• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII PENUTUP 310 8.1 Simpulan

DAFTAR LAMPIRAN

1.1 Latar Belakang

Masyarakat merupakan kolektivitas individu yang secara bersama-sama menciptakan kebudayaan. Kodrat manusia sebagai makhluk berakal budi memungkinkan adanya kebudayaan. Di samping kodrat akal budinya, manusia juga mempunyai kebutuhan, dorongan, dan kemauan yang pemenuhan serta perwujudannya menimbulkan variasi budaya. Manusia yang menciptakan kebudayaan dan manusia pula menjadi pemakainya sehingga kebudayaan akan selalu ada sepanjang keberadaan manusia. Manusia melalui kebudayaan melanjutkan dan meningkatkan taraf kehidupannya, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Masyarakat sebagai suatu kesatuan yang berfungsi sebagai alat kontrol terhadap anggota-anggotanya agar menghormati dan menjalankan kegiatan sesuai dengan norma-norma budaya yang diciptakannya sendiri. Dengan demikian, kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kebudayaan merupakan rujukan orientasi norma, nilai, aturan, dan menjadi pedoman tingkah laku sehari-hari anggota masyarakat dalam hidup berkelompok dan dalam kehidupan diri sebagai pribadi. Oleh karena itu, kebudayaan mempunyai kekuatan untuk ‘memaksa’ manusia pendukung kebudayaan itu untuk mematuhi segala aturan yang telah digariskan oleh kebudayaan (Sairin, 2002:2).

2

Dalam pepatah Latin kuno disebutkan tempus mutantur, et nos mutamur in illid, artinya waktu berubah dan manusia yang ada di dalamnya juga akan ikut berubah (Sutrisno, 2005:7). Pepatah kuno ini sepertinya masih bisa teraktualisasi pada masa sekarang. Berubahnya waktu, membawa serta perubahan dalam kehidupan sosial manusia. Tidak ada masyarakat yang berhenti pada satu titik tertentu sepanjang masa. Perubahan sosial merupakan proses kejadian nyata dan tidak dibuat-buat dalam kehidupan manusia, tidak dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan. Artinya, perubahan sistem ide yang mencakup peraturan atau norma-norma yang digunakan sebagai pegangan dalam kehidupan warga masyarakat juga termasuk nilai-nilai, teknologi, kesenian, bahasa, dan sebagainya.

Perubahan dalam masyarakat terjadi karena penyebab dari dalam masyarakat itu sendiri dan dari luar. Penyebab dari dalam berupa perubahan jumlah dan komposisi penduduk dan perubahan lingkungan hidup. Penyebab dari luar berupa penyebaran kebudayaan lain ke dalam masyarakat yang bersangkutan. Pada masyarakat yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat lain, sehubungan dengan semakin intensnya mengadakan interaksi dengan komponen-komponen dari luar, maka cenderung untuk berubah lebih cepat (Ranjabar, 2008:2).

Globalisasi merupakan proses penyebaran unsur-unsur baru yang terbentuk oleh adanya kemajuan di bidang komunikasi di tingkat dunia sehingga dengan kemajuan teknologi informasi ini dapat berakibat pada hilangnya batas ruang dan waktu. Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa

3

dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit (http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi).

Menurut Robertson, konsep globalisasi adalah terjadinya pengerutan dunia dan meningkatnya koneksi global serta pemahaman mengenainya (dalam Barker, 2005:149). Pengerutan dunia ini dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas, yaitu tatanan pascatradisional ditandai oleh perubahan-perubahan meliputi kapitalisme, industrialisme, dan sistem informasi global. Dalam tatanan ini memungkinkan terjadinya hubungan sosial antarorang yang sebenarnya tidak hadir bersama. Terjadi bentuk komunikasi dan informasi baru yang memungkinkan pertukaran dilakukan melintasi ruang dan waktu sehingga tidak ada tempat yang tidak ditembus dan dibentuk oleh pengaruh sosial yang berasal dari tempat lain.

Dalam sistem ekonomi global, perkembangan dalam bidang ekonomi yang pesat merupakan bibit globalisasi. Faktor-faktor penyebab batas negara menjadi pudar dalam ekonomi modern adalah (1) perkembangan kapitalisme; (2) perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi; dan (3) berkembangnya industri pariwisata. Sebenarnya, globalisasi bukanlah hanya urusan ekonomi, melainkan merupakan gejala budaya, yaitu terbentuk dan tersebarnya kebudayaan dunia di berbagai negara (Hoed, 2011:127--128). Dalam konteks ini, globalisasi membawa nilai-nilai baru yang disebut kapitalisme, komodifikasi, reproduksi, dan sekularisasi yang terkait dengan permasalahan dalam kajian ini. Globalisasi menyentuh semua sendi kehidupan. Dengan

4

demikian, tidak ada satu pun lembaga termasuk lembaga keberagamaan yang tidak tersentuh oleh kapitalisme. Salah satu di antaranya adalah tradisi barong ngelawangyang ada pada masyarakat di Bali.

Dalam konteks seni, Tomars mengatakan bahwa setiap kelompok masyarakat pasti memiliki seni yang sesuai dengan ciri dan kebutuhan masyarakat tersebut. Pada masyarakat yang masih melestarikan budaya tradisional dapat dipastikan hampir semua kegiatan penting dalam kehidupannya melibatkan seni, khususnya seni yang bernilai ritual. Selain itu, ada pula seni yang merupakan ungkapan pribadi yang berfungsi sebagai hiburan (dalam Soedarsono, 1999:174).

Di Bali seni menjadi bagian yang sangat penting, bahkan sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Bali. Hal ini disebabkan oleh pentingnya peranan seni dalam berbagai aspek kegiatan keagamaan dan sosial. Hampir tidak ada upacara adat dan keagamaan yang tidak menyertakan seni. Seni pertunjukan Bali berdasarkan fungsi ritual dan sosialnya dapat dikelompokkan menjadi seniwali, babali, danbalih-balihan. Seni walidan babalimerupakan jenis kesenian yang memiliki nilai religius dan disakralkan, yang hanya dipentaskan pada waktu dan tempat tertentu yang terkait dengan pelaksanaan upacara ritual. Sebaliknya, seni

balih-balihan merupakan jenis kesenian yang lebih bersuasana sekuler serta dapat dipentaskan kapan saja tanpa ada batasan waktu dan tempat (Dibia, 1999: 3--4).

Pertunjukan barong di Bali merupakan bentuk kesenian yang tergolong dalam seniwali, bebali,danbalih-balihanmenjadi fokus kajian dalam penelitian

5

ini. Kehadiran barong dalam setiap kegiatan masyarakat, khususnya pada pelaksanaan upacara keagamaan memegang peranan penting dan selalu menjadi pusat perhatian. Barong menjadi kebanggaan karena menjadi simbol kekuatan magis, kemegahan, dan keagungan yang dipancarkannya. Masyarakat pemiliknya memaknai kekuatan magis yang ada pada barong menjadi pelindung dan penjaga keselamatan mereka (Wijaya, 2001:38).

Kata barong berasal dari ‘barwang’ dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti beruang (Titib, 2003:417; Dibia, 1999:26). Selain di Bali, keberadaan barong juga dapat dijumpai di beberapa tempat di Pulau Jawa, seperti di Magelang, Banyumas, Blora, Ponorogo, Banyuwangi, dan tempat lainnya. Asal mula barong adalah dari Tari Singa Cina yang pada awalnya merupakan bentuk pengganti dari pertunjukan singa asli oleh para penghibur keliling profesional (Bandem, 2004:185). Lebih lanjut, Bandem mengatakan bahwa kalau dilihat dari sudut ikonografi (ekspresi, warna, dan hiasan) pada topeng barong, tampak adanya perpaduan antara kebudayaan Hindu dan kebudayaan Bali Kuno, khususnya kebudayaan Hindu yang bercorak Buddha (dalam Sulistyawati (ed), 2011:86).

Barong yang diyakini masyarakat Bali memiliki kekuatan gaib sebagai pelindung desa pada saat-saat tertentu, seperti pada hari raya Galungan dan Kuningan barong dikirab keliling desa (ngelawang). Ngelawang ini bertujuan agar desa menjadi terbebas dari mara bahaya dan untuk menetralisasi unsur- unsur negatif (penolak bala). Selain itu, kegiatan barong mengelilingi desa juga dilakukan pada sasih Kanem(sekitar Desember) dalam setiap tahun.

6

Barong yang digunakan dalam kegiatan ngelawang adalah barong sungsungan, yaitu barong yang telah disucikan melalui proses sakralisasi. Nyoman Ruka, seorang perajin barong mengatakan bahwa dalam pembuatan barong sakral tahap upacara terakhir yang harus dilalui adalah ngerehang, yaitu suatu upacara yang dilakukan di kuburan dengan tujuan untuk membuktikan adanya roh yang sudah masuk di dalam barong tersebut (dalamBali Post, 2012).

Terkait dengan aktivitas barong ngelawang pada hari raya Galungan, Covarrubias menyatakan sebagai berikut.

At this time the peculiar monsters called barong - a great fleece of long hair with a mask and gilt ornaments, animated by two men – were ‘loose’ and free to go wherever they pleased. Everywhere on the road one met the cavorting holy barongs, who had become foolish for the day, dancing down the roads and paths, followed breathlessly by their orchestras and attendants(Covarrubias, 1972:286).

de Zoete mengatakan bahwa selama periode Galungan barong-barong dilepas di jalanan, satu sama lainnya dapat bertemu setiap saat, baik pada siang maupun malam hari, pergi dari satu rumah ke rumah yang lain disertai dengan iringan gamelan (de Zoete, 1973:94). Bandem menyatakan bahwa pada setiap hari raya Galungan kelompok Taruna Banjar Sengguan, Desa Singapadu, Gianyar dan kelompok-kelompok taruna lainnya dari desa yang ada di Bali bagian selatan melakukan kegiatan ngelawang yang menjadi petualangan amat mengasyikkan terjadi dalam setiap 210 hari (Bandem, 2004:184).

Aktivitas barong ngelawangsakral dilakukan dengan niatan yang murni untukngayah,melakukan suatu kegiatan dengan tulus ikhlas sebagai pengabdian tertuju kepada Tuhan. Mereka rela mengorbankan tenaga dan waktunya untuk

7

masyarakat terhindar dari mara bahaya serta mendapat kesejahteraan. Dengan demikian, warga masyarakat menanti dan menyambut kedatangan barong sesuhunan mereka dengan mempersembahkan sesajen di depan pintu masuk rumah.

Tradisi barong ngelawang yang menjadi warisan para leluhur masyarakat Bali, dalam keberlangsungannya terjadi dinamika. Tradisi tersebut masih ada yang mempertahankan, tetapi ada juga yang mengubah dengan bentuk yang baru. Dalam rentang perjalanan tradisi barong ngelawang telah terjadi suatu perubahan. Pada hakikatnya setiap masyarakat selalu berdinamika seiring dengan perubahan zaman. Perubahan merupakan konsekuensi logis dari dinamika sebuah kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, masyarakat dan kebudayaan tidak pernah berada dalam keadaan statis, tetapi selalu berada dalam proses yang dinamis.

Ubud merupakan salah satu wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Gianyar. Keindahan panorama alamnya, kekayaan warisan seni budaya, dan adat istiadat yang beraneka ragam serta religiusitas masyarakatnya yang tinggi menjadikan Ubud memiliki daya tarik dan banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai negara di dunia. Ubud menjadi daerah terkenal dan menjadi tujuan pariwisata sudah berkembang sejak tahun 1930-an (Pitana, 2005:140; Picard, 2006:120--122).

Di kawasan pariwisata (Ubud), pada setiap hari raya Galungan dan Kuningan dijumpai beberapa jenis barong sakral dikirab mengelilingi desa (ngelawang). Namun, dalam perkembangannya, selain barong sungsungan

8

melakukan kegiatan mengelilingi desa, muncul barong-barong replika yang dilakukan oleh anak-anak melakukan ngelawang di lokasi-lokasi yang menjadi pusat kegiatan masyarakat di Ubud. Setiap hari raya Galungan dan Kuningan di sepanjang ruas jalan dan pusat-pusat keramaian di Ubud, barong tiruan hasil kreativitas anak-anak tersebut melakukan pementasan dalam rangka untuk menghibur dan mendapatkan uang.

Perubahan fungsi barong dari sakral ke sekuler juga sangat dimungkinkan terjadi karena terkait dengan insentif. Dalam perkembangan Ubud menjadi sebagai daerah tujuan wisata, daerah ini membutuhkan event-event atau peristiwa seni budaya yang dapat merangsang wisatawan untuk datang ke Ubud. Dengan dibangunnya berbagai peristiwa seni budaya untuk wisata tersebut, maka setidaknya desa-desa yang ada di wilayah Ubud menjadi semakin dikenal. Selain itu, dengan adanya berbagai event tersebut yaitu salah satu di antaranya adalah pertunjukan barong juga memiliki manfaat yang lain, khususnya terkait dengan ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat ekonomis secara langsung, yaitu setelah pementasan masyarakat langsung menerima bayaran. Manfaat ekonomi tidak langsung, yaitu dengan semakin banyaknya wisatawan hadir di Ubud, maka kegiatan-kegiatan ekonomi terkait dengan pariwisata, seperti usaha dalam bidang transportasi, akomodasi, konsumsi, dan sebagainya menjadi semakin semarak.

Sebagai masyarakat yang memiliki sifat religiusitas yang tinggi, semestinya masyarakat Ubud tidak mungkin mau melakukan tindakan yang dapat mengurangi nilai kesakralan barong ngelawang. Semula kegiatan barong

9

ngelawang dengan menggunakan barong sakral bertujuan sebagai penolak bala, lalu dengan membuat replikanya digunakan anak-anak untuk menghibur dan mencari uang.

Begitu pula dengan dikunjungi banyak wisatawan, maka Ubud menjadi desa internasional. Di daerah ini telah terjadi berbagai perpaduan budaya dalam masyarakat. Hal yang terkait dengan adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat juga mengalami perubahan. Dengan berubahnya masyarakat menjadi semakin modern, semestinya akan semakin meninggalkan tradisinya. Akan tetapi, perubahan yang terjadi pada masyarakat Ubud tidaklah begitu adanya.

Fenomena perubahan yang terjadi dalam tradisi barong ngelawang di wilayah Ubud tersebut menarik untuk diangkat menjadi sebuah disertasi. Dalam kajian ini diharapkan dapat diungkapkan secara komprehensif persoalan- persoalan yang melatari terjadinya perubahan, menyangkut pola transformasi, ideologi, dan pemaknaan terhadap tradisi barong ngelawang, khususnya yang ada di wilayah Kecamatan Ubud.

Dokumen terkait