• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: PENYAJIAN DATA

4. Latar Belakan Klien

80

Prestasi yang pernah diraih

1) Juara umum dray bike sport 2T Tu ISS cc dan bebek 4T Tu 130 cc 2) –

Komunitas/Organisasi yang pernah di ikuti 1) Tribun Kidul Suroboyo

2) Tapak Suci

3) Bonek Kembang Kuning c. Identitas orang tua klien

Nama Ayah : Hendra Ardian Arofah

Tempat Tanggal Lahir : -

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : Sarjana

Pekerjaan : Pengusaha

Nama ibu : susy ermayanie

Tempat Tanggal Lahir : -

Agama : Islam

Pendidikan Terakhir : Sarjana

Pekerjaan : Pengusaha

4. Latar belakan klien a. Kepribadian klien

Klien pada dasarnya merupakan anak yang baik, namun terkadang klien salah dalam menentukan prilakunnya, klien kurang bisa dalam hal meregulasi emosi, sehingga klien memiliki kepribadian yang mudah

81

emosidan hal itu terjadi dikarena lingkungan dimasalalu klien saat menduduki bangku sekolah menengah pertama. Yang mana prilaku yang mudah emosi atau marah itu menjadi kepribadian klien hingga saat ini, klien merasa mudah mara, tersinggung, dan merasa ingin selalu dihargai orang lain.

b. Latar belakang keluarga

Klien merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara dan ayahnya beragama non islam sebelum menikah dengan mamanya namun sekarang sudah menganut agama islam, keluarganny terbilang jarang memiliki waktu bersama dikarenakan kedua orang tuanya sebagai wirausahawan. Ayahnya yang setiap hari mengecek persedian barang di gudang dan pekerjaan karyawan, sedangkan mamanya mengecek segala pemasukan dan pengeluaran di setiap toko pemasaran barang dan untuk kakaknya yang menduduki bangku perkuliahan sehingga harus bertempat tinggal dirumah yang berbeda alamat dengan kedua orang tuanya.

c. Latar belakang ekonomi

Kondisi perekonomian keluarga klien sangat tercukupi dan dapat memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan, dikarenankan orang tuanya sebagai pengusaha rotan atau mebel yang sukses, sehingga memiliki banyak asset toko ataupun rumah, dan segala sesuatu materi yang dibutuhkan klien pasti akan terpenuhi.

d. Latar belakang agama

82

pendidikan agama islam meskipun ayahnya mu’alaf, namun masih banyak keluarga dari pihak ayah yang menganut agama non islam sehingga inilah penyebab awal mula Gusti mengenal dunia minum-minuman keras dari kerabat ayahnya. Saat itu klien masi menduduki bangku sekolah menengah pertama, dimana waktu itu memasuki usia remaja awal yang mencari jati dirinya namun klien berada dilingkungan kurang dalam segi pengetahuan agama islam. Tetapi saat ini klien mulai memperbaiki latar belakang agamanya dengan menetap di pesantren.

e. Deskripsi Masalah

Masalah merupakan suatu kegelisahan yang bisa dialami oleh individu ataupun kelompok, masalah bisa terjadi dikarenakan harapan tidak sesuai dengan kenyataan.Masalah juga dapat membebani fikiran, serta perilaku seseorang yang perlu mendapatkan penyelesaian. Masalah pada diri seseorang yang terjadi dan tidak diungkapkan juga akan menjadi dampak negatif pada diri.

Penelitian ini mengangkat permasalahan regulasi emosi yang dialami oleh seorang santri di Madrasah Aliyah Bilingual Krian.Dimana klien memilikiperilaku yang menunjukkan, bahwa klien mengalami masalah regulasi emosisecara behavior diantarannya, perilaku mudah marahdan berbuat semaunnya, perilaku melempar barang atau memukul teman,perilaku berkata kotor atau kasar,perilaku mudah tersinggung hingga menjadi seorang yang pendendam,dan melarikan diri dengan minum-minuman keras.Hal itu dipengaruhi oleh beberapa factor pikiran irasional

83

klien, adapun pikiran irasional klien (secara kognitif) yaitu, berfikir bahwa setiap orang harus menghargainnya terutama temannya karena klien usianya lebih tua, sebagai ketua kelas dan memiliki segalanya (berupa materi), berpikir bahwa klien jagoan karena menjadi anggota bonek.

Sehingga dengan adanya pikiran irasional tersebut klien mengalami gangguan pada kapasitas pemahamannya yang akan menimbulkan persepsi baru dalam pikiran klien antaranya. Mudah membuat kesimpulan tanpa data yang mendukung, cenderung berpikir seburuk-buruknya. Memiliki pemahaman yang selektif, membatasi kesimpulan berdasarkan hal yang terbatas. Mudah melakukan generalisasi, sebagai proses meyakini suatu kejadian untuk diterapkan secara tidak tepat pada situasi lain.Kecenderungan memperbesar dan memperkecil masalah, membuat klien tidak mampu menilai masalah secara obyektif. Personalisasi, membuat klien cenderung menghubungkan antara kejadian eksternal dengan diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri. Pemberian label atau kesalahan memberi label, menentukan identitas diri berdasarkan kegagalan atau kesalahan. Dan pola pemikiran yang menginterpretasikan segala sesuatu dalam bentuk (semua atau tidak sama sekali).

Mengetahui permasalahan yang dialami klien, peneliti sebagai konselor membantu menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan

cognitive behaviordalam mengatasi regulasi emosi

Therapists (NACBT), mengungkapkan bahwa definisi dari cognitive-behavior therapy yaitu suatu pendekatan psikoterapi yang menekankan

84

peran yang penting berpikir bagaimana kita merasakan dan apa yang kita

lakukan.114Dan dalam pendekatancognitive behavior terdapat beberapa

teknik.Teknik yang akandipergunakan oleh konselor dalamproses konseling

Cognitive Behavior Therapy (CBT) yaitu. Menata keyakinan irasional dan

penugasan rumah yang mana klien mempraktikan perilaku baru dan strategi kognitif antara sesi konseling.Dengan mengaplikasikan metode keislaman yang diambil dari syair jawa yaitu, tombo ati. Pengaplikasian metode islam tombo ati itu dirasa sangat pas karena menyeru pada hal kebajikan. Pertama membaca al Qur’an dan memahami artinya, kedua sholat malam laksanakanlah, ketiga berkumpullah dengan orang-orang sholeh, keempat perut anda harus dikosongkan, kelima dzikir malam kerjakanlah dan dengan tembang akhir yang berbunyi “siapa bisa melakukan dari salah satu dari psikotrapi tersebut maka Allah mengabulkan”. Diharap klien dapat memperaktikan perilaku yang lebih baik dan menstruktur kognitif saat sesi konseling. Dengan demikian jelas bahwa proses kognitif dan kandungan kognitif maladaptive saling berkaitan dengan afeksi atau reaksi emosional terhadap objek tertentu.

85

Dokumen terkait