• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA TEMUAN LAPANGAN

A. Proses Pelaksanaan Adopsi Anak di

1. Latar Belakang Adopsi Anak di YSI Jakarta

Pemaparan temuan lapangan dalam subbab pertama ini terkait dengan latar belakang pelaksanaan adopsi di YSI Jakarta. Seperti yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya yang menjelaskan latar belakang berdirinya YSI hingga perkembangan YSI sebagai salah satu lembaga dan atau organisasi yang mendapatkan kepercayaan dalam menerima dan mengangkat anak. Selanjutnya dalam pemaparan ini akan dibahas sejarah adopsi anak YSI Jakarta sesuai dngan temuan lapangan. Dimana hal tersebut dijelaskan oleh informan RTW sebagai berikut;

“Dulu, jaman dulu kita itu disini sebelumnya rumahnya Bung Tomo terus istrinya dulu orang-orangnya itu masih pada berantakan pada jualan jualan terus anaknya itu pada kleleran

(terabaikan) terus oleh bung Tomo anak itu ditampung disini dirawat terus bung Tomo minta tolong temen-temennya, terus kan banyak anak-anak dari penjual itu kalau pulang nanti dibawa, adalagi yang udah bu titip dirumah ibu aja, terus sama ibu bung Tomo dicari ibu-ibu yang mau mengasuh,” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Sejarah adopsi anak di YSI merupakan respon terhadap kondisi anak-anak disekitar rumahnya Bung Tomo, dimana banyak anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga yang kurang mendapatkan perhatian, berantakan, dan terabaikan. Hal tersebut memunculkan

inisiatif untuk menampung serta merawat anak-anak tersebut, dan dalam perkembangannya banyak anak yang mulai dititipkan oleh keluarganya untuk mendapatkan perawatan dan pengasuhan di tempat Bung Tomo pada waktu itu. Sehingga dalam perkembangan anak yang semakin banyak, maka diperlukan tenaga dukungan untuk membantu merawat dan mengasuh anak dalam masa perkembangannya.

Selain kondisi masyarakat di sekitar kediaman Bung Tomo, pada masa awal munculnya adopsi anak juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Dimana hal tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh informan RTW sebagai berikut;

“terus itu kalau orang asing datang dulu kan didepan banyak ekspabrik, dulu kan kita kerjasama sama Amerika bikin pabrik-pabrik kan itu pada suami istri orang Amerika itu datang dulu pada ngangkat anak, ngangkat anaknya belum pakai pengadilan formulir punya penghasilan bawa sampai akhirnya mereka pada datang datang kesini itu sampai terkenal peternakan anak (baby farmer) sampai nanti dibawanya itu sampai menggunakan keranjang baby itu.” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Kondisi lingkungan di daerah Jakarta pada masa itu yang masih didominasi perkembangan pembangunan tempat produksi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi adopsi anak oleh YSI. Seperti yang disebutkan oleh informan diatas,

banyaknya eksprabik yang merupakan hasil kerjasama Indonesia – Amerika menyebabkan banyaknya orang-orang warga negara Amerika yang tinggal di wilayah tersebut, dan banyak dari warga Amerika tersebut yang melakukan adopsi anak. Pada masa tersebut adopsi anak masih belum melalui berbagai persyaratan administratif formal, yang ingin mengadopsi anak dan dipandang layak diperbolehkan untuk mengangkat anak. Sehingga banyak dari warga negara Amerika yang melakukan adopsi anak, dan juga pada masa itu YSI dikenal sebagai lokasi peternakan anak (farmer

baby) yang memang masih belum terlembaga secara

legal formal.

Dalam perkembangannya, adopsi anak YSI Jakarta mendapatkan pencerahan pada masa pak Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta. Lebih lanjut hal tersebut diungkapkan oleh informan RTW berikut ini;

“....pak Ali Sadikin itu waktu itu sebagai Gubernur dia menghadap bagaimana seperti ini, so pak Ali Sadikin meminta ibu-ibu untuk membuat organisasi sosial yang ujung-ujungnya disini untuk menampung anak dan menyalurkan secara legal melalui notaris. Terus kita diminta untuk membuat sebuah panti yang memenuhi syarat untuk menampung dan menyalurkan secara legal, jadi terus kita punya gedung, punya perawat, terus kasur-kasur untuk panti pengasuhan anak jadi yang panti itu untuk

mengasuh dan menyalurkan anak gitu aja.” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Identitas YSI yang sebelumnya disebut orang Amerika sebagai tempat peternakan anak (farmer baby) dalam perkembangannya pada masa Gubernur Ali Sadikin mendapatkan kejelasan untuk mendapatkan pengakuan legal formal, sehingga berubah menjadi organisasi sosial yang menerima, menampung, dan menyalurkan anak-anak secara legal formal melalui notaris. Oleh karena itu dalam perkembangannya, YSI telah memliki tempat tersendiri dengan berbagai fasilitasnya sebagai sebuah organisasi sosial atau yayasan. Selain itu YSI juga diperkuat dengan pengakuan secara hukum dalam melakukan kegiatannya, seperti yang diungkapkan oleh informan RTW selanjutnya;

“Terus dalam perkembangannya waktu akhirnya SEMA keluar dari pengadilan nomor tahun 74 atau berapa itu bahwa harus melalui pengadilan. Jadi mahkamah ini itu memberikan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) itu mengatur anak-anak yang akan diadopsi mulai saat itu harus melalui pengadilan kita punya namanya itu Biro Pengangkatan Anak jadi bagian dari Yayasan Sayap Ibu (YSI) mulai melalui pengadilan.” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Setelah mendapatkan pengakuan dari Gubernur sebagai yayasan atau organisasi sosial yang menerima, menampung, dan menyalurkan anak-anak, selanjutnya

adopsi anak yang dilakukan YSI mendapatkan pengakuan hukum sesuai dengan Surat Edaran Mahkaman Agung (SEMA). Seperti yang dijelaskan informan diatas, bahwa dalam perkembangan adopsi anak selanjutnya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan melalui SEMA. Melihat sejarah perkembangan YSI dalam menerima, menampung, dan menyalurkan anak telah melalui berbagai tahap sehingga mendapatkan pengakuan untuk dapat menyalurkan atau melakukan adopsi sesuai aturan hukum yang berlaku. Selain itu dalam perkembangan pemenuhan kebutuhan selama menampung dan menyalurkan anak-anak masih dilakukan secara swadaya.

Dalam mencukupi berbagai kebutuhan dalam YSI, inform RTW lebih lanjut menjelaskan bahwa;

“ Jadi kalau keuangan itu kita cari sendiri mbak dari masyarakat tapi syukur alhamdulillah insyaAllah masyarakat itu jadi percaya, jadi kita itu masih kalau ada yang nyuci kursi kain penutup kursi meja itu ada yang ngebantu itu dari mana tahu hamba Allah dan kita sekarang juga kalau mau jual siapa yang mau beli kursi antik buat tambah dana operasional kita.” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Sebagai yayasan dan atau organisasi sosial yang menampung dan menerima anak, sudah selayaknya banyak anggaran yang diperlukan untuk dapat membantu anak-anak tersebut. Seperti yang dijelaskan

informan diatas, bahwa pendanaan yang dikeluarkan oleh YSI dalam menerima dan merawat anak tersebut dilakukan secara mandiri, selain itu atas kepercayaan masyarakat dan pemerintah terhadap kinerja YSI menjadi faktor pendukung dalam perkembangan YSI untuk mencukupi berbagai kebutuhan yang diperlukan sebagai lembaga yang menerima, menampung, merawat, hingga mengembangkan anak-anak di dalamnya. Dan hingga sekarang YSI masih tetap menjaga identitas tersebut sebagai yayasan yang menerima dan membantu tumbuh kembang anak, hingga menyalurkan anak sesuai dengan peraturan dan atau ketetapan hukum yang berlaku.

b. Bentuk Adopsi Anak di YSI Jakarta

Seperti yang sudah dipaparkan diatas, bahwa YSI sebagai yayasan dan atau organisasi sosial yang telah mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dan juga masyarakat dalam menerima, menampung, dan menyalurkan anak secara legal. Dukungan dan kepercayaan dari berbagai pihak tersebut telah mempengaruhi perkembangan YSI dalam merawat dan mengembangkan anak-anak asuhannya. YSI dalam menerima anak telah menampung anak-anak dengan berbagai latar belaknag, hal tersebut telah menunjukkan kondisi YSI yang menerima dan menampung anak dengan berbagai latar belakang dan

kondisi yang dihadapi anak-anak dalam perkembangannya.

Dalam menerima dan menampung anak yang diberlakukan YSI telah disebutkan informan RTW berikut ini;

“Kita menerima anak normal oke tidak normal tapi masih bisa dirawat dididik itu tugas Sayap Ibu itu yang juga menjadi visi dan misi YSI, kita tidak bisa menolak tapi dari luar dan timingnya waktu dia masuk itu hidup, karena misi kita seperti itu jadi asal dan sakitnya disitu asal yang kita terima itu yang tidak dalam perlu perawatan rumah sakit itu kita okelah masih bisa kita terima, jarang yang disabilitas itu adalah sudah jadi resiko daripada misi kita,” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Penerimaan anak asuhan oleh YSI seperti yang dijelaskan informan diatas telah menunjukkan keberagamaan dalam menerima anak, tidak perduli itu anak-anak yang normal ataupun berkebutuhan khusus senantiasa mendapatkan penerimaan, perawatan, serta pendidikan untuk anak. Hal tersebut juga telah menjadi visi dan misi yang berlaku di YSI. Penerimaan anak dengan berbagai kondisi yang dialami anak seblumnya telah menjadi konsekuensi dari keberadaan YSI, sehingga anak-anak dengan berbagai latar belakang dan keadaan senantiasa mendapatkan penerimaan oleh YSI.

Lebih lanjut penerimaan anak oleh YSI dengan berbagai kondisi anak juga telah dijelaskan oleh informan V berikut ini;

“Kalau untuk penerimaan anak itu kan awalnya kita ada beberapa kasus ya maksudnya gak cuma satu orang tua kandung tapi juga anak yang ditinggal di rumah sakit, anak temuan, anak WNI yang lahir diluar negri jadi masing-masing punya kasus sendiri atau anak yang diserahkan ibu kandungnya sendiri” (wawancara V, selaku Peksos Penerimaan Anak)

Melihat kondisi dan latar belakang anak, seperti yang disebutkan informan diatas, dimana anak-anak yang masuk dalam YSI memiliki berbagai kasus dalam proses penerimaannya. Berbagai latar belakang dan kondisi anak tersebut seperti anak yang diserahkan oleh orang tuanya sendiri, dari rumah sakit, anak temuan dari pihak kepolisian, dan juga anak WNI yang lahir di luar negri. Berbagai kasus tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam penanganannya, sehingga dalam menjalankan tugas dan fungsinya YSI tidak bisa lepas dari peran serta dukungan dari berbagai pihak tersebut.

Selanjutnya, selain proses penerimaan, pengangkatan dan atau penyaluran (adopsi) anak yang dilakukan oleh Ysi juga memiliki beberapa bentuk, seperti yang diungkapkan oleh informan RTW berikut ini;

“Adopsi itu kan ada dua mbak, adopsi luar negri dan domestik, kita memang memberlakukan izin yang diberikan pemerintah untuk mengadopsi anak, tapi kalau domestik adopsi itu isinya banyak ada di Jogja, Solo, Bantul, Pontianak, Batam ada, tapi kalau yang luar negri itu hanya Sayap Ibu Cabang Jakarta.” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Seperti juga yang telah disinggung diatas, bahwa hanya beberapa YSI di seluruh Indonesia yang dapat melakukan adopsi anak. Informan diatas menjelaskan bahwa adopsi yang diberlakukan oleh YSI memiliki dua bentuk, yaitu adopsi luar negri dan juga adopsi domestik (dalam negri). Dimana secara sederhana dapat dijelaskan bahwa adopsi luar negri merupakan proses adopsi yang telah dilakukan oleh Calon Orang Tua Asuh (COTA) yang berasal dari luar Indonesia, sedangkan adopsi domestik (dalam negri) merupakan adopsi anak yang dilakukan oleh COTA yang berasal dari berbagai masyarakat diseluruh Indonesia. sehingga dalam pelaksanaan adopsi terdapat beberapa YSI yang dieprcaya dalam mengelola adopsi anak yang tersebar diberbagai wilayah diantaranya; Jakarta, Jogja, Solo, Bantul, Pontianak, dan Batam.

Luasnya cakupan dalam penerimaan dan adopsi anak oleh YSI tidak menutup kemungkinan anak-anak dengan berbagai kondis di YSI dapat dilakukan adopsi. Hal tersebut seperti yang telah diceritakan oleh

informan RTW terkait dengan kondisi anak yang di adopsi sebagai berikut;

“tapi kadang-kadang pasti milih yang cantik cakep itu banyak tapi ada juga yang mau menerima dengan segala sedikit kekurangannya ada yang misalnya jantungnya agak lemah mau terus dirawat, adalagi yang anak itu ininya gak ada tengahannya itu gak ada jadi anak itu dari dia bayi sampai tua itu harus pakai kloset itu juga masih ada yang ngangkat jadi klosetnya itu setiap tahun ganti jadi mungkin dia ndak bisa hamil kalau itu yang ngangkat orang Indonesia malah,” (wawancara RTW, selaku Penasihat)

Penerimaan YSI terhadap anak-anak dengan berbagai kondisi dan latar belakang telah mempengaruhi berbagai pilihan anak yang dapat diadopsi. Seperti yang disebutkan informan diatas, bahwa secara umum orang atau masyarakat yang akan mengadopsi anak sudah sewajarnya memilih anak sesuai dengan kriteria atau keinginan COTA. Namun melihat kondisi dan latar belakang anak yang terdapat di YSI yang beraneka ragam tidak menutup kemungkinan adanya adopsi anak yang dilakukan oleh COTA untuk mendapatkan anak dengan kondisi yang kekurangan atau memiliki kebutuhan khusus sesuai dengan kondisi anak yang tersedia dalam pengawasan serta pengasuhan YSI.

Dokumen terkait