Erlangga Gilang Pradana12
E
konomi dunia tidak bisa lepas dariketergantungan terhadap penggunaan bahan baku dan sumber daya yang ada di bumi. Berdasarkan data empiris, setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir pertumbuhan ekonomi masih bergerak searah dengan jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan.
Sebagaimana diketahui, emisi GRK seperti karbon dioksida ditengarai menjadi penyebab atas terjadinya kenaikan suhu rata-rata bumi sehingga mengakibatkan perubahan iklim yang berdampak buruk bagi kehidupan manusia.
Gambar 1. Rata-rata perubahan pertumbuhan GRK dan GDP
Sumber : Sumber: merdeka.com, 2021
Gambar 1 menunjukkan rata-rata perubahan GDP beberapa negara dari tahun 1993 sampai dengan 2018. Berdasarkan grafik di atas, emisi GRK mayoritas negara-negara di dunia naik bersamaan dengan GDP, termasuk Indonesia, yang mengindikasikan bahwa kegiatan ekonomi masih bergantung dari penggunaan resource yang menghasilkan emisi GRK. Hanya sedikit negara di dunia yang di saat bersamaan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menurunkan emisi GRK (Jepang, Jerman, Denmark).
Namun demikian, bukan berarti pertumbuhan ekonomi hanya dapat dicapai dengan
Salah satu faktor penyebabnya adalah tren global yang semakin menuntut adanya penggunaan energi dan sumber daya yang lebih efisien.
Indonesia harus segera menangkap peluang tren global pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang
mengutamakan sustainable dan renewable energy. Pasalnya, pembangunan ekonomi berkelanjutan ini justru membuka peluang Indonesia untuk dapat membuka lapangan kerja baru dan potensi pertumbuhan ekonomi dengan paradigma baru. Berdasarkan laporan ILO, diperkirakan akan terdapat sekitar 6 juta lapangan kerja yang hilang di sektor migas Gambar 2. Perkembangan GDP dan GRK
Dunia, %, 1990–2018, tahun dasar 2000=100 Gambar 3. Pekembangan GDP dan GRK
Indonesia, %, 1990–2018, tahun dasar 2000=100
Sumber : World Development Indicators, diolah
mengorbankan kualitas lingkungan.
Sebagaimana dibuktikan oleh negara seperti Jepang, Jerman, atau Denmark yang dapat menurunkan emisi GRK-nya, tren global saat ini mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable growth).
Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa tren pertumbuhan ekonomi dunia semakin membutuhkan lebih sedikit emisi GRK untuk tiap pertumbuhan unit GDP. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Pertumbuhan GDP sepuluh tahun terakhir relatif dapat tumbuh lebih besar dibandingkan pertumbuhan emisi GRK. Meskipun secara total emisi GRK tetap tumbuh, intensitasnya semakin menurun.
dan batubara pada 2030 akibat tren global ini. Namun, diproyeksikan adanya 24 juta lapangan pekerjaan baru di sektor pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) yang dapat menggantikan pekerjaan yang hilang akibat transisi menuju ekonomi hijau13. Tentunya hal ini dapat membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pandemi Covid-19.
Pembangunan ekonomi berkelanjutan
tentunya membutuhkan investasi yang cukup besar. Di sini lah peran sektor keuangan menjadi vital untuk dapat membiayai
pembangunan menuju ekonomi hijau tersebut.
Sebagaimana diketahui dalam National Determined Contribution (NDC), Indonesia
13nternational Labour Organization, World Employment Social Outlook Greening with Jobs (2018)
telah berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK, setidaknya
sebesar 29% pada tahun 2030. mengetahui mana aset hijau
di suatu negara, mendorong korporasi untuk melakukan aktivitas hijau, mendukung regulator mencapai target keberlanjutan, mempermudah institusi keuangan melakukan transaksi intermediari, dan mencegah risiko terjadinya greenwashing.
Di Indonesia, definisi tersebut belum diatur secara jelas.
Pendefinisian investasi hijau penting sebagai langkah awal pengembangan sektor keuangan hijau. Maka dari itu, roadmap keuangan berkelanjutan 2021 – 2025 yang telah disusun oleh OJK memasukkan penyusunan taksonomi hijau sebagai program prioritas. Belum adanya definisi yang
terstandardisasi berpotensi mengakibatkan kebijakan hijau lain menjadi tidak tepat sasaran. Misalnya, kebijakan penyusunan sustainable reporting dijalankan
berdasarkan sudut pandang masing-masing, alih-alih berdasarkan pedoman definisi yang jelas.
World Bank telah
mengeluarkan panduan untuk mengembangkan taksonomi hijau15. Setidaknya diperlukan beberapa langkah key factors dalam proses penyusunan taksonomi hijau bagi suatu negara. Pertama, menentukan strategic dan environmental goals taksonomi hijau yang disesuaikan dengan agenda prioritas negara. Indonesia pada prinsipnya telah
memiliki tujuan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan Mengacu pada Peta Jalan NDC Indonesia, total kebutuhan
pendanaan investasi berkelanjutan mencapai Rp3.779 triliun agar dapat memenuhi target penurunan emisi GRK, dengan rata-rata pendanaan per tahun sebesar Rp343 triliun. Tentunya kebutuhan tersebut tidak dapat seluruhnya dibiayai oleh
negara. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dari sektor keuangan untuk membiayai investasi pada sektor hijau.
Kolaborasi antar-stakeholders ekosistem sektor keuangan, yakni pemerintah, regulator, pelaksana infrasturktur pasar, investor, korporasi, serta penyedia profesi, perlu ditingkatkan.
Salah satu kebijakan penting untuk mendukung keuangan berkelanjutan dan kolaborasi antar-stakeholders adalah dengan mengembangkan taksonomi hijau (green taxonomy).
Taksonomi Hijau
Taksonomi hijau didefinisikan sebagai sebuah sistem
klasifikasi yang mengidentifikasi suatu investasi yang dapat mencapai tujuan suatu negara terkait sustainability sesuai dengan target yang telah ditetapkan14. Adanya definisi dan klasifikasi atas “investasi hijau” membantu investor Tabel 1: Kebutuhan Pembiayaan Pencapaian NDC Indonesia
Sumber : Peta Jalan NDC (2019), Laporan Anggaran Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim BKF (2021)
Gambar 4. fungsi taksonomi hijau bagi stakeholders
Sumber : penulis
sebagaimana tertuang dalam Perpres Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan.Tujuan ini juga telah diselaraskan dalam RPJMN 2020 – 2024 sebagai salah satu agenda prioritas yakni i) peningkatan kualitas lingkungan, ii) peningkatan ketahan bencana dan perubahan iklim, dan iii) pembangunan rendah karbon.
Kedua, menentukan sektor mana saja yang akan
didefinisikan oleh taksonomi hijau. Sektor dimaksud seyogyanya ditentukan berdasarkan dampaknya kepada strategic dan environmental goals yang telah ditetapkan. Apabila melihat referensi best practice dari negara-negara lain yang telah menerapkan taksonomi hijau, setidaknya ada tiga kategori besar yang selalu masuk ke dalam taksonomi, yakni sektor energi
terbarukan, pengelolaan limbah dan daur ulang, serta penggunaan lahan (termasuk pertanian, kehutanan, atau eco-tourism). Selanjutnya, dari sektor-sektor tersebut perlu ditetapkan suatu kriteria atau treshold tertentu dalam rangka asesmen terhadap investasi yang nantinya dapat dikategorikan sebagai investasi hijau.
Ketiga, menentukan target pengguna serta ketentuan pelaporan taksonomi hijau.
Pengguna utama taksonomi hijau seperti digambarkan pada Gambar 4 yakni para investor, institusi keuangan, dan issuer produk investasi hijau. Namun, tidak menutup kemungkinan taksonomi hijau disusun juga untuk target stakeholders lain seperti pelaksana infrastruktur pasar, standard setter, atau pemberi jasa profesi. Dengan adanya aturan taksonomi hijau, tiap pihak dapat memahami “rule of the game” green market
dan mengetahui kewajibannya masing-masing. Selain itu, regulator dapat lebih mudah melacak data dan memantau efektivitas pendanaan hijau dengan adanya kewajiban pelaporan reguler yang menyelaraskan taksonomi hijau.
Terakhir, salah satu yang menjadi kendala utama pengembangan sektor keuangan berkelanjutan adalah kurangnya literasi tentang apa itu produk keuangan hijau dan bagaimana mengidentifikasinya.
Diharapkan dengan adanya taksonomi hijau dapat
mempercepat pengembangan sektor ini. Meski demikian, langkah-langkah
penyusunan taksonomi hijau membutuhkan kerja sama banyak pihak dan proses studi yang dalam dari berbagai sektor dan profesi. Oleh karenanya, pengembangan taksonomi