BAB II KLIRING TRANSAKSI EFEK OLEH PARA PIHAK DI PASAR
B. Latar Belakang dan Perkembangan Lembaga Kliring dan
Perusahaan yang dapat menjalankan kegiatan usaha sebagai LKP adalah perseroan yang telah mendapat izin usaha dari OJK.36 LKP harus memiliki modal disetor sekurang-kurangnya berjumlah Rp 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah).37
Otoritas Jasa Keuangan seperti yang diamanatkan dalam UU Pasar Modal sudah membentuk LKP yang berwujud PT. KPEI dan LPP dengan nama PT. KSEI. Kedua lembaga ini menggantikan peran Lembaga Kliring Penyimpanan dan Penyelesaian (LKPP) dengan nama PT. Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI) yang sudah berdiri sejak tahun 1992. Dua lembaga baru itu membuat pasar modal Indonesia sekomplit pasar modal modern lainnya, yang memiliki Bursa Efek, LKP, LPP. Melengkapi itu, infrastruktur pasar modal dibangun sesuai
35
Mohammad Samsul, Pasar Modal dan Manajemen Portofolio (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2006), hal. 99.
36
Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2004 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal.
37
Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2004 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal.
dengan tren pasar modal mendatang, yakni komputerisasi. Alat ini menjadikan perdagangan dapat dilaksanakan secara lebih efisien dan likuid. Sumber daya manusia juga dibenahi dengan masuknya tenaga-tenaga professional dari kalangan terdidik sehingga akan memperbaiki pemahaman dalam praktik-praktik yang berlaku di pasar modal.38
Undang-Undang Pasar Modal dipisahkan secara tegas antara fungsi LKP dengan LPP. Semula fungsi kedua lembaga ini dirangkap oleh Lembaga Kliring Penyelesaian dan Penyimpanan (LKPP). Beberapa pertimbangan atas pemisahan kedua lembaga inni adalah.39
1. LKP dibentuk dengan tujuan untuk meneyediakan jasa kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa yang teratur, wajar dan efisien. Agar kepentingan masyarakat terjamin, maka lembaga ini harus menjamin peneyelesaian transaksi efek dimaksud. Hal ini adalah praktek yang umum berlaku di luar negeri. Untuk menjaga keharmonisan antara kegiatan transaksi di Bursa Efek dan penyelesaiannya pada LKP maka pemegang saham lembaga ini adalah lembaga yang berkepentingan terhadap jasa yang diberikan oleh lembaga ini, seperti Bursa Efek, Perusahaan Efek, Biro Administrasi Efek, Bank Kustodian atau pihak lain atas persetujuan OJK, dengan ketentuan mayoritas pemegang saham LKKP adalah Bursa Efek.
2. Dengan diberlakukannya sistem perdagangan efek tanpa warkat (scriptless
trading), maka penyelesaian transaksi efek akan dilakukan dengan sistem
penyelesaian pembukuan (book entry settlement) atas rekening efek para
38
I Putu Gede Ary Suta, Op.Cit., hal. 11-12. 39
Nindyo Pramodo, Sertifikat Saham PT Go Public dan Hukum Pasar Modal di Indonesia (Bandung :Citra Aditya Bhakti, 1997), hal. 156-157.
pelaku pasar modal di LPP. Seperti halnya di LKP, pemegang saham dari LPP terdiri dari lembaga yang berkepentingan terhadap jasa yang diberikan oleh lembaga ini, seperti Bursa Efek, Perusahaan Efek, Bank Kustodian dan Biro Administrasi Efek atau pihak lain yang ditetapkan OJK, dengan ketentuan mayoritas saham dikuasai oleh Bursa Efek. Dengan pemisahan ini diharapkan fungsi masing-masing lembaga ini akan semakin jelas.
Kliring Efek Indonesia didirikan berdasarkan akta notaris No. 8 tertanggal 5 Agustus 1996 dan diresmikan sebagai badan hukum sejak 24 September 1996 melalui pengesahan Menteri Kehakiman Republik Indonesi. Pada 1 Juni 1998, badan pengawas pasar modal OJK menerbitkan Izin Operasionalnya kepada KPEI sebagai LKP berdasarkan Surat Keputusan No; Kep-26/PM/1998. Saat ini, 100% modal disetor KPEI dimiliki oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan porsi total modal disetor yang telah ditempatkan sebesar Rp 15 Miliar. Peran utama KPEI sebagai Self Regulatory Organization (SRO) turut menentukan arah perkembangan pasar modal Indonesia. Fungsi utama KPEI sebagai Central
Counterparty yaitu KPEI bertindak sebgai penjual untuk setiap pembeli dan
sebagai pembeli untuk setiap penjual, dalam setiap penyelesaian transaksi atas instrument investasi yang diperdagangkan di bursa efek. Hadirnya KPEI juga mendorong efisiensi dan kepastian dalam penyelesaian transaksi bursa.40
Maksud dan tujuan status badan hukum PT KPEI adalah agar dapat memudahkan PT KPEI berperan efektif dan melakukan segenap upaya untuk
40
meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerjanya. PT KPEI diharapkan mampu melakukan:41
1. Penerapan sistem kliring secara multilateral continuous net settlement, yaiotu kewajiban anggota kliring hari ini yang belum terpenuhi, akan digabungkan dengan hak yang akan diterima pada hari berikutnya. Sistem itu menuju real
time gross settlement yaitu pada saat transaksi terjadi, seketika dilakukan
penyelesaian.
2. Menerapkan manajemen risiko untuk rencana memantau kesinambungan risiko PT KPEI sebagai mitra pengimbang penyelesaian transaksi bursa atas aktivitas yang dilakukan anggota kliring; dana jaminan untuk mencegah terjadinya kegagalan anggota kliring dlam memenuhi kewajibannya untuk menyelesaikan transaksi bursa; asuransi rekening merupakan bentuk perlindungan terhadap investor dengan mensyaratkan setiap anggota kliring untuk mengasuransikan setiap rekening efek nasabahnya, termasuk investor dari anggota bursa yang dijamin penyelesaian transaksi bursanya oleh anggota kliring tersebut.
3. Menyediakan fasilitas pinjam-meminjam efek.
Berikut adalah tonggak sejarah Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI):42 a. Tahun 1996 : PT KPEI didirikan pada tanggal 5 Agustus 1996;
b. Tahun 1997 : KPEI memperoleh izin pendahuluan sebagai LKP pada tanggal 26 Juni 1997;
41
M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Op.Cit., hlm. 87.
42
http;//www.kpei.co.id/page/tonngak-sejarah-kpei?page=2 (diakses tanggal 22 Feburari 2016).
c. Tahun 1998 : KPEI memperoleh izin usaha sebagai LKP pada tanggal 1 Juni 2008 dan KPEI meluncurkan sistem pemantauan risiko, Automated Risk Monitoring System (ARMS);
d. Tahun 2000 : perdagangan dan penyelesaian efek tanpa warkat (Scriptless Trading) dimulai pada Juli 2000, peluncuran sistem kliring dan penjaminan, Electronic Clearing Guarantee System (e-CLEARS), peluncuran sistem pelaporan Modal Kerja Bersih yang Disesuaikan (MKBD) bagi perusahaaan efek;
e. Tahun 2001 : peluncuran sistem pemantauan risiko, Risk Monitoring Online (RMOL) dan sistem penyelesaian transaksi (Cash Management) untuk mendukung transaksi KBIE, peluncuran sistem Pinjam Meminjam Efek (PME), dan KPEI memperoleh sertifikat manajemen mutu ISO 9002 : 1994;
f. Tahun 2002 : perubahan waktu penyelesaian transaksi bursa dari T+4 menjadi T+3, 100% penyelesaian efek tanpa warkat;
g. Tahun 2003 : KPEI memperoleh sertifikasi manajement mutu ISO 9001;2000, peluncuran layanan dan sistem informasi kliring dan penjaminan secara mobile, Mobile Clearing and Guarantee System (m-CLEARS), dan KPEI menjadi tuan rumah the 7th Asia Pasific Central Securities Depository Group (ACG) General Meeting, bersama KPEI.
Menjelang tutup tahun 2014, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan sejumlah Peraturan OJK (POJK). Sebagian merupakan peraturan baru dan sebagian lagi merupakan revisi sekaligus penyempurnaan atas peraturan
yang sudah berlaku sebelumnya. Diantaranya adalah POJK No 26/POJK.04/2014 tentang penjaminan penyelesaian transaksi bursa hal ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas LKP, berkaitan dengan penerapan manajemen risiko dalam penyelesaian transaksi bursa yang teridentifikasi sebagai transaksi tidak wajar dan berdampak sistemik terhadap risiko penggunaan dana jaminan.43