TUDUHAN TERHADAP SIMON PETRUS
D. Laporan Markus
Sementara Petrus berada di halaman gedung, salah seorang dayang Pendeta Tinggi melintas. Ketika dayang itu melihat Petrus yang tengah menghangatkan diri, ia menatapnya dan berkata: Kamu juga bersama Vesus. orang dari Nazaret. Namun, Petrus menyangkalnya dengan mengatakan: Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.
Petrus pun keluar menuju halaman depan. Kemudian, ayam jantan berkokok, dan dayang itu, sambil memandangnya mulai lagi berkata kepada orang-orang yang menyaksikannya: Orang ini adalah salah satu dari mereka. Akan tetapi, lagi-Iagi Petrus menyangkalnya. Kemudian, setelah sesaat, orang-orang yang menyaksikan itu berkata kembali kepada Petrus: Tentu saja kamu adalah salah seorang dari mereka karena kamu adalah orang
E. Laporan Yahya
Gali1ea.
Petrus mulai mengutuk dirinya dan mengucapkan sumpah: Aku tidak mengenal orang yang kalian bicarakan. Pada saat itu, ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya. Kemudian, Petrus ingat bahwa Yesus pernah berkata kepadanya: Sebelum ayam jantan berkokok dua kali, engkau akan menyangkalku tiga kali. Lalu, Petrus jatuh dan menangis.
Perempuan itu berkata kepada Petrus: Bukankah engkau salah seorang dari murid orang ini? Petrus berkata: Bukan. Kini, para budak dan pengawal telah menyalakan kayu bakar karena cuaca sangat dingin, dan mereka berdiri mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri. Petrus juga berdiri bersama mereka untuk menghangatkan diri. Mereka bertanya kepada Petrus: Bukankah engkau salah seorang muridnya? Petrus menyangkalnya dan berkata: Bukan. Salah seorang budak Pendeta Tinggi, seorang yang telinganya dipotong Petrus, bertanya: Bukankah aku pernah melihatmu di taman (Getsemani) bersamanya? Lagi- lagi, Petrus menyangkalnya, dan pada saat itu ayam jantan berkokok.
Keempat Injil Kanonik tersebut sepakat bahwa Petrus melakukan tiga penyangkalan terhadap Yesus atas dakwaan yang diarahkan kepadanya. Meskipun demikian, mengenai dakwaan terhadap Petrus, keempat Injil Kanonik itu tidak sepakat. Hal tersebut besar kemungkinan dikarenakan "data yang disuguhkan oleh masing-masing Injil berbeda," Dakwaan itu bisa diikhtisarkan sebagai berikut.
59
1. Petrus bersamaYesus orang Galilea.
2. Petrus bersama Yesus dari Nazaret.
3. Orang ini beserta dengan Dia.
4. Petrus bersama murid-murid dari orang yang tengahdiadili.
5. Petrus bersama orang yang tengah diadili.
6. Petrus pernah berada di taman bersama orang yang tengah diadili.
Dalam Injil karangan Lukas dan Yahya, penyangkalan Petrus secara spesifik diarahkan pada "orang yang tengah diadili atau diinterogasi". Petrus menyangkal penisbatan apa pun dengan orang yang tengah diadili atau diinterogasi. Penyangkalan Petrus memberikan kesan bahwa "orang yang tengah diadili atau diinterogasi bukan Yesus".
Hal ini mengingatkan kita pada keadaan yang terjadi dalam drama yang dikisahkan di taman Getsemani, bagaimana Yudas serta pasukan Kepala Imam, orang tua-tua, dan orang Parisi jatuh ke tanah, murid-murid pergi meninggalkan Vesus, dan tentang orang muda yang dimintakan Vesus kepada pasukan laskar agar orang itu pergi dahulu, juga mengenai orang muda yang berselimut kain putih yang dikejar pasukan Kepala Imam, tetapi tidak tertangkap. Siapakan orang muda ini?
Dalam kasus ini, "penyangkalan-penyangkalan Petrus sepenuhnya bisa diterima" secara wajar. Dalam kasus ini, juga tidak ada kontradiksi yang membingungkan. Menurut shahiburriwayat, hanya dalam waktu beberapa saat, kesediaan Petrus untuk bertarung seorang diri melawan tentara Romawi dan penjaga kuil, mengisyaratkan keberaniannya yang heroik dan keyakinannya yang teguh dalam membela Yesus (Lukas 22: 32).
Kisah-kisah penyangkalan Petrus yang dikesankan sebagai pengecut, dalam waktu sekejap bisa berubah keyakinan. Jelasnya, membaca "penyangkalan Petrus" menimbulkan kesan yang kuat bahwa pembacaan superfisialitas Injil-Injil Kanonik "salah mempresentasikan" penyangkalan- penyangkalan Petrus menjadi "penyangkalan terhadap Yesus". Padahal, Petrus hanya berkata: Aku tidak mengenal orang ini. "Orang ini" mungkin saja bukan Yesus. Jika dibaca dalam arti Petrus mempertahankan konsistensi dalam penggambaran Petrus dalam Injil-lnjil Kanonik maka penyangkalan-penyangkalan Petrus merefleksikan sebuah penyangkalan bahwa orang yang tengah diadili atau diinterogasi (menurut Petrus) adalah bukan Yesus.
Sekarang, marilah kita perhatikan laporan Matius dan Markus. Di sini, kita menemukan penyangkalan-penyangkalan Petrus dalam konteks ungkapan-ungkapan semacam: "Yesus orang Galilea", "Yesus dari Nazaret", dan "Yesus orang dari Nazaret".
Menghadapi sebutan-sebutan yang demik,ian itu, diperlukan ketelitian dan kejelian memerhatikan latar belakang "penulisan dan penyalinan" Injil-Injil Kanonik tersebut. Oalam sebutan tersebut, ada kata-kata yang merupakan "kunci", yaitu "orang Galilea" dan "Nazaret".
Sebagian besar pembaca Alkitab menyamakan sebutan "orang Galilea" dengan "orang dari wilayah geografis Galilea" yang ditujukan sebagai "Yesus". Sama halnya sebagian besar pembaca menyamakan "Nazaret" dengan sebuah kota di Galilea, yang aleh Alkitab ditujukan bahwa di kota itulah, Yesus dibesarkan. Padahal, kedua sebutan atau istilah ini memiliki makna-makna alternatif yang sangat berbeda selama paruh pertama abad pertama Masehi.
Perkataan "Yesus" adalah pengucapan bahasa Latin dari kata Jesous bahasa Yunani. Kemudian, masuk ke dalam bahasa Ibrani menjadi Jeshua, Jeoshua, atau Joshua yang diartikan Jehovah is salvation atau
60
Jehovah saves, yang dalam Injil Perjanjian Baru diartikan "Yesus yang akan menyelamatkan (membebaskan) kaumnya daripada segala dosanya" (Matius 1: 21).
Pada abad pertama Masehi, "nama Yesus" sangat populer digunakan untuk nama diri seseorang. Konon, pada zaman Herodes Agung, dari 28 Pendeta Tinggi, empat di antaranya memakai nama Yesus: Yesus Putra Phabet atau Phiabi, Yesus Putra Sek atau Sie, Yesus Putra Dameneus, dan Yesus Putra Gamaliel. Dari penduduk Palestina waktu itu, yang memakai nama Yesus bagi dirinya diperkirakan mencapai 14 persen penduduk laki-Iaki.
Dalam hubungannya dengan kisah penangkapan Tuhan Yesus di taman Getsemani, yang jelas diakui dalam keempat Injil Kanonik adalah pasukan yang hendak menangkap Yesus itu tidak mengenal dengan jelas "yang mana Tuhan Yesus yang hendak ditangkapnya" dan dalam waktu itu terjadi perlawanan yang hebat dari murid-murid Yesus yang sudah siap membawa pedang. Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya "salah tangkap" sangat besar sehingga penyangkalan Petrus atas orang yang diperiksa atau diinterogasi bahwa dirinya "tidak kenal" adalah benar. Dengan demikian, Petrus bukanlah seorang pengecut atau pengkhianat terhadap gurunya.
F. Orang-Orang Galilea
Pada paruh pertama abad pertama Masehi, paham Yahudi terpecah belah menjadi beberapa sekte (aliran paham) dan aliran politik. Dalam sejarah dikenal: Saduki, Essen (Zodokite), Parisi, Zealot, Nazorea (Nazarite atau Nazirite), dan kelompok Galilea. Dengan memahami keadaan tersebut maka istilah semacam "Yesus orang Galilea" atau "Yesus orang dari Nazaret" bisa dipahami sepenuhnya dengan tepat.
Berbagai aliran atau sekte dan sub-sekte Yahudi ini jika dilihat berdasarkan dimensi kultural dan politisnya maka akan dijumpai apa yang disebut poros kiri dan poras kanan. Yang dimaksud poros kiri adalah mereka yang menunjukkan sikap akomodatif terhadap kebudayaan Helenistik dan kekuasaan Romawi. Sedangkan, poros kanan adalah mereka yang menunjukkan sikap penolakan terhadap kebudayaan Helenistik dan kekuasaan Romawi. Mereka mencita-citakan nasionalistik Yahudi sebagai "sisa Israel yang terpilih".
Dari kelompok kultural-politik yang ada, bisa dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu aliran Saduki, kaum Parisi, serta Zelot dan Hasmonea. Aliran Saduki adalah pendukung poros kiri, yang akomodatif terhadap kebudayaan dan kekuasaan Romawi. Kaum Parisi dimasukkan kelompok atau golongan tengah. Sedangkan, yang masuk poros kanan adalah kaum Zelot dan Hasmonea. Kelompok terakhir ini, sangat keras menentang pengaruh kekuasaan Romawi.
Poros kanan konsisten melahirkan gerakan-gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Romawi. Mereka disebut kelompok Zelot. Zelot sendiri merupakan sebuah kata yang mengandung banyak makna, termasuk kelompok Sikaril, dari kata Yunani, Sikariol, yang berarti "manusia-manusia belati". Kelompok Sikaril ini mempunyai sub-kelompok yang disebut Zelot (yang merupakan para pembunuh) dan sub-kelompok Galilea. Dalam Injil Perjanjian Baru, kita temukan yang termasuk kaum Zelot adalah Simon yang digelari Petrus dan Andreas, Yahya, Matius, Tomas, Yakub, Anak Alpius, dan Simon yang digelari Zelotis (Lukas 6: 14-16).
Setelah itu kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari gunung yang bernama Zaetun yang dekat dengan Yerusalem, sejauh perjalanan yang halal pada hari Sabat. Setelah itu masuk ke dalam negeri (Yerusalem), maka naiklah mereka ke bilik yang di atas, yaitu tempat kediaman Petrus dan Yahya dan Yakub dan Andreas, Pilipus dan Tomas dan Bartolomeus dan Matius dan Jakub anak Alpius dan Simon Zelotis serta Yudas anak Yakub. Maka mereka itu sekalian
61
bertekun dengan sehati berdoa beserta dengan beberapa perempuan dan Maryam, ibu Jesus dengan saudaranya. (Kisah Para Rasuf 1: 12-14)
Yudas Iskariot termasuk kelompok Sikaril (manusia belati) (Matius 10: 14, 26: 24, Lukas 6: 16, 22:3, Yahya 6:71, 12:54, 13:2,26). Oleh karena itu, tidak aneh apabila Yesus menyuruh murid-muridnya membeli pedang (Lukas 22:36-38) dan ternyata Petrus pun melakukan perlawanan terhadap pasukan laskar yang hendak menangkap Yesus di taman Getsemani (Matius 26:51, Markus 14:47, Lukas, 22; 50, Yahya 18:10).
Setelah itu, murid-muridnya lari meninggalkan Yesus (Matius 26:56, Markus 14:50) dan lagi kata Yesus: Jikalau kamu mencari aku, biarkanlah orang ini pergi (Yahya 18:8). Siapakah yang dimaksud dengan "orang ini"? Jika kalimat dalam ayat Yahya 18:19 dan hubungannya dengan Yahya 17: 12, berarti "orang ini" termasuk murid Yesus. Kalau begitu, ia adalah Yudas Iskariot. Hal ini menjadi sangat menarik perhatian karena Yudas Iskariot termasuk kelompok Sikaril (manusia belati). Dan, penemuan arkeologi menyebutkan bahwa Yudas Iskariot bukanlah murid yang "khianat", melainkan justru seorang murid yang patuh kepada Yesus.
Dalam kelompok Zelot, terdapat sub-kelompok yang dikenal sebagai orang Galilea (the Galileans). Secara singkat, latar belakang sejarah kelompok Galilea bisa dituturkan sebagai berikut.
Pada tahun 6 Masehi, Gubernur Suriah diperintah oleh Kaisar Agustus supaya melakukan sensus di Palestina guna mendata kepemilikan untuk menciptakan aturan pajak. Sebagian besar kaum Yahudi di Palestina menyepakati sensus itu. Namun, ada kelompok orang Yahudi di bawah pimpinan Yudas Gamala yang melakukan perlawaan terhadap sensus' itu, dengan alasan bahwa orang kafir (pagan/bukan Yahudi) tidak memiliki hak memerintah Palestina. Mereka hendak menegakkan pemerintahan teokratik sendiri. Kelompok tersebut dikenal sebagai "Yudas orang Galilea", konotasinya sebagai pemberontak. Yudas terbunuh dan pengikutnya berpencar-pencar (Kisah Para Rasul 5: 37). Pemberontakan Yudas, orang Galilea itu, merupakan awal lahirnya gerakan Zelot yang dikenal sebagai "Kelompok Galilea".
Jadi, dalam hubungan ini, Galilea bukan nama tempat (kota), melainkan sebutan bagi kelompok pemberontak terhadap kekuasaan Romawi.
G.Orang Nazarea
Dalam tuduhan yang diarahkan kepada Petrus, di antaranya dikatakan: Orang ini pun ada bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu juga (Matius 26:71) dan: Engkau juga bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu (Markus 14:67).
Ada pendapat dari ahli Perjanjian Baru bahwa kata-kata "orang Nazaret itu juga",
sebenarnya merupakan terjemahan yang kurang tepat dari bahasa Yunani, Nazarene, yang
artinya (of on Early Jewish-Christian sect). Dan, yang kedua, "orang Nazaret itu", dari bahasa Yunani, Nazarite, yang artinya (Hebraw under vow of abstinence), suatu kelompok Yahudi yang bersumpah setia dengan pantangan yang ketat (yang disamakan dengan suci dan kudus). Namun, kata Nazarite bisa juga berarti nama kota Nazaret. Inilah yang dimaksud dalam Matius. Kemudian, tibalah ia serta diam di dalam sebuah negeri yang bernama Nazaret (Matius 2:23).
Kalau demikian, tuduhan terhadap Petrus dan jawaban Petrus: Tiada aku kenal orang itu (Matius 26: 72) dan: Aku tiada tahu dan tiada aku mengerti apa katamu ini (Markus 14: 68) adalah suatu sikap yang diplomatis sehingga Petrus tidak bisa dikategorikan sebagai
62
orang yang "menyangkal", "berdusta", atau "khianat". Oleh karena itu, Yesus bepaling memandang Petrus (Lukas 22: 61).