• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mahkamah Agung Republik Indonesia

DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA”;

1. LATAR BELAKANG

Bahwa sebelum memasuki materi Alasan Hukum PK ini tidak berlebihan kiranya djkemukakan terlebih dahulu mengenai jati diri / posisi / keadaan Pemohon PK, dimana hal Ini semata-mata bertujuan agar Majelis Hakim Agung PK mendapat gambaran mengenai keadaan Pemohon PK sehubungan dengan tindak pidana yang didakwakan, sehingga nantinya putusan yang diambil benar-benar didasarkan atas Fakta-Fakta Hukum yang terungkap di persidangan yang diperoleh dari Alat Bukti yang cukup dan sah, sehingga putusannya memenuhi rasa keadilan, in casu Pemohon PK selaku pencari keadilan.

Bahwa dari peristiwa tindak pidana yang didakwakan, Pemohon PK hanyalah salah satu Direktur di Perusahaan PT. Indah Karya, Penyedia Jasa konsultan atau pelaksana kerja. Yang menerima Pekerjaan dari Pemberi kerja yakni Pemerintah Daerah, dalam hal ini Bappeda Kota Medan dan di dapat Pekerjaan tersebut melalui seleksi tender guna melaksanakan pekerjaan pembuatan Master Plan Kota Medan untuk tahun anggaran 2006. Dengan Nilai Pekerjaan setelah diadakan Addendum 1 sebesar Rp. 2.592.480.000,--(dua miliar Sembilan ratus dua juta empat puluh delapan ribu rupiah);

Selanjutnya Pekerjaan Pembuatan Master Plan Kota Medan tersebut telah selesai di kerjakan dan telah diserah terimakan kepada Pemberi Kerja dalam hal ini Bappeda Kota Medan;

Setelah itu Tldak pernah ada lagi Tender atau Penawaran Pekerjaan yang sama dengan memakai Anggaran (APBD) Kota Medan Tahun Anggaran 2006;

Kemudian Produk ( Master Plan ) berupa Peta Garis Kota Medan yang di buat oleh Pemohon PK ( atas nama PT. Indah Karya ) dengan sumber Pembiayaan APBD Kota Medan Tahun Anggara 2006 dapat di pergunakan dan bermanfaat juga Penting bagi Urusan Pemerintahan Daerah di Kota Medan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 84 dari 90 hal. Put. No. 221 PK/Pid.Sus/2015

Yang Terpenting dari semua itu bahwa materi teknis ( Master Plan yang hasil kerja Pemohon PK ) dan Ranperda RTRW Kota Medan telah d\ Tetapkan secara Lega sesuai Perda Kota Medan Nomor 13 Tahun 2011; 2. Pasal yang di dakwakan

Bahwa selama dalam persidangan Tingkat Pertama, Pemohon PK di Dakwa dengan melanggar pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dalam dakwaan Primer;

Pasal 2 (1), Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999, Berbunyi:

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara, di pidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200. 000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal ini menekan kan adanya merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara, apabila sebaliknya tidak ada kerugian Negara maka Terdakwa harus terlepas atau terbebas dari Hukuman Pidana, denda ataupun.

3. HAL BARU ( Hal yang di jadi NOVUM j

Bahwa dengan mengenyampingkan pemeriksana dan bukti-bukti di depan sidang Pengadilan Tingkat Pertama yakni Pengadilan Negeri Medan serta dalil-dalil hukum yang memaksa Terdakwa atau Pemohon PK terjerat pasal-pasal dalam rangkaian perbuatan melawan hukum Tindak Pidana Korupsi, Kami selaku Kuasa Hukum Pemohon PK , Dalam mengajukan Permohonan Peninjauan Kembali yang merupakan upaya hukum luar biasa telah menemui adanya bukti baru yang tidak sempat di ungkap pada waktu Persidang, baik di tingkat Pengadilan Negeri sampai Tingkat Kasasi di Mahkamah Agung, Bukti Baru tersebut adalah:

a. PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN (NOMOR: 13 TAHUN 2011), Tentang RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA MEDAN, TAHUN 2011-2031;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 85 dari 90 hal. Put. No. 221 PK/Pid.Sus/2015

b. SURAT Dari BAPPEDA, KOTA MEDAN Nomor: 070/ 1923, tanggal 11 Mei 2015, Master Plan Kota Medan Tahun 2006-2016, sumber dananya dari APBD Kota Medan Tahun Anggara 2006, sangat bermanfaat dan penting bagi urusan Pemerintahan Daerah di Kota Medan;

(Master Plan Kota Medan Yang di Maksud adalah hasil/ produk buatan PL Indah Karya selaku Pemenang tender yang telah di serah terimakan oleh Terdakwa atau Pemohon PK);

Bukti Baru ini yang dapat menjelaskan bahwa hal yang di dakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dan Putusan yang di Putuskan oleh Hakim Majelis dari Tingkat Pengadilan Pertama sampai Mahakamah Agung, dalam Perkara Tender Pembuatan Master Plan Kota Medan yang sumber dana dari APBD Kota Medan Tahun Anggaran 2006, tidak terdapat Kerugian Negara dan Kerugian Perekonomian Negara.

Bahkan sebaliknya sangat bermantaat dan penting bagi urusan Pemerintahn Kota Medan.

4. KESIMPULAN:

a. Bahwa Terdakwa atau Pemohon PK adalah Penyedia Jasa Konsultan, yang mendapatkan Pekerjaan Melalui Tender yang di adakan oleh Bappeda Kota Medan, untuk Pekerjaan Pembuatan Master Plan Kota Medan, dengan nilai Rp. 2.592.480.000,- (dua miliar Sembilan ratus dua juta empat puluh delapan ribu rupiah) yang bersumber dari APBD Kota Medan TA 2006;

b. Bahwa Pekerjaan yang di maksud telah selesai di kerjakan sepenuhnya dan telah pula di serah terimakan kepada Bappeda Kota Medan;

c. Bahwa Pekerjaan Pembuatan Master Plan yang dimaksud tidak pernah ditender ulang dengan memakai Dana APBD TA 2006, kembali;

d. Kemudian dari itu Produk atau Master Plan tersebut telah pula di legalkan dalam bentuk Peraturan Daerah Kota Medan yakni Perda Kota Medan Nomor: 13 Tahun 2011 , tanggal 28 Oktober 2011;

e. Bahwa Master Plan hasil Produk Terdakwa atau PT. Indah Karya tersebut, twelah pula mendapat rekomendasi berupa keterangan bahwa Master Plan Kota Medan dengan output berupa Vision Plan Kota Medan, RTRW Kota Medan Tahun 2006-2016 dan peta garis Kota Medan dengan sumber dana APBD Kota Medan TA 2006, merupakan produk yang bermanfaat dan penting bagi urusan PemerintahanDaerah di Kota Medan (sesuai Surat Bappeda Nomor 070 / 1923, tanggal 11

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 86 dari 90 hal. Put. No. 221 PK/Pid.Sus/2015

Mei 2015);

f. Dengan demikian Hasil Pekerjaan telah bermantaat sehingga tidak ada Anggaran Negara dalam hal ini APBD khususnya APBD TA 2006, tentang pembuatan Master Plan Kota Medan yang mubajir atau percuma atau dengan kata lain tidak ada Kerugian Negara secara materiel, Juga Kerugian secara Perekonomian Negara dari Pekerjaan yang dilakukan oleh Terdakwa atau Pemohon PK;

Bahwa akhirnya sebagai penutup uraian keadaan Pemohon PK , maka dalam kesempatan ini tidak berlebihan kiranya dikemukakan Prinsip Universal yang ada relevansinya dengan apa yang dialami/dihadapi oleh Pemohon PK, yaitu

"Nullus/nemo commodum capere potest de injuria sua propria" Artinya; Tidak seorang pun boleh diuntungkan oleh kesalahan yang dilakukannya sendiri dan tidak seorang pun boteh dirugikan karena kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

Terdapat Kekhilafan/Kekeliruan Hakim Majelis Yang Nyata Dalam Putusan No. 2185 K/Pid/2011, Tanggal 30 Apr! 2014.

Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 6 ayat (2) UU. No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, bahwa:

Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana. kecuali apabila pengadilan, karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat berianggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.

Serta selaras dengan Prinsip Universal yang berbunyi : In dubio pro reo Artinya: Dalam keadaan yang meragukan, hakim harus mengambil

keputusan yang menguntungkan terdakwa.

Menimbang, bahwa atas alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:

Bahwa alasan-alasan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan karena Judex Juris tidak salah dalam menerapkan hukum;

Bahwa terjadinya kerugian keuangan negara disebabkan kesalahan Pemohon Peninjauan Kembali yang menerima pembayaran/ pencairan 100% dana proyek Pembuatan Master Plan Kota Medan sebesar Rp2.592.480.000,00 (dua milyar lima ratus sembilan puluh dua juta empat ratus delapan puluh ribu rupiah) padahal berdasarkan hasil kualitas pekerjaan Pemohon Peninjauan Kembali seharusnya tidak berhak mendapatkan seluruh dana tersebut, karena

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 87 dari 90 hal. Put. No. 221 PK/Pid.Sus/2015

peruntukan biaya yang harus dikeluarkan oleh penyedia jasa dalam hal ini Pemohon Peninjauan Kembali berdasarkan pos yang ditentukan yaitu biaya personil, biaya ahli, staf serta honor personil administrasi. Namun dalam kenyataannya tidak demikian halnya;

Bahwa dalam proyek pegadaan jasa tidak dibenarkan adanya pos pengeluaran yang bersifat keuntungan. Sebab keuntungan sudah termasuk dalam Rencana Anggaran Biaya;

Bahwa kesalahan Pemohon Peninjauan Kembali selaku penyedia jasa menggunakan tenaga ahli (padahal kenyataannya menggunakan tenaga asisten), hal ini tidak sesuai dengan kontrak/ acuan kerja;

Bahwa kesalahan Terdakwa lainnya adalah pekerjaan Master Plan harus didasarkan pada kegiatan konsultasi sehingga dibutuhkan keahlian ahli di lapangan, namun kenyataannya tidak demikian sebab yang hadir di lapangan bukan ahli melainkan tenaga asisten. Akibatnya kualitas pekerjaan tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya. Sedangkan biaya yang dikeluarkan lebih besar dari hasil pekerjaan. Artinya asisten dipersamakan ahli, sehingga dibayar lebih besar dari kualitas pekerjaan;

Bahwa alasan Permohonan Peninjauan Kembali, diajukan berdasarkan adanya keadaan yang dinyatakan baru atau Novum dan adanya kekeliruan atau kekhilafan yang nyata dari Majelis Hakim dalam memeriksa dan memutus perkara in Casu, yang oleh Majelis Hakim Peninjauan Kembali ternyata alasan-alasan permohonan Peninjauan Kembali in Casu adalah merupakan alasan permohonan Peninjauan Kembali yang tidak dapat dibenarkan;

Bahwa alasan permohonan Peninjauan Kembali Pemohon yang menyatakan adanya keadaan baru/ Novum berupa peraturan Daerah Kota Medan Nomor 13 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan tahun 2011-2013 dan adanya surat BAPPEDA Kota Medan Nomor 070 Tahun 1923 tanggal 11 Mei 2015, Master Plan Kota Medan tahun 2006, sangat bermanfaat dan penting bagi urusan Pemerintahan daerah di kota Medan, ternyata tidak dapat menjadi alat bukti yang meniadakan kesalahan yang telah diperbuat oleh Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara in Casu, karena perkara in Casu adalah tentang adanya proyek pekerjaan Penyusunan Masterplan Kota Medan tahun 2016 yang ternyata oleh Pemohon Peninjauan Kembali tidak dilaksanakan tidak sebagaimana mestinya dan yang pada akhirnya telah mengakibatkan kerugian negara yang oleh Majelis Hakim telah dipertimbangkan seluruhnya dengan tepat dan benar, karenanya permohonan Pemohon Peninjauan Kembali

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 88 dari 90 hal. Put. No. 221 PK/Pid.Sus/2015

harus dinyatakan tidak dapat dibenarkan dan ditolak dan putusan yang dimohonkan Peninjauan Kembali dinyatakan tetap berlaku;

Menimbang, bahwa namun demikian salah seorang Hakim Anggota Majelis II, yaitu Dr. Leopold Luhut Hutagalung, SH., MH., menyatakan pendapat yang berbeda (dissenting opinion) dengan kedua orang Majelis yaitu Ketua Majelis dan Anggota Majelis I, yaitu Timur P. Manurung, S.H., M.M., dan Prof. Dr. Surya

Jaya, S.H., M.Hum., dimana Anggota Majelis II, Dr. Leopold Luhut Hutagalung, S.H., M.H., berpendapat: Bahwa alasan kasasi Jaksa Penuntut Umum patutlah

dikabulkan karena Judex Facti telah salah dalam menerapkan hukum dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

Bahwa Mahkamah Agung dalam putusan Nomor 2185 K/Pid.Sus/2013 telah memutus perkara a quo dengan amar sebagai berikut :

Mengadili;

Menolak permohonan kasasi dari Terdakwa; Menolak permohonan kasasi dari Penuntut Umum; Memperbaiki amar sekedar rumusan penjatuhan pidana;

1. Menyatakan Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa 4 (empat) tahun dan denda sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) Subsidair 6 (enam) bulan;

3. Menjatuhkan pidana tambahan kepada Terdakwa berupa uang pengganti sebesar Rp1.009.360.238,00 (satu milyar sembilan juta tiga ratus enam puluh ribu dua ratus tiga puluh delapan rupiah) Subsidair 2 (dua) tahun;

Bahwa dalam pertimbangannya Mahkamah Agung berpendapat terhadap alasan kasasi Penuntut Umum adalah mengenai Penilaian Hasil Pembuktian, namun terlepas dari alasan kasasi Penuntut Umum tersebut Judex Facti tidak cermat dalam menerapkan hukum, yaitu bahwa mengenai pidana Terdakwa adalah perbuatan melawan hukum yang telah memperkaya diri sendiri atau orang lain yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp1.009.360.238,00 (satu milyar sembilan juta tiga ratus enam puluh ribu dua ratus tiga puluh delapan rupiah) sehingga memenuhi unsur Pasal 2 Ayat (1);

Bahwa alasan kasasi Terdakwa adalah mengenai Penilaian Hasil Pembuktian untuk itu Judex Facti harus diperbaiki mengenai rumus penjatuhan pidana;

Bahwa Putusan Mahkamah Agung jelas menunjukan kekhilafan atau kekeliruan yang nyata yaitu sekedar menolak permohonan Terdakwa dan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 89 dari 90 hal. Put. No. 221 PK/Pid.Sus/2015

Penuntut Umum, tetapi memperbaiki dengan Pasal yang berbeda, pidana yang berbeda;

Bahwa seharusnya putusan Judex Facti harus dibacakan terlebih dahulu dan mengadili sendiri a quo;

Menimbang, bahwa oleh karena terjadi perbedaan pendapat dari Majelis Hakim tersebut walaupun telah diusahakan dengan sungguh-sungguh tetapi tidak tercapai permufakatan maka sesuai dengan Pasal 182 ayat (6) a KUHAP jo Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor: 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dan Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang Nomor: 5 Tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor: 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 3 Tahun 2009, Majelis setelah bermusyawarah telah mengambil putusan berdasarkan suara terbanyak, yaitu menyatakan menolak permohonan Peninjauan Kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali/ Terdakwa:

Ir. FADJRIF H. BUSTAMI, MARS tersebut;

Menimbang, bahwa dengan demikian berdasarkan Pasal 266 Ayat (2) Huruf a KUHAP, maka permohonan Peninjauan Kembali dinyatakan tidak berdasar dan harus ditolak serta putusan yang dimohonkan Peninjauan Kembali tersebut dinyatakan tetap berlaku;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan Peninjauan Kembali ditolak, maka biaya perkara dalam pemeriksaan Peninjauan Kembali dibebankan kepada Pemohon Peninjauan Kembali;

Memperhatikan Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, Undang Nomor 48 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;

M E N G A D I L I

Menolak permohonan Peninjauan Kembali dari Terpidana: Ir. FADJRIF H.

BUSTAMI, MARS. tersebut;

Menetapkan bahwa putusan yang dimohonkan Peninjauan Kembali tersebut tetap berlaku;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 90 dari 90 hal. Put. No. 221 PK/Pid.Sus/2015

Membebankan Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam Peninjauan Kembali ini sebesar Rp2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Rabu tanggal 19 Oktober 2016 oleh Timur P. Manurung, S.H., M.M., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Prof. Dr. Surya Jaya, S.H., M.Hum., dan Dr. Leopold Luhut

Hutagalung, S.H., M.H., Hakim Agung dan Hakim Ad.Hoc Tindak Pidana Korupsi

pada Mahkamah Agung RI sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari dan tanggal itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri oleh Hakim-Hakim Anggota tersebut serta Dr. H. Agung Sulistiyo, S.H., M.H., Panitera Pengganti dan tidak dihadiri oleh Penuntut Umum dan Terpidana.

Hakim-Hakim Anggota , K e t u a ,

Ttd./Prof. Dr. Surya Jaya, S.H., M.Hum. Ttd/Timur P. Manurung, S.H., M.M. Ttd./Dr. Leopold Luhut Hutagalung, S.H., M.H.

Panitera Pengganti ,

ttd./Dr. H. Agung Sulistiyo, S.H., M.H.

Untuk salinan MAHKAMAH AGUNG R.I.

a.n. Panitera

Panitera Muda Pidana Khusus

Dokumen terkait