• Tidak ada hasil yang ditemukan

LARANGAN MENELANTARKAN ANAK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Ihsan Zakaria

(Puspelkesos Provinsi Aceh dan Anggota RJWG)

هتاكربو الله ةمحرو مكيلع ملاسلا

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmatnya yang telah diberikan kepada kita semua. Nikmat sehat, nikmat taufik hidayah inayah, dan nikmat yang paling besar adalah nikmat Iman dan Islam. Salawat serta salam tak lupa kita sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Para Jamaah yang dirahmati Allah SWT,

Sekarang ini kita berada di zaman modern yaitu zaman di mana nilai-nilai keagamaan yang kita anut sudah tidak lagi menjadi bingkai kita dalam berperilaku. Saat ini kasus penelantaran anak banyak terjadi di lingkungan kita. Kasus penelantaran anak sering dikaitkan dengan masalah ekonomi dan sering terjadi dalam kehidupan masyarakat seiring dengan bertambahnya beban yang harus di tanggung oleh keluarga di tambah lagi dengan keluarga tersebut banyak anak, sehingga tidak heran banyak anak yang ditelantarkan atau ditemukan di jalan atau di depan mesjid. Selain itu juga kesibukan orang tua mengakibatkan anak terabaikan hak-hak mereka.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT

Anak adalah anugrah dari Allah yang harus dijaga dan juga merupakan cahaya mata dan menjadi penyejuk hati dikala kita gundah. Anak Adalah amanah dari Allah SWT yang harus

dipertanggungjawabkan, Di antaranya bertanggung jawab dari segi kesehatan, pendidikan, kasih sayang dan aspek perlindungan lainnya. Firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka”. (QS. Al-An’am: 151).

Di antaranya juga ayat-ayat yang berbicara mengenai hak anak untuk mendapatkan ASI, sebagaimana firman Allah SWT:

ۚ ةَعا َضَّرلا َّمِتُي ْنَ أ َداَرَ أ ْنَ ِل ۖ ِنْيَ ل ِماَك ِنْيَلْوَح َّنُهَد َلاْوَأ َنْع ِضْرُي ُتاَدِلاَوْلاَو ۞َ

َ

لا ۚ اَهَع ْس ُو َّلاِإ ٌسْفَن ُفَّلَكُت َلا ۚ ِفوُرْعَ ْلاِب َّنُهُتَو ْسِكَو َّنُهُقْزِر ُهَل ِدوُلْوَْلا ىَلَعَو

ا َداَرأ ْنِإَ ف ۗ َكِلَ ذ ُلْث ِم ِثِراَوَٰ لا ىْ لَع َو ۚ ِه ِدَ ل َوِب َ ُهَل ٌدوُلْوَم َلاَو اَه ِدَلَوِب ٌةَدِلاَو َّراَضُت

اوُع ِضْرَت ْسَت ْنَأ ْمُتْدَرَأ ْنِإَو ۗ اَمِهْيَلَع َحاَنُج َلاَف ٍرُوا َشَتَو اَمُهْنِم ٍضاَرَت ْنَع ًلااَصِف

او ُمل ْعا َو َهَّللا او ُقَّتا َو ۗ ِفوُرْعَ َ ْلاِب ْمُتْيَتآ اَم ْمُتْمَّل َس اَذِإ ْمُكْيَلَع َحاَنُج َلاَف ْمُكَد َلاْوَأ

ٌري ِصَب َنوُلَمْعَت اَمِب َهَّللا َّنأَ

Artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua

tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS.

Al Baqarah: 233).

Anak juga merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Alquran: Artinya : ‘’Dan ketahuilah bahwa harta

kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.’’ (QS. Al- Anfal

: 28 )

Ayat tersebut menjelaskan bahwa salah satu ujian dari Allah SWT kepada orang tua adalah anak-anak mereka. Itulah sebabnya orang tua harus bertanggung jawab dan menjaga amanah tersebut sekaligus menjadi batu ujian yang harus dijalankan. Jika anak di didik sesuai dengan ajaran islam maka orang tua akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar dari Allah SWT. Namun sebaliknya, jika anak tidak dipelihara dengan baik ditelantarkan, maka dosa yang akan di tanggung. Hadirin yang Dirahmati Allah

Pada era zaman modern saat ini, orang tua tidak mendapatkan kesulitan dalam memberikan sekolah kepada anak baik pada tingkatan PAUD/TK hingga perguruan tinggi, tetapi masih ada orang tua yang yang lepas kontrol dan bahkan ada orang tua tidak peduli dengan bimbingan agama serta kepribadian anaknya, sehingga berakibat terjadinya kerusakan pada anak yang ditandai dengan sifat dan tingkah laku anak kita. Untuk itu diharapkan kepada kita selaku orang tua agar terus menjaga dan membimbing anak-anak agar tidak terjerumus kepada hal yang tidak diinginkan.

Ada sebuah hadits yang artinya “Dari ‘Abdullah bin ‘Amr RA, ujarnya: Rasulullah SAW bersabda: Seseorang telah cukup dikatakan berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i). Yang dimaksud menelantarkan anak salah satunya ialah tidak memberi nafkah sama sekali atau memberi nafkah jauh di bawah kecukupan yang layak sesuai dengan kemampuan orang tuanya.

Nafkah yang dibutuhkan anak meliputi pangan, sandang, dan papan. Artinya, anak harus mendapatkan makan sehari-hari, pakaian penutup badan, dan rumah tempat berlindung. Kadar masing-masingnya sesuai dengan kemampuan orang tuanya. Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa seorang kepala keluarga bertanggung jawab memberikan makan, pakaian, dan tempat tinggal bagi anggota keluarganya. Dalam

pengertian syar’i, keluarga adalah anak dan istri. Karena itu, sesorang yang menelantarkan istrinya atau anaknya atau mereka semua, berarti telah berbuat durhaka terhadap mereka. Jika ternyata di rumahnya ada pembantu, maka pembantu ini termasuk dalam pengertian orang yang di bawah tanggungannya.

Bila orang tua menelantarkan nafkah anak-anaknya sehingga mereka kekurangan gizi, apalagi tidak mengurus kebutuhan makan dan minumnya sama sekali, maka mereka telah berbuat dosa, baik kepada anak-anak itu sendiri maupun kepada Allah. Jadi, orang tua harus menyadari bahwa mereka bisa saja berbuat dosa kepada anak-anaknya, yang kelak akan mendapatkan siksa dari Allah karena telah menelantarkan nafkah mereka. Pada ayat yang lain Allah menjelaskan bahwasannya tidak boleh meninggalkan anak dalam keadaan lemah. Yaitu hak-haknya yang tidak terpenuhi sehingga rentan terjadi anak terlantar.

Maka berdasarkan penjelasan ayat-ayat di atas dapat diketahui bahwasannya tindakan yang mengakibatkan anak terlantar sehingga tidak terpenuhi hak-hak dan kebutuhan dasarnya merupakan tindakan yang dilarang. Anak adalah amanah yang diberikan kepada orang tua sehingga harus dipelihara dan dipenuhi kebutuhan dasarnya dengan baik. Orang tua, baik bapak maupun ibu, bertanggung jawab melindungi putra-putrinya dari ancaman kelaparan dan kehausan. Karena itu, orang tua wajib berdaya upaya semaksimal mungkin memberi makan dan minum putra-putrinya sejak hari pertama lahirnya sampai mencapai umur baligh, kecuali bagi anak putri, yaitu sampai ia bersuami.

Tanggung jawab memberi nafkah semacam ini tidak boleh dilalaikan oleh bapak dan ibu dalam keadaan apa pun dan di mana pun berada. Apabila bapak dan ibu melalaikan tanggung jawab memberi makan dan minum serta pakaian dan tempat berteduh untuk puta-putrinya, berarti orang tua tersebut telah mendhalimi hak-hak asasi anak-anak mereka.

Hadist seseorang telah cukup dikatakan berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungnya.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT

Anak adalah investasi dunia dan akhirat, dan yang paling penting pertanggungjawaban di akhirat, itu sesuai dengan salah satu hadist, Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ُع َفَتنُي ٍمْ ل ِعَو ٍةَيِرا َج ٍةْ ق َد َص ْن ِم ٍةَ ثَلاَث ْن ِم َ َّلاِإ ُهُلَمَع َعَطَقْنا ُنا َسْنِ ْلا َتاَم اَذِإ

ُهَل وُع ْدَي ٍح ِلاَص ٍدَل َوَو ِهِب

Artinya:“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah

amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”. (HR. Muslim)

Dari hadist tersebut di atas menjelaskan salah satu amalan yang tidak hilang Do’a Anak Shaleh, karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk terus memenuhi hak-hak anak dengan memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh, yang selalu mendoakan orang tuanya masih mendapatkan pahala meskipun orang tuanya sudah meninggal dunia. Demikian saya akhiri kurang lebihnya mohon maaf.

Wabilahi taufik wal hidayah, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.