langkah Reklamasi Tambang dengan Menggunakan Program

Holcim Educational Forest

Reklamasi sudah mulai dilakukan oleh PT Holcim pada tahun 2005 sampai tahun 2010 secara langsung dan mandiri oleh PT Holcim yang tidak berjalan optimal. PT Holcim kemudian bekerjasama dengan Fahutan IPB dalam

menghijaukan kawasan tersebut, hal ini dibarengi dengan kesadaran untuk membuat suatu reklamasi yang bertujuan mermbuat hutan pendidikan. Hutan pendidikan tersebut memuat aspek pengelolaan hutan yang ingin dicapai oleh PT Holcim Indonesia Tbk (HOLCIM dan Fahutan IPB 2012). Aspek tersebut adalah:

1. Aspek kelola produksi/ekonomi (economically viable): pemanfaatan hasil hutan kayu, non kayu dan jasa lingkungan.

2. Aspek kelola sosial (social beneficially): pengembangan manfaat langsung dan tidak langsung pada nilai manfaat ekologi, nilai manfaat ekonomi dan nilai manfaat sosial melalui pengembangan kolaborasi pengelolaan hutannya dengan masyarakat sekitar.

3. Aspek kelola lingkungan/ekologi (environmental friendly): orientasi pada konservasi, biodiversity dan estetika.

4. Mengemban fungsi pendidikan dan penelitian: Fungsi pendidikan dan penelitian untuk mahasiswa, siswa sekolah, masyarakat pertambangan dan masyarakat umum.

5. Mengemban fungsi promosi dan company image branding: perusahaan yang peduli lingkungan.

Langkah pertama yang dilakukan oleh HOLCIM dalam menjalankan reklamasi adalah melakukan panel dengar pendapat. Acara tersebut merupakan agenda pertemuan dengan masyarakat yang dihadiri oleh 32 masyarakat desa yang terdiri dari perwakilan RW 11, 13 dan 17, empat jurnalis lokal, dua lembaga swadaya masyarakat, empat anggota BPD dan LPM desa. Dalam panel dengar pendapat tersebut, HOLCIM melakukan hearing mengenai pendapat masyarakat sekitar mengenai pengharapan yang diharapkan oleh masyarakat terkait dengan lahan tambang yang akan ditutup. Penutupan pertambangan ini berpengaruh pada hilangnya pekerjaan warga yang bekerja.

Setelah adanya panel dengar pendapat dengan masyarakat, HOLCIM melakukan presentasi rencana penutupan tambang pada stakeholder. Persentasi dilakukan berdasarkan Dokumen Rencana Penutupan Tambang PT Holcim Indonesia Tbk. Dokumen ini juga telah mendapatkan pengesahan dari Pemda Sukabumi. Memorandum of understanding antara PT Holcim Indonesia Tbk dengan Fakultas Kehutanan IPB dilakukan pada tahun 2011, tepatnya pada

tanggal 5 desember 2011 untuk jangka waktu kontrak tiga tahun dan telah disepakati bahwa pengelolaan HEF akan dilakukan oleh manajemen bersama antara PT Holcim Indonesia Tbk dan Fakultas Kehutanan IPB (HOLCIM dan Fahutan IPB 2012). Setelah dilakukannya MoU terdapat jeda waktu untuk persiapan. Akhirnya pada tahun 2013, manajemen bersama HOLCIM dan Fahutan IPB mulai melakukan penanaman di lahan pasca tambang.

HEF juga telah mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat berupa beberapa pelatihan ekonomi alternatif. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan tambahan keterampilan bagi masyarakat yang dapat digunakan untuk mendapatkan tambahan penghasilan (aspek kelola sosial/social beneficially). Data kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat pada Tabel 6:

Tabel 6 Aktivitas pemberdayaan masyarakat Holcim Educational Forest N o Waktu Pelatihan/Kegiatan masyarakat Pesert a

Output yang ingin dicapai 1 April

2014

pembagian bibit

sengon ke warga Sekarwangi

68 Penghijauan kawasan desa

2 Mei 2014

studi ke peternak puyuh

4 Munculnya pelaku usaha

peternak puyuh di RW 13 dan 17 3 Agustu s 2014 studi ke peternak puyuh

6 Munculnya pelaku usaha

peternak puyuh di RW 13 dan 17 4 Feb 2015 pelatihan budidaya jamur tiram

26 Munculnya pelaku usaha

jamur tiram di RW 13 dan 17

5 Feb

2015

sosialisasi program rumah pangan lestari

26 Pemanfaatan pekarangan

untuk tanaman yang

bermanfaat

Sumber: HOLCIM dan Fahutan IPB, 2015

Tabel 6 memperlihatkan bahwa terdapat beberapa kegiatan dan pelatihan yang diadakan oleh manajemen HEF kepada masyarakat. Secara lebih dalam adanya kegiatan dan pelatihan kepada masyarakat tersebut belum memberikan manfaat yang secara nyata kepada masyarakat, sebanyak 50 orang (100%) responden menyatakan belum ada perubahan atas pelatihan dan kegiatan yang diberikan.

4 4 2 1 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 <200.000 200.000 - 500.000 >500.000 Tidak ada perubahan Ju m la h r es p o n d en

Perubahan penghasilan per bulan

Selain adanya pelatihan ekonomi alternatif, manajemen HEF kemudian melakukan perekrutan bagi masyarakat yang menjadi pengangguran setelah ditutupnya lahan tambang. HEF melakukan perekrutan sebanyak 11 orang dengan komposisi empat orang tenaga pengamanan, satu orang tenaga umum dan enam orang pekerja harian tetap dan sejumlah pekerja yang dipanggil secara temporary bergantung dengan event yang dikerjakan (HOLCIM dan Fahutan IPB 2015). Para pekerja tersebut mendapatkan tambahan pendapatan daripada pekerjaan yang dilakukan sebelumnya dan berdasarkan data yang didapatkan melalui wawancara, diperoleh data berikut ini:

Gambar 8 Perubahan penghasilan rumah tangga per bulan atas berdirinya HEF Berdasarkan Gambar 8 tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak empat responden memiliki pertambahan pendapatan <Rp.200.000 dan memiliki persentase sebanyak 36%. Sebanyak 4 responden memiliki pertambahan pendapatan sebesar Rp.200.000-Rp.500.000 dengan persentase yang sama, dua orang memiliki perubahan pendapatan sebesar 18% dan satu orang tidak mengalami perubahan dengan persentase 9 %. Penghasilan yang didapat oleh masyarakat setiap tahunnya dapat dilihat di Tabel 7:

Tabel 7 Total penghasilan masyarakat yang terlibat dalam HEF2014 No Sumber

pendapatan

Jumlah anggota yang ikut serta (orang)

Jumlah pendapatan (orang/Rp/tahun)

1 Pegawai HEF 5 120.000.000

2 Pekerja Harian tetap dan temporary

13 234.000.000

4 Pembuatan turap 7 43.750.000

Total 442.500.000

Sumber:HOLCIM dan Fahutan IPB 2015

Dalam menghitung nilai ekonomi tersebut dilakukan perhitungan dengan mengalikan jumlah gaji yang didapatkan oleh masyarakat dengan 12 bulan dan dikalikan kembali dengan jumlah anggota yang ikut serta. Perhitungan pegawai HEF dilakukan perkalian antara gaji pegawai sebesar Rp. 2.000.000 dengan 12 bulan dan dikali dengan lima orang. Hasil perhitungan tersebut adalah Rp 120.000.000.

Pekerjaan harian tetap dan temporary dihitung dengan mengalikan upah pekerja perhari sebesar Rp 60.000 dengan 25 hari kerja selama satu bulan kemudan dikalikan dengan jumlah pekerja. Perhitungan yang sama dilakukan untuk pekerja cor jalan dan pekerja pembuat turap. Pekerja cor jalan memiliki upah sebesar Rp. 75.000 untuk keempat pekerja pertama dan Rp. 62.500 untuk keempat pekerja sisanya dan memiliki hari kerja sebanyak 25 hari kerja dalam satu bulan. Pekerja pembuat turap memiliki upah Rp.62.500 dan hari kerja sebanyak 25 hari kerja dalam satu bulan. Total penghasilan masyarakat adalah Rp. 442.500.000 per tahun.

HEF memberikan pelatihan yang dilakukan kepada masyarakat untuk meningkatkan kemampuan ekonomi alternatif. HEF juga mendapatkan beberapa kunjungan dari beberapa institusi dan penelitian terkait dengan lahan pasca tambang hal itu merupakan cerminan dari misi kedua dari HEF yaitu kepentingan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Terdapat berbagai macam penelitian yang dilakukan, penelitian geologi atau yang berhubungan dengan batuan, penelitian tentang tanah dan juga penelitian tentang hutan yang telah dilakukan di tempat reklamasi ini. Secara lebih jelas adanya aktivitas pendidikan dapat dilihat pada Tabel 8:

Tabel 8 Total aktivitas pendidikan di HEF No Waktu Jumlah kunjungan (orang) Institusi

1 Juli 2013 390 Fakultas Kehutanan IPB

2 September 2013 18 Institut Teknologi Bandung

3 Oktober 2013 7 pelatihan erosi

4 November 2013 26 Silvikultur IPB

5 Januari 2014 5 Universitas Padjadjaran

6 Februari 2014 1625 SMAN 1 Cibadak

7 Mei 2014 60 SDN 2 Cibadak

8 Juni 2014 14 Pascasarjana Silvikultur IPB

9 Juni 2014 46 Teknik Geologi Unpad

10 Juni 2014 13 Teknik Geologi Unpad

11 Juli 2014 8 Institut Pertanian Bogor

12 Agustus 2014 2 Teknik Geologi ITB

13 Agustus 2014 6 Teknik Geologi Unpad

14 September 2014 4 Pascasarjana Silvikultur IPB 15 Okttober 2014 5 Teknik Geologi Unpad

16 Oktober 2014 9 Teknik Geologi ITB

17 Oktober 2014 88 SDIT Ad Da'wah

18 November 2014 33 SDN 2 Cibadak

19 November 2014 27 SEAMEO BIOTROP

20 Desember 2014 109 FEM IPB

21 Januari 2015 35 Pascasarjana Silvikultur IPB 22 Februari 2015 19 Institut Teknologi dan sains

bandung

Sumber: HOLCIM dan Fahutan IPB 2015

Adanya kedua tabel diatas dapat menjelaskan bahwa terdapat kunjungan dan aktivitas pendidikan di HEF setiap tahunnya. Kunjungan tersebut dapat dikarenakan adanya sisi menarik dari reklamasi ini untuk dikunjungi dan dijadikan tempat penelitian. Manajemen HEF masih membuka kesempatan bagi institusi untuk melakukan aktivitas pendidikan di HEF. Secara lebih lengkap, langkah-langkah HEF dan model pengelolaan hutan HEF dapat dilihat secara ringkas pada Gambar 9:

Holcim Educational Forest Economic viable Social beneficially Environmental Friendly Pendidikan dan Penelitian Promosi dan company image branding Panel dengar pendapat

dengan masyarakat

Presentasi rencana penutupan tambang dengan stakeholder

MoU dengan Fahutan IPB

Gambar 9 Langkah langkah dan model pengelolaan hutan HEF Keterangan :

---: Model pengelolaan hutan HEF

6.3 Estimasi Manfaat Ekonomi Holcim Educational Forest

Manfaat ekonomi dibedakan menjadi manfat tangible (berwujud) dan manfaat intangible (tidak berwujud). Adanya nilai dari manfaat tersebut kemudian dapat diidentifikasi menjadi manfaat guna langsung dan tidak langsung. Nilai tersebut menggunakan berbagai macam asumsi sebagai bagian dari pendekatan untuk menentukan nilai. Nilai tersebut masih relatif jauh untuk menunjukkan manfaat ekonomi sesungguhnya tetapi diharapkan dapat menggambarkan potensi manfaat yang diperoleh dari adanya HEF.

6.3.1 Nilai Guna Langsung Holcim Educational Forest

Nilai guna langsung dan bersifat tangible dapat didapatkan dari manfaat hasil hutan seperti manfaat hasil kayu berupa kayu bakar dan kayu log. Nilai

ekonomi kayu log dapat dimanfaatkan untuk dijual kepada perusahaan kayu sedangkan nilai ekonomi kayu bakar dapat dimanfaatkan langsung untuk pelaku usaha gula aren.

Dokumen terkait