• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR GAMBAR

1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saham adalah tanda bukti pengembalian bagian atau peserta dalam suatu PT (Perseroan Terbatas) bagi perusahaan yang bersangkutan yang diterima dari hasil penjualan sahamnya “akan tetap tertanam” di dalam perusahaan tersebut selama hidupnya, meskipun bagi pemegang saham sendiri itu bukanlah merupakan penanaman yang permanen, karena setiap waktu pemegang saham dapat menjual sahamnya (Riyanto, 2010:240). Pemilik saham akan menerima penghasilan berupa dividen dan capital gain yang akan dibagikan apabila perusahaan mendapatkan keuntungan. Di samping dapat memberikan keuntungan, saham juga mempunyai resiko yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Semakin tinggi imbal hasil yang diharapkan, maka semakin tinggi pula resiko yang akan dihadapi investor. Berdasarkan hal tersebut, para investor harus jeli dan memperhitungkan segala sesuatu dengan baik sebelum berinvestasi dalam saham di pasar modal.

Salah satu hal yang menjadi fokus pertimbangan para investor adalah harga saham. Harga saham adalah nilai nominal penutupan (closing price) dari penyertaan atau pemilik seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas yang berlaku secara regular di pasar modal di Indonesia (Kesuma, 2012). Setiap periode waktu, harga saham mengalami kenaikan maupun penurunan tergantung dengan kekuatan permintaan dan penawaran di pasar modal. Harga saham yang diharapkan para investor adalah harga saham yang stabil dengan pola pergerakan

2

yang cenderung naik dari waktu ke waktu. Menurut Zuliarni (2012), semakin tinggi harga saham perusahaan di bursa efek menunjukkan perusahaan tersebut berhasil mengelola usahanya dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap modal yang telah dikeluarkan. Sebaliknya, semakin rendah harga saham perusahaan di bursa efek, maka akan mengurangi kepercayaan investor akan nilai perusahaan tersebut.

Alwi (2008:87), Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham yaitu Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, Earning Per Share (EPS), Dividen Per Share (DPS), Price Earning Ratio, Net Profit Margin, Return On Assets (ROA), dan lain-lain.

Return On Asset (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas

jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Return On Asset (ROA) merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelolah investasinya. Di samping itu hasil pengembalian investasi menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin rendah (kecil) rasio ini semakin kurang baik, demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.Menurut Harahap (2010:305) “Return On Assets (ROA) menggambarkan perputaran aktiva diukur dari penjualan. Semakin besar rasio ini maka semakin baik dan hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba.

3

Darsono (2005), Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan persentase penyedia dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya.

Madichah (2005), Earning Per Share (EPS) merupakan hasil yang akan diterima oleh para pemegang saham untuk lembar saham yang dimilikinya atas keikut sertaannya dalam perusahaan. EPS yang cenderung naik maka kemungkinan keuntungan yang didapat oleh investor lebih besar dari pada kerugian yang mungkin terjadi. Dengan demikian besarnya EPS dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan suatu perusahaan dimana EPS yang tinggi menandakan tingkat kesejahteraan yang lebih baik kepada pemegang saham.

Gumanti (2011), TATO merupakan rasio yang menggambarkan seberapa jauh total asset telah dipergunakan dalam kegiatan perusahaan,dan juga menunjukan berapa kali total aset berputar dalam suatu periode. Jika perputaran total aset perusahaan lebih dari 1x, berarti secara ekonomis kemampuan menjual barang/jasa perusahaan lebih tinggi daripada aset yang dimiliki. Total Asset Turn Over (TATO) merupakan rasio yang mengukur perputaran semua aktiva perusahaan. Semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk perputaran total aktiva, maka akan semakin baik (Brigham dan Houston: 2011).

Signaling Theory menyebutkan bahwa struktur modal (pengumuman utang)

4

maka kemungkinan bangkrut akan semakin meningkat. Hal ini dianggap sebagai suatu signal kepada para investor dikarenakan sebuah pengambilan strategi yang baik akan berisiko dalam menghimpun dana sekaligus mendatangkan keuntungan (Hanafi, 2013).

Hubungan Teori Signal dengan ROA yaitu apabila nilai ROA meningkat, maka ini berarti perusahaan mampu menggunakan aktivanya secara produktif sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini dapat dijadikan signal bagi para investor dalam memprediksi seberapa besar perubahan nilai atas saham yang dimiliki. Bagi kreditor, ini dapat dijadikan signal untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar produk dan bunga pinjaman.

Penelitian yang dilakukan oleh Ariyo Murti Raharjo, A. Mulyo Haryanto (2015) dari uji tanda menunjukkan bahwa ROA memiliki pengaruh positif terhadap harga saham dan berdasarkan hasil perhitungan F hitung, secara bersama-sama variabel independen yaitu EVA, ROA, DER, Volume Perdagangan, dan Kapitalisasi Pasarsecara bersama-sama terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Hasil yang berbeda dengan Gerald Edsel Yermia Egam, Ventje Ilat, Sonny Pangerapan (2017) bahwa ROA tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham.

Suharno (2016) dari hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel ROA, TATO dan PER berpengaruh signifikan terhadap harga saham, Secara simultan variabel CR, DER, ROA, TATO dan PER berpengaruh terhadap harga saham.

5

Berdasarkan teori signal, apabila nilai dari DER tinggi, maka ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki hutang yang besar dan semakin tinggi pula resiko yang ditanggung perusahaan. Selama ekonomi sulit atau suku bunga tinggi, perusahaan dengan DER yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan. Hal ini dapat menurunkan profitabilitas perusahaan dan ini dapat dijadikan signal bagi investor agar tidak melakukan investasi pada perusahaan yang sedang mengalami situasi seperti ini.

Muhammad Ircham et al. (2014), Diko Fitriansyah Azhari et al. (2016) dan Suharno (2016) menyatakan bahwa dari hasil penelitiannya DER secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Tomi Sanjaya Dwiatmanto, Maria Goretti Wi Endang NP (2015) menyatakan bahwa hasil dari penelitiannya DER berpengaruh signifikan terhadap harga saham dan Nicodemus Hendro P.U., Endang Tri W (2016) DER berpengaruh terhadap Harga Saham.

Hasil yang berbeda dengan Putu Dina Aristya Dewi, I.G.N.A. Suaryana (2013) bahwa DER terhadap harga saham adalah signifikan negatif pada perusahaan Food and Beverage yang teregister di BEI dengan tahun pengamatan pada 2009-2011. Suharno (2016) menyatakan bahwa secara parsial variabel DER tidak berpengaruh signifikan.

Teori signal menyatakan bahwa pihak manajemen akan menunjukkann suatu sinyal terhadap investor tentang prospek perusahaan. Informasi mengenai perusahaan dapat diketahui melalui laporan keuangan yang dipublikasikan oleh manajemen kepada pasar. EPS yang tinggi menunjukkan bahwa tingkat efisiensi dan efektivitas pengelolaan penjualan perusahaan baik. Oleh karena itu, EPS yang

6

tinggi dapat memberikan suatu sinyal baik bagi pasar, sehingga respon positif yang ditunjukkan oleh pasar akan meningkatkan harga saham, maka EPS memiliki pengaruh yang positif terhadap harga saham.

Denies Priatinah, Prabandaru Adhe Kusuma (2012), Gerald Edsel Yermia Egam et al. (2017) menyatakan bahwa Earning per Share secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham. Putu Dina Aristya Dewi, I.G.N.A. Suaryana (2013) dan Azis Muhamad Subhan (2016) menyatakan bahwa EPS terhadap harga saham adalah signifikan positif. Tamara Oca Viandita et al. (2013), menyatakan bahwa hasil dari penelitiannya EPS secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Total Asset Turn Over (TATO) merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur seberapa efisiensi seluruh aktiva perusahaan digunakan untuk menunjang kegiatan penjualan. Jumlah asset yang sama dapat memperbesar volume penjualan apabila asset turn overnya ditingkatkan atau diperbesar. Sedangkan menurut (Abdul Halim, 2012) TATO merupakan rasio aktivitas yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber dayanya yang berupa asset.

Aldiansyah Cahya Putra, Saryadi, Wahyu Hidayat (2013) menyatakan bahwa hasil dari penelitiannya Total Asset Turnover (TATO) secara simultan memiliki pengaruh yang positif terhadap Harga Saham. Kemudian Diko Fitriansyah Azhari, Sri Mangesti Rahayu, dan Zahroh Z.A (2016) juga memiliki hasil yang sama yaitu TATO secara simultan berkontribusi dalam perubahan harga saham,

7

sedangkan perubahan lainnya disebabkan oleh faktor lain yang tidak diteliti. Sedangkan DER dan TATO secara individu tidak berpengaruh besar terhadap harga saham. Suharno (2016) dari hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel TATO berpengaruh signifikan terhadap harga saham dan Secara simultan variabel TATO berpengaruh terhadap harga saham

Hasil yang berbeda terdapat pada Nadia Cathelia, R. Djoko Sampurno (2016) bahwa TATO memiliki hubungan negatif, namun tidak berpengaruh secara signifikan.

Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan sub sektor Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016. Perusahaan sub sektor Otomotif dan Komponen memiliki saham yang aktif diperdagangkan di bursa saham sehingga harga sahamnya bergerak aktif. Selain itu, terjaganya pertumbuhan sub sektor otomotif dan komponen mendapatkan apresiasi yang positif dari investor. Populasi sub sektor perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak 13 perusahaan dan terdapat 6 perusahaan diantaranya yang memenuhi kriteria sebagai sampel. Alasan peneliti melakukan penelitian terhadap perusahaan sub sektor Otomotif dan Komponen karena berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh dari tahun 2012-2016 yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia memiliki nilai yang cukup berfluktuasi setiap tahunnya,

8

Berikut tabel rata-rata tahunan ROA, DER, EPS dan TATO terhadap harga saham yang dapat dilihat pada Tabel 1.1 :

Tabel 1.1 Rata-rata tahunan ROA, DER, EPS, dan TATO yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2016.

No. Keterangan Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 1 ROA 12.09% 8.76% 9.73% 6.39% 7.91% 2 DER 0.79 0.85 0.66 0.72 0.57 3 EPS 482.25 240.77 221.5 143.02 206.34 4 TATO 1.06 0.97 1.03 0.8 0.80 5 Harga Saham 4.132 2.735 3.910 2.969 3.190

Sumber : Data sekunder, diolah oleh peneliti

Tabel 1.2 Grafik pada ROA

0 2 4 6 8 10 12 14 2012 2013 2014 2015 2016

ROA (%)

ROA 12.09% 8.76% 9.73% 6.39% 7.91%

9 Tabel 1.3 Grafik pada EPS

Tabel 1.4 Grafik pada DER dan TATO 0 100 200 300 400 500 600 2012 2013 2014 2015 2016

EPS (Rp)

EPS 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 2012 2013 2014 2015 2016

Dokumen terkait