Zakaria – Biro Kerjasama dan Humas e-mail: [email protected]
membangun kerjasama dengan CNSA dalam rangka pembangunan banda antariksa, karena RRT memiliki empat bandar antariksa yang mumpuni seperti bandar antariksa Jiuquan Satellite Launch Center (JSLC); Bandar Antariksa Xichang Satellite Launch Center (XSLC); bandar antariksa Taiyuan Satellite Launch Center (TSLC); dan bandar antariksa Wenchang Satellite Lauch Center (WSLC). Bandar antariksa RRT termasuk tersibuk di dunia setelah bandar antariksa Cape Canaveral, Amerika. Baikonur, Plesetsk, Rusia. Kourou, Perancis, Tanegashima, Jepang dan Sriharikota, India.
2. PemBaHasan
Wahana peluncur dan tempat peluncuran satelit merupakan bagian inti bagi satu negara untuk menjadi negara yang kuat dalam bidang keantariksaan. Sejak 70-an Indonesia telah membuka lebar kesempatan untuk negara asing membangun fasilitas antariksa di wilayah Indonesia. Selama ini, pihak Rusia yang paling serius dalam rencana kerjasama pembangunan fasilitas pengoperasian Air Launch System (ALS) di Biak, maupun peroketan dan satelit. Kerjasama tersebut telah disepakati dengan ditandatanganinya Agreementthe Field of Exploration and Use of Outer Space for Peaceful Purpose antara pemerintah Republik Indonesia dan Rusia pada 1 Desember 2006. Namun, sayangnya kerjasama tersebut belum terealisasi sampai sekarang.
menempatkan RRT menjadi negara ketiga setelah Amerika dan Rusia. Ambisi RRT menguasai teknologi antariksa tidak berhenti sampai di sana. Dalam waktu dekat, RRT diperkirakan mampu mengirim manusia ke Bulan (manned moon mission) dan selanjutnya melakukan ekspedisi ke Planet Mars. Program antariksa Tiongkok jangka panjang sudah tertuang dalam White Paper yang disusun oleh China National Space Administration (CNSA) sebagai pemegang otoritas dalam pengelolaan keantariksaan.
Mungkin dapat dikatakan, sangatlah tepat jika LAPAN
Roket (Staspro), di Balai Produksi dan Pengujian Pameungpeuk-Garut, Jawa Barat, yang dibangun sejak 1963, dipandang sudah tidak layak lagi, khususnya untuk melakukan uji coba peluncuran roket. Launching pad-nya sudah tidak ideal lagi untuk peluncuran, mengingat batas zona aman ll 2000 meter dari launching pad harus kosong sudah tidak terpenuhi. Saat ini di dalam ruang zona aman ll tersebut banyak dipenuhi oleh penginapan liar, permukiman warga, cafe dan tempat pelelangan ikan, bahkan pada hari tertentu di pulau Santolo banyak wisatawan yang berkunjung. Terlebih lagi, Dinas Parawisata Garut membangun fasilitas pariwisata di dalam pulau Santolo. Melihat kondisi tersebut sudah seyogyanya LAPAN mencari solusi untuk membuat bandar antariksa yang baru dan lebih modern serta mampu meluncurkan Roket jenis Roket Peluncur Satelit (RPS) ke berbagai orbit.
Sejauh ini LAPAN belum memutuskan pilihan terkait pembangunan bandar antariksa baru
roket yang di Pameungpeuk. Tetapi, LAPAN telah melakukan survei dan studi kelayakan di beberapa wilayah seperti:
(1) Biak, Papua yang terletak di ujung timur Indonesia, dengan luas daratan 2.455 km menghadap samudera Pasifik serta berpenghuni relatif sedikit, mempunyai bandara Frans Kaisepo yang terletak hanya beberapa detik derajat dari garis khatulistiwa (0.11”31’ lintang selatan);
(2) Pulau Enggano, LAPAN telah melakukan survei terkait rencana pembangunan bandar antariksa di Pulau Enggano, Bengkulu. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari penandatanganan MoU yang dilakukan Pemprov Bengkulu dengan LAPAN 2010. Survei tersebut meliputi kawasan konservasi, status hutan, kondisi geografis, dan sosialisasi LAPAN dengan masyarakat Pulau Enggano. Hasil survei ini merupakan kebutuhan untuk melengkapi pembuatan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Rencana
Kelola Lingkungan (UPL). Survei penting dilakukan oleh LAPAN untuk mencari penyesuaian tata ruang, dan seminimal mungkin tidak mengganggu ekosistem Enggano. Bengkulu telah mengalokasikan beberapa hektar lahan untuk keperluan pembangunan bandar antariksa itu.
(3) Pulau Morotai, LAPAN juga telah melakukan survey terkait rencana pembangunan bandar antariksa di Morotai, Maluku Utara. Morotai memiliki berbagai kelebihan jika dibanding Pulau Enggano, Nias, dan Biak. Wilayahnya yang dekat dengan garis khatulistiwa atau dua derajat di utara garis khatulistiwa, dinilai strategis dan ekonomis untuk meluncurkan roket guna menempatkan satelit di orbit geostasioner. Bukan itu saja, dari segi infrastruktur, pulau tersebut juga memiliki fasilitas infrastruktur seperti pelabuhan besar dan bandara. Fasilitas penunjang tersebut sangat penting terutama untuk pengiriman barang-barang guna mendukung pembangunan bandar antariksa.
Secara geografis, posisi Indonesia terletak di sepanjang garis khatulistiwa memiliki keuntungan dalam melakukan kegiatan di bidang keantariksaan, terutama bagi peluncuran RPS. Wilayah Indonesia yang memanjang 5000 km di bawah garis khatulistiwa, dari Sabang sampai Merauke, merupakan daerah yang persis terletak di belahan dunia antara utara dan selatan. Daerah ini dinilai sangat efisien untuk kegiatan peluncuran roket, karena peluncuran dari daerah khatulistiwa akan mendapat tambahan daya dorong sekitar 0,463 km perdetik dari rotasi bumi pada saat masuk orbit bumi sehingga akan menghemat bahan bakar.
Sebelum penandatanganan MoU kerjasama antara LAPAN dengan pihak CNSA dilaksanakan, maka LAPAN perlu segera untuk menetapkan pilihan lokasi bandara antariksa yang akan dibangun agar pelaksanaan kerjasama
ini dapat berjalan lebih efektif, lancar dan meyakinkan bagi pihak mitra. Ini juga sebagai pembuktian bahwa LAPAN memang serius dalam rencana pembangunan bandar antariksa di Indonesia, tanpa ada gangguan dan conflict of interest di daerah yang sering menjadi kendala dalam pelaksanaan proyek-proyek nasional.
CNSA sangat berpengalaman dalam membangunan maupun pengoperasian bandar antariksa untuk mengorbitkan satelit ke berbagai macam orbit baik untuk keperluan ilmiah dan peluncuran komersial. bandar antariksa RRT yang masih beroperasi sampai sekarang adalah:
(a) Bandar antariksa The Jiuquan Satellite Launch Center (JSLC), yang terletak di Gurun Gobi kira-kira 1.600 km dari Beijing. Bandar antariksa tersebut dibangun 1958 atas bantuan dari Soviet (sekarang Rusia). JSLC sering digunakan untuk peluncuran satelit orbit rendah
dan medium, low earth orbit (LEO) dan Solar Synchronous Orbit (SSO) menggunakan roket Long March-2C, LongMarch-2D, dan LongMarch-4. Satelit pertama Tiongkok Dong Fang Hong diluncurkan dari JSLC. Pengoperasian bandar antariksa RRT tidak lepas dari kepentingan pihak militer untuk pengujian berbagai jenis peluru kendali seperti ballistic missile, intermediate range ballistic missile (IRBM), Dongfeng-5, dan intercontinental ballistic missile (ICBM). Hal ini tidak menghambat aktivitas yang dilakukan oleh sipil untuk peluncuran satelit dan stasiun antariksa seperti modul laboratorium antariksa yang dikenal dengan Tiangong-1, manned space mission Shenzhou 5-9 yang sudah dimulai dari 2003 sampai sekarang. Luas areal JSLC lebih kurang 1000 hektar memiliki empat areal peluncuran. Launch area pertama memiliki satu launch pad, launch area kedua memiliki tiga launch
Gambar 2.3. Bandar Antariksa The Jiuquan Satellite Launch Center (JSLC), sumber: http://www.shenzhen-standard.com/2012/04/12/completed-components-for-shenzhou-9-spacecraft-delivered-to-launch-center/
pad, launch area ketiiga memiliki dua launch pad dan launch area keempat memiliki dua launch pad. Masing-masing fasilitas peluncur dilengkapi: technical cente, memiliki dua komplek peluncuran, mission command and control centre, launch control centre, propellant fuelling systems, tracking and communication systems, gas supply systems, weather forecast systems, logistic support systems, perumahan dan mess untuk karyawan maupun para teknisi dari negara lain yang terlibat selama kegiatan peluncuran di JSLC.
(b) Bandar antariksa Taiyuan Satellite Launch Center (TSLC), terletak di ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut dikelilingi oleh pegunungan Taiyun sebelah utara Provinsi Shanxi RRT. TSLC dibangun 1966 baru bisa dioperasikan 1968. Lokasi ini sangat ideal untuk peluncuran satelit orbit synchronous. Bandar antariksa TSLC bisa digunakan untuk peluncuran satelit meteorologi, earth resource satellites dan scientific satellites. Disamping itu, juga difungsikan sebagai tempat uji coba peluncuran roket-roket militer seperti overland Submarine-Launched Ballistic Missile (SLBM). TSLC memiliki dua launch complex yang pertama digunakan untuk roket: 1D, CZ-2C/SD, CZ-4A, CZ-4B dan CZ-4C dan launch complex yang kedua digunakan untuk roket 2C, CZ-4B dan CZ-4C. Sarana yang dimiliki cukup canggih yaitu sophisticated technical center and mission command and control center.
(c) Bandar antariksa Xichang Space Launch Center (XSLC) dibangun 1970 tetapi belum dapat difungsikan sampai 1984. Xichang memiliki dua landasan peluncur (launch pad) yang terpisah. Launching pad pertama digunakan untuk mendukung flight operations-CZ-3. Sedangkan launching pad kedua digunakan untuk peluncuran
Gambar 2.4. Bandar Antariksa Taiyuan Satellite Launch Center (TSLC), File Photo: Xinhua. suber: http:// english.cri.cn/6909/2013/06/14/2941s770112.htm
Gambar 2.5. Bandar Antariksa Xichang Satellite Launch Center (XSLC) sumber:http://english.cri.cn/6566/2 013/10/28/3302s794540_1.htm
roket CZ-2E, CZ-3A, CZ-3C, and CZ-3E. Sejak 1994 Bandar antariksa Xichang terus ditingkatkan kemampuan teknisnya secara “extensive modernization and expansion”, agar dapat disesuaikan dengan pengoperasian roket jenis CZ-3A/B/C. Bandar antariksa ini juga dipersiapkan untuk peluncuran komersial yang akan ditempatkan di geostationary transfer orbit dan Geostationary Earth Orbit (GEO). Bandar Antariksa XSLC dapat digunakan secara berbarengan. Fasilitas utama peluncuran seperti pusat pengendalian (command and control center) terletak di Wanli yang terhubung dengan the Beijing Aerospace Control Center dan the Xi’an Satellite Control Center. Dilengkapi dengan tiga tracking, telemetry and control (TT&C). TT&C yang terletak di Yibin, Guiyang, dan di Xichang City merupakan TT&C utama dari XSLC yang letaknya sekitar 64 km dari Xichang.
(d) Bandar antariksa Wenchang Satellite Launch Center (WSLC), bandar antariksa WSLC terletak sebelah timur pantai Hainan, landasan peluncur WSLC sering digunakan untuk orbit rendah yang berjarak 19 derajat sebelah utara garis khatulistiwa. Bandar Antariksa WSLC sangat potensial untuk peluncuran program berawak (manned program), space stationdan deep space exploration programme. Bandar antariksa seluas 3000 hektar tersebut cukup dekat dengan ekuator maka dapat membawa muatan (payload) lebih besar ke orbit dengan menggunakan roket Long March 5 dibandingkan dengan landasan peluncur lainnya. Konsep pembangunan bandar antariksa WSLC bernuansa wisata antariksa sambil berlibur ke pantai dapat menikmati pemandangan peluncuran roket “space launch while enjoying a vacation at the beach.” Konsep yang dikembangkan di WSLC hampir sama dengan Kennedy Space
Center milik Amerika. WSLC dilengkapi dengan Space Science Park seluas 407 hektar dengan besar infestasi sekitar 875 juta US dollar. WSLC adalah bandar antariksa keempat yang dimiliki oleh RRT yang dipersiapkan untuk misi-misi peluncuran Tiangong-2, Space Lab, Tianzhou Cargo Spacecraft, the Shenzhou-11 manned spacecraft dan roket Long March 2F-Y11. Bandar antariksa WSLC diperkirakan sudah dapat digunakan 2016. Bandar Antariksa ini juga dipersiapkan untuk misi ke Bulan dan Planet Mars.
3. PenutuP
Melihat potensi, kemampuan dan kemajuan teknlogi keempat bandara antariksa yang dimiliki RRT tersebut tentunya LAPAN berharap kedepannya juga dapat memiliki dan mampu mengoperasikan salah satu dari jenis bandar antariksa tersebut di Indonesia. Hal ini sejalan dengan Program 25 tahun LAPAN, salah satunya adalah rencana pembangunan bandar antariksa, yang diamanahkan dalam UU Keantariksaan Nomor 21 Tahun 2013. Kerjasama LAPAN dengan CNSA diharapkan dapat terealisasi dengan baik dan jangan sampai nasibnya seperti kerjasama LAPAN dengan Rusia berakhir tanpa hasil kongkrit. Bravo Lapan.
Gambar 2.6. Bandar Antariksa Wenchang Satellite Launch Center (WSLC), sumber:http://english.cri. cn/6909/2013/06/14/2941s770116.htm
Aisya Nafiisyanti - Pusat Teknologi Atmosfer e-mail: [email protected]