BAB III BIOGRAFI IBNU HAZM DAN IBNU
A. Biografi Ibnu Hazm
1. Latar Belakang Kehidupan
Ibnu Hazm adalah suatu kuniyah52 dari seorang bernama Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm bin Ghalib bin Khalaf bin Ma‘dan bin Sufyan bin Yazid. Nama panggilan beliau adalah Abu Muhammad, tetapi beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hazm.
Beliau lahir pada hari Rabu sebelum terbit matahari di akhir bulan Ramadhan pada tahun 384 H atau 8 November 994 M di kota Cordova, Andalusia (sekarang Spanyol/Portugal) dan wafat pada tanggal 28 Sya‘ban 456 H atau 15 Agustus 1064 M di kota Manta Lisham pada usia hampir 72 tahun.53
Pada masa kecil, Ibnu Hazm berada di lingkungan keluarga yang serba berkecukupan, baik dari segi harta, kehormatan, pendidikan ataupun status sosialnya di masyarakat, karena ia berasal dari keluarga bangsawan, mengingat ayahnya (Ahmad bin Said) adalah seorang yang menjabat sebagai menteri.54 Kakeknya yang bernama Yazid adalah orang yang berkebangsaan Persia
52Kuniyah adalah sebuah panggilan kehormatan yang biasa digunakan orang Arab untuk memanggil seorang lelaki/perempuan dengan mengganti nama aslinya dengan nama ayah/ibu, kakek/neneknya. Seperti: Ibnu Abdullah (anak dari Abdullah), Ibnu Abbas (anak dari Abbas). Atau memanggil nama seseorang dengan menyebut nama anaknya. Contoh: Abu Muhammad Amin Badali (ayah dari Muhammad Amin Badali), Ummi Kultsum (mama dari Kultsum) dan sebagainya. Sedangkan Ibnu Hazm artinya adalah cucu dari Hazm. Nama Hazm tersebut adalah nama dari datuk beliau yang bernama Hazm.
53Biografi dan Pemikiran Ibnu Hazm..., hal. 30.
54Abdurrahman asy-Syarqawi, Riwayat Sembilan Imam Fiqih, Cet. I, Penerjemah: Al-Hamid Al-Husaini, Bandung: Pustaka Hidayah, 2000, hal. 562.
saudara Muawiyah yang diangkat oleh Abu Bakar ra. menjadi panglima tentara untuk pergi ke negeri Syam. Dengan demikian, Ibnu Hazm adalah seorang yang berkebangsaan Persia. Itulah sebabnya Ibnu Hazm selalu memihak kepada pemerintahan Dinasti Bani Umayyah dan seluruh keturunan mereka.55
Kehidupan yang begitu aman, damai dan bahagia masih dirasakan Ibnu Hazm hingga usia 14 tahun. Setelah memasuki usia 15 tahun kebahagiaan itu mulai berubah menjadi kekacauan yang terjadi akibat pergolakan politik serta perebutan kekuasaan di Spanyol pada tahun 1010-1013 M oleh sekelompok orang yang tidak suka dengan pemerintahan khalifah Hisyam al-Mu‘ayyad.56 Dengan jatuhnya pemerintahan tersebut, dan berpindahnya kekuasaan pemerintahan kepada pihak lain, maka jabatan ayahnya sebagai menteri pun berakhir. Sehingga, Ibnu Hazm dan keluarganya diusir dari lingkungan istana. Selain diberhentikan dari jabatan menteri, semua harta kekayaan ayahnya dan keluarganya seperti tanah, rumah-rumah pribadi yang ada di berbagai daerah di Spanyol serta istana yang terletak di bagian timur Cordova pun habis disita.57 Dan sejak saat itulah Ibnu Hazm dan keluarganya menjalani hidup yang sulit. Mereka tidak mempunyai harta kecuali rumah tua yang mereka diami di Balat Magit, sebuah daerah di bagian barat Cordova, Andalusia pada tahun 399 H. Kemudian setelah empat tahun pasca kekacauan politik itu ayahnya wafat pada hari Sabtu 28 Djulkaedah tahun 402 H atau 1016 M. Berbagai ujian dan kesulitan hidup terus dialami Ibnu Hazm dan keluarga hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan kota Cordova pada bulan
55Mushlihin Al-Hafizh, Biografi Ibnu Hazm, http://www.referensimakalah.com /2012 /10/biografi-ibnu–hazm,html?m=1. Diunduh pada hari Rabu, 4 Juli 2018.
56Abdurrahman asy-Syarqawi, Riwayat Sembilan Imam Fiqih, Cet. I..., hal.
562.
57Rahmat Hidayat, ―Wasiat Wajibah bagi Ahli Waris Non-Muslim dalam Perspektif Ibnu Hazm‖, Skripsi Sarjana, Palangka Raya: Fakultas Syari‘ah IAIN Palangka Raya, 2010, hal. 35-36. Lihat juga Abdurrahman asy-Syarqawi, A‟immah al-Fiqh at-Tis‟ah, Penerjemah: al-Hamid al-Husaini, Bandung: Pustaka Hidayah, 2000, hal. 574-575.
Muharram tahun 404 H atau 1018 M menuju kota Ameria sebuah kota kecil di daerah Granada. Di sanalah Ibnu Hazm memanfaatkan waktunya untuk mengikuti pelajaran pada halaqah-halaqah dan membaca banyak buku di rumahnya.58
Sedemikian kacau dan buruk keadaan kota dan politik di Cordova saat itu, hingga Ibnu Hazm menggambarkannya seraya berkata ―Pikiranku saat itu kacau dan hatiku gelisah, masyarakat selalu merasa takut, mereka kehilangan mata pencaharian, sedangkan hukum kala itu tidak jelas. Saya kira, cara satu-satunya untuk menghadapi semua masalah ini adalah kembali kepada hukum Allah‖. Ibnu Hazm dan keluarganya terus bertahan di daerah al-Mariyah sampai datangnya suaka politik (bantuan/perlindungan) yang diratifikasi (disahkan/ditanda-tangani) oleh gubernur kota itu.59
Ketika Ibnu Hazm memasuki usia 20 tahun dia bertekad untuk mengubah keadaan yang sarat dengan kekacauan dan kezaliman pada saat itu. Meskipun tidak terlibat secara lansung dalam persoalan politik, setidaknya Ibnu Hazm sudah bersinggungan dengan dunia politik yang dimulai dengan adanya pergolakan politik pada masa pemerintahan Khalifah Hisyam al-Muayyad yang berimplikasi pada jatuhnya jabatan menteri yang diemban ayahnya. Keterlibatan Ibnu Hazm dalam bidang politik praktis terjadi pada masa pemerintahan Khalifah al-Muhtadin /Abdurrahman V (1023 M) dan Khalifah al-Mu‘tamid/Hisyam III (1028-1031 M). Pada masa pemerintahan kedua khalifah tersebut Ibnu Hazm menduduki jabatan sebagai Menteri. Pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman V, Ibnu Hazm bersama khalifah berusaha mengatasi berbagai kerusuhan dan mencoba merebut wilayah Granada. Namun, dalam usaha tersebut khalifah terbunuh sedangkan Ibnu Hazm ditangkap dan dipenjarakan.
Setelah dibebaskan, Ibnu Hazm tetap melakukan upaya perebutan wilayah Granada pada masa pemerintahan Khalifah al-Mu‘tamid,
58Abdurrahman asy-Syarqawi, Riwayat Sembilan Imam Fiqih, Cet. I..., hal. 563.
59Rahmat Hidayat, ―Wasiat Wajibah bagi Ahli Waris Non-Muslim dalam Perspektif Ibnu Hazm‖, Skripsi Sarjana..., hal. 36-37.
dan untuk kedua kalinya dia tertangkap dan dipenjarakan lagi.
Maka setelah keluar dari tahanan yang kedua ini akhirnya Ibnu Hazm memutuskan untuk meninggalkan dunia politik dan kembali memfokuskan segala pemikiran dan perhatiannya pada ilmu pengetahuan.60