• Tidak ada hasil yang ditemukan

Larangan KDRT dalam UU PKDRT serta sanksi Bagi Pelaku KDRT

Larangan kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, secara tegas dicantumkan dalam pasal 5 (lima) bahwa setiap orang dilarang melakukan KDRT terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara:

1. Kekerasan fisik.

2. Kekerasan psikis.

3. Kekerasan seksual.

4. Penelantaran rumah tangga.

Pasal 6 UU Nomor 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT menyatakan, bahwa kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat.41

Kekerasan fisik dalam rumah tangga menurut UU Nomor 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT yaitu segala bentuk

41 Nasaruddin Umar..., hlm. 49.

kekerasan fisik, baik kekerasan fisik yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari maupun kekerasan fisik yang mengakibatkan korban jatuh sakit atau luka berat bahkan kekerasan fisik yang mengakibatkan matinya korban.42

Adapun mengenai sanksi bagi pelaku kekerasan fisik, terdapat pada pasal 44:

“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp.15.000.000,00 (Lima Belas Juta Rupiah).”

Secara rinci mengenai pelaku kekrasan psikis disebutkan bahwa dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban jatuh sakit atau luka berat dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp. 30.000.000.00 (Tiga Puluh Juta Rupiah).

Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun penjara atau denda paling banyak Rp. 45.000.000.00 (Empat Puluh Lima Juta Rupiah).

Dalam hal perbuatan sebagaimana disebut dalam ayat (1) dilakukan suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan

42 Nasaruddin Umar....,hlm.63.

sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.00 (Lima Juta Rupiah).43

Jadi orang yang melakukan kekerasan fisik bisa dikenakan 5 tahun penjara, yang menyebabklan jatuh sakit atau luka berat dipidana penjara paling lama 10 tahun, yang mennyebabkan kematian 15 tahun penjara. Dan yang terakhir kekerasan fisik yang tidak menyebabkan penyakit atau akibat apa-apa dapat pula dipidana penjara paling lama 4 bulan penjara.

Dalam UU tidak jelas disebutkan tentang bentuk kekerasan psikis. UU hanya menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan KDRT, baik bentuk fisik maupun psikis.

Dalam bentuk psikis yang bisa mengakibatkan, kurang rasa percaya diri, merasa takut dan lain sebagainya. Sedangkan bentuk kekerasan psikis atau batasannya dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT tidak disebutkan.

Namun demikian di dalam UU PKDRT sanksi pelaku kekerasan psikis sudah ada termaktub dalam Pasal 45:

i. Setiap orang yang melakukan kekerasan psikis dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp.

9.000.000.00 (Sembilan Juta Rupiah).

ii. Dalam hal perbuatan sebagaiman disebut dalam ayat (1) dilakukan suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk

43 UU Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT, Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, 2004, hlm.19-20.

menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 3.000.000.00 (Tiga Juta Rupiah).44

Pada pasal 45 ayat (2) terlihat bahwa dalam UU ini menutup habis pintu pengajaran atau pendidikan terhadap isteri. Sanksi pelaku kekerasan psikis sudah ada termaktub dalam Pasal 45:

i. Setiap orang yang melakukan kekerasan psikis dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp.

9.000.000.00 (Sembilan Juta Rupiah).

ii. Dalam hal perbuatan sebagaiman disebut dalam ayat (1) dilakukan suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 3.000.000.00 (Tiga Juta Rupiah).45

Mengenai kekerasan seksual dalam UU PKDRT disebutkan bahwa orang-orang yang melakukan pemaksaan seksual terhadap orang lain di dalam lingkup rumah tangganya dikenakan sanksi 12 tahun atau 15 tahun penjara. Hal ini belaum memadai, mungkin hukuman harus ditingkatkan lagi mengingat yang dizhalimi adalah orang-orang dekat dan dampak perbuatan tersebut membawa implikasi buruk seumur hidup.

44 UU Republik Indonesia Nomor 23…, Ibid., hlm. 20.

45 UU Republik Indonesia Nomor 23…

Kekerasan seksual dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk KDRT yang dimuat dalam UU No. 23 tahun 2004 tentang PKDRT bentuk kekerasan seksual disebutkan dalam pasal 5 huruf c UU ini. Sedangkan mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual dalam UU ini dijelaskan dalam pasal 8 yang meliputi hal-hal sebagai berikut:46

a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut.

b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.

Setelah diuraikan tentang saksi bagi pelaku kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, lebih lanjut di dalam UU PKDRT disebutkan pula tentang sanksi penelantaran dalam rumah tangga yang terdapat dalam pasal 5 sub d.

Mengenai hal ini dijelaskan dalam pasal 9 UU PKDRT, Pasal 9:

(1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

(2) Penelantaran sebagaimana dimaksud ayat 9 juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja dengan layak di dalam atau di luar rumah sehinga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

46 Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI, UU RI No. 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT, hlm. 2-5.