DAN SYEKH ABDUL AZIS BIN ABDULLAH BIN BAZ
A. Biografi Sayyid Muhammad Al-Maliky
1. Latar Belakang Intelektual Sayyid Muhammad Al-Maliky
Terkait dengan metodologi istimbat Sayyid Muhammad Al-Maliky tidak bisa dilepaskan dengan madzhab Imam Malik yaitu memegang teguh dengan sumber utama hukum Islam yaitu Qur‘an dan Al-sunnah. Demikian juga memegang teguh dengan Ijma‟
ahli madinah kesepakatan Ulama‘ Madinah yang berasal
dari Al-naql dan Amalan ahli Madinah sebelum terbunuhnya Utsman bin Affan, Karena pada masa itu belum pernah ditemukan amalan ahli Madinah yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW.
As Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid ‗Alawi bin Sayyid ‗Abbas bin Sayyid ‗Abdul ‗Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy‘ari asy-Syadzili lahir di kota suci Makkah
pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam
Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki (ke-lahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dan lain-lain, Sayyid Alwi Al-Maliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul ―Hadist al-Jumah‖.
Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan. Selama menjalankan tugas da‘wah, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu men-dampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang menerus-kan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.
Sebagaimana adat para Saddah dan Asyraf ahli Makkah, Sayyid Alwi Al-Maliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di
sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.
Setelah wafat Sayyid Alwi Al-Maliki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta‘limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam jurusan Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tersebut, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta‘lim dan pondok di rumah nya sendiri.
Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid Haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua
bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid-murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.
Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah SAW ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Al-Maliki, ribuan murid-murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid-murid beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.
Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri
dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama. Sayyid Muhammad Al-Maliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah thariqah-nya.
Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirannya. Semua yang ber-lawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta‟lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang-orang yang tidak berse-pendapat dan sealiran dengannya, semasih mereka me-miliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Qur‘an dan Sunnah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping me-nguasai bahasa Arab, mereka meme-nguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja‟ dan reference di negara-negara mereka. Beliau ingin mengangkat derajat
dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah SWT dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki. Beliau selalu menerima dan meng-hargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya.
2. Karya Tulis Ilmiah Sayyid Muhammad