Berikut ini merupakan data demografi partisipan yang disajikan pada Tabel
8.:
Tabel 8.
Data Demografi Partisipan
No. Keterangan Partisipan I Partisipan II Partisipan III
1. Inisial Inf. I Inf. II Inf.III
2. Jenis Kelamin Perempuan Perempuan Perempuan
3. Usia 53 tahun 53 tahun 51 tahun
4. Pekerjaan ASN IRT ASN
5. Pendidikan terakhir Sarjana Sarjana Sarjana
6. Alamat tinggal Pati,
Jawa Tengah Sleman, Yogyakarta Surakarta, Jawa Tengah. 7. Asal Pati, Jawa Tengah
DKI Jakarta Surakarta,
Jawa Tengah.
8. Agama Katolik Katolik Katolik
9. Hubungan dengan
pasien
Ayah dan Ibu Ibu Ibu
10. Jenis Kanker Kanker
prostat dan leukimia
Kanker hati Kanker kulit
11. Durasi Merawat 2,5 tahun -
meninggal
5 bulan -
meninggal
6 bulan -
sembuh
Peneliti melakukan wawancara dengan menemui langsung
masing-masing partisipan secara personal. Sebelum memulai wawancara, peneliti
menjelaskan alur penelitian dan beberapa hal yang perlu diketahui oleh
penelitian ini dengan menandatangani surat pernyataan persetujuan (informed
consent). Surat pernyataan tersebut mencangkup informasi mengenai penelitian ini termasuk resiko dan kesediaan partisipan untuk terlibat dalam penelitian ini
setelah mengetahui informasi-informasi tersebut.
Partisipan Pertama berinisial Inf.I adalah seorang perempuan berusia 53 tahun yang berasal dari Pati, Jawa Tengah. Partisipan menjadi caregiver bagi
kedua orangtuanya yang menderita kanker prostat dan leukemia serta demensia
selama kurang lebih 2,5 tahun. Inf. I merupakan anak ketiga dari empat
bersaudara yang merupakan satu-satunya anak yang tinggal satu kota dengan
kedua orangtuanya. Inf I merupakan seorang Aparatur Sipil Negara yang bekerja
di Pemda Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sebagai aparatur sipil negara, Inf.I
memiliki tanggung jawab memimpin sebuah divisi sehingga Inf.I masih sangat
aktif bekerja di kantornya.
Pada awalnya, Ayah Inf.I yang didiagnosis kanker. Sebelumnya, ayah
Inf.I memiliki riwayat sakit hernia sehingga saat pertama kali merasakan gejala
tidak bisa buang air kecil Inf.I langsung sigap menangani sang ayah.
Sesampainya di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan, dokter memberikan
prognosis awal sebagai kanker prostat. Hal tersebut diperkuat dengan tes darah
pada tahap selanjutnya sehingga ayah Inf.I memang sudah berada di tahap akhir
kanker prostat. Karena alasan usia, dokter tidak menyarankan untuk dilakukan
operasi pengangkatan prostat, begitu pula dengan kemoterapi sehingga
pengobatan dilakukan dengan memberikan obat untuk mencegah sel kanker
secara intensif, beberapa kali sang ayah harus dibawa ke Rumah Sakit Tlogorejo,
Semarang untuk mendapatkan perawatan intensif.
Pada saat kondisi sang ayah sedang memburuk, Inf.I mendapatkan satu
lagi tantangan yaitu ibunya didiagnosis kanker leukimia stadium empat. Hal ini
membuat Inf.I harus dengan ekstra merawat kedua orang tuanya. Setiap hari,
Inf.I harus menempuh jarak kurang lebih 20 km dari Kudus untuk bekerja di
kantornya, di Pati. Hal tersebut berlangsung selama kurang lebih empat bulan
karena kedua orang tuanya harus dirawat di salah satu rumah sakit di Kudus yang
peralatannya memadai untuk pasien kanker. Lalu, setiap minggu Inf.I harus
mencari transfusi trombosit ke Semarang untuk ibunya. Hal ini yang terkadang
membuat Inf.I hanya memiliki sedikit waktu untuk mengurus suami dan
anak-anaknya. Selain itu, berdasarkan informasi dari sang anak, dalam masa-masa ini,
Inf.I seringkali mengalami tekanan emosional sebagai dampak dari bebannya
menjadi seorang caregiver bagi kedua orang tuanya.
Setelah kurang lebih empat bulan merawat secara intensif, ibu Inf.I
meninggal terlebih dahulu, selang 100 hari kemudian sang ayah meninggal
dunia. Hal ini tentunya menjadi hal yang berat bagi Inf.I karena kepergian kedua
orangtuanya yang dirinya rawat hanya berselang sebentar.
Inf.I merefleksikan apa yang ia dapat selama merawat orang tuanya.
Saat ini, Inf.I merasa puas dan lega karena sudah memberikan usaha terbaiknya
di detik-detik terakhir orangtuanya. Inf.I juga merasa bahwa kejadian yang
dialaminya tersebut membuat dirinya dapat melihat hal-hal yang baru didalam
keluarga, memperhatikan kesehatan keluarga dan dirinya juga menjalin
hubungan yang semakin erat dengan saudara-saudaranya.
Kejadian yang dialaminya masih meninggalkan bekas bagi dirinya. Jika
Inf.I mengunjungi atau melihat obyek-obyek yang terasosiasikan dengan
pengalaman kedua orangtuanya, Inf.I masih sering merasa sedih. Berdasarkan
data yang didapat dari sang anak, Inf.I masih menyimpan rasa menyesal bahwa
pernah secara tidak sengaja meluapkan emosi kepada ibunya yang melakukan
kesalahan. Hal tersebut terjadi ketika keluarganya yang berbeda keyakinan
dengan Inf.I merayakan Idul Fitri untuk yang terakhir kalinya. Inf.I memiliki
latar belakang keyakinan agama yang berbeda dengan keluarga besarnya. Inf.I
menganut agama Katolik bersama suaminya sedangkan kedua orang tuanya serta
saudara kandungnya adalah seorang Muslim. Sampai sekarang, jika akan
menjelang perayaan Idul Fitri, Inf.I masih menyesali dan menyayangkan
perlakuannya tersebut karena saat itulah Inf.I merayakan Idul Fitri yang terakhir
bersama kedua orangtuanya.
Wawancara pertama dilakukan pada tanggal pertama dilakukan tanggal
14 Maret 2020 secara daring melalui Whatsapp Messenger. Pada wawancara
pertama ini, peneliti menanyakan secara umum informasi mengenai Inf.I seperti
identitas, jenis kanker yang diderita orang tua dan gambaran singkat mengenai
proses merawat.
Wawancara kedua dilakukan tanggal 15 Maret 2020 selama kurang
lebih dua jam. Pada wawancara ini, Inf.I menggunakan baju batik dan celana
kondusif karena kedua anak Inf.I berada di kamar dan sang suami sedang
berkebun. Inf.I tampak sangat antusias untuk terlibat dalam wawancara ini, hal
tersebut ditandai dengan Inf.I yang dapat menceritakan banyak hal kepada
peneliti dan menunjukan respon non-verbal kepada peneliti. Peneliti juga tidak
perlu untuk mengulangi pertanyaan, peneliti hanya mengulangi pernyataan
untuk mengkonfirmasi. Pada akhir wawancara, peneliti melakukan debriefing
untuk mempertegas proses wawancara.
Partisipan Kedua berinisial Inf.II adalah seorang perempuan berusia 53 tahun, yang berasal dari DKI Jakarta. Inf.II merupakan seorang ibu rumah
tangga yang memiliki dua anak perempuan yang sudah dewasa. Partisipan telah
menjadi caregiver bagi ibunya yang menderita kanker hati stadium empat pada
tahun 2015 selama kurang lebih empat bulan. Inf.II merupakan anak kelima dari
tujuh bersaudara. Pada mulanya, ibu partisipan mengetahui penyakitnya ketika
singgah di rumah partisipan setelah mengunjungi makam leluhurnya di Jawa
Timur.
Awalnya, ibu partisipan berada kondisi kurang sehat saat mengunjungi
rumah Inf.II, sehingga mengeluhkan sakit di bagian ulu hati. Inf.II segera
membawa ibunya ke Rumah Sakit Panti Rapih karena sakitnya sudah tidak
tertahankan lagi. Setelah dilakukan pemeriksaan dan USG oleh dokter penyakit
dalam ditemukan benjolan di bagian hati sehingga dokter menyarankan untuk
melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit yang sama. Namun, ibu
partisipan bersikukuh harus segera pulang karena sudah terlanjur memesan tiket
pemeriksaan, sehingga akhirnya partisipan meminta surat rekomendasi dokter
agar bisa berobat di rumah sakit di Jakarta.
Beberapa hari setelahnya, Inf.II mendapatkan kabar bahwa kondisi
kesehatan ibunya menurun dan harus dirawat inap di Rumah Sakit Harapan Kita,
Jakarta. Inf.II merasa cemas karena mendapatkan kabar bahwa sang ibu harus
keluar masuk rumah sakit hingga tiga kali selama dua minggu, tidak mau makan
dan muntah-muntah. Hal tersebut diperparah dengan penyakit jantung dan hasil
USG yang menunjukan adanya benjolan sebesar tiga sentimeter di hati. Melalui
kakaknya, Inf.II terus memantau kesehatan ibunya di Jakarta sampai pada
akhirnya sang kakak diberitahu bahwa di hati ibunya terdapat Sirosis yang
mengarah ke Sel kanker dan kemungkinan untuk sembuh tipis. Sayangnya,
dokter memberitahu pihak keluarga bahwa kemoterapi dan operasi tidak dapat
dilakukan akibat faktor usia, sehingga yang dapat dilakukan hanya dengan
berobat jalan.
Setelah mengetahui bahwa ibunya mengidap kanker stadium akhir,
Inf.II bergegas untuk berangkat ke Jakarta. Kurang lebih selama tiga bulan, Inf.II
tinggal di Jakarta untuk merawat ibunya. Inf.II merawat ibunya bersama dengan
sang kakak yang memang tinggal satu rumah dengan ibunya. Setiap hari, Inf.II
memandikan, menyuapi, dan mengantarkan ibunya untuk check up ke dokter.
Semakin hari kondisi sang ibu semakin memburuk. Beberapa kali sang ibu
merasa kesakitan di bagian ulu hati. Hal ini disebabkan karena reaksi obat yang
diminumnya. Hal tersebut membuat Inf.II kebingungan, sehingga inf.II meminta
memberikan obat berupa morfin yang dapat menekan rasa sakit. Morfin tersebut
memiliki efek samping berupa halusinasi pada ibu Inf.II.
Selama mengikuti perkembangan kesehatan ibunya, Inf.II beberapa kali
Inf.II sangat sedih, terutama ketika ibunya berhalusinasi akibat reaksi dari
morfin. Beberapa kali Inf.II mendapati bahwa ibunya mengigau hal-hal yang
berkaitan dengan masa kecilnya dan kakak-kakaknya. Hal tersebut membuatnya
merasa sedih. Setelah tidak ada perkembangan yang membaik dan kesadarannya
mulai berkurang, keluarga memutuskan untuk diberikan Sakramen Minyak Suci
oleh pastor di gereja mereka.
Pada bulan Oktober Inf.II menyempatkan diri untuk kembali ke
Yogyakarta. Namun, saat itu Inf.II hanya pulang sekitar satu minggu dan harus
kembali lagi ke Jakarta karena keadaan sang ibu tiba-tiba memburuk. Suami
Inf.II yang akan menjalani sidang disertasi dan anak-anak yang masih sekolah,
Inf.II memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta. Sebelum pulang, secara tidak
sengaja Inf.II mendengar sang ibu memberikan pesan terakhir kepada tante
Inf.II. Hal tersebut membuat Inf.II menangis dan merasa dilemma apakah harus
tetap berada di Jakarta atau kembali ke Yogyakarta. Dengan nasihat kakaknya,
Inf.II akhirnya kembali ke Yogyakarta.
Sekitar dua minggu Inf.II memantau perkembangan ibunya melalui
telepon. Perkembangan ibunya semakin memburuk sehingga Inf.II mendapatkan
kabar bahwa ibunya meninggal. Hal tersebut membuat Inf.II merasa sangat sedih
dan sangat menyesal karena tidak dapat berada disana saat ibunya meninggal.
Walaupun begitu, bagi Inf.II pengalaman ini menjadi sebuah
pengalaman berharga, karena baginya merawat orang tua merupakan sebuah
kewajiban yang harus ia lakukan. Sehingga, Inf.II merasa tidak keberatan dan
merasa senang saat bisa menyempatkan waktunya untuk merawat ibunya. Hal
tersebut ia lakukan terhadap ayahnya saat ini. Menurutnya, semenjak merawat
Inf.II mengalami perubahan terutama dalam hal pandangan mengenai kesehatan
dan spiritualitas. Tak hanya itu, saat ini Inf.II merasa semakin harus lebih
memperhatikan orang-orang disekitarnya dan menjaga ayahnya yang saat ini
masih hidup.
Namun, menurutnya dalam mencapai hal tersebut tidaklah mudah.
Sebelum dapat menerima keadaan itu, Inf.II merasa sangat terpukul sehingga
tidak dapat menerima bahwa ibunya divonis kanker. Menurutnya, kanker
merupakan penyakit yang sangat mematikan, apalagi sang ibu sudah mencapai
stadium empat. Hal tersebut membuat Inf.II merasa marah kepada Tuhan. Selain
itu, Inf.II masih merasa menyesal karena ketika ibunya meninggal dirinya
merupakan satu-satunya anak yang tidak ada di rumah tersebut. Hal ini masih
mengganggu Inf.II dan membuat Inf.II menyesal akan keputusannya pulang ke
Yogyakarta pada waktu itu.
Wawancara pertama dilakukan pada 17 Maret 2020 melalui Line Chat
dengan putri Inf.II sebagai perantara. Pada wawancara pertama ini peneliti
menanyakan mengenai gambaran umum proses merawat Inf.II seperti jenis
peneliti juga bertanya kepada putrinya selaku significant others mengenai
pengalaman ibunya secara singkat
Wawancara kedua dilakukan pada 22 Maret 2020 di rumah Inf.II.
Wawancara berlangsung di ruang tamu dan berlangsung selama kurang lebih dua
jam. Inf.II mengenakan kaos putih dan celana ¾ karena pada saat itu Inf.II baru
pulang dari berbelanja di pasar. Pada saat dilakukan wawancara, suasana sangat
kondusif. Hal ini terjadi karena kedua anak partisipan sedang melakukan kuliah
daring dan suaminya sedang memberikan kuliah daring. Inf.II tampak antusias
mengikuti wawancara ini. Hal tersebut ditunjukan dengan Inf.II yang responsif
terhadap pertanyaan – pertanyaan peneliti. Selain itu, Inf.II sangat bersemangat
saat bercerita dan mengisi kuesioner dari peneliti.
Partisipan ketiga adalah seorang perempuan berusia 51 tahun yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Inf.II merupakan seorang aparatur sipil
negara yang masih aktif bekerja di kantornya. Inf.III merupakan anak bungsu
dari tujuh bersaudara. Saat ini Inf.III masih tinggal bersama suami dan ibunya
yang merupakan seorang penyintas kanker kulit stadium empat. Pada tahun
2017, Inf.III merawat ibunya yang saat itu didiagnosis kanker kulit karena
memiliki benjolan di bagian dada sebelah kiri. Inf.III kurang lebih merawat
ibunya selama sekitar enam bulan hingga pengangkatan sel kanker pada bulan
Januari 2018.
Pada mulanya, ibu Inf.III merasakan ada benjolan di bagian dadanya.
Inf.III lalu memeriksakan benjolan tersebut ke Rumah Sakit Brayat Minulya
melakukan pemeriksaan terhadap ibu Inf.III. Berdasarkan hasil diagnosis dokter,
ibu Inf.III memiliki tumor yang ganas. Benjolan yang tubuh merupakan tumor
yang ganas dan merupakan bakal penyakit kanker.
Mulanya dokter menyarankan untuk melakukan kemoterapi, akan tetapi
dikarenakan usia ibu Inf.III sudah mencapai 90 tahun maka hal tersebut tidak
dapat dilakukan. Dokter memberikan pandangan pada pihak keluarga untuk
mengonsumsi obat serta melakukan operasi jika kondisi ibu Inf.III
memungkinkan. Hal tersebut awalnya membuat Inf.III dilemma mengenai
keputusan yang akan diambilnya. Hal tersebut dikarenakan keputusan yang ada
di tangannya sangat berat dan Inf.III takut disalahkan oleh keenam
kakak-kakaknya.
Sehingga Inf III meminta persetujuan agar ibunya bisa dioperasi untuk
mengangkat sel kanker tersebut. Akhirnya, sang ibu dapat dioperasi dan tumor
tersebut dijadikan sampel untuk penelitian. Setelah melalui penelitian
laboratorium, dokter memanggil pihak keluarga yang diwakili oleh Inf.III dan
kakaknya. Dokter memberitahukan bahwa tumor tersebut merupakan salah satu
jenis sel kanker yang sudah ganas. Hal ini membuat Inf.III menjadi jauh lebih
khawatir. Tentunya, hal tersebut membuat Inf.III menjadi cemas.
Setelah operasi pengangkatan, ibu Inf.III diperbolehkan kembali ke
rumah. Ibu Inf.II harus menjalani pemeriksaan secara berkala untuk memantau
perkembangan tumor yang tumbuh. Hal tersebut yang membuat Inf.III menjadi
Wawancara pertama dilakukan pada tanggal 9 Juli 2020, melalui daring
dengan media pesan singkat di aplikasi Whatsapp Messenger. Wawancara
berlangsung selama kurang lebih selama lima jam, karena pada waktu tersebut
Inf.III sedang berada di kantor sehingga beberapa kali Inf.III merespon
pertanyaan dengan lambat. Inf.III pada waktu itu juga tidak berkenan untuk
diwawancarai secara singkat melalui sambungan telepon Whatsapp karena
masih berada di kantor. Pada saat wawancara melalui pesan singkat, Inf.III
hanya menjelaskan secara garis besar mengenai proses merawat, waktu serta
jenis kanker yang diderita oleh ibunya. Selain itu, Inf.III dan peneliti membuat
janji bertemu untuk melakukan wawancara
Wawancara kedua dilakukan pada tanggal 18 Juli 2020 di rumah Inf.III
yang berada di Surakarta. Wawancara dilakukan di teras rumah pada sore hari.
Pada saat melakukan wawancara tatap muka, suasana sangat kondusif. Hal
tersebut karena kedua anak Inf.III sedang berada di Yogyakarta dan Inf.III hanya
tinggal berdua dengan suaminya, selain itu kondisi lingkungan sekitar yang
sedang di lockdown membuat tidak adanya gangguan-gangguan dari jalan raya.
Inf.III Nampak sangat antusias saat menceritakan pengalamannya. Inf.III
menyadari bahwa dirinya merupakan seseorang yang mudah menangis, apalagi
ketika mengingat kejadian yang sedih, termasuk pengalaman yang
diceritakannya. Sehingga di awal wawancara Inf.III sudah memberitahu peneliti
dan meminta jika dirinya menangis wawancara dijeda untuk sementara.
terutama pada pertanyaan – pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi sang ibu
saat melawan kanker.
Pada akhir wawancara, peneliti melakukan debriefing untuk
mengnyimpulkan kembali hasil proses wawancara serta arah penelitian. Tak
hanya itu, melihat kondisi Inf.III yang menangis saat wawancara, peneliti
mengajak Inf.III untuk melakukan pelatihan nafas dengan meditasi singkat. Hal
tersebut dilakukan agar Inf.III mampu merasa tenang serta mengembalikan
emosi Inf.III kembali seperti semula.
Peneliti total melakukan dua kali sesi wawancara dengan partisipan.
Pada Inf.I peneliti melakukan rapport melalui sang anak dan whatsapp chat
akibat Inf.I tinggal diluar kota. Setelahnya, peneliti melakukan pengumpulan
data dengan wawancara tatap muka dengan partisipan di rumahnya. Setelah
melakukan analisis, peneliti merasa kurang mengeksplorasi, maka peneliti
melakukan sesi wawancara ketiga dengan whatsapp call untuk menggali hal-hal
yang dirasa kurang dalam wawancara sebelumnya.
Pada Inf.II peneliti membangun rapport melalui sang anak terlebih
dahulu. Selanjutnya peneliti melakukan wawancara tatap muka untuk
pengumpulan data. Dalam wawancara tersebut, peneliti merasa data yang
diambil sudah mencukupi. Peneliti melakukan wawancara ketiga dengan media
whatsapp chat untuk bersama-sama melakukan pengecekan mengenai data yang diambil. Peneliti memutuskan melakukan pengecekan data melalui daring akibat
kondisi pandemi COVID-19 di lingkungan rumah Inf.II sehingga Inf.II melarang
Pada Inf.III peneliti pertama-tama membangun rapport dengan
keponakan dari Inf.III terlebih dahulu. Setelah itu, peneliti melakukan rapport
melalui whatsapp chat dengan Inf.III serta membuat janji untuk pengumpulan
data. Pengumpulan data pertama dilakukan secara tatap muka. Dalam proses
pengumpulan data, Inf.III sudah memberikan informasi secara rinci namun,
peneliti merasa beberapa pernyataan Inf.III perlu ditanyakan ulang, sehingga
peneliti menghubungi Inf.III kembali melalui whatsapp dan menanyakan apakah
bersedia jika beberapa hal ditanyakan kembali melalui sambungan telepon.
Namun, Inf.III merasa tidak nyaman jika melakukan wawancara dengan
sambungan telepon akibat tinggal serumah dengan ibunya yang sudah sepuh.
Selain itu, Inf.III berasal dari Surakarta dimana saat itu sedang dilakukan PSBB
total dalam menangani kasus COVID-19. Sehingga Inf.III menawarkan untuk
menanyakan dan melakukan pengecekan melalui whatsapp chat.